
"Bagaimana dengan keadaan Andra? Apa dia baik-baik saja?" Surya sedang menghubungi Lidia untuk mengetahui keadaan Andra karena dia tidak bisa bertemu dengannya sejak perusahaan Satya ditutup
"Bu Andra baik-baik saja, Pak. Yang saya lihat selama disini, pak Radit sangat menyayangi dan selalu memanjakan bu Andra" Lidia bicara dengan sedikit berbisik karena takut ada yang mendengar percakapan mereka.
"Benarkah? Apa kamu yakin? Bisa jadi dia hanya baik ketika didepan pekerjanya saja, tapi dibelakannya dia bersikap kasar pada Andra" Surya mengatakan pendapatnya pada Lidia. DIa tidak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh orangnya itu.
"Oh kalau untuk itu aku tidak tahu, Pak. Aku tidak tahu bagaimana perlakuan pak Radit kalau mereka sedang berdua, tapi jika sedang ada orang lain atau ada anak mereka, Pak Radit terlihat begitu penyayang" Lidia menjelaskan apa yang dia tahu namun tetap saja Surya meragukan apa yang dikatakannya. Dia memicingkan mata sembari memikirkan sikap Radit yang selalu terlihat dingin dan kaku.
"Baiklah. Kamu terus awasi mereka dan laporkan padaku setiap ada perkembangan apapun. Aku tidak ingin sampai ada yang terlewat sedikitpun" ujar Surya sebelum mengakhiri penggilan teleponnya dengan Lidia
"Baik, Pak. Saya akan selalu memberitahu bapak mengenai setiap perkembangan disini. Tapi saya tidak bisa selalu mengabari bapak, takutnya ada yang curiga jika saya selalu menghubungi anda secara diam-diam"
"Baiklah, kamu atur saja sendiri. Aku hanya ingin dapatkan setap kabar terbarunya saja"
"Iya, Pak" Surya langsung meutup teleponnya setelah Lidia mengiyakan apa yang dia minta
"Radit orang yang penyayang? Apa iya? Yang aku tahu Radit itu dingin dan kaku. Lidia pasti salah. Radit pasti bersikap baik hanya didepan orang lain saja. Dia pasti bersikap sama pada Andra seperti pada para gadis yang selalu menggodanya" pikir Surya setelah dia menutup telepon dari Lidia
Tok tok tok
Perhatian Surya teralihkan ketika mendengar suara ketukan pintu
"Masuk!" ujar Surya pada seseorang yang mengetuk pintu. Terlihatlah Anton dan satu orang lain dibelakangnya berjalan masuk dengan tergesa-gesa mendekati Surya.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa kalian terlhat panik begitu?" tanya Surya dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh
"Orang yang membuat postingan itu sama sekali bukan orang biasa, Pak. IT kita tidak bisa menerobos akun miliknya" ujar Anton sambil menggelengkan kepalanya
"Apa maksudnya itu?" Surya terlihat mulai penasaran dengan apa yang dimaksud Anton. