Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Zara Diminta Pulang


__ADS_3

Tak berselang lama setelah tibanya Lathan di hotel negara D. Sebuah foto beredar luas dimedia sosial dengan caption


Pangeran dari salah satu keluarga pebisnis besar dinegara A berada disebuah hotel negara D bersama seorang gadis. Apakah mereka menghabiskan waktu bersama sebagai sepasang kekasih?.


Postingan tersebut tentu saja memicu berbagai asumsi dikalangan masyarakat. Apalagi netizen sangat senang dengan hal-hal seperti ini.


"Wajah tampannya terasa familiar. Tapi siapa ya?"


"Bukankah itu salah satu putra keluarga Nugraha?"


"Apakahnya itu anaknya pak Radit? Ya ampun … dia sudah bersama seorang gadis dihotel padahal masih terlalu muda"


"Pergaulan anak muda zaman sekarang memang menyeramkan"


Dalam sekejap postingan tersebut dibanjiri ribuan komentar negatif, bahkan gosip tersebut telah sampai ke telinga ayahnya Zara yang juga merupakan seorang pebisnis.


Tok tok tok


"Permisi, Pak"


"Masuk!"


Pria itu langsung masuk keruang kerja bosnya setelah mendapatkan izin.


"Ada apa?" tanya pak Zein pada asistennya.


"Maaf, Pak. Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan pada anda" kata sang asisten dengan sedikit ragu-ragu.


"Langsung katakan saja. Tidak perlu bertele-tele" Pak Zein menanggapi dengan sikap yang tenang sambil terus memeriksa dokumen yang ada ditangannya.


"Ini, Pak. Non Zara sedang jadi bahan perbincangan dimedia sosial saat ini. Dia terlihat disalah satu hotel bersama seorang pemuda" asisten pak Zein bicara sambil menunjukkan foto Zara.


Pak Zein yang sedang sibuk dengan dokumen langsung diam dan mengalihkan pandangannya pada ponsel yang disodorkan sang asisten padanya.


"Kapan kejadiannya?"


"Hari ini, Pak"


"Apa kamu sudah dapatkan informasi hotelnya?"


"Sudah Pak. Mereka berada dihotel Nirwana"


Rian selalu menjawab dengan cepat pertanyaan dari pak Zein dengan sikap yang tenang.


Pak Zein terdiam sesaat mendengar jawaban yang diberikan Rian padanya.


"Bukankah hotel Nirwana berada dikota ini juga? tapi, Zara sekarang tinggal bersama keluarga kakakku. Apakah ada hotel Nirwana lain dinegara A?" pak Zein bertanya pada Rian dengan sikap yang tenang.


"Tidak, Pak. Hanya ada 1 hotel Nirwana. Dan saat ini nona Zara memang sedang berada disini".


Raut wajah pak Zein terlihat kesal dan marah saat dia mendengar jawaban Rian.


"Telepon Zara dan minta dia untuk pulang sekarang juga!" pak Zein bicara dengan sikap yang dingin.

__ADS_1


"Baik, Pak" Rian langsung beranjak pergi dari ruangan Zein untuk menghubungi Zara


"Pembuat masalah!". Keluh pak Zein setelah Rian keluar dari ruangannya


...****************...


Dihotel Nirwana


Lathan, Zara dan Fandy sedang menunggu makanan yang mereka datang sampai sambil berbincang dengan ceria.


Drrt drrt drrt


Zara yang sebelumnya tertawa ceria bersama Fandy dan Lathan langsung merubah ekspresi wajahnya setelah ponselnya berdering. Fandy dan Lathan pun saling menatap satu sama lain melihat ekspresi wajah Zara.


"Aku terima telepon dulu. Ssst". ujar Zara sambil menutup mulutnya dengan satu jari agar Fandy dan Lathan tidak bersuara.


"Halo, Om?" sapa Zara dengan sikap tenang ketika dia menerima telepon.


"Halo, Non. Begini, pak Zein meminta Nona untuk pulang kerumah sekarang juga!" Rian langsung bicara Pada Zara tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Kenapa?" tanya Zara singkat.


"Pak Zein sudah tahu kalau anda berada hotel Nirwana, jadi beliau meminta anda untuk segera pulang"


Deg


Zara sangat terkejut, seketika dia terlihat tegang sambil menggigit ujung bibirnya.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lathan begitu Zara menutup telepon.


"Barusan asisten papa menghubungiku. Katanya, papa memintaku untuk pulang". Zara menjelaskan dengan raut wajah sedih.


Lathan dan Fandy saling menatap satu sama lain karena heran.


"Bagaimana papamu tahu kalau kamu ada disini?"


"Aku juga tidak tahu. Apa Jangan-jangan … papa memata-mataiku ya?"


Drrt drrt drrt


Saat Lathan, Zara dan Fandy sedang berbincang, ponsel Lathan tiba-tiba berdering. Diapun meraih ponsel yang tergeletak diatas meja itu dan melihat nama yang tertera dilayar, ternyata itu panggilan dari Ardhan.


"Halo" sapa Lathan dengan sikap tenang.


