
Danu terdiam setelah dia selesai bicara dengan Anggi di telepon
"Kenapa bisa jadi begini?" Gumamnya sambil duduk termenung di sofa
"A a a dadaku. Bi … bi…!" Danu merintih setelah merasakan sakit dibagian dadanya lalu dia memanggil pembantu
"Ya, tuan. Tuan!" Pembantu sangat terkejut ketika mendapati majikannya hampir tidak sadarkan diri
"Ambilkan obatku" Bisik Danu pada pembantunya
"Baik tuan" pembantu pun segera mencari obatnya di dalam tas kerja Danu
"Ini tuan obatnya" Dia mengambilkannya 1 buah dan langsung diberikan kepada Danu
"Ini minumnya tuan"
"Terimakasih bi. Bantu aku ke kamar" Pembantu pun memapah Danu untuk pergi ke kamarnya
Tring
ponsel Danu berbunyi tanda sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Terimakasih bi" Danu berterima kasih karena pembantu rumahnya mau membantunya berbaring di tempat tidur
"Sama-sama tuan. Permisi"
"Hmn" Danu menanggapi pembantunya sambil membuka pesan singkat diponselnya
"Bagaimana rasanya kehilangan semuanya? Anda berusaha keras untuk mendapatkan apa yang seharusnya tidak anda miliki. Sekarang anda harus rela kehilangan semuanya"
Danu mengernyitkan dahi ketika membaca pesan singkatnya
"Siapa kamu?" Balas Danu tanpa ada curiga sama sekali
"Raditya Reifansyah Nugraha. Aku tidak suka jika seseorang mengusik keluargaku. Aku akan membuat siapapun membayar atas apa yang telah dilakukan padaku atau keluargaku" Balas Radit yang membuat pak Danu tercengang
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu yang membuat perusahaanku bangkrut dan juga kedua istriku pergi meninggalkanku?" Balas pak Danu lagi yang ingin memastikan kecurigaannya
"Menurut anda siapa lagi yang bisa dengan mudah melakukan semua itu?"
"Jadi semua ini karena Radit? Dia menghancurkan semua milikku karena aku berusaha mendapatkan Andra?" Tubuh pak Danu semakin lemah. Tangannya pun kini tak bisa lagi menggenggam ponsel dan akhirnya jatuh ke tempat tidur.
"Harusnya aku tidak mendengarkan Asya. Harusnya aku berhenti saat Radit sudah membayar kembali uangku. Harusnya aku tahu kalau keluarga Kusuma bisa melakukan apapun yang mereka inginkan. Tidak Harusnya sejak awal aku tidak mengusiknya" Kini pak Danu hanya bisa menyesali apa yang telah dia lakukan sebelumnya tanpa bisa melakukan apapun lagi.
***
Andra dan Radit kini menghabiskan waktu berharga mereka bersama setelah selesai bekerja
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Andra pada Radit yang sedang berada didapur sambil memeluknya dari belakang
"Kamu tidak bisa melihat kalau aku sedang memasak, hmn?" Radit sedikit menoleh pada Andra dan. menjawabnya dengan senyum lembut
"Maksudnya apa yang sedang kamu masak?" Andra kembali memperjelas pertanyaannya pada Radit
"Makan malam untuk kita. Aku akan memasak sayuran dan juga daging karena kamu dan Lathan sangat suka daging"
Sesaat Radit mendengar cerita Andra. Ada sedikit rasa sakit saat membayangkan apa saja yang telah dia dapatkan dari ibu angkatnya. Raditpun mengecilkan api kompor dan berbalik menghadap Andra
"Itu masa lalumu. Masa yang harus sudah kamu kubur dalam-dalam. Kesedihan yang pernah kamu rasakan sekarang hanyalah kesedihan saja. Karena ada aku dan Lathan yang akan memberikan kebahagiaan padamu" Radit mengecup lembut kening Andra lalu memeluknya
"Mami, papi. Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian lama sekali? Katanya mau menemaniku belajar sebelum makan malam?" Lathan yang polos tiba-tiba datang ke dapur dan mendapati Radit dan Andra yang sedang berpelukan. Tentu Andra langsung mendorong Radit begitu mendengar suara Lathan
"Lathan... kamu selalu datang disaat yang tidak tepat" Gumam Radit yang membuat Andra menahan tertawa
"Hah? Apa pih?" Tanya Lathan yang seperti mendengar Radit bicara sesuatu
"Tidak papa sayang. Sebaiknya kita selesaikan pekerjaan rumahmu dan biarkan papi masak lagi" Andra berjalan menghampiri Lathan dan kembali membiarkan Radit melanjutkan masaknya.
