Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Pertemuan Dengan Surya


__ADS_3

Andra dan Lidia langsung pergi ke restoran setelah keributan dirumahnya. Radit dan Lathan memperhatikan dari kursi yang berada tidak jauh dari mereka.


"Jadi ini yang kalian rencanakan? Kalian menjadikan aku umpan untuk memancing pria yang tidak jelas?" pikir Andra sambil duduk dan menunggu dengan raut wajah kesal.


Sebelumnya dirumah Radit


"Aku akan memberikan tugas terakhir untukmu. Kamu tidak memiliki pilihan untuk menolak atau apapun itu. Kamu harus menghubungi bosmu dan minta dia untuk menemui kita direstoran" ujar Radit dengan sikap yang tenang.


"Tapi, Pak. Saya ..."


"Sudah aku bilang, kamu tidak berada dalam posisi untuk bisa memilih atau menolak permintaanku". Radit menatap Lidia dengan tatapan yang mengintimidasi, Lidia hanya bisa menganggukkan kepala sambil menunduk mendengar permintaan Radit karena tidak berani menatapnya.


Saat ini direstoran.


Andra menunggu dengan sikap yang tenang sambil menikmati dessert yang tersedia direstoran itu. Sementara Lidia menunggu dengan panik karena takut kalau Surya akan menghukumnya karena telah berani berkhianat. Dia tidak tahu kalau Radit lebih menyeramkan daripada Surya.


"Berapa lama lagi bosmu akan datang?" tanya Andra yang mulai kesal menunggu Surya.


"Mungkin sebentar lagi, Bu. Karena tadi bos saya bilang sedang ada sedikit masalah dikantornya" ujar Lidia dengan ragu-ragu.


"Baiklah, kita tunggu sebentar lagi. Jika tidak ada, maka kamu harus menunjukkan pada kami dimana tempat tinggalnya". Andra tetap bersikap tenang meskipun dia sedang kesal pada Lidia.


Disudut lain restoran ...


"Papi, kapan aku bisa bermain dengan semua data yang aku kumpulkan? Rasanya aku sudah tidak sabar menunjukkan pada semua orang bagaimana Lidia dan juga perusahaan itu berjalan. Aku ingin membuat mereka minta maaf karena ingin memanfaatkan mami" Lathan bicara dengan sangat antusias. Dia terlihat tidak sabar untuk mengirim postingan yang saat ini telah dia buat.


"Tenanglah dulu. Biar kita lihat dulu bagaimana ekspresinya saat tahu kalau hidup mereka akan hancur. Beraninya mereka masuk kerumah dan berusaha merusak keluarga kita". Radit bicara dengan sikap yang dingin sambil menatap sinis pada Lidia.


"Papi benar. Beraninya dia berusaha merusak hubunganku dengan mami. Apa mereka pikir aku ini anak yang bodoh? Rasanya itu membuatku kesal!"


"Tidak heran jika mereka berpikir begitu, Papi sendiri saja tidak mengira kalau kamu sudah menguasai ilmu komputer dengan sangat baik. Sepertinya Kenzo bisa diandalkan untuk jadi seorang tutor. Tapi … kenapa kamu tidak berkata jujur pada Papi kalau kamu ingin belajar komputer? Papi bisa mengajarimu sendiri" ujar Radit dengan sikap acuh tak acuh.


"Itu karena … aku takut kalau Papi akan marah padaku. Karena itu aku menghubungi kak Zo dan memintanya mengajariku" Lathan menjawab Radit dengan kepala tertunduk.


Radit tersenyum melihat Lathan, lalu dia mengusap lembut kepala Lathan.

__ADS_1


"Mana mungkin Papi marah padamu hanya karena ini. Justru Papi akan sangat senang dan bangga jika kamu mau belajar banyak hal sedari kecil" ujar Radit dengan sangat lembut.


"Benarkah, Pih? Jadi Papi setuju kalau aku belajar komputer dan beladiri?" tanya Lathan dengan penuh semangat.


"Iya, Papi bisa mengajarimu semuanya" Radit menanggapi dengan senyum lembut dibibirnya.


"Asyiiikk!!" seru Lathan sambil mengepalkan tangan ke udara.


Disudut lain terlihat Surya yang baru datang. Dia memasuki restoran dengan langkah kaki yang cepat.


"Maafkan saya karena telah membuat anda menunggu" ujar Surya sambil menarik kursi didepan Andra.


Andra menatap Surya yang kini duduk dihadapannya dengan raut wajah tak percaya.


"Jadi selama ini anda yang mengirim Lidia kerumah saya? Kenapa anda melakukan itu?" tanya Andra dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.


