Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Perkenalan Zara Dengan Keluarga Kusuma


__ADS_3

Tring!!


Zara baru tiba dirumah saat dia menerima sebuah pesan singkat di ponselnya. Ujung bibirnya langsung membentuk senyuman yang manis dengan mata berbinar ketika melihat pesan tersebut dari Lathan.


"Segera bersiap begitu kamu tiba dirumah. Aku sudah mengirim supir untuk menjemputmu dan juga Fandy. Akan ada pesta dirumahku"


"Hah? Pesta?" gumam Zara terkejut setelah membaca isi pesan dari Lathan.


"Fandy! Fan!" Zara yang sebelumnya berniat masuk kekamarnya langsung berbalik arah dan pergi kekamar Fandy dengan tergesa-gesa.


Tok tok tok


"Fandy! Fan, buka pintunya! Fan, cepat buka! "


Tok tok tok


"Aduh! Ada apa tergesa-gesa sampai kamu mengetuk dadaku segala?!" tanya Fandy dengan nada kesal karena Zara mengetuk dadanya saat pintu terbuka.


"Maafkan aku. Aku ingin menunjukkan ini padamu". Zara bicara sambil menunjukkan isi pesan singkat yang dikirim Lathan pada Fandy.


"Hmn? Pesta? Pesta apa ya? Kenapa Lathan tidak memberitahu kita sebelumnya? Apa dia sangat senang membuat orang lain bingung?!" gerutu Fandy setelah melihat isi pesan di ponsel Zara.


"Aku tidak tahu. Sebaiknya cepat bersiap sebelum supir Lathan tiba disini" ujar Zara dengan sikap yang tenang.


"Ya sudah. Aku akan bersiap. Kamu juga jangan terlalu lama beriasnya" ujar Fandy mengingatkan.


"Ya ya aku akan cepat-cepat". Zara menanggapi sambil berbalik pergi ke kamarnya.


"Hmm … pakai baju mana ya?" gumam Zara sambil melihat isi lemari pakaiannya.


"Emm... Mungkin yang ini saja" Zara mengambil sebuah gaun berwarna ungu muda dan mencoba melihatnya dicermin sebelum dia memakainya.


"Ra! Apa kamu sudah selesai? Supirnya Lathan sudah sampai sini!" teriak Fandy memberitahu Zara.


"Ya, aku akan segera turun!" Zara menanggapi dengan berteriak juga lalu lanjut berias lagi.


Setelah beberapa saat.


"Zara! Apa kamu masih lama?! Butuh berapa lama lagi?! Apa harus menunggu sampai pestanya selesai?!". Fandy terus berteriak dengan kesal memanggil Zara yang membutuhkan waktu lama untuk bersiap.


"Sebenarnya berapa usiamu? Kenapa kamu sangat cerewet dan tidak sabaran? Seperti kakek-kakek saja!". Zara yang sudah selesai bersiap menanggapi Fandy sambil berjalan menuruni tangga dengan nada mencibir.


"Ku kira kamu belum selesai... Woow... Apa ini? Sudah lama aku tidak melihatmu berpenampilan cantik seperti ini". Sesaat Fandy terpaku melihat penampilan Zara yang sangat cantik dan anggun. Dia pun memujinya meskipun disertai nada mengejek.


"Sialan! Jadi maksudmu selama ini aku tidak cantik, begitu?" ujar Zara dengan sikap kesal.

__ADS_1


"Bukan aku yang mengatakannya, tapi memang sebelumnya ada sedikit niatan untuk mengatakan itu" goda Fandy yang membuat Zara semakin mengerucutkan bibirnya.


"Menyebalkan!"


"Sudah. Ayo berangkat. Pangeranmu pasti sudah menunggu", ujar Fandy sambil mendekati Zara agar dia menggandengnya.


Zara menyambut tawaran Fandy dengan melingkarkan tangannya disekitar siku Fandy.


"Ya, ayo kita berangkat". Mereka pun langsung berangkat menuju rumah Radit.


"Kalian mau pergi kemana lagi? Bukankah kalian baru saja tiba?". Ayah Fandy bertanya setelah melihat putra dan keponakannya hendak pergi lagi.


"Kami akan pergi kepesta yang diselenggarakan oleh keluarga teman kami, Pah. Tidak akan lama. Kami akan segera kembali setelah pestanya selesai


****************


Dirumah Radit. Pesta berlangsung sangat meriah. Para tamu terlihat asyik menikmati pesta, mulai dari makanan, minuman dan mereka pun memanfaatkan kesempatan ini untuk mencari kolega baru bagi perusahaan mereka.


"Lathan, kenapa kamu selalu menoleh ke arah pintu masuk? Apa kamu sedang menunggu seseorang?", tanya Cheva yang terus memperhatikan sikap Lathan.


