
Kediaman Radit.
"Kak, bagaimana ini? Lathan diculik!" Andra bicara pada Radit dengan panik setelah mendapatkan telepon dari penculik itu.
"Sayang, tenanglah. Lathan pasti akan baik-baik saja. Kita akan memikirkan cara untuk menyelamatkannya" Radit berusaha menenangkan Andra dipelukannya.
"Tapi Kak, putra kita itu dalam bahaya! Kita tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang" keluh Andra dengan air mata yang mulai mengalir dikedua pipinya.
"Iya kita akan cari cara" ujar Radit yang terus berusaha menenangkan sang istri.
"Mami, Papi. Aku pulang"
Radit dan Andra langsung menoleh begitu mendengar suara Ardhan yang baru saja tiba.
"Pih, kak Lathan kemana sih? Aku sudah lama menunggu kakak, tapi kakak tidak datang menjemputku". Ardhan langsung mengeluh ketika dia tiba dirumah dan duduk dekat dengan Radit.
"Kakakmu diculik"
"Apa?! Kakak diculik? Bagaimana bisa?". Ardhan terlihat terkejut dan panik begitu mendengar Lathan diculik.
"Tadi ada yang menghubungi mami, dia minta tebusan 1 milyar. Jika tidak, maka ... Kakakmu akan berada dalam bahaya. Bagaimana ini?" Andra menjelaskan dengan raut wajah sedih dan juga panik.
"Mami tenang dulu. Kita pasti akan temukan kakak. Pih, aku dan kakak selalu aktifkan GPS" Ardhan menjelaskan dengan sikap yang tenang.
"Kalau begitu kita bisa lacak keberadaannya selama ponsel Lathan aktif".
"Iya Pih" Ardhan menanggapi sambil menganggukkan kepala.
"Sayang, kamu tunggu dirumah. Aku akan pergi kesana untuk menyelamatkan Lathan". Radit langsung beranjak dari duduknya untuk menyelamatkan Lathan.
"Aku ikut, Pih" Ardhan langsung berdiri untuk ikut dengan Radit.
"Kamu tunggu dirumah saja. Temani mamimu!" ujar Radit dengan tegas.
"Tapi Pih. Aku juga ingin bantu Papih selamatkan kakak. Aku pasti Bisa bantu Papih". Ardhan bersikeras untuk ikut dengan Radit.
"Ardhan, sebaiknya kamu disini temani Mami. Mami tidak bisa tenang jika kamu juga berada dalam bahaya. Lebih baik kamu awasi saja darisini sambil temukan informasi berharga yang bisa kita gunakan nantinya".
"Baik, Mami. Kalau begitu aku akan lacak lokasi kakak dan mencari bukti CCTV. Kita tidak boleh membiarkan tikus got merajalela". Ardhan pun setuju untuk tidak ikut dengan Radit meskipun dengan raut wajah kecewa dan langsung beranjak pergi kekamarnya untuk mengambil laptop.
"Ternyata kamu sudah semakin pintar" Radit menggoda Andra disertai senyum lembut dibibirnya.
"Kalau begitu Papi pergi dulu" sambung Radit yang mulai beranjak pergi.
__ADS_1
"Iya sayang. Hati-hati"
"Ya". Radit mengangguk lalu memanggil penjaga yang ada disana
"Bob, kamu ikut aku dan minta beberapa orang untuk pergi bersama kita menyelamatkan Lathan, dan sisanya berjaga dirumah dan tetap waspada". Radit memberikan perintah dengan tegas.
"Baik, Pak!". Pengawal Radit langsung beranjak pergi untuk memanggil pengawal lain dan bersiap pergi menyelamatkan Lathan.
...****************...
Hari sudah mulai malam. Para penculik Lathan sedang berjaga didepan pintu sambil berbincang gembira membicarakan apa yang akan mereka lakukan dengan uang yang didapat dari tebusan Lathan.
"Jika kita sudah mendapatkan uang itu, kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan"
Didalal ruangan, Lathan masih terus berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Ra, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lathan yang terlihat khawatir melihat Zara yang meringkuk dengan tangan dan kaki yang terikat dan wajah yang pucat.
"Aku baik-baik saja" jawab Zara lirih.
"Bisakah kamu sedikit berputar kemari? Aku akan berusaha membuka tali ditanganmu". Lathan bicara dengan sikap tenang dan lembut.
Zara tidak bicara, namun dia berusaha memutar tubuhnya seperti apa yang dikatakan Lathan meskipun dengan tubuh yang terasa lemas.
"Sebentar Ra, sedikit lagi" bisik Lathan yang hampir berhasil membuka ikatan talinya.
"Hmn ... "
"Berhasil!"
Zara berusaha duduk dengan perlahan lalu membuka ikatan tali dikakinya. Setelah terlepas, dia membuka ikatan tali ditangan Lathan.
"Apa kamu benar-benar tidak papa?". Lathan terus menatap wajah Zara dengan khawatir. Zara pun menatap wajah Lathan disertai senyum tipis diwajahnya yang justru terlihat lebih mengkhawatirkan karena wajahnya semakin pucat.
"Sudah kubilang berkali-kali kalau aku baik-baik saja". Jawab Zara sambil membuka tali ditangan Lathan.
"Terbuka. Apa kamu bisa lepaskan sendiri ikatan dikakimu?" sambung Zara setelah berhasil melepas ikatan tangan Lathan.
"Ya, aku bisa melakukannya sendiri" dengan cepat Lathan membuka ikatan dikakinya.
"Kita harus mencari cara untuk bisa keluar darisini".
Lathan langsung berdiri dan memperhatikan sekeliling. Ruangan itu sangat kecil dan gelap. Hanya ada sedikit cahaya bulan dari luar yang berasal dari jendela kecil yang terhalang teralis.
__ADS_1
"Sepertinya kita tidak bisa keluar dengan mudah. Jendela ini dipasang teralis" ujar Lathan yang sedang memeriksa jendela dan sekitarnya. Diapun menoleh dan menatap Zara yang bersandar lemas pada dinding sambil terduduk dilantai.
"Apa yang terjadi denganmu? Ra, kamu dengar aku? Badanmu panas. Bagaimana ini?". Lathan mulai panik dan bingung melihat kondisi Zara yang lemas dengan wajah sangat pucat.
Ring ring ring..
"Ponsel. Dimana ponselmu?". Lathan langsung teringat pada ponsel setelah mendengar suara dering telepon dari luar.
Zara merogoh saku roknya dan mengambil ponsel. Beruntungnya ponsel Zara menggunakan mode silent jadi penculik itu tidak sadar akan ponsel Zara. Zara memberikan ponselnya pada Lathan. Lathan mulai membuka ponsel Zara dan disana ada banyak panggilan tak terjawab dari Fandy.
"Aku harus hubungi papi terlebih dahulu" gumam Lathan yang langsung menekan nomor Radit.
Tuut tuut tuut
Tak berselang lama terdengar suara Radit saat menerima telepon.
"Halo"
"Halo, Papi. Ini aku, Lathan" Lathan bicara dengan suara pelan dan hampir berbisik.
"Lathan, apa kamu baik-baik saja?" Radit terdengar panik saat dia mendengar suara Lathan.
"Aku baik-baik saja, Pih. Papi tidak perlu khawatir"
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Than, apa kamu dengar sesuatu tentang para penculik itu?". Radit bertanya dengan sikap yang mulai tenang.
"Aku hanya dengar kalau lokasinya ada di gudang terbengkalai. Tapi aku tidak tahu lokasi pastinya. Papi bisa melacak GPS diponselku atau ponsel ini. Temanku ikut diculik saat berusaha menolongku. Papi, bisakah Papi lebih cepat? Temanku sepertinya sakit". Lathan menjelaskan dengan sikap tenang sambil sesekali memperhatikan pintu karena takut ada yang tiba-tiba masuk. Dia juga terus menoleh pada Zara dengan raut wajah khawatir.
"Ya, Papi mengerti. Bersikaplah tenang. Jangan sampai mereka curiga"
"Baik, Pih". Lathan dan Radit pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.
"Bertahanlah. Ayahku pasti akan segera menyelamatkan kita dari sini". Lathan berusaha menenangkan Zara dengan nada bicaranya yang lembut. Sesekali dia juga menyentuh dahi Zara untuk mengetahui kondisinya.
"Dimana anak itu?". Lathan terkejut ketika mendengar ada suara seseorang dipintu.
"Mereka ada didalam, Bos". Bos penculik menjawab dengan sikap tenang.
"Ayo kita lihat kedalam!".
Mata Lathan membelalak dan terlihat panik setelah mendengar mereka akan masuk.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?".
__ADS_1