
"Apa Kakak sudah tahu siapa orang yang ingin mencelakai Lathan?". Andra bertanya pada Radit yang sedang duduk termenung memikirkan ucapan Lathan.
"Aku baru tahu satu orang, tapi kamu tidak perlu khawatir. Aku pasti akan mendapatkan mereka semua" Radit menanggapi Andra dengan senyum manis dibibirnya.
"Lalu apa motif mereka menculik Lathan? Jika itu saingan bisnis... Sepertinya tidak ada tender yang sedang kakak perebutkan saat ini?", ujar Andra yang berusaha menerka motif penculikan Lathan.
"Bukan saingan bisnisku. Mereka hanya sedang menguji sejauh mana kemampuan mereka melawanku" Radit terus meyakinkan Andra kalau ini bukan masalah besar dan dia bisa menghadapinya.
"Kak Radit bilang baru mendapatkan satu orang? Itu berarti pelakunya lebih dari satu?" Andra memicingkan mata menunggu jawaban dari Radit.
"Ya, dan dari satu orang ini. Aku akan mendapatkan semuanya dan membuat mereka menjadi gelandangan karena berani mengusik keluargaku" ujar Radit dengan sorot mata yang tajam
...****************...
Radit sedang menunggu Tofan dan Nini disebuah restoran yang tidak jauh dari kantor polisi. Karena mereka berdua adalah penyidik, jadi mereka tidak menggunakan seragam polisi.
"Maaf, karena kami membuat anda menunggu. Apa pak Radit sudah lama menunggu?" ujar Tofan yang bicara dengan sopan.
Radit terlihat tenang sambil duduk bersandar pada kursi dengan secangkir kopi dihadapannya. Dia terlihat berwibawa dengan setelah jas yang dia kenakan.
"Saya belum lama sampai disini. Lagipula tadi ada rapat yang harus saya hadiri disekitar sini"
"Sebenarnya apa tujuan anda memanggil kami kemari? Apa ada sesuatu yang bisa kami bantu untuk anda?"
Radit terdiam menatap Tofan dengan tatapan yang tajam. Lalu dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan beberapa lembar foto.
Tofan dan Nino saling menatap satu sama lain sebelum mereka melihat foto yang tergeletak diatas meja.
"Foto apa ini?". Tofan tetap meraih foto itu untuk melihatnya sendiri meskipun Radit tidak memberitahu isi foto itu.
__ADS_1
"Mereka adalah penculik putra sulungku. Satu dari mereka sudah aku tembak. Meskipun tidak meninggal, tapi itu cukup membuat dia sekarat". Radit menjelaskan dengan sikap yang dingin sambil mengesap kopi miliknya.
Tofan menatap Radit tajam.
"Apa maksud anda mengatakan ini pada kami?" tanya Tofan tidak mengerti.
"Kenapa kalian menargetkan putraku? Apa tujuan kalian?". Nada bicara Radit semakin dingin dengan tatapan yang mulai mengintimidasi.
"Tolong jelaskan maksud anda? Kami berdua benar-benar tidak mengerti".
Radit terdiam sesaat menatap Tofan dalam-dalam.
"Otak penculikan putraku adalah kepala polisi. Kalian sengaja kan memberi tahunya mengenai kemampuan putraku? Kalian ingin mencelakai putraku?".
"Jangan menuduh sembarangan jika anda tidak punya bukti! Kami bisa saja menangkap anda atas tuduhan pencemaran nama baik!" Nino langsung berteriak pada Radit sambil menunjuk padanya.
"Nino, tenanglah" ujar Tofan menyela
"Bagaimana anda bisa tahu kalau itu kepala polisi? Anda punya bukti?" Tofan bertanya dengan sika tenang.
"Orang-orang itu yang akan jadi saksi dan juga, Lathan melihat sendiri kalau itu kepala polisi. Yang ingin aku pastikan disini adalah kenapa kamu memberitahukan kepada kepala polisi kalau kedua anakku terlibat dalam pemecahan kasus judi itu?". Radit terus memperhatikan gelagat Tofan dan Nino untuk memastikan dugaannya.
"Kami minta maaf untuk hal itu. Kami juga tidak mengira kalau kepala polisi akan mengungkapkan semuanya didepan media. Kami janji akan menangkap semua pelaku secepatnya". Tofan bicara dengan penuh rasa penyesalan.
