
Luna dan Asya kembali kerumah dengan wajah murung. Seperti yang telah dikatakan Radit, dia telah menarik semua dananya ari perusahaan milik keluarga Satya.
"Mah, apa benar Radit akan membuat kita kehilangan semuanya?" tanya Luna yang kini sedang duduk dikursi ruang keluarga.
"Entahlah. Semoga saja dia hanya menggertak dan tidak benar-benar melakukan itu" Asya menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Ya, semoga saja begitu".
Belum lama mereka bicara, terdengar suara bel rumah mereka yang dibunyikan.
Ting nong ting nong
Bel rumah itu dibunyikan beberapa kali. Luna dan Asya yang sedang berbincang langsung menoleh kearah pintu.
"Siapa yang datang?" tanya Asya pada sang anak
"Entahlah" Luna pun berdiri untuk membukakan pintu.
Ting nong ting nong
"Ya, sebentar" teriak Luna sambil berjalan mendekati pintu
Ceklek
"Selamat sore"
"Ya, sore" Luna sangat terkejut saat melihat beberapa pria berdiri dibalik pintu.
"Kami dari kejaksaan. Kami kemari untuk menyita rumah ini dan seluruh isinya" ujar salah satu perwakilan dari pria itu.
"Apa? Disita? Mama... ! mama... !" Luna langsung berteriak memanggil sang ibu begitu mendengar rumah mereka akan disita.
"Ada apa, Luna? Kenapa kamu teriak-teriak begitu? Memangnya siapa yang datang?" Asya bertanya dengan sikap yang tenang
"Itu Mah, itu …" Luna tergagap sambil menunjuk kebelakangnya.
"Permisi" ujar pria tadi memgikuti Luna dari belakang.
"Ya, ada perlu apa ya?" tanya bu Asya pada pria itu.
"Kami dari pihak kejaksaan. Kami datang kemari untuk menyita rumah ini" ujarnya lagi menjelaskan.
"Apa? Disita?" tanya Asya dengan mata membelalak karena terkejut.
"Ya, kami diperintahkan untuk menyita rumah berserta isinya. Kami juga akan menyita perusahaan Satya beserta isinya" ujar petugas itu menjelaskan.
__ADS_1
"Kenapa disita? Apa kami tidak bisa mendapatkan tempo lagi?" tanya Asya dengan panik.
"Kami sudah memberikan perpanjangan waktu kepada Bu Luna, namun beliau tidak bisa melunasi semua hutangnya pada bank. Karena itu bank menyerahkan semuanya pada kami. Anda berdua memiliki waktu 1 jam untuk meninggalkan rumah ini" ujarnya lagi dengan sikap yang tenang
"1 jam? Lalu kami harus kemana? Mah, apa yang harus kita lakukan?" tanya Luna dengan wajah bingung
"Mama juga tidak tahu sayang. Hubungi adikmu. Mungkin dia punya jalan keluarnya"
"Baik, Mah" Luna pun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Lulu.
Tuut tuut tuut
Saat ini Lulu sedang bersama seorang pria di mall. Dia sedang jalan-jalan saat Luna menghubunginya.
Drrt drrt drrt
“Ada apa Kak Luna menghubungiku? Pasti dia ingin mengatakannhal yang tidak masuk akan seperti mama?” gumam Lulu sambil menatap layar ponsel ditangannya.
“Kenapa tidak diangkat?” tanya pria yang sedang bersamanya
“Ini dari kakakku. Entah ada apa. Tapi aku tidak ingin menerimanya. Pasti dia ingin mengatakan hal yang tidak-tidak seperti mama” ujar Lulu menjelaskan pada prianya.
“Ya sudah. Lebih baik kita bersenang-senang saja” Pria itu kembali melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Lulu dan membawanya pergi meninggalkan mall menuju hotel.
“Kita mau kemana?” Lulu bertanya dengan raut wajah penasaran.
Drrt drrt drrt
Luna masih terus berusaha menghubungi sang adik untuk memberitahu keadaan mereka sekarang.
Tuut tuut tuut
“Apa masih belum diangkat juga?” tanya sang ibu yang penasaran
“Ya, Mah. Lulu tidak menjawab sama sekali” Luna menanggapi sambil terus mencoba menghubungi Lulu.
“Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa tidak menjawab telepon darimu?” Luna dan Asya pun mulai bingung dengan apa yang harus mereka lakukan.
“Sebaiknya kalian kemasi baju kalian. Kami harus segera menyegel rumah ini. Ingat, kalian hanya punya waktu kurang dari 1 jam saja” ujar petugas kejaksaan mengingatkan.
Luna dan Asya saling menatap satu sama
lain mempertimbangkan. Mereka pun beranjak pergi kekamar mereka masing-masing untuk mengemasi barang yang akan mereka bawa.
***
__ADS_1
Sementara itu dikamar hotel Lulu
“Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu terus saja melihat ponsel. Bukannya sudah pernah aku bilang kalau kamu tidak boleh berhubungan dengan pria lain saat sedang bersama denganku?! Kamu tidak tidak mengerti dengan apa yang aku katakan?!”
Plak!
Ach!!
“Maafkan aku. Ini bukan pria. Kakakku yang sejak tadi menghubungiku. Aku hanya akan mengirim pesan dan menanyakan apa yang terjadi padanya” Lulu menjelaskan sambil memegangi sebelah pipinya yang terasa panas karena tamparan pria yang sedang bersamanya.
“Bohong! Kalian semua sama saja! Dasar pela*ur!”
Plak!
"Ach!! "
Pria itu kembali melayangkan tamparan pada pipi Lulu yang satu lagi.
"Maafkan aku! Tadi benar-benar bukan dari pria. Dari tadi itu telepon dari kakakku. Aku tidak tahu ada apa sampai dia terus saja menghubungiku" Lulu berteriak sambil meringis kesakitan dengan air mata yang mulai menggenang dipelupuk matanya.
"Bohong! Jika memang itu dari kakakmu, kenapa kamu tidak menerimanya? Angkat didepan mataku jika kamu memang tidak berbohong!" pria itu bicara sambil menjambak rambut bagian belakang Lulu
"Kamu bisa lihat sendiri ponselku. Yang tadi menghubungiku adalah kak Luna" ujar Lulu berusaha meyakinkan sang pria sambil memberikan ponselnya agar diperiksa oleh pria itu.
"Baiklah. Kemarikan ponselnya!" dengan cepat pria itu merebut ponsel Lulu dan memeriksanya.
"Ternyata kamu benar. Maafkan aku karena aku tidak percaya padamu. Apakah sakit?" Nada bicara pria itu seketika langsung berubah setelah melihat daftar panggilan tak terjawab dari ponsel Lulu. Diapun mengusap kedua pipi Lulu yang bengkak. Bahkan salah satu ujung bibirnya sedikit mengeluarkan darah.
Lulu tidak menanggapi apa-apa. Dia hanya menundukan kepala dengan air mata yang mulai menetes dari kedua pipinya.
"Kemarilah. Ayo kita lanjutkan lagi!" pria itu membantu Lulu berdiri dan kembali memapahnya ke tempat tidur. Dia menciumnya, mengusap lembut pipinya dan menghapus air matanya namun Lulu sama sekali tidak bergeming. Dia hanya terus menangis menerima perlakuan dari pria itu.
"Kenapa kamu tidak menanggapiku?! Kamu bilang akan memberikan kepuasan padaku?!" ujar pria itu yang kembali marah pada Lulu
"Maafkan aku. Aku tidak bisa melakukannya ... hiks … hiks…" ujar Lulu dengan derai air mata yang kembali mengalir deras.
"Dasar ******! Aku sudah memberikan banyak barang padamu, tapi kamu tidak bisa memberikan kepuasan padaku! Dasar tidak berguna!"
Plak!
Plak!
"Ach, maafkan aku. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi" ujar Lulu dengan derai air mata yang semakin deras.
"Sudahlah. Pergi kamu dari sini! Aku tidak sudi melihatmu lagi! Ambil ini!" pria itu melemparkan uang pada Lulu lalu mengusirnya, setelah dia memukul Lulu hingga dia menderita banyak luka lebam pada pipidan tubuhnya.
__ADS_1
Lulu dengan langkah kaki yang berat dan banyak luka berjalan dengan tertatih meninggalkan hotel.
"Kenapa nasibku jadi seperti ini hiks... hiks... "