
Beberapa bulan kemudian…
Kehamilan Andra kini sudah memasuki bulan terakhir. Tidak lama lagi dia akan segera melahirkan.
“Mami, kenapa adik bayi sangat lama sekali berada didalam perut Mami? Apa dia tidak ingin keluar melihat dunia ini?”.
Lathan bertanya dengan sikap yang polos meskipun sebenarnya dia cerdas, tapi didepan Andra, Lathan selalu bersikap seperti anak manja dan juga polos yang tidak mengerti apa-apa
Andra tersenyum mendengar pertanyaan Lathan
“Sayang, saat tiba waktunya, adik bayi pasti akan keluar dan melihat dunia ini. Tentu dia juga tidak sabar untuk melihat kakaknya yang tampan dan pintar ini”
Andra mencubit pipi Lathan dengan pelan saat dia menjawab pertanyaan putra sambungnya itu.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?”.
Andra dan Lathan langsung menoleh secara bersamaan ketika mendengar suara Vio yang mendekati mereka.
“Mama”
“Nenek!”
Lathan langsung berlari menghampiri Vio melihat neneknya itu berjalan mendekat kearahnya.
“Sepertinya pembicaraan kalian berdua ini sangat serius? Apa nenek boleh tahu juga?”.
Vio bicara dengan lembut pada Lathan. Ada senyum yang manis juga dibibirnya.
“Aku sedang bertanya pada mami tentang adik bayi yang sudah lama tidak lahir ke dunia ini”.
Vio pun tersenyum mendengar ucapan Lathan yang lucu
“Apa kamu sudah sangat tidak sabar?” tanya Vio memastikan.
“Ya, aku ingin segera bertemu dengan adik bayi. Aku ingin segera bermain dengannya. Tapi Mami calon adikku ini laki-laki atau perempuan ya?” .
Lathan terlihat antusias bicara dengan Vio, sesaat kemudian dia bertanya pada Andra mengenai jenis kelamin calon adiknya.
“Mami tidak akan memberitahumu. Mami ingin tahu, apa yang akan kamu lakukan jika adikmu ini seorang anak laki-laki?” tanya Andra sambil mendekatkan tubuhnya pada Lathan.
“Jika dia laki-laki aku akan bermain dan berjar semua hal dengannya. Baik itu computer, bisnis, olahraga, apapun itu”
“Lalu kalau dia perempuan?” kali ini Vio yang bertanya pada Lathan
__ADS_1
“kalau dia perempuan … berarti aku harus menjaga dengan ekstra agar tidak ada yang berani menyakiti atau macam-macam dengannya”.
Andra dan Vio saling menoleh satu sama lain disertai senyum lembut dibibir mereka masing-masing.
“Apa jika anak laki-laki, kamu tidak akan menjaganya?” tanya Vio lagi yang penasaran.
“Tentu saja aku juga akan menjaganya, tapi tidak akan sama seperti pada anak perempuan. Jika dia laki-laki pasti bisa membela dirinya sendiri sedangkan anak perempuan, meskipun dia pandai beladiri ... tetap saja kemampuannya tidak akan seperti anak laki-laki” ujar Lathan dengan senyum yang polos.
“Jangan terlalu meremehkan anak perempuan. Bisa jadi anak perempuan malah lebih berani dari pada anak laki-laki”. Vio menanggapi dengan senyum tipis dibibirnya
“Apa maksud nenek? Anak perempuan biasanya lebih lemah daripada anak laki-laki. Hampir selalu seperti itu”.
“Tidak semua. Itu tergantung dari karakter dan cara didik anak itu sendiri. Jika anak perempuan dididik dengan benar, dia bisa jadi anak yang berani. Tapi jika anak perempuan terbiasa dimanja maka sudah pasti dia akan jadi anak yang lemah”.
Vio menjelaskan dengan senyum lembut dibibirnya.
“Berhenti membicarakan itu. Bagaimana kalau kita pergi ke mall dan membeli perlengkapan bayi? Kamu belum membeli perlengkapannya kan sayang?”.
Vio menyarankan dengan sikap yang tenang dan lembut.
“Apa kalian akan meninggalkanku? Sayang, bukannya kita sudah janji akan main golf hari ini?” Leo tiba-tiba datang dan menyela pembicaraan Vio dengan Andra dan Lathan.
