Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Bagaimana Kalau Aku Punya Adik?


__ADS_3

Ckiit!!


Andra sangat terkejut ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti tepat dihadapannya.


 “Aku baru tahu kalau istriku ini ternyata berani juga?” ujar Radit yang masih belum pergi dari kantor polisi karena melihat mobil sang istri terparkir tidak jauh dari kantor polisi.


“Kak Radit, bukannya tadi kakak sudah pergi? Bagaimana bisa kakak masih ada disini?” tanya Andra yang terkejut dengan mata membelalak dan sedikit salah tingkah.


“Aduh. Bagaimana kalau kak Radit melihat apa yang tadi aku lakukan? Dia pasti akan berpikir kalau aku ini perempuan tidak baik” pikir Andra sambil menatap kearah lain karena gugup.


“Tadi aku memang akan pergi. Tapi begitu aku melihat mobilmu aku berhenti karena aku penasaran dengan apa yang sedang kamu lakukan disini” Radit menanggapi Andra sambil tersenyum melihat gelagat sang istri yang terlihat jelas kalau dia sedang gugup hingga salah tingkah.


“Maafkan aku. Kakak pasti berpikir kalau aku ini perempuan sombong dan jahat yang berani menindas wanita lain hanya karena dia terlibat skandal dengan suaminya. Aku hanya tidak suka saja saat dia menggoda kakak, jadi saat aku tahu kalau Kak Radit memberikan pelajaran pada suaminya … aku jadi ingin


memberikan pelajaran juga pada Audy” Andra menjelaskan dengan kepala tertunduk dan tingkah yang polos.


Radit tersenyum mendengar jawaban sang istri, apalagi sikapnya saat ini terlihat imut dimata Radit.


“Kenapa kamu harus minta maaf? Bukannya aku pernah bilang padamu kalau kamu bisa melakukan apapun yang kamu inginkan. Kamu juga bisa mendapatkan apapun yang kamu mau. Cukup katakan saja padaku” Radit menanggapi Andra dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah. Nada bicaranya juga terdengar sangat lembut ditelinga Andra


“Benarkah? Ehm … kalau begitu … bisakah aku meminta sesuatu?” Sejenak Andra terlihat berpikir kemudian dia bertanya dengan sedikit ragu-ragu


“Katakan, apa itu” ujar Radit yang berusaha mengabulkan keinginan Andra.


Andra berjalan mendekati Radit dan berdiri didepan pintu mobilnya.


“Aku ingin mendapatkan cinta kak Radit seutuhnya. Aku juga ingin cinta kak Radit hanya tertuju padaku saja dan tidak akan ada wanita lain yang menempati hati kak Radit selain aku” Andra bicara dengan berbisik di


samping telinga Radit. Meskipun setelah mengatakannya dia langsung menoleh kearah lain karena malu.


Radit tersenyum dan berusaha menarik Andra untuk lebih mendekat ke jendela


“Eh? Apa yang kak Radit lakukan? Ada banyak orang yang melihat kita” ujar Andra sambil menoleh kesana kemari karena salah tingkah.

__ADS_1


“Kalau begitu, masuklah kemobil” goda Radit sambil menggerakkan kepalanya sebagai isyarat untuk masuk.


“Tidak mau. Aku bawa mobilku sendiri” Andra menanggapi dengan sikap yang manja sambil menggelengkan kepala


“Aku akan kirim orang untuk mengambil  mobilmu. Sekarang, ayo masuklah!” ujar Radit mengulang permintaannya.


Andra kembali diam seakan mempertimbangkan ucapan Radit


"Ehm … baiklah. Ayo!" Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya dia mengiyakan ajakan sang suami dan langsung naik ke mobil.


"Raditya Reifansyah ... Kamu sama sekali tidak cocok untuknya. Dia itu terlalu baik untukmu" gumam seorang pria yang sejak tadi memperhatikan Andra.


***


Sementara itu disekolah Lathan. Anak kecil yang tampan dan menggemaskan itu sedang bermain bersama teman-temannya, menunggu sampai orang tua mereka datang menjemput.


