
Ditempat lain... Bu Asya tidak percaya kalau salah satu putrinya sedang menjalin hubungan dengan pria yang lebih tua darinya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti Lulu ketika dia meninggalkan rumah.
"Pak, tolong ikuti taksi yang didepan itu!" ujar bu Asya pada supir taksi yang dia naiki sambil menunjuk taksi yang berada tidak jauh didepannya.
"Baik, Bu". Supir taksi pun langsung melajukan mobilnya dan mengikuti taksi sesuai dengan permintaan penumpangnya. Dia terus mengikuti taksi yang dinaiki Lulu dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
"Jangan terlalu dekat, Pak. Aku tidak mau kalau sampai kita ketahuan mengikuti mereka" ujar Asya lagi yang kini terlihat panik. Dia terus saja menatap taksi Lulu dengan wajah khawatir. Sesekali bu Asya juga memujul belakang kursi supir dan memintanya untuk tidak kehilangan taksi Lulu.
Tak berselang lama taksi yang Lulu naiki pun akhirnya berhenti di sebuah hotel mewah
"Hotel? Untuk apa Lulu pergi kehotel? Apa yang dia lakukan dihotel ini?" pikir Asya yang penasaran dengan tujuan Lulu datang kehotel mewah disiang hari seperti ini.
Setelah Lulu turun dari taksi, Asya pun ikut turun dan kembali mengikutinya dari belakang dengan langkah yang mengendap-endap.
"Halo, Om. Apa kabar?"
"Apa? Siapa yang bersama dengan Lulu? Apa dia berhubungan dekat dengan pria seperti itu? Itu lebih pantas disebut ayahnya daripada pacarnya"
Bu Asya kembali heran dan tak percaya ketika melihat Lulu mencium pipi kanan dan kiri seorang pria paruh baya, namun dia terus saja memperhatikan putrinya itu.
"Kamu ingin makan apa, Sayang? Aku tidak ingin kamu kelaparan saat sedang bersama denganku nanti" ujar pria itu dengan nada menggoda sambil memegang lembut dagu Lulu.
"Om, kapan Om akan membawaku shopping lagi? Sudah lama aku tidak pergi shopping. Aku ingin sekali membeli barang-barang baru" Lulu bergelayut manja dan menggoda saat dia bicara pada pria itu
"Hahaha, nanti setelah kita bersenang-senang, aku akan membawamu membeli apapun yang kamu inginkan" pria itu terbahak sambil merangkul Lulu kepelukannya.
"Benarkah? Janji ya? Om tidak bisa lagi menarik kata-kata Om barusan padaku" ujar Lulu yang tersenyum ceria sambil bersikap manja pada pria tua itu.
Bu Asya yang memperhatikan tidak jauh dari Lulu berada kini terheran-heran melihat putrinya itu.
__ADS_1
"Lulu, bagaimana bisa kamu bersikap seperti ini?" Pikir Asya dengan air mata yang menetes perlahan dari kedua matanya. Diapun kini berjalan mendekati Lulu.
"Lulu". panggil sang ibu dengan nada yang kesal.
Lulu dan pria itu menoleh bersamaan mendengar suara yang memanggilnya.
"Ma-ma. Apa yang Mama lakukan disini?" tanya Lulu yang sedikit terkejut dan bingung setelah melihat kedatangan sang ibu. Dia juga menoleh pada pria disampingnya dengan bingung.
"Harusnya Mama yang bertanya padamu. Apa yang kamu lakukan disini, bermesraan dengan pria yang lebih pantas jadi ayahmu ketimbang jadi pacarmu!". Bu Asya terlihat kesal dan bicara dengan mata menatap sinis pada pria itu.
"Mama, aku bisa jelaskan pada Mama nanti. Tapi sekarang, tolong tinggalkan tempat ini. Aku tidak mau Mama mengganggu waktuku dengan Om Sebastian"
"Apa katamu? Jadi kamu mengusir Mama? Tidak. Mama tidak akan pergi darisini sampai kamu ikut dengan Mama dan menjelaskan semuanya". Bu Asya bersikeras untuk membawa Lulu dengan menarik sebelah tangannya.
"Mama. Apa yang Mama lakukan? Lepaskan tanganku!" Lulu memberontak agar sang ibu melepaskan tangannya.
"Tidak! Aku tidak ingin pulang!"