"Tidak perlu minta maaf. Aku hanya ingin memperingatkan kalian kalau aku yang akan menangkap semua pelakunya. Aku sudah tidak peduli lagi kalian bisa menangkapnya atau tidak. Karena mereka telah berani menyentuh putraku, maka mereka semua tidak akan pernah lolos dari tanganku". Sorot mata Radit sangat tajam hingga membuat orang yang melihatnya merasa merinding. Dia langsung bergegas pergi meninggalkan Tofan dan Nino tanpa menunggu tanggapan dari mereka.
"Bisa jadi... Tujuan dari kepala polisi mengumumkan kalau anak pak Radit ikut andil dalam penyergapan sebelumnya itu adalah untuk memprovokasi seseorang. Lalu apa yang direncanakan pak Radit? Apa dia akan main hakim sendiri?" gumam Tofan memikirkan apa yang dikatakan Radit.
"Pak, apa kita perlu mengawasi pak Radit? Kita tahu betul kalau dia bisa melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya. Apakah kali ini pak Radit akan menangkap mereka semua?" tanya Nino pada Tofan yang sedang memikirkan Radit.
__ADS_1
"Kurasa... Kita memang harus mengawasinya. Kita tidak tahu langkah seperti apa yang akan dia gunakan".
...****************...
Kepala polisi sedang berkumpul dengan beberapa orang disebuah restoran. Mereka sedang merundingkan banyak hal.
"Bagaimana? Apa anda sudah melenyapkannya?" tanya seorang pria paruh baya bernama Jhon. Dia adalah salah satu pengusaha mobil terkemuka dinegara A.
"Kalian tenang saja. Saya sudah menyewa beberapa orang untuk melenyapkan anak itu. Mereka tidak akan bisa melacak kita" ujar kepala polisi dengan senyum percaya diri.
"Apa anda yakin, Pak Sam? Anda melihatnya sendiri kalau dia sudah dibereskan?" tanya pak Dion yang merupakan pemilik hotel mewah.
"Pak Dion, pak Samuel tidak mungkin berbohong. Dia pasti menjalankan tugasnya dengan baik" Sanggah pak Jhon lagi.
"Pak Jhon benar. Saya sudah memastikan kalau anak itu benar-benar ditangkap. Mungkin sekarang ini dia sudah tewas didasar jurang ... hahaha". Semua orang terbahak mendengar pernyataan pak Samuel.
"Kenapa anda diam saja, Pak? Apa ada yang mengganjal dipikiran anda?" tanya Samuel pada pak Tedi.
"Saya hanya merasa tidak yakin kalau semuanya sudah baik-baik saja. Anak remaja seperti itu bisa mengungkap kasus judi online yang selama ini kita kelola secara bertahun-tahun. Apa menurut kalian … dia melakukannya sendiri?" Anggota dewan yang sejak tadi diam saja akhirnya bicara.
"Pak Tedu, anda terlalu khawatir. Jika memang ada orang lain, maka kita harus menghabisinya lagi. Benar kan pak Samuel?" ujar pak Jhon mekinta konfirmasi.
"Benar, Pak. Saya tetap akan mengawasi pergerakan usaha kita. Untuk sementara ini sebaiknya kita tidak saling bertemu dulu. Usaha kita tetap akan beroperasi tetapi dilakukan secara tertutup, jadi tidak akan ada yang curiga" Pak Samuel kembali menimpali dengan senyum yang yakin.
"Saya setuju dengan usulan pak Samuel. Kita harus lebih rendah hati dan fokus pada bisnis nyata kita" pak Dion pun menimpali Samuel.
"Ya, kita harus membuat perhatian mereka teralihkan untuk sementara waktu sampai kondisinya benar-benar aman" pak Tedi pun sepakat dengan usulan pak Samuel.
Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengawasi mereka dari salah satu sudut diluar ruangan privat tersebut.
__ADS_1
"Jadi kalian selalu berkumpul disini? Lihat saja, aku akan segera mengirimkan undangan kematian pada kalian semua. Anggap saja itu sebagai hadiah ucapan selamat pada kalian semua" gumam Candra dengan seringai tipis dibibirnya sambil menatap sinis ruangan itu.