"Lathan, Lathan, tante yang suka datang menjemputmu itu ibu barumu ya? Kamu tidak takut padanya?" tanya salah satu teman Lathan


"Iya, dia adalah mamiku. Kenapa aku harus takut pada mami? Dia cantik, kan? Dia juga baik dan sayang padaku" Lathan menanggapi dengan bangga ucapan temannya.


"Tidak. Mami sangat baik padaku. Dia sama sekali tidak pernah marah padaku" Lathan kembali menanggapi dengan sikap yang sinis.


"Bohong. Ibumu pasti mengancammu agar tidak mengatakan apapun pada orang lain kan?" teman Lathan bersikeras kalau ibu tiri itu selalu jahat.


"Mamiku tidak pernah seperti itu! Tarik lagi ucapanmu tentang mami!" Lathan yang mulai kesal akhirnya berteriak pada temannya dengan mata melotot tajam


"Tidak. Aku tidak salah. Untuk apa aku tarik kembali ucapanku?!" Teman Lathan bersikeras dengan apa yang sudah dia katakan.


Lathan yang sangat kesal mulai mengepalkan tangannya dan perlahan mendekati temannya itu.


"Katakan kalau mamiku adalah orang baik. Aku tidak suka kalau kamu membandingkan mami dengan orang lain!" Lathan bicara dengan nada mengancam dan sikap yang dingin. Matanya menatap tajam penuh kemarahan. Dia dan temannya berdiri sangat dekat.


"Tidak mau". Saat temannya menjawab kalau dia tidak mau minta maaf, Lathan langsung mendorongnya hingga dia terjatuh.

__ADS_1


"Aduh! HuHuHu" temannya langsung menangis keras sambil terduduk ditanah. Lathan hanya berdiri memperhatikan temannya.


"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"Tak lama salah seorang guru Lathan datang menghampiri mereka dengan sedikit berlari.


"Ada apa? Apa yang terjadi, hah?" tanya sang guru lagi yang berusaha memastikan pada Lathan dan temannya yang terduduk ditanah.


"Tidak ada bu guru, tari dia hanya terjatuh hingga terduduk ditanah saja. Benar kan?". Lathan menanggapi dengan nada yang polos sambil menatap tajam pada temannya itu.


"Apa itu benar?" tanya bu guru lagi memastikan pada temannya Lathan


"I-iya bu guru". Teman Lathan pun akhirnya tidak mengatakan apa-apa karena Lathan terus melotot padanya.


"Baiklah kalau begitu. Kalian tidak boleh berkelahi ya dan jangan pernah berbohong pada orang lain. Kalian harus bermain bersama dan berteman baik" guru Lathan menasehati dengan sangat ramah dan lembut


"Baik bu guru". Lathan dan teman-temannya menjawab dengan serempak.


"Ayo kita bermain lagi! Karena Rodi sedang sakit jadi kita tinggalkan dia untuk beristirahat" ujar Lathan pada temannya yang lain


"Ayo!"


"Dasar anak-anak" gumam guru Lathan sambil menggelengkan kepala dan berjalan kembali ke ruang guru.


Lathan dan teman-temannya yang lain kembali bermain dengan ceria meninggalkan satu temannya yang tadi berdebat dengan Lathan.


"Lathan, apa yang dikatakan Rodi itu benar?" tanya teman Lathan yang lain berusaha memastikan apa yang telah dikatakan temannya.


"Tidak. Jangan dengarkan dia. Dia itu pembohong. Mamiku adalah orang yang sangat baik dan sayang padaku. Jadi tidak mungkin kalau mami jahat padaku" Lathan menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Lalu, bagaimana jika kamu punya adik? Aku tidak yakin kalau dia masih akan tetap menyayangimu karena semua perhatiannya pasti akan tertuju pada adikmu itu. Tidak mungkin kalau dia masih bisa bersikap sama saja padamu"


"Dia benar. Aku harus selalu mengalah pada adikku yang masih bayi saat aku menginginkan sesuatu. Bahkan ibuku sudah tidak pernah menggendongku dan hanya sayang pada adikku saja" teman-teman Lathan berusaha mengingatkannya.


Lathan terdiam dan berpikir dangan kepala sedikit menunduk.

__ADS_1


"Adik? Bagaimana jika mami dan papi punya adik bayi lagi? Apa mereka masih akan tetap menyayangiku?"


__ADS_2