Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Keributan Di Mall


__ADS_3

"Halo, Kakak tidak bisa menjemputmu. Apa kamu bisa pulang sendiri? Kalau tidak … kamu bisa minta supir menjemputmu disekolah".


Lathan sedang menghubungi Ardhan saat jam istirahat berlangsung.


"Memangnya Kak Lathan mau pergi kemana?".


Dahi Ardhan berkerut saat dia bertanya pada sang kakak.


"Kakak mau pergi ke mall menemani Fandy, jadi tidak papa kalau kamu pulang sendiri kan?" tanya Lathan dengan nada bicaranya yang tenang.


"Baiklah. Aku bisa pulang naik taksi dari sekolah. Kakak tidak perlu khawatir" ujar Ardhan menenangkan sang kakak.


"Ya sudah. Sampai jumpa dirumah"


Ardhan dan Lathan pun mengakhiri panggilan telepon mereka.


Setelah apa yang dilakukan Ardhan pada Bobi sebelumnya, kini hampir semua siswa mengenalnya.


"Ardhan, bolehkah kami duduk disini?" tanya salah seorang gadis yang datang menghampiri Ardhan dikantin.


Ardhan yang sedang menikmati makanannya langsung mengangkat kepala melihat wajah dua orang gadis yang mendekatinya.


"Tinggal duduk saja. Bangkunya kosong kan".


Ardhan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil tetap menikmati makanannya.


"Terimakasih".


Dua orang gadis itu pun langsung duduk dihadapan Ardhan.


"Ardhan, apa saat pulang sekolah kamu punya acara? Bagaimana kalau kita pergi bermain dulu?" tanya gadis itu lagi dengan senyuk dibibirnya.


"Tidak bisa. Aku sibuk"


Ardhan langsung menjawab dengan singkat dan kembali melanjutkan makannya.


Kedua gadis itu langsung diam dan saling menatap satu sama lain. Mereka kini merasa canggung karena Ardhan hanya diam dan tidak bicara apapun lagi.


"Aku sudah selesai, jadi aku pergi dulu".


Ardhan langsung beranjak pergi dari kantin tanpa menunggu tanggapan dari kedua gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu.


"Dia sombong sekali. Mentang-mentang sudah berhasil membuat Bobi dikeluarkan dari sekolah, sekarang dia jadi merasa kalau dialah yang berkuasa disini" ujar salah satu gadis lainnya.


"Kamu benar. Dia jadi sangat sombong karena wajah tampannya. Harusnya dia diberi pelajaran saja" ujar gadis lainnya.


"Bagaimana caranya?" tanya nya bingung


"Entahlah. Yang jelas aku tidak suka dengan sikap sombongnya".


Kedua gadis itu berbincang sambil menatap punggung Ardhan yang semakin menjauh.

__ADS_1


...****************...


Ditempat lain.


Lathan dan Fandy pergi ke mall untuk menenani Zara membeli sesuatu.


"Jika aku tahu kamu mengajakku ke mall untuk menenani saudaramu belanja, aku tidak akan mau ikut kemari" ujar Lathan dengan raut wajah kesal.


"Karena itu aku tidak memberitahumu sebelumnya. Aku tidak ingin sendirian menemani Zara. Itu pasti sangat membosankan"


Fandy pun menanggapi Lathan dengan acuh tak acuh.


"Hei kalian! Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Kenapa jalan kalian sangat lambat?" ujar Zara yang berjalan didepan dengan bicara yang kesal.


"Tidak ada".


Jawab Lathan dengan singkat lalu berjalan melewati Zara.


Kini Lathan dan Fandy berjalan didepan Zara.


"Dasar mereka ini. Apa yang mereka bicarakan? Pasti membicarakan aku. Lagipula kenapa Fandy harus mengajak pemuda aneh dan sombong itu ikut kemari? Harusnya kan hanya pergi berdua sebagai saudara yang sudah lama tidak bertemu!"


Zara terus saja menggerutu kesal sambil menatap dua pemuda tampan yang berjalan didepannya dengan tatapan yang sinis.


Duk


"Ah maafkan saya. Saya tidak sengaja".


Tanpa disadari Zara bertabrakan dengan seorang pemuda hingga kopi yang dia bawa tumpah mengenai pakaiannya. Dia berjalan berdampingan dengan seorang gadis. Sepertinya mereka adalah sepasang kekasih.


"Tidak papa" jawab pemuda itu dengan senyum yang ramah.


"Apanya yang tidak papa?! Bajumu jadi kotor karena kopi itu! Heh, kamu itu punya mata tidak sih? Kalau jalan itu perhatikan kedepan. Punya mata itu jangan hanya digunakan untuk melihat pria saja!".


Gadis yang bersama pria itu bicara sambil teriak pada Zara.


Dahi Zara berkerut. Dia menatap heran gadis itu.


