
Keesokan harinya.
Keluarga Radit sedang sarapan bersama sebelum mereka memulai aktifitas masing-masing.
“Hoam
…”
Radit memperhatikan putra keduanya yang sepertinya lemas.
“Ardhan, apa kamu baik-baik saja? Apa yang kamu lakukan semalam sampai kamu masih menguap ketika makan seperti itu?” tanya Radit dengan sikap yang tenang.
“Maafkan aku, Pih. Semalam aku mengerjakan tugas yang harus segera diselesaikan. Jadi aku begadang hingga larut malam”.
Ardhan menjelaskan dengan tenang sambil menikmati sarapan paginya.
“Tata, titak baik talau Tata tuka begadang. Tata halus banak tidul”. Lili menasehati Ardhan dengan nada bicaranya yang lucu. Lathan dan Radit hanya tersenyum memperhatikan Lili
Ardhan pun dengan lembutnya menanggapi ucapan sang adik.
“Baik, Lili cantik. Kakak tidak akan bergadang lagi. Oke?”
“Memangnya kamu sudah punya banyak tugas sekolah? Padahal kamu baru saja masuk sekolah, kan? Masa iya tugas sekolahmu sudah menumpuk?” Andra yang masih membantu bibi menyiapkan minuman untuk keluarganya pun ikut bergabung dalam percakapan yang sedang terjadi itu.
“Iya, Mih. Guru aku itu menyebalkan. Dia memberikan tugas dihari aku baru masuk sebagai siswa SMP. Mana ada guru seperti itu. Lihat saja aku pasti akan buktikan kalau aku ini bukan siswa biasa yang akan menyerah begitu saja”. Ardhan menanggapi sang ibu dengan nada bicara yang penuh emosi. Lathan yang berada disampingnya tersenyum tipis.
“Jika kamu butuh bantuan, katakan saja padaku. Aku pasti akan membantumu”
“Terimakasih, Kak. Tapi aku masih bisa mengerjakannya sendiri ... Jika aku tidak bisa, aku pasti akan meminta bantuan Kak Lathan”. Ardhan tersenyum ceria menolak tawaran Lathan.
“Baiklah, kalau begitu aku akan lihat hasilnya nanti. Kamu harus memberitahu padaku hasilnya!”
“Ok” ujar Ardhan sambil mengkat sebelah tangannya.
“Pih, aku ingin mengemudi kesekolah sendiri”
__ADS_1
“Tidak!”
Andra dengan tegas langsung menolak permintaan Lathan.
“Mami, apa salahnya aku mengemudi sendiri ke sekolah? Kalian mengizinkanku mengemudi sendiri ketika pergi kemanapunn tapi kenapa aku tidak boleh mengemudi sendiri ke sekolah?”. Lathan sedikit memainkan bibirnya saat dia bicara pada Andra
“Pokoknya tidak boleh. Pih, jangan sampai izinkan Lathan mengemudi sendiri ke sekolah. Biarkan saja supir yang mengantarnya pergi” Andra pun berusaha membujuk Radit agar tidak membiarkan Lathan mengemudi.
“Tata, itu bahaya. Tata titak boleh menemudi tendili. Tanti Tata nebut-nebut di dalan. Badaimana talau Tata ketelakaan?” Lili pun dengan lucunya berusaha menahan sang kakak agar tidak mengemudi sendiri.
“Lili, Lili kan tau kalau kakak bisa mengemudi. Kakak juga sudah punya SIM, jadi Kakak akan hati-hati agar tidak kecelakaan. Lili doakan saja agar tidak terjadi sesuatu saat kakak mengemudi mobil sendiri”.
Lathan bicara dengan manis pada Lili sampai dia mendekatkan wajahnya pada Lili. Sementara Radit hanya diam memperhatikan perdebatan antara Lathan dan Andra.
“Papih, ayolah. Jangan dengarkan Mami. Aku akan hati-hati. Lagipula apa bedanya mengemudi kesekolah dengan luar sekolah?” ujar Lathan yang terus membujuk Radit
“Pih, pokoknya jangan dulu biarkan Lathan membawa mobilnya ke sekolah. Nanti semua gadis akan berkerumun didekatnya dan membuat Lathan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan mereka”.
Semua orang menatap Andra setelah mendengar apa yang dikatakannya.
“Jadi Mami melarang kakak membawa mobil ke sekolah karena takut kakak diambil gadis lain?” Ardhan menggoda sang ibu dengan senyum mengejek.