"Hah, harusnya dari awal aku tidak mencari ibu buat Lathan. Tapi mencari istri saja agar Lathan tidak mengganggu kami" Keluh Radit sambil membalikkan masakannya
"Mami, apa mami mencintai papi?" Lathan bertanya dengan wajah polosnya
__ADS_1
"Tentu saja sayang. Mami cinta papi dan juga Lathan" Andra sedikit mencolek ujung hidung Lathan yang kecil dan mancung
"Itu berarti mami tidak akan meninggalkan aku dan papi?" Lathan kembali bertanya dengan wajah sangat penasaran.
Andra terdiam ada kesedihan dari hatinya. Raut wajahnya pun seketika berubah
"Kenapa Lathan bertanya seperti itu?"
"Katanya kalau orang saling mencintai tidak akan saling menyakiti, tapi papi hanya membesarkan aku sendiri. Itu artinya meskipun ibuku mencintaiku, dia tetap meninggalkan papi" Lathan menundukkan kepala saat bicara pada Andra.
Andra kembali terdiam. Dia tidak mengerti darimana Lathan punya pemikiran seperti itu. Andra pun langsung menarik Lathan kepelukannya
"Mami tidak akan pernah meninggalkanmu dan juga papi. Ibu kandungmu juga tidak ingin meninggalkanmu, hanya saja Tuhan lebih sayang padanya, karena itu orang tua kandungmu lebih dulu dipanggil oleh Tuhan. Tapi kamu percaya kan kalau papi dan saudaramu yang lain sangat menyayangimu?" Dengan air mata yang mulai membasahi kedua pipinya, Andra berusaha menjelaskan pada Lathan
"Iya mih. Aku tahu kalau aku dikelilingi orang-orang yang menyayangiku" Lathan mengangguk dalam pelukan Andra dengan senyum dibibirnya
Radit yang hendak memanggil mereka untuk makan mulai menitikan air mata mendengar apa yang dikatakan Lathan
"Maaf Lathan, papi rasa bukan saatnya untuk memberitahukan kebenarannya padamu sekarang. Tapi papi janji suatu hari nanti papi akan memberitahumu yang sebenarnya mengenai orang tuamu" Gumam Radit menatap Lathan. Diapun menghapus air matanya dan mendekati Lathan juga Andra
"Ganteng papi, apa sudah selesai belajarnya? Ayo kita makan dulu, nanti kamu bisa lanjutkan lagi belajarnya" Radit mendekati Lathan dan duduk disamping Andra
"Baik pih. Hari ini papi masak apa? Aku selalu tidak sabar setiap kali papi dan mami masak. Masakan kalian sangat enak" Lathan begitu ceria saat memuji masakan Radit dan Andra
"Ya sudah, ayo kita makan"
***
"Bu, ternyata yang jadi CEO diperusahaan kita itu Andra. Ibu sudah tahu belum? Bagaimana ini? Mulai sekarang aku jadi bawahannya. Dan apa ibu tahu kalau dia berusaha memamerkan kebahagiaannya? Tadi dia dijemput oleh Radit dengan mobil mewahnya. Andra sangat sombong ketika dia mendekatiku. Rasanya aku ingin sekali menjambak rambutnya" Luna sedang mengeluh pada sang ibu dan menceritakan apa yang tejadi dikantornya
"Kamu tenang saja, sayang. Selama ini dia hanya menggertak, tidak mungkin dia benar-benar menghancurkan kita. Jadi kita akan cari cara lebih dulu untuk menghancurkan rumah tangganya dengan Radit" Asya dengan senyum tipisnya berusaha meyakinkan Luna
"Ibu benar. Kita harus cari cara agar mereka berpisah. Aku juga tidak suka melihat Andra yang bahagia. Sejak dia masuk kerumah kita, perhatian ayah tertuju padanya. Ayah dan ibu juga selalu bertengkar karena dia. Aku tidak suka dia bahagia. Dia harus menderita" Luna terlihat sangat kesal dan penuh kebencian saat membicarakan Andra
"Luna, ibu punya ide bagus. Apa kamu mengenal Gio? Setahu ibu dia dekat dengan Andra. Jika kamu mendekatinya dan membiarkan dia kembali tertarik pada Andra …" Asya tidak melanjutkan kalimatnya, dia hanya menatap Luna dengan senyum tipis dibibirnya
__ADS_1
"Maksud ibu … Ya, aku mengerti sekarang" Luna dan Asya pun saling melemparkan senyum licik mereka