Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kepanikan Radit


__ADS_3

Andra sudah terbaring sakit dirumah selama beberapa hari. Dia hanya menghabiskan waktunya berada didalam kamar setiap harinya. Ditambah lagi sekarang sudah tidak ada lagi perusahaan Satya jadi Andra sama sekali tidak punya kesibukan.


“Rasanya membosankan selalu berada di tempat tidur. Kak Radit dan Lathan masih lama pulangnya. Lathan baru kembali dari sekolah siang hari nanti. Sebaiknya aku pergi ketaman saja untuk menghirup udara segar” ujar Andra yang merasa bosan berada dikamar sendiri. Sementara Radit dan Lathan tidak ada dirumah.


“Aku ingin jalan-jalan sebentar ditaman. Kalian tidak perlu mengikutiku” pinta Andra pada pembantu dirumahnya.


“Baik, Bu”


Belum juga meninggalkan rumah, tiba-tiba langkah kaki Andra terhenti. Kepala Andra terasa pusing seakan semuanya berputar-putar. Pandangannya mulai kabur dan tubuhnya seakan tak bertenaga. Dia memegangi pelipisnya dengan sedikit menggelengkan kepala agar pandangannya kembali normal. Namun tak lama setelah itu ...


Gubrak!!


Andra kehilangan kesadaran dan terbaring dilantai.


“Bu Andra! Bu Andra!” beberapa palayan yang ada disana langsung panik dan segera berlari menghampiri Andra yang sudah tergeketak


dilantai.


“Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” ujar salah satu pelayan yang terlihat bingung dan panik.


“Hubungi dokter!”


“Telepon pak Radit!” pembantu dan juga penjaga rumah saling memberikan saran yang lebih baik untuk dilakukan. Mereka pun mulai memanggil dokter dan yang lainnya menghubungi Radit.


Tuut tuut tuut


***


Saat ini Radit tengah mengadakan rapat rutin untuk membahas perkembangan perusahaan. Mereka juga membahas mengenai perusahaan Satya yang sudah tidak disponsori oleh Radit.


Drrt drrt drrt


Perhatian Radit teralihkan pada ponselnya yang bergetar. Radit pun melihat layar ponselnya dan disana tertulis nama 'Home'


“Ya, halo” sapa Radit begitu mengangkat teleponnya.


“Halo, Pak Radit. Gawat Pak, bu Andra!” pembantu yang menghubungi Radit bicara dengan terbata-bata karena panik.


“Ada apa dengan Andra?! Cepat katakan!” Radit pun terlihat panik dan khawatir begitu mendengar sesuatu terjadi pada Andra.


“Bu Andra pingsan”

__ADS_1


“Apa?! Andra pingsan?! Hubungi dokter! Aku akan pulang sekarang juga” Radit langsung berdiri karena terkejut lalu dia mengemasi


barangnya dan bergegas meninggalkan ruang rapat yang membuat semua orang kebingungan.


“Bagaimana dengan rapatnya? Apakah sudah selesai?” tanya salah satu peserta rapat pada rekannya dengan raut wajah yang bingung


“Entahlah. Mungkin sudah selesai?” jawab peserta rapat lain yang sama-sama bingung. Akhirnya Candra berdiri dari duduknya dan mulai mengambil alih rapat.


“Haaah. Baiklah, karena sepertinya pak Radit sedang memiliki urusan lain yang lebih mendesak, maka saya yang akan mengambil alih rapatnya. Silahkan kalian laporkan satu persatu. Nanti akan saya sampaikan langsung pada pak Radit” Candra bicara dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa. Dia bersikap seperti seorang pemimpin yang bijaksana.


***


Sementara itu Radit berkendara dengan kecepatan tinggi agar bisa segera tiba dirumah dan mengetahui secara langsung kondisi sang istri.


Tin tiin tiin!


“Kenapa harus macet segala!”


Tin tiin tiin!


Radit yang sedang panik terus membunyikan klakson mobil karena jalanan sangat macet. Dia terlihat putus asa dan sesekali melihat keluar jendela untuk melihat kondisi jalanan didepannya.


"Itu Pak, ada kecelakaan lalu lintas didepan sana. Sebaiknya anda putar arah dan mencari jalan lain karena sepertinya akan membutuhkan waktu lama" ujar pedagang itu memberitahu Radit.