"Tidak ada apa-apa, Tante", jawab Lathan dengan singkat dan kembali berbincang dengan saudaranya yang sudah lama tidak bertemu.


Tak berselang lama Zara datang bersama Fandy disebelahnya. Mereka menoleh kesana kemari mencari keberadaan Lathan.


"Aku juga tidak tahu. Sepertinya dia sedang sibuk bersama para tamu". Zara menanggapi sambil ikut mencari Lathan.


"Kalian sudah sampai?" , tanya Lathan yang berjalan keluar dari balik kerumunan.


"Lathan seperti pangeran yang menyambut kedatangan seorang putri saja", bisik Fandy pada Zara.


"Tentu saja dia seorang pangeran. Tapi pangeran itu sudah jadi milikku".


"Cih... Sombong sekali!". Fandy berdecih kesal ketika Zara menanggapi ucapannya.


"Kenapa kalian sangat lama?", tanya Lathan yang kini berdiri dihadapan Zara.


"Menunggu ibu peri mendandani cinderella yang cantik ini", ujar Fandy menggoda Zara sambil sedikit melirik padanya.


"Diam! Tidak mungkin kalau aku datang tanpa berias kan? Kamu juga lama mandinya". Lathan hanya tersenyum melihat perdebatan Zara dan Fandy.


"Ya sudah. Yang penting kalian berdua sudah ada disini. Ayo. Ku kenalkan pada saudara-saudaraku". Lathan mengulurkan sebelah tangannya pada Zara saat mengajaknya menemui keluarga Kusuma yang lainnya.


Sesaat Zara memandangi tangan Lathan, lalu dia menatap wajah sang kekasih yang tersenyum lembut padanya.


"Tapi …"

__ADS_1


"Tidak papa. Ayo!". Lathan meraih tangan Zara yang terlihat ragu untuk menerima ajakannya.


"Kalian saja yang pergi. Aku akan menikmati hidangan yang disediakan", ujar Fandy yang tidak ingin mengganggu Lathan dan Zara.


"Baiklah. Aku akan kembali nanti", ujar Lathan sambil beranjak pergi dengan menggandeng tangan Zara.


...****************...


Dari kejauhan Cheva dan yang lainnya memperhatikan Lathan yang berjalan mendekati Zara.


"Dit, apa itu pacarnya Lathan?", tanya Cheva pada Radit sambil terus menatap Lathan.


"Ya, itu pacarnya Lathan". Radit menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Apa dia sudah mengenalkannya padamu?". Cheva semakin penasaran dengan hubungan Cheva dan Zara.


Radit menggelengkan kepala perlahan.


"Tidak. Aku melihatnya saat dia dirumah sakit. Dia berusaha menyamatkan Lathan yang saat itu diculik. Meskipun pada akhirnya mereka sama-sama disandera dan dia harus dirawat beberapa hari dirumah sakit setelah berhasil dibebaskan". Radit menjelaskan dengan sikap yang tenang.


"Apa?! Lathan diculik?! Bagaimana bisa?! Apa kalian sudah menangkap pelakunya?! Siapa yang berani melakukan itu pada keponakanku?!". Cheve terlihat kesal dengan dahi berkerut dan sorot mata penuh amarah saat mendengar Lathan diculik.


"Tenanglah, Kak. Itu sudah berlalu. Pelakunya juga sudah mendapat ganjaran mereka. Kakak tidak perlu khawatir soal itu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai keluargaku". Radit bicara dengan sikap yang dingin dan senyum tipis mencibir.


"Bagus jika kamu bersikap seperti itu. Jangan sampai kejadian kelam yang menimpa orang tua Lathan terulang kembali". Cheva bicara dengan sikap yang dingin


"Ya, tentu saja".


Tak lama Lathan dan Zara mendekati mereka.


"Pih, aku ingin memperkenalkan pacarku secara Resmi pada kalian semua", ujar Lathan pada seluruh keluarganya.


Semua menatap tak percaya pada Zara.


"Apa benar kalian pacaran? Kenapa kamu mau pacaran dengannya?". Kenzo menanggapi dengan sikapnya yang dingin.


"Apa maksudnya itu? Kak Zo pikir aku ini apa?", ujar Lathan dengan sikap yang kesal.


"Jangan dengarkan dia. Kakakku ini meskipun tampan tapi menyebalkan. Saudara kembarnya saja selalu kesal padanya", sambung Lathan memberitahu Zara mengenai Kenzo.


"Kenapa namaku dibawa-bawa? Harusnya itu menjadi urusan kalian berdua", ujar Kenzie menanggapi percakapan Lathan dan Kenzo.


Zara hanya tersenyum manis melihat percakapan Lathan dan dikembar Kenzo dan Kenzie.


Ternyata mereka tidak seperti rumor yang beredar. Mereka keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang

__ADS_1


__ADS_2