Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kebenaran Identitas Lathan


__ADS_3

Lathan terdiam memandangi kedua makam disampingnya. Tanpa sadar air matanya mengalir deras membasahi pipinya meski tanpa mengeluarkan suara.


"Papi, bukannya ini makam kakaknya Papi? Bagaimana bisa mereka jadi orang tuaku?" Lathan menulis apa yang ingin dia tanyakan pada Radit.


"Ya, sebenarnya … kamu anak kak Lea dan kak Galen. Hari itu … mereka mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju rumah sakit sebelum melahirkanmu. Ayahmu dan adiknya meninggal ditempat. Setelah diselidiki, kecelakaan itu terjadi karena unsur kesengajaan. Dan itu disebabkan oleh keserakahan keluarga ayahmu. Mereka menginginkan perusahaan Surendra yang selama ini dikelola dan dibesarkan oleh ayahmu. Ketika mengetahui kalau ibumu selamat dan melahirkan anak laki-laki, mereka kembali merasa panik karena kamu bisa menjadi ahli waris sepenuhnya atas harta peninggalan ayahmu.


Saat itu kami sengaja tidak memberitahu ibumu mengenai kematian ayahmu dan adiknya, karena kondisinya masih belum stabil pasca melahirkan. Namun keluarga ayahmu dengan sengaja datang kerumah sakit dan memberitahu perihal kematian ayahmu. Saat itu juga kondisi kak Lea langsung menurun karena terpukul hingga akhirnya dia meninggal dunia.


Karena kematian kak Lea yang tragis, nenekmu juga mengalami guncangan mental seperti yang kamu tahu sendiri. Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau putrinya telah tiada.


Karena tidak ada yang merawatmu … akhirnya Papi memutuskan untuk merawatmu dan mengatakan kalau kamu itu anak Papi. Papi tidak ingin kamu tahu mengenai apa yang terjadi pada orang tuamu dan merasa kalau kamu sendirian dan tidak punya siapa-siapa. Lagipula yang tahu kenyataan ini hanya keluarga kita saja. Papi kira tidak akan ada masalah kalau kamu jadi anak Papi. Meskipun kamu hanya keponakan Papi, tapi Papi membesarkanmu dari kamu bayi dengan penuh kasih sayang dan Papi menganggapmu seperti anak Papi sendiri"


"Huaaaa…"


Air mata Lathan semakin pecah setelah mendengar cerita dari Radit. Dia mendekap Radit dengan sangat erat.


"Papi, maafkan aku. Selama ini Papi pasti mengalami banyak kesulitan karena aku … hiks … hiks …".


Lathan bicara pada Radit disela isak tangisnya. Air matanya masih terus mengalir, suaranya tidak terlalu terdengar dengan jelas. Hati Radit yang terenyuh karena ucapan Lathan kembali mendekapnya dengan erat.


"Papi sama sekali tidak merasa kesulitan. Papi justru bersyukur karena punya kamu disamping Papi. Kamu adalah kekuatan Papi, semangat Papi, kebahagiaan Papi, kamu adalah segalanya untuk Papi. Papi tidak bisa hidup tanpamu. Papi rasa … jika kamu membenci Papi, Papi akan kehilangan semangat hidup" Radit mengusap lembut punggung Lathan saat dia bicara.


"Aku tidak membenci Papi. Aku justru bersyukur karena punya Papi. Jika tidak ada Papi … aku tidak tahu apa yang terjadi padaku". Lathan tersenyum tipis dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya.


"Tapi Papi, bagaimana dengan orang-orang yang telah berbuat jahat pada mami dan papiku? Apa aku bisa bertemu dengan mereka? Papi bilang kan mereka masih keluargaku". Lathan nampak penasaran dengan nasib dari sisa keluarga Surendra.


"Apa yang akan kamu lakukan dengan mereka?" Dahi Radit berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu saat dia bertanya.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tahu saja seperti apa orang-orang jahat yang merusak keluargaku.Bukankah Papi sering bilang kalau kita tidak boleh diam saja saat ditindas? ". Lathan mengerucutkan bibir karena kesal dengan apa yang dilakukan keluarga Galen.


"Kamu tenang saja, mereka telah membayar semuanya. Keluarga itu telah hancur. Tidak ada lagi nama keluarga Surendra. Karena itu juga Papi mengganti nama belakangmu dengan nama belakang Papi. Papi tidak mau kalau ada jejak keluarga itu yang tertinggal. Meskipun kamu memang bagian dari keluarga itu, tapi Papi memiliki ingatan buruk tentang mereka. Papi harap kamu bisa mengerti maksud Papi". Radit terlihat ragu-ragu saat dia bicara, namun ada kebencian juga yang tersirat dari kedua matanya.


