Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Percakapan Radit Dan Lathan


__ADS_3

“Dit! Kamu mau kemana?” tanya Candra begitu melihat Radit bergegas pergi meninggalkan ruangannya


“Aku harus ke sekolah Lathan” Radit menjawab dengan tergesa-gesa sambil berlalu meninggalkan Candra


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?!” Candra yang penasaran masih terus berteriak dan mengikuti Radit dari belakang


“Tidak ada apa-apa. Aku serahkan dulu masalah kantor padamu” ujar Radit yang terus berlalu. Akhirnya Candra pun berhenti mengikutinya dan hanya menatap punggungnya yang semakin menjauh


“Ada apa dengannya? Semoga tidak terjadi hal yang buruk” gumam Candra yang khawatir pada Radit


Radit mengendarai mobilnya meninggalkan perusahaan Nugraha dengan kecepatan tinggi


“Lathan, apa benar dia yang melakukan itu? Aku hanya mengajarinya cara dasar menggunakan computer saja. Bagaimana dia bisa meretas akun milik orang lain?” Radit mengemudi sambil terus memikirkan tentang Lathan.


“Tidak mungkin Lathan belajar sendiri. Dia juga tidak pernah bertanya apapun padaku. Siapa yang membantu  mengajarinya? Hanya satu orang yang bisa melakukannya, Kenzo. Itu pasti dia karena tidak mungkin jika Kenzie dan Risha yang mengajarinya mengingat kemampuan mereka tidak sebagus Kenzo. AKu harus segera  mendapatkan jawabannya”


Akhirnya Radit pun menghubungi Lathan


Drrt drrt drrt


“Halo, Pih” cukup lama Radit menunggu sampai Lathan menerima teleponya. Setelah itu terdengarlah suara Lathan yang sedikit  ragu-ragu


“Lathan, sepertinya … ada yang harus kamu jelaskan pada papi!” ujar Radit dengan nada bicara yang dingin dan tenang.


Lathan terdiam dan tak bisa mengatakan apapun pada Radit. Bukan karena dia takut, hanya saja Lathan tidak tahu bagaimana harus memberitahu Radit.


“Kenapa kamu diam saja? Lathan, katakan pada Papi, apa kamu yang mengganti postingan Luna tentang mamimu menjadi postingan tentangnya?” Radit kembali bertanya dengan nada yang tegas.


Kini dia sudah tiba disekolah Lathan dan tengah memarkirkan mobilnya sambil menunggu jawaban Lathan. Setelah mobilnya terparkir, Radit bergegas menuju  kelas Lathan.


“Pak Radit? Ada urusan apa anda datang  kemari? Ini belum waktunya untuk Lathan pulang”. Ditengan perjalanannya, Radit bertemu dengan guru Lathan

__ADS_1


“Saya ada sedikit urusan dengan Lathan. Sekarang dia ada dimana ya, Bu? Apa Lathan sedang berada dikelasnya?” tanya Radit yang terlihat sangat tergesa-gesa karena ingin segera bertemu dengan Lathan


“Lathan sedang ada ditaman, Pak” guru Lathan menjawab sambil menunjuk arah taman yang dia maksud


“Terimakasih, Bu. Saya permisi menemuinya dulu” Radit langsung bergegas pergi meninggalkan guru Lathan yang masih penasaran tanpa memberikan penjelasan apapun.


Tak lama Radit pun tiba ditaman. Dia menoleh kesana kemari mencari Lathan. Setelah pandangan Radit menyapu kesetiap sudut taman disekolah Lathan, pandangannya terkunci pada salah satu anak yang sedang duduk disebuah kursi dengan kepala tertunduk membelakangi Radit. Meskipun dia tidak melihat


wajah anak itu secara langsung, namun dari gesture  tubuhnya dapat Radit ketahui kalau itu adalah Lathan. Radit pun berjalan mendekatinya, lalu berdiri tidak jauh darinya.


“Kamu ingin menghindari, Papi?”. Lathan yang sedang menundukkan kepala sambil menatap layar tablet ditangannya langsung menoleh begitu mendengar suara Radit


“Papi?!” Lathan yang terkejut dengan kedatangan Radit langsung berdiri dan menatap Radit dengan panik. Ada sedikit ketakutan dan juga ragu-ragu yang terlihat dari raut wajahnya


“Kenapa … Papi ada disini?” Lathan masih bertanya dengan ragu-ragu.


“Sepertinya Papi duluan yang bertanya saat ditelepon tadi? Kenapa kamu malah menutup teleponnya begitu saja? Bukannya ada yang harus kamu jelaskan pada Papi?” Radit terus bertanya dengan sikap yang dingin sambil berjalan semakin mendekat pada Lathan.