"Hmn ... terimakasih banyak" Radit pun berniat mundur dan mencari jalan lain, namun dibelakangnya juga sudah terisi oleh mobil


lain sehingga dia tidak bisa bergerak maju atau mundur.


"Sial!" gerutu  Radit sambil memukul kemudi


karena kesal. Diapun mau tidak mau harus mengikuti arus jalanan yang macet dengan jari tangan yang terus dihentakkan karena sedang khawatir. Setelah hampir 1 jam akhirnya Radit bisa melewati tempat terjadinya kecelakaan dan kembali melaju dengan kecepatan tinggi untuk segera tiba dirumahnya.


***


Sementara itu, Andra sedang diperiksa oleh dokter. Saat ini dia masih belum sadarkan diri. Beberapa pelayan menemani dokter dikamar Radit untuk mengetahui kondisi Andra.


"Dokter, bagaimana dengan kondisi bu Andra? Apa sakitnya serius?" tanya pelayan yang lebih lama mengikuti Radit


"Sepertinya bukan masalah yang serius, tapi kita akan menunggu sampai beliau sadar untuk memastikan apa yang sedang dialami oleh bu Andra" dokter menanggapi dengan sikap yang tenang sambil terus memeriksa


kondisi Andra. Dia masih berusaha untuk membuat Andra siuman agar bisa melakukan beberapa tes yang menurutnya diperlukan untuk memastikan dugaannya.

__ADS_1


"Uugh" Setelah beberapa lama akhirnya Andra pun mulai sadar. Dia sedikit meringis dengan mata yang masih terpejam sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.


"Anda sudah sadar?" tanya sang dokter begitu


melihat Andra siuman.


"Apa yang terjadi dengan saya, dok?" tanya Andra yang masih belum sepenuhnya sadar.


"Tadi anda tidak sadarkan diri. Apa selama ini anda merasakan sesuatu yang aneh?" dokter bertanya pada Andra sambil memeriksa


denyut nadi dan juga bagian perutnya.


"Saya memang merasa tidak enak badan, tubuh saya terasa lemas dan sering kali merasa pusing. Kadang juga saya merasa mual, tapi saya kira itu karena asam lambung saya yang sedang tinggi. Apa ada yang serius


dengan tubuh saya, dok?" tanya Andra lagi yang mulai khawatir dengan apa yang dikatakan oleh dokter.


"Saya masih harus melakukan tes untuk memastikan dugaan saya" ujar dokter itu dengan senyum lembut diwajahnya. Andra yang khawatir hanya menatap dokter dengan tatapan dingin.


"Tolong lakukan pemeriksaan dengan ini?" dokter itu bicara sambil menyodorkan sebuah alat tes kehamilan.


"Ini kan ...?" Andra meraihnya sambil menatap


bingung pada sang dokter.


"Benar. Saya hanya ingin memastikan apa dugaan saya benar atau tidak" dokter kembali tersenyum saat berusaha meyakinkan Andra.


Akhirnya Andra pun setuju dan pergi ke kamar mandi dengan ditemani seorang pembantu rumahnya. Dia menunggu hasilnya dengan sangat gugup. Tak lama alat tes kehamilan itu menunjukkan hasilnya. Dokter yang lebih dulu melihatnya langsung tersenyum pada Andra.


"Selamat, anda akan jadi seorang ibu"


“Hah? Apa? Jadi … aku hamil?” Andra terlihat bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Diapun meminta dokter untuk kembali meyakinkan dirinya kalau apa yang didengarnya tidak salah.


“Benar. Saat ini anda tengah mengandung. Jadi anda harus banyak istirahat dan berhati-hati saat melakukan sesuatu” dokter kembali


menjelaskan hasil pemeriksaannya pada Andra dan memintanya untuk lebih berhati-hati.


“Benarkah? Anda tidak salah kan, dok?” Andra terlihat antusias dengan kabar kehamilan yang baru dia dengar dan ingin kembali memastikan pada dokter


“Saya sangat yakin. Anda juga sudah melihat sendiri hasilnya” dokter dengan sabar dan senyum yang lembut terus meyakinkan Andra


“Syukurlah. Kak Radit dan Lathan pasti akan sangat senang mendengarnya. Terimakasih dokter”

__ADS_1


__ADS_2