“Kak Leo, aku ingin berbelanja ke mall. Sudah lama aku tidak pergi shopping. Lagipula ini untuk cucu kita” Vio menanggapi Leo dengan nada bicara yang manja.
“Baiklah. Kita ke mall. Tapi hanya untuk membeli perlengkapan bayi saja ya?” Leo dengan nada bicaranya yang lembut memperingatkan sang istri agar membeli barang yang mereka butuhkan saja
“Ok”
Akhirnya Leo ikut ke mall menemani Vio dan Andra berbelanja, tentu saja Lathan juga ikut bersama dengan mereka.
“Harus kemana dulu kita?” tanya Vio sambil menoeh kesana kemari melihat sekitaran mall
“Ingat, hanya mencari perlengkapan bayi saja” ujar leo kembali mengingatkan.
“Kak Leo, jangan mengganggu kesenanganku berbelanja. Tugas Kakak kali ini adalah membawa troli belanjaan”.
Vio bicara dengan senyum lembut dibibirnya. Meskipun dia sudah tidak muda lagi, namun sikap ceria dan manjanya pada Leo tetap saja terlihat. Andra dan Lathan hanya tersenyum memperhatikan.
“Baiklah-baiklah. Aku tidak akan protes lagi. Sekarang apa saja yang mau kita beli?” ujar Leo dengan
Troli berlanjaan yang mulai dia pegang.
“Ehm … entahlah. Kita keliling dulu saja” Vio tersenyjm lalu menarik Andra agar berjalan dengannya mencari keperluan calon bayinya.
__ADS_1
“Kita butuh ini untuk bayi baru lahir”.
Vio mengambil semua kebutuhan untuk bayi. Mulai dari baju, celana dan keperluan untuk bedong. Setelah itu mereka kembali berkeliling.
“Eh ini juga bagus”. Vio kembali mengambil baju, celana serta kaos kaki dan sarung tangan bayi.
“Sayang, bukannya itu terlalu besar untuk bayi baru lahir?” tanya Leo ketika Vio mengambil sepatu anak yang sudah berjalan
“Aku tahu, tapi ini bagus dan aku bisa menyimpannya untuk nanti”.
Vio sama sekali tidak mendengarkan Leo dan tetap mengambil sepatu itu
“Mama, kita kesebelah sini. Kita juga harus membeli bedak dan juga yang lainnya”
“Ah, kamu benar. Bedak dan keperluan mandinya”.
Vio dan Andea pun berbelok menuju perengkapan mandi bayi.
Drrt drrt drrt
Ketika sedang melihat-liat lagi, ponsel Andra tiba-tiba bergetar. DIraihnya ponsel dalam tas dan melihat na,a panggilan yang masuk dilayar ponsel, ternyata itu panggilan dari Radit. Wajah Andra langsung tersenyum menerimanya
“Halo, kak Radit?” Sapa Andra begitu dia menerima telepon Radit
"Halo, sayang. Apa yang sedang kamu lakukan?” tanya Radit dari ujung telepon.
“Aku sedang pergi berbelanja keperluan bayi bersama mama, papa dan juga Lathan”.
Andra menjelaskan dengan senyum ceria kepada Radit.
“Benarkah? Kenapa tidak memberitahuku? Aku juga ingin ikut denganmu” ujar Radit dengan nada bicara yang sedikit kecewa.
“Maafkan aku. Ini terlalu mendadak. Lagipula Kakak sedang bekerja sekarang, tidak mungkin aku membiarkan Kakak meninggalkan pekerjaan Kakak” Andra menjelaskan kepada Radit agar dia tidak langsung menyusulnya ke mall
“Tapi aku juga ingin ikut membeli perlengkapan bayi. Saat Lathan bayi, aku tidak membeli sendiri keperluannya. Aku meminta orang lain menyiapkannya, jadi sekarang aku ingin membelinya sendiri”.
Radit mengeluh pada Andra tentang perlengkapan bayi.
“Lain kali kita bisa pergi bersama untuk membelinya. Tidak perlu merasa kecewa seperti itu”. Andra berusaha menghibur Radit dengan senyum dan nada bicaranya yang lembut
“Ah aku tetap saja merasa sedikit kecewa. Aku tidak bisa melakukan itu denganmu” Radit terus saja mengeluh tentang apa yang dia inginkan.
“Aduh. Kak Radit. Perutku…”
__ADS_1