“Maafkan aku, Pih. Itu …” Kepala Lathan kembali tertunduk karena takut kalau Radit akan marah padanya.


Lathan mengangkat kepalanya dan mentap Radit


“Laihat Papi. Apa kamu melakukan kesalahan pada Papi?”.  Lathan menggelengkan kapala menanggapi pertanyaan Radit padanya.


“Lalu kenapa kamu tidak jujur pada Papi?” Suara Radit masih terdengar dingin, namun ada kelembutan dari tatapan matanya


“Aku takut kalau Papi akan marah padaku karena aku bertindak tanpa memberutahu Papi terlebih dahulu” Lathan menjawab Radit  dengan ragu-ragu.


“Menurut kamu, apa papi akan melarangmu untuk melakukan pemebelaan terhadap mami?” Radit  memicingkan


mata saat bertanya pada Lathan. Ada sedikit senyum dibibirnya meskipun nada bicaranya masih terdengar dingin

__ADS_1


“Aku yakin kalau Papi tidak akan melarangku, karena Papi selalu bilang padaku untuk membela keluarga dan juga orang terdekat kita jika mereka ditindas oleh orang lain” Kini Lathan menjawab pertanyaan Radit dengan


lebih tenang


“Kalau kamu tahu Papi tidak akan marah kenapa kamu tidak berkata jujur pada Papi? Apa ada orang lain yang tahu kemampuanmu ini?”


"Selain kak Kenzo, tidak ada orang lain yang tahu" ujar Lathan dengan sedikit ragu


"Bagaimana bisa kamu memberitahu Kenzo tapi tidak memberitahu Papi?" Kini suara Radit terdengar kembali dingin. Dia merasa kesal karena tidak mengetahui sesuatu hal yang penting tentang anaknya.


"Aku takut kalau Papi tidak akan mengizinkanku bermain komputer. Lagipula kak Kenzo bisa menjaga rahasia dan dia juga pandai komputer, jadi aku selalu melakukan panggilan video saat belajar dengannya" Lathan menjelaskan dengan sikap yang polos


"Lathan, Papi tidak mungkin marah padamu. Apalagi jika kamu ingin belajar komputer, tentu saja Papi akan mendukungmu. Dan Papi sendiri juga bisa mengajarimu secara langsung, tidak perlu sampai Kenzo yang  mengajarimu" ujar Radit dengan nada yang kesal


"Apa sekarang Papi memaafkanku? Papi tidak marah lagi padaku?" Lathan bertanya dengan sedikit ragu-ragu dengan tatapan mata berbinar penuh harap.


Radit terdiam sejenak menatap Lathan dengan tatapan yang dingin, namun sesaat kemudian dia kembali tersenyum.


"Mana mungkin Papi akan marah pada putra Papi yang jelas-jelas sudah membela maminya sendiri dari orang-orang jahat. Papi justru bangga padamu karena sudah berani bertindak dan membela mamimu. Darimana kamu belajar hal seperti itu?" tanya Radit dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut


"Tentu saja dari Papi. Bukannya Papi yang bilang kalau sejak zamannya kakek buyut, tidak ada yang boleh menindas keluarga kita. Hanya kita yang boleh menindas orang lain"


"Hahaha ... Apa iya Papi berkata begitu? Bukan berarti kita boleh menindas orang lain seenaknya, kita hanya boleh membalas orang yang berani bermain api dengan kita" Radit terbahak mendengar perkataan Lathan.


"Uups, maaf Pih. Aku janji akan mengingat bagian itu" Lathan menutup mulutnya lalu menanggapi dengan senyum dibibirnya.


"Kalau begitu ... Lathan mau kan berjanji satu hal pada Papi?" Radit bicara dengan sikap yang tenang dan Lathan menatapnya dengan tatapan yang serius menunggu apa yang diinginkan ayahnya


"Apa itu, Pih?"


"Kamu harus selalu mengatakan pada Papi apapun yang kamu lakukan dan kalau bisa jangan sampai ada orang lain lagi yang tahu mengenai kemampuanmu ini. Cukup Papi dan kak Kenzo saja"

__ADS_1


"Baik Papi. Aku mengerti, Aku janji pada Papi kalau aku tidak akan mengatakan kemampuanku ini pada siapapun lagi"


"Anak pintar. Papi sangat bangga padamu. Papi beruntung karena kamu ada bersama Papi" ujar Radit sambil mendekat Lathan dalam pelukannya


__ADS_2