"Ahh!"
Lulu menepis tangan sang ibu hingga dia jatuh dan terduduk dilantai.
"Lulu … kamu sudah berani mendorong Mama sampai terjatuh?". Bu Asya menatap Lulu tak percaya karena telah berani mendorongnya hingga terjatuh.
"Itu salah Mama sendiri! Aku sudah bilang kalau aku tidak mau pulang. Mama tidak lihat kalau aku sedang memiliki janji dengan Om Sebastian?!" Lulu yang kesal pun bicara dengan nada yang sinis pada sang ibu. Mereka tidak mempedulikan orang-orang disekeliling mereka yang terus memperhatikan sambil berbisik membicarakan keributan yang mereka buat.
"Sudahlah, sayang. Jangan pedulikan ibumu ini. Sebaiknya kita pergi saja dari sini dan bersenang-senang. Bukankah aku sudah janji kalau aku akan membelikan apapun yang kamu inginkan". Sebastian tersenyum ceria dan menggandeng Lulu untuk menenangkannya, lalu dia menggandeng Lulu meninggalkan sang ibu yang masih terduduk dilantai.
"Lulu, jangan pergi! Kembali kemari! Ayo pulang dengan Mama!" teriak bu Asya pada Lulu namun diabaikan oleh sang putri yang terus berjalan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Kini bu Asya hanya bisa menangis tersedu setelah melihat sendiri apa yang dilakukan putrinya.
"Bagaimana? Bagaimana kamu bisa berbuat seperti itu? Lulu ... hiks... hiks... hiks..." Bu Asya kembali mengingat perlakuannya pada Andra.
"Andra, apa dia merasakan hal yang sama saat aku meninggalkannya dan membiarkan dia bersama pria tua? Apa ini balasan untukku karena telah berbuat jahat padanya selama ini?" pikir Asya ketika mengingat Andra.
Perlahan bu Asya berdiri dan beranjak pergi dari hotel mewah itu dengan sisa air mata dipipinya. Langkah kakinya terasa lemas. Dia terus berjalan dengan perlahan. Dia pun memutuskan untuk pulang dan menemui Luna untuk bicara padanya.
Setelah tiba dirumah, bu Asya langsung mencari Luna.
"Luna...! Luna...!" panggil bu Asya dengan suara yang masih lemas.
"Ada apa Mah? Kenapa Mama teriak-teriak begitu?!" tanya Luna dengan nada yang kesal.
"Tadi Mama mengikuti Lulu pergi dan ternyata... apa yang kamu katakan itu benar. Mama melihat dia bersama seorang pria paruh baya yang lebih pantas menjadi ayahnya ketimbang jadi pacarnya" Bu Asya terus mengeluh pada Lulu untuk menghilangkan kekesalannya.
"Sekarang apa yang akan Mama lakukan pada Lulu? Lagipula dia sudah besar, apa yang jadi masalahnya?" Luna menanggapi ucapan sang ibu dengan sikap yang sinis.
"Kamu tidak khawatir pada adikmu? Pria itu pasti sudah punya istri. Bagaimana jika dia tidak terima kalau suaminya berselingkuh dan melampiaskan kekesalannya pada Lulu?" Bu Asya tampak heran dengan tanggapan yang diberikan Luna atas ceritanya
"Lantas apa yang akan Mama lakukan? Mama mau mengurung Lulu? Atau Mama mau mengikuti Lulu kemanapun dia pergi?!"
"Luna, kenapa kamu bicara begitu pada Mama? Harusnya kamu mendukung Mama dan berusaha menegur Lulu kalau apa yang dia lakukan itu salah" ujar sang ibu dengan sikap yang kesal.
"Apanya yang salah? Bukannya sebelumnya Mama juga berusaha menikahkan Andra dengan pria tua? Bahkan Mama setuju kalau dia jadi istri ketiga pria itu!"
Bu asya terdiam mendengar ucapan Luna. Dia merenungkan apa yang telah dia lakukan.
"Benar. Sebelumnya aku yang memaksa Andra untuk menikahi pria tua dan setuju jika Andra jadi istri ketiganya. Sekarang anakku sendiri yang memiliki hubungan dengan pria yang usianya jauh lebih tua. Apa ini karma yang harus ku terima karena menyakiti anak yang sangat menyayangiku?"
__ADS_1