"Maaf, nona. Saya sudah minta maaf karena saya tahu kalau saya salah" ujar Zara yang tetap bersikap tenang.


"Maaf, maaf. Jika masalah dapat selesai hanya dengan minta maaf, maka semua orang akan dengan mudah minta maaf dan tidak akan ada yang mau bertanggung jawab!" ujar gadis itu lagi dengan nada yang kesal.


"Saya sudah minta maaf. Apalagi yang harus saya lakukan? Pacar anda juga tidak papa, hanya bajunya saja yang basah" ujar Zara lagi dengan sikap tenang yang dipaksakan.


"Kamu harus bayar ganti rugi"


"Apa?! Ganti rugi?".


Zara menatap tak percaya dengan wajah terkejut.


"Ya, kamu harus ganti rugi. Anggap saja untuk biaya laundry. Baju yang dipakai pacarku ini bukan baju sembarangan. Ini adalah baju mahal yang butuh perawatan khusus. Noda kopi bisa saja tidak hilang jika dicuci biasa"

__ADS_1


Gadis itu bicara dengan sombong sambil menunjukkan pakaian milik sang kekasih, sedangkan pria itu hanya diam dan sesekali berusaha membujuk pacarnya agar tidak berlebihan.


"Lagipula … gadis sepertimu tidak akan masalahkan jika mengeluarkan sedikit uang, kan? Sore hari keluyuran di mall dengan masih mengenakan rok sekolah dan atasan baju bermerk. Kamu pasti sedang menyiapkan umpan untuk memancing kakap besar kan?"


"Apa katamu?!"


Gadis itu terus bicara pada Zara dengan nada yang mencibir. Kata-katanya dengan jelas menerangkan kalau dia merendahkan Zara dan menuduhZara sebagai gadis murahan.


Zara sudah terlihat semakin kesal. Dia mengeratkan giginya dan menggerakkan dagunya berkali-kali berusaha menahan amarah.


"Berapa yang harus aku bayar?" tanya Zara dengan nada bicara yang dingin.


"1 juta". Gadis itu langsung menjawab dengan tenang.


"1 juta?! Sepertinya ini motif penipuan jenis terbaru. Siapa namamu?" ujar Zara dengan seringai tipis dibibirnya. Diapun langsung membuka tas dan mengambil dompetnya. Dia mengambil uang dari dompetnya lebih dari 1 juta.


"Senia. Ini Boy Adrian, dia putra dari pemilik hotel terkenal disini".


Gadis itu memperkenalkan dirinya dan pacarnya dengan bangga.


"Oh begitu. Ini 2 juta, dan aku ingin melakukan ini".


Zara memberikan uangnya pada gadis itu, setelah dia mengambilnya Zara langsung menamparnya.


Plak!!


"Sayang!"


"Jaga bicaramu. Aku bukan gadis murahan seperti yang kamu katakan!".


Zara menampar pipi gadis itu dengan keras hingga dia terduduk dilantai. Setelah itu dia berjalan dengan langkah anggun mendekati Lathan dan Fandy yang sejak tadi diam diantara kerumunan sambil memperhatikan Zara.


"Lathan Gevaril Nugraha, bukankah keluargamu memiliki pengaruh besar di negara ini?" tanya Zara dengan sikap yang tenang dan senyum yang terlihat elegan.


"Lalu, apa yang kamu inginkan dariku?".


Lathan menanggapi dengan senyum tipis dan nada bicara yang dingin. Sikapnya terlihat tenang dan penuh wibawa.


"Bisakah kamu membantuku menghilangkan nama keluarga mereka dari daftar orang kaya disini? Sepertinya, mereka tidak cocok jadi orang kaya. Mungkin mereka akan lebih cocok jika benar-benar jadi seorang pengemis dijalanan"


Senyum Lathan semakin lebar. Dia menatap dingin pada sepasang kekasih yang kini duduk dilantai sambil menatap Lathan dengan raut wajah pucat karena terkejut.


"Apa yang akan aku dapatkan?" tanya Lathan lagi pada Zara. Kali ini tatapannya terlihat lembut.


"Apapun yang kamu inginkan, pasti akan aku berikan".


Zara menjawabnya tanpa pikir panjang dengan mata yang terus menatap sepasang kekasih itu.


"Ternyata kamu bukan gadis polos seperti yang aku pikirkan. Baiklah, aku pegang kata-katamu. Masalah seperti ini, bukan hal yang sulit untuk aku selesaikan" ujar Lathan dengan seringai tipis dibibirnya.


Fandy yang sejak tadi memperhatikan Zara dan Lathan, kini hanya bisa memukul dahinya sendiri sambil menarik napas panjang.

__ADS_1


"Haah... aku terbiasa dengan teman yang gila, sekarang ditambah lagi dengan sepupu yang gila. Lama-lama aku yang bisa gila karena mereka berdua"


__ADS_2