"Aku mengerti Pih. Mungkin jika aku berada diposisi Papi, aku juga pasti akan melakukan hal yang sama. Aku juga akan membalas perbuatan mereka. Sayangnya mereka semua sudah tidak ada" ujar Lathan dengan suara paraunya.


Radit tersenyum mendengar ucapan Lathan.


"Adududu … bagaimana bisa jagoan kecil Papi pandai dalam menenangkan hati orang lain? Kamu itu masih kecil, harusnya kamu bersikap layaknya anak kecil. Tidak perlu melibatkan diri dengan hal-hal seperti itu. Biarkan orang dewasa yang melakukannya". Radit tersenyum lebar, dia mengusap hidung Lathan sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


"Papi pikir aku ini bodoh? Meskipun aku ini anak kecil, tapi aku bisa mengalahkan orang dewasa. Buktinya saja aku bisa menghancurkan perusahaan Surya itu. Ups …"


Radit berusaha menegur Lathan ketika membanggakan dirinya sendiri dihadapannya dengan menggunakan matanya . Sepertinya Lathan lupa kalau ada Andra yang berdiri dibelakangnya dan tidak tahu mengenai kemampuan Lathan sebenarnya. Setelah menyadari peringatan Radit, Lathan menoleh perlahan. Dia menunjukkan senyum canggung saat melihat Andra yang menatapnya dengan tatapan sinis dan tangan yang dilipat didada.


"Ma-mi … Hehehe …"


Lathan langsung berdiri dibelakang Radit dengan senyum canggung setelah melihat sorot mata Andra yang tajam dengan nada bicara yang dingin.


Radit pun berdiri dan berusaha membujuk Andra.


"Tenanglah dulu, sayang. Kamu sedang hamil. Tidak baik jika kamu marah-marah seperti itu. Kami akan menjelaskan semuanya padamu setelah kita tiba dirumah papa. Ayo Lathan, kita pergi kerumah kakek dan nenek". Radit beralih pada Lathan setelah dia bicara pada Andra, meskipun sang istri tidak memberikan tanggapan atas ucapannya. Lathan pun langsung berlari dan berjalan disamping Radit.


"Mami, Papi, bolehkan aku tetap memanggil kalian seperti ini?".


Mendengar ucapan Lathan, Radit langsung menggendongnya.


"Tentu saja kamu harus memanggil kami seperti itu, karena kamu adalah anak sulung kami. Tidak ada siapapun didunia ini yang bisa merubahnya. Kamu juga harus ingat kalau kami adalah orang tuamu, mengerti?".

__ADS_1


"Iya, Papi. Aku mengerti". Mereka bertiga pun berjalan meninggalkan pemakaman.


Kak, kamu tidak perlu mengkhawatirkan Lathan. Dia tumbuh jadi anak yang cerdas dan kuat. Sekarang, dia sudah tahu kalau kalian adalah orang tuanya. Kuharap, kalian tidak memiliki penyesalan apapun lagi.


Radit, Andra dan Lathan pun meninggalkan pemakaman dan bergegas menuju rumah Leo. Sesekali Radit menoleh kebelakang dan melihat makam Lea dan Galen dengan raut wajah penuh sesal.


...****************...


"Apa? Istrimu hamil? Benarkah itu?". Leo berteriak tak percaya saat Radit memberitahunya mengenai kehamilan Andra


"Benar, Pah. Saat ini Andra sedang mengandung. Dan usia kandungannya masih berada ditahap awal kehamilan". Radit memberitahu Leo dengan sikap yang tenang.


"Syukurlah, tapi … ada apa dengan leher Lathan?". Setelah merasa senang dengan kehamilan Andra, Leo mengalihkan pembicaraan setelah melihat leher Lathan yang masih diperban.


Radit pun menoleh pada Lathan sebelum dia bicara.


"Lathan mengalami sedikit insiden sebelumnya. Tapi Papa tidak perlu khawatir karena sekarang kondisi Lathan sudah baik-baik saja". Radit tersenyum sambil menggendong Lathan dipangkuannya.


Leo membelalakan matanya menatap Radit tak percaya.


"Bagaimana itu bisa terjadi? Lathan, apakah itu sakit?". Leo pun beralih pasa Lathan dengan suara yang lembut.


"Aku baik-baik saja. Ini sudah lebih baik dari sebelumnya". Lathan menanggapi dengan senyum cerianya.


"Dan … Ada satu hal lagi yang ingin aku beritahukan pada Papa". Terlihat Leo yang memicingkan mata menunggu apa yang ingin dikatakan Radit padanya.


"Aku … sudah memberitahu Lathan mengenai kebenarannya. Dia sudah tahu semuanya mengenai orang tua kandungnya"

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2