"Bu Andra, saya sama sekali tidak memiliki maksud jahat. Saya hanya mengkhawatirkan anda saja. Saya takut kalau anda tidak mendapat perlakuan yang baik dari pak Radit" Surya menanggapi dengan sikap yang tenang sambil memesan minuman pada pelayan.


"Apa hak anda melakukan itu? Pak Surya, anda itu bukan siapa-siapa saya. Anda tidak berhak ikut campur dengan urusan saya" Andra bicara dengan sikap yang tegas.


"Apa anda sangat mengenal suami saya? Bagaimana bisa anda lebih tahu daripada saya?".


"Ehm … hanya saja … itu …"


Andra langsung menyela Surya sebelum dia selesai bicara.


"Pak Surya. Apa anda kenal suami saya? Atau mungkin anda tidak tahu nama suami saya? Dia adalah Raditya Reifansyah Nugraha. Bisa-bisanya anda meremehkan suami saya. Anda tidak bisa menilai suami saya seenaknya. Meski seujung kuku pun, anda tidak bisa dengannya". Kini Andra mulai kesal, dan perlahan kepalanya mulai terasa sakit. Andrapun memegang kepalanya dengan sebelah tangan sambil memejamkan mata.


Radit pun memperhatikan Andra dari kejauhan.


"Lathan, sepertinya kamu sudah bisa bermain sekarang. Lakukan apapun yang kamu inginkan" Radit masih bersikap tenang, namun dari sorot matanya terlihat kalau dia sudah sangat marah.


"Baik, Papi". Lathan pun langsung memainkan laptop didepannya dan membuat sebuah postingan anonim.


"Perusahaan XX dibawah kepemimpinan S mempekerjakan karyawan dengan gaji dibawah rata-rata. Bahkan mereka sampai tega mengirimkan karyawannya hanya untuk menghancurkan rumah tangga orang lain" Lathan pun menyertakan foto Lidia dan Surya dalam postingan tersebut.

__ADS_1


"Selesai, Pih"


"Bagus. Kita temui ibumu"


"Iya" Lathan mengangguk ceria dan menutup laptopnya.


Radit pun beranjak dari tempat duduknya sambil menggandeng Lathan disebelahnya. Mereka berjalan mendekati meja Andra.


"Jadi kamu, orang yang berani mengganggu keluargaku?" ujar Radit dengan sikap yang dingin dan berdiri disamping meja Andra.


Surya terpaku mendengar suara Radit. Dia terdiam sesaat.


"Pak Radit. Jadi anda juga datang kesini?" tanya Surya yang berusaha bersikap tenang.


"Tentu saja. Kamu pikir aku akan membiarkan istriku pergi sendiri?" ujar Radit sambil berjalan kesamping Andra dan menatap sinis pada Surya.


"Jadi, kalian menipuku?"


"Aku ingin tanyakan satu hal padamu sebelum semua ini berakhir. Kenapa kamu mengganggu keluargaku? Apa sebelumnya, aku mengenalmu?"


Surya yang kesal terdiam sesaat, lalu dia pun mulai bicara.


"Aku membencimu. Aku membenci keluargamu. Bisa-bisanya semua bisnis didominasi oleh keluarga Kusuma? Kalian begitu mudah mengembangkan bisnis dan juga menghancurkan bisnis orang lain. Aku ingin sekali menjatuhkanmu dan mengembangkan perusahaanku. Jika tidak ada perusahaanmu, aku yakin kalau aku bisa berhasil" Surya meluapkan semua amarah dan kebenciannya pada Radit.


"Bodoh! Benar-benar bodoh! Pemikiran seperti itu hanyalah pemikiran seorang pengecut. Kamu pikir kami tidak berusaha keras untuk mengembangkan usaha kami? Kamu pikir kami bisa naik dan sukses begitu saja tanpa usaha? Mana mungkin ada yang seperti itu. Meskipun aku meneruskan perusahaan keluarga, tetap saja aku harus bekerja keras mengembangkannya. Hanya saja jika kamu mengatakan kalau kami bisa dengan mudah berkembang, itu karena kami punya skil. Kami dilatih untuk bisnis. Bukan untuk bersenang-senang dengan kekayaan milik keluarga". Radit bicara dengan sikap yng dingin. Auranya saat ini sangat mengintimidasi. Bahkan Surya dan Lidia tercengang menatap sikap Radit sekarang.


"Apa kamu percaya kalau putraku ini bisa menghancurkan perusahaanmu dalam waktu sekejap?" kini Radit menatap Surya dengan senyum mencibir dibibirnya.


"Apa katamu?"


Drrt drrt drrt


Belum lama setelah Radit bicara, ponsel Surya berdering. Dia menatap layar ponsel dengan ragu


"Halo... "

__ADS_1


"Apa katamu?"


__ADS_2