"Halo, Kakak. Apa Kakak sudah melihat postingan yang ada di media sosial?" Ardhan langsung mengatakan tujuannya pada sang kakak.


"Postingan? Postingan apa?" tanya Lathan yang masih tidak tahu maksud Ardhan.


"Kakak bisa lihat sendiri di sosial media" ujar Ardhan yang tidak tahu lagi cara menjelaskan pada Lathan.


"Ya sudah. Aku akan lihat sendiri postingannya" ujar Lathan yang langsung menutup teleponnya. Setelah itu dia langsung membuka ponselnya lagi untuk melihat postingan yang dimaksud Ardhan.


"Apa-apaan ini?" ujar Lathan yang kesal melihat postingan itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Fandy yang penasaran dengan ekspresi Lathan.


"Lihatlah ini!". Lathan menunjukkan postingan diponselnya pada Fandy.


"Wah ini gila. Mereka hanya bilang kalian berdua! Lalu aku ini apa?" gerutu Fandy karena kesal dengan postingan yang mengatakan kalau Lathan hanya berdua dengan Zara.


"Tunggu! Ra, apa jangan-jangan, om Zein tahu kamu ada disini karena postingan gila ini?" sambung Fandy dengan dahi berkerut setelah mengingat ayah Zara.


"Kamu benar. Sepertinya papa tahu kalau aku disini karena postingan ini. Akan aneh jika papa meminta mata-mata untuk mengawasiku kemanapun aku pergi".


"Kalau begitu … apa kamu tetap akan pulang kerumahmu?" Lathan mengalihkan pembicaraan dan menanyakan keputusan Zara.


"Euh … aku harus pulang. Aku ingin tahu apa yang akan papa katakan padaku. Selama ini papa tidak pernah peduli padaku, apa sekarang papa mulai khawatir padaku atau pada citra perusahaan yang selama ini dia bangun dengan kerja keras" Zara menjawab disertai anggukan kepala pelayan dan senyum ketir dibibirnya.


"Aku akan ikut. Aku perlu menjelaskan pada papamu kalau kita kemari hanya untuk berlibur, dan kita juga tidak berdua saja, tapi ada Fandy diantara kita" Lathan menanggapi dengan sikap yang dingin dan tegas.


"Haaah … disaat seperti ini, aku baru terlihat oleh kalian. Baiklah, aku akan jadi dewa penyelamat kalian sampai kalian tidak bisa membayar hutang budi ini sampai kapanpun!". Fandy menghela napas panjang terlebih dahulu sebelum dia bicara dengan penuh semangat.


"Ya, kami tidak akan pernah membayar hutang budi ini sampai kapanpun, jadi kamu bisa terus mengikuti kami dengan alasan hutang budi". Lathan menanggapi Fandy dengan nada mencibir dan senyum mengejek.


"Bagus. Kapan kita akan kerumahmu? jika sekarang … sepertinya ini sudah terlalu malam" ujar Fandy sambil melihat jam dilayar ponselnya.


"Besok pagi saja. Aku sangat lelah hari ini, kalian juga pasti sangat lelah, kan?. Lagipula…aku harus mempersiapkan diri untuk bisa bertemu dengan papaku nanti" Zara menanggapi dengan senyum tipis dibibirnya. Sebelah tangannya tidak melepaskan genggaman tangan Lathan sedikitpun


"Baiklah. Kalau begitu besok pagi kita kerumahmu tanpa harus membatalkan reservasi hotel ini".


Zara dan Fandy menganggukkan kepala serempak mendengar usulan Lathan.


"Ya sudah. Kita nikmati dulu makan malamnya".


Mereka bertiga pun kembali melanjutkan makan malam mereka yang tertunda karena perbincangan tentang kembali kerumah Zara.


Setelah menikmati makan malam yang menyenangkan. Lathan, Zara dan Fandy kembali ke kamar mereka.


"Sampai jumpa besok, sayang. Semoga mimpi indah" ujar Lathan pada Zara ketika berada didepan pintu kamar mereka masing-masing.


"Ya, sampai jumpa. Semoga kamu juga mimpi indah". Mereka saling melambaikan tangan sebelum membuka pintu kamar.


Zara masuk kekamarnya dan menyalakan lampu ketika dia masuk. Betapa terkejutnya dia ketika berada didalam kamar.


"Siapa kalian?!" tanya Zara dengan sinis.


"Kami diperintahkan untuk membawa anda pulang sekarang juga!"


"Papa yang meminta kalian menjemputku?" tanya Zara memastikan.


"Katakan pada papa kalau aku akan pulang besok pagi!" ujar Zara dengan sikap yang tegas.


"Maaf, Nona. kami diperintahkan untuk membawa anda sekarang juga. Silahkan ikut kami tanpa perlu ada perlawanan!"


Zara menatap 4 orang pria dihadapannya dengan tatapan dingin dan pikiran yang bingung.


Kenapa papa yang selama ini tidak peduli padaku sekarang malah melakukan hal seperti ini?

__ADS_1


__ADS_2