“Mami, apa Lathan lebih penting daripada Papi?” ujar Radit yang merasa ucapan Andra sedikit membuatnya kesal.
“Bukan begitu, hanya saja … Mami belum siap kalau Lathan tidak memiliki waktu lagi untuk dihabiskan denganku” Andra menjawab dengan sedikit canggung sambil menundukkan kepalanya.
Lathan beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Andra. Diapun memeluk sang ibu yang kini tingginya tidak lagi melebihi dirinya.
“Mami, jika itu yang Mami khawatirkan, maka Mami tenang saja. Tidak akan ada satu gadis pun di dunia ini yang dapat menggantikan posisi Mami dihatiku. Mami adalah wanita nomor 1 dalam hidupku. Dan jika aku menyukai seorang gadis, maka aku akan memberitahu Mami secara langsung” ujar Lathan sambil menenangkan sang ibu dalam pelukannya.
“Janji ya? Kamu harus selalu memberitahu Mami apapun?Termasuk masalah percintaanmu. Kamu tidak boleh menyembunyikan apapun dari Mami”. Andra mendongak menatap wajah putranya yang kini sudah tumbuh tinggi.
“Aku janji Mih. Jadi sekarang aku sudah boleh mengemudi ke sekolah kan, Mih?” tanya Lathan lagi dengan tatapan berbinar penuh harap.
“Baiklah. Tapi ingat untuk selalu hati-hati, jangan kebut-kebutan, jangan melamun, jangan memaksakan diri jika lelah dan juga jangan melanggar peraturan lalu lintas. Itu semua bisa membahayakan keselamatanmu!”
__ADS_1
Lathan langsung berjalan menjauh ketika Andra mulai memberikan wejangan untuknya.
“Lathan, kamu dengar Mami tidak?”. Melihat sikap Lathan, Andra sedikit meninggikan suaranya dengan kedua tangan berada dipinggangnya.
“Iya, Mami. Aku mendengarkan” ujar Lathan denga malas.
“Nah, karena Mami sudah memberikan aku izin, jadi aku boleh pergi kan, Pih?” Lathan kembali tersenyum saat dia bicara pada Radit.
“tapi, Papi belum memberimu izin” ujar Radit dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang dingin.
“Ayolah, Pih. Sekarang kenapa lagi?” tanya Lathan yang kembali mengeluh pada Radit.
“Kamu mau mengemudi pakai mobil mana? Mobil yang biasa dibawa oleh supir? Bukankah model itu sudah terlalu tua?” Radit bertanya dengan sikap yang dingin.
“Pih, biarpun itu biasa dibawa oleh supir, tapi itu mobil Roll Royce phantom. Walapun mobil itu memang lebih cocok untuk orang seumuran Papi, tapi tidak masalah kok. Aku bisa menerimanya” Lathan menanggapi Radit dengan sikap acuh tak acuh
“Kamu
yakin akan pakai mobil itu? Kamu tidak ingin lihat koleksi mobil sport Papi?”
Radit bicara sambil menunjukkan kunci garasi mobil miliknya yang berada di
baseman
“Apa boleh aku pakai mobil sport Papi?” tanya Lathan tak percaya
“Tentu saja. Tapi sebelum kamu gunakan harus diperiksa dulu oleh montir ahli, meskipun mobil dalam basemen itu terawatt tapi tetap saja lama tak digunakan”
Senyum Lathan semakin lebar setelah mendengar ucapan Radit.
“Baiklah kalau begitu. Sekarang aku akan lihat dulu mobilnya, setelah itu aku akan pilih salah satu jadi bisa diservice terlebih dahulu sebelum digunakan”. Lathan berjalan pergi meninggalkan meja makan dengan wajah sumringah.
“Kakak, aku ikut!” Ardhan sedikit berlari saat dia berusaha mengejar Lathan
“Kak Radit yakin akan membiarkan dia mengemudi sendiri? Apalagi itu mobil sport”. Andra masih terlihat ragu membiarkan Lathan mengemudikan sendiri mobilnya.
__ADS_1
“Tidak papa. Dia sudah mulai dewasa. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan” Radit tetap bersikap tenang menanggapi sang istri sambil sesekali berbincang dengan Lili yang duduk dikursi sebelahnya.
“Meskipun dia sudah dewasa, tapi tetap saja bagiku dia adalah anak-anak” Andra bicara dengan acuh tak acuh tanpa menatap sedikitpun kearah Radit