
Bu Asya sangat terkejut dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kedua putrinya
"Luna, sebenarnya apa yang terjadi? Apa maksud kamu kalau Lulu sudah menjalin hubungan dengan pria dewasa?" Tanya Bu Asya dengan raut wajah bingung
"Benar bu, aku pernah melihat Lulu sedang bergandengan tangan dengan pria yang jauh lebih dewasa dari dia di mall. Saat itu aku ingin menegurnya, tapi aku sedang ada janji bertemu dengan seseorang waktu itu, jadi tidak bisa meninggalkannya" Luna menjelaskan dengan tenang pada sang ibu
"Heum, nanti ibu akan bicara padanya. Ngomong-ngomong, kenapa kamu sudah pulang? Ini kan masih sangat siang. Apa kamu sakit?" Asya yang khawatir bertanya sambil memegang dahi Luna untuk memeriksa suhu tubuhnya, apakah dia sakit atau tidak
"Aku tidak papa bu. Sebenarnya, hari ini Radit datang keperusahaan, dia mengadakan rapat dadakan dan mengumumkan kalau dia adalah pemegang saham terbesar saat ini. Dia ... telah memecatku" Luna menundukkan kepala dengan raut wajah sedih
"Apa? Dia memecatmu? Kenapa begitu? Perusahaan itu adalah milik ayahmu, bagaimana bisa dia seenaknya saja memecatmu dari perusahaan kita sendiri?" Asya terihat kesal setelah mendengar cerita dari Luna
"Tunggu! Bukannya selama ini Radit tidak pernah ikut campur dengan perusahaan kita? Dia hanya meminta Andra yang bodoh itu bekerja disana. Kenapa sekarang Radit malah masuk keperusahaan kita?" Asya terlihat bingung karena Radit tiba-tiba ikut campur dalam urusan perusahaan keluarga mereka
"Sebenarnya ada yang membuat dia jadi kesal, karena itu dia ikut campur dengan masalah perusahaan dan dia juga memecatku dari jabatanku sendiri" Luna kembali tertunduk menceritakan apa yang terjadi
"Apa yang membuat dia marah?" Asya mendelik pada Luna, menunggu dia memberikan jawaban yang sebenarnya
"Aku meminta Gio, rekan kerja Andra saat dihotel untuk mendekatinya. Aku tahu Gio menyukai Andra karena itu aku membujuknya untuk mengejar Andra dan membuat dia berpisah dengan Radit. Tadi pagi Gio datang ke kantor dengan banyak bunga dan menyatakan perasaannya pada Andra. Sepertinya saat itu Radit ada disana dan mengetahui apa yang dilakukan Gio, jadi dia sangat marah. Radit juga sepertinya tahu kalau aku bekerja sama dengan Gio karena itu dia memecatku dari perusahaan" Luna terlihat ragu-ragu saat bercerita pada Asya karena tahu ibunya pasti akan sangat marah padanya.
"Luna! Bagaimana kamu bisa begitu bodoh?! Kamu pikir Radit akan sangat mudah untuk ditipu da dihasut? Radit itu terlalu cerdas untuk diajak main trik seperti ini. Dia juga punya banyak sumber informasi untuk mengetahui apa yang direncanakan oleh orang yang tidak menyukainya. Kenapa kamu tidak berpikir sampai kesana?!" Asya yang kesal berteriak pada Luna untuk melampiaskan kekesalannya
"Aku tahu bu aku salah. Aku hanya ingin membuat Andra berpisah dengan Radit. aku sama sekali tidak suka melihat dia hidup bahagia! Bukankah ibu yang bilang kalau Andra tidak pantas untuk hidup bahagia? Jadi aku akan melakukan apapun untuk membuat Andra menderita!"
Asya terdiam melihat rasa benci Luna yang terlihat sangat besar untuk Andra. Dia tidak menyangka kalau rasa benci yang ditanamkan pada putrinya ini bisa membuat Luna melakukan apa saja, bahkan tindakan yang bodoh karena sampai mengorbankan perusahaannya sendiri
"Tapi bagaimana bisa kamu tidak memikirkan perusahaanmu sendiri? Sekarang kita mau bagaimana lagi? Itu adalah satu-satunya perusahaan peninggalan ayahmu! Sumber penghasilan kita!" Ujar Asya dengan nada bicara yang kesal
"Aku tahu kalau aku memilih langkah yang salah, tapi sekarang aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan bu! Harusnya ibu bantu aku untuk mencari jalan keluarnya. Bukannya malah marah-marah dan menyalahkan aku!" Luna pun ikut berteriak kepada sang ibu
__ADS_1
"Ibu tidak tahu lagi apa yang harus kita lakukan. Apa sebaiknya kamu minta maaf saja pada Andra?" Ujar sang ibu yang tidak memiliki cara lain dalam pikirannya
"Tidak akan! Aku tidak sudi jika harus meminta maaf dan berlutut dihadapannya!" Ujar Luna dengan wajah kesal dan penuh amarah
"Baiklah, kita pikirkan lagi nanti bagaimana caranya. Sebaiknya kamu istirahat, pasti kamu sangar lelah kan?"
"Euh" Luna pun menganggukkan kepala dan beranjak pergi ke kamarnya sendiri
***
"Sayang, kamu mau makan apa malam ini?" Radit bertanya pada Andra saat mereka dalam perjalanan pulang
"Kak, bagaimana kalau kita makan diluar? Kita sudah lama tidak makan malam diluar bersama dengan Lathan" Andra bicara dengan nada yang manja
"Boleh. Kalau begitu kita makan malam diluar. Biar Lathan yang memilih tempatnya"
"Tentu" Andra mengangguk setuju dengan senyum ceria. Andra terus memperhatikan Radit yang tak henti tersenyum semenjak dia menjemputnya
"Apa terlihat jelas kalau aku bahagia?" Tanya Radit masih dengan senyum dibibirnya
"Tentu saja. Karena itu aku bertanya"
"Hemn... hari ini aku melihat 2 ekor tikus got kembali ke tempatnya. 2 tikus itu berusaha hidup bahagia di daratan seperti manusia. Jadi aku mengembalikan mereka ke got. Tempat dimana mereka seharunya berada" Radit menjawab dengan senyum tipis yang sangat menawan. Namun Andra yang tidak mengerti perumpamaan Radit justru terlihat semakin bingung dengan mengerutkan dahinya
"Kak Radit aneh" Ujar Andra yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Radit
Tak lama mereka pun tiba dirumah
"Mami! Papi! Kalian sudah pulang?!" Lathan menyambut mereka berdua dengan senyum ceria dan berlari kepelukan Radit
__ADS_1
"Wow jagoan papi sedang apa? Sepertinya kamu sudah mandi?" Tanya Radit pada Lathan yang ada dipelukannya
"Tentu saja aku sudah mandi. Ini kan sudah sore, dan aku tahu kalau mami dan papi akan segera pulang" Jawab Lathan dengan ceria
"Kalau begitu sekarang giliran mami dan papi yang akan mandi dulu. Rasanya badan papi sudah sangat lengket" Radit menurunkan Lathan dan bicara dengan sangat lembut padanya kemudian beranjak pergi ke kamarnya
"Lathan, mami juga ke kamar dulu ya. Papi bilang hari ini kita akan makan malam diluar"
"Yeaaay... makan malam diluar" Lathan bersorak gembira setelah mendengar apa yang dikatakan Andra
Andra hanya tersenyum kemudian berjalan pergi mengikuti Radit ke kamar mereka
Tak berselang lama Radit dan Andra keluar dari kamar mereka
"Lathan, apa kamu sudah siap?" Tanya Radit yang kini bergandengan tangan dengan Andra
"Sudah papi. Aku sudah menunggu papi sejak tadi" Lathan terlihat begitu antusias menjawab Radit
"Kalau begitu kita berangkat sekarang" Ujar Andra dengan senyum lembutnya pada Lathan
"Oke" Mereka pun bergegas menuju restoran yang sudah mereka sepakati sebelumnya
Lathan terlihat sangat ceria selama perjalanan. Tak lama merekapun tiba di restoran yang mereka tuju. Radit dan Andra terus bergandengan tangan
"Silahkan duduk pangeran kecil"
"Terimkasih papi"
"Sama-sama. Silahkan permaisuriku"
__ADS_1
"Terimkasih yang mulia raja" Radit menarik kursi untuk Lathan kemudian menarik kursi untuk Andra. Mereka bertiga terlihat sangat bahagia
"Waah waah waah ternyata kamu bisa tersenyum seperti itu juga? Ku kira aku tidak akan pernah bisa melihat yang namanya Radit Reifansyah Nugraha tersenyum bahagia"