
Radit terus saja diam selama makan siangnya bersama Andra dan Lathan. Terlihat jelas dari wajahnya kalau suasana hatinya sangat buruk
"Eum ... kak Radit, apa telah terjadi sesuatu? Atau mungkin ada yang salah?" Andra yang bingung dengan perubahan sikap Radit bertanya meskipun ragu-ragu padanya
"Apa hubunganmu dengan pria tadi?" Tanyanya datar
"Huh? Pria mana?" Andra semakin bingung dan tidak mengingat Gio
"Itu yang tadi bicara dengan mu dan Lathan. Siapa itu? Gi, Gio" Radit bicara dengan nada yang sinis dan wajah yang cemberut
"Tadikan aku sudah bilang kalau dia itu rekan kerjaku saat disini. Eh, tunggu. Kenapa kak Raidt menanyakan hal itu? Apa ada yang salah dengannya?" Kini Andra semakin bingung dengan alasan Radit membicarakan Gio
"Tidak ada. Jangan dekat-dekat dengan pria lain di depan Lathan! Itu tidak baik untuk mentalnya. Lagipula itu bisa saja menimbulkan gosip miring jika orang lain melihat kamu dengan pria lain" Nada bicara Raidt terdengar sinis, wajahnya terlihat dingin dengan sorot mata yang tajam
Dahi Andra berkerut menatap heran pada sikap Radit yang tidak seperti biasanya
"Sebenarnya ada apa dengan kak Radit? Kakak punya masalah? Kakak tidak biasanya seperti ini loh"
"Aku tidak papa. Aku hanya tidak ingin kalau orang-orang membicarakan hal yang tidak-tidak tentang istriku, maksudku ibunya Lathan"
Mau tidak mau Andra tersenyum mendengar ucapan Radit
"Kak Radit tenang saja. Aku tahu batasanku kok. Aku tidak akan membuat Lathan kecilku kecewa" Ujarnya sambil mencubit pipi Lathan yang lucu
"Aah mami. hentikan, aku bukan anak kecil lagi" Ujar Lathan dengan nada bicara yang manja
Dahi Andra mengernyit dengan senyum di bibirnya "Benarkah anak mami sudah besar? Kalau begitu ... mami tidak perlu antar kamu ke sekolah, temani mandi, suapi makan dan ..."
"Tidak, tidak mami. Jangan lakukan itu" Lathan menyela Andra dengan pipi mengembung manja. Radit dan Andra hanya tersenyum melihat Lathan yang salah tingkah karena ancaman Andra
***
Saat pesta pun tiba. Para tamu sudah mulai berdatangan memenuhui aula hotel. Disatu sudut terlihat Asya dan pak Danu sedang berbincang berdua sambil memperhatikan tamu yang datang
"Bagaimana pak, apa semua sudah di siapkan dengan matang?" Tanya Asya dengan nada pelan pada Danu
"Tentu saja. Nanti saat saya dan tamu lain berbincang dengan Radit, ibu bisa berbincang dengan Andra. Saya sudah memesan satu kamar di hotel ini. Anda bisa langsung menanyakan kamar atas nama saya" Pak Danu bicara dengan sikap yang tenang dan sedikit senyum dibibirnya. Dia terlihat yakin dengan apa yang dia bicarakan
__ADS_1
"Bagus kalau begitu. Rencana kita tidak boleh gagal. Kita harus membuat Radit percaya kalau Andra bukan gadis baik dan membuatnya meninggalkan Andra" Pak Danu hanya menganggukkan kepala berkali-kali dengan senyum dibibirnya karena menyetujui apa yang dikatakan oleh Asya
***
Radit kini tengah menunggu Andra yang sedang berganti pakaian. Dia duduk bersama Lathan menunggu Andra keluar dari kamar mandi
"Kenapa mami lama sekali ya pih?" Ujar Lathan yang tidak sabar
"Sabar, mami kan harus berdandan juga. Dia tidak seperti Lathan yang hanya mengganti pakaian saja" Radit dengan sikapnya yang lembut berusaha memberikan pengertian pada Lathan
Ceklek
"Maaf membuat kalian lama menunggu" Andra keluar dengan gaun yang sebelumnya dibelikan oleh Radit. Radit terpesona hingga mulutnya sedikit menganga dengan mata yang tidak berkedip sedikitpun. Saat melihat Andra mencoba gaun ini saja sudah cantik. Apalagi saat ini. Gaun panjang dengan sedikit lengan pendek membuatnya terlihat sangat anggun. Riasan wajah tipis dan rambut disanggul dengan menyisakan sedikit bagian depan membuat Andra terlihat segar dan menawan
"Apa ada yang aneh dengan penampilanku?" Andra bertanya sambil memperhatikan penampilannya sendiri
"Tidak mami. Mami sangat cantik sampai papi terpesona dan tidak bisa berkomentar apapun tentang kecantikan mami" Ucapan Lathan membuat Andra tersipu malu dan Tadit tersadar dari pesona Andra
"Lathan benar. Kamu sangat cantik"
"Terimakasih" Jawab Andra dengan tersipu malu
"Baik, baik. Papi berangkat sekarang. Kamu ingat ya, jangan membuka pintu untuk sembarangan orang. Papi sudah atur panggilan di jam tanganmu. Jika terjadi sesuatu cepat hubungi papi" Radit memberikan pesan terlebih dahulu kepada Lathan sebelum dia pergi
"Baik papi. Aku mengerti. Ini bukan pertama kalinya papi meninggalkan aku sendiri" Lathan menjawab dengan senyum ceria dibibirnya
"Ayo kita berangkat!" Radit kemudian mendekati Andra dan mendekatkan tangan bagian sikunya agar Andra melingkarkan tangannya disana
"Tentu. Sampai jumpa tampan mami" Andra melambaikan tangan pada Lathan sambil tersenyum ceria. Mereka pun mulai berjalan meninggalkan kamar hotel menuju aula tempat pesta di gelar
***
Suasana pesta sudah milai riuh, tempat pesta sudah mulai di padati para tamu undangan
"Kenapa Andra dan Radit belum sampai juga? Bukankah mereka sudah bilang akan hadir?" Luna terlihat khawatir sambil terus menoleh ke arah pintu masuk
"Sabar, mereka pasti datang. Radit sudah bilang kalau dia akan datang" Asya tersenyum sambil menenangkan putrinya
__ADS_1
"Itu mereka!" Tidak hanya Lulu yang memperhatikan kedatangan Radit, tapi hampir semua tamu memperhatikan saat Radit dan Andra berjalan memasuki pintu aula
"Itu... Radit dengan siapa?"
"Apa itu kekasihnya? Ah beruntungnya dia"
Terdengar orang-orang mulai berbisik membicarakan Radit dan Andra.
"Apa kamu gugup?" Radit menyadari kalau tangabmn Andra gemetar, wajahnya juga terlihat sedikit gugup
"Ya, aku sedikit gugup. Lihatlah semua orang memperhatikan kita. Aku tidak berpikir kalau perhatian semua orang akan tertuju padaku" Andra menjawab dengan suara yang bergetar
"Tenanglah, ada aku. Kamu tidak perlu khawatir" Radit memegang tangan Andra yang melingkar di dekat sikunya
"Justru karena aku datang bersama kak Radit makanya aku khawatir. Kak Radit lihat saja pandangan mereka padaku. Mereka seperti binatang buas yang siap menerkamku kapan saja" Andra berbisik dengan wajah polos sambil menoleh kesana kemari
"Akhirnya kalian datang juga. Kami kira kalian tidak akan hadir" Andra dan Radit menoleh ketika suara Asya terdengar di dekat mereka.
Asya, dan Luna berjalan mendekati Andra dan 1Radit
"Ibu, kak Luna, tentu saja kami akan datang. Kalian kan sudah mengundang kami" Andra tersenyum lembut menyembunyikan kegugupannya
"Sebaiknya kalian berbincang dulu, aku akan ambilkan minuman untukmu" Radit bicara pada Andra dengan lembut kemudian perlahan menunggalkan mereka menuju meja hidangan
"Sepertinya kamu bahagia setelah jadi istri orang kaya" Luna bicara pada Andra dengan nada yang sinis dan senyum mencibir
"Tentu saja. Aku beruntung bisa menikah dengan kak Radit. Dia sangat baik dan juga menyayangiku" Dengan senyum ceria Andra menjawab Luna dan membuatnya memasang wajah iri
"Cih kita lihat saja apa setelah ini dia masih ingin bersama denganmu atau tidak" Luna menaikkan sebalah ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman misterius
"Apa maksudmu?" Andra terlihat bingung dengan mata menatap tajam pada Luna
"Luna, hentikan. Ikut ibu sebentar!" Asya menarik tangan Andra kebelakang dimana disana tidak ada orang
"Kita mau kemana bu?!" Tanya Andra dengan wajah panik dan sesekali menoleh kebelakang
"Tidak usah banyak bertanya! Ikut saja!"
__ADS_1
"Sebenarnya kita mau kemana?! Kenapa meninggalkan tempat pesta?!" Andra semakin panik dan bertanya dengan nada yang mulai tinggi
"Tentu saja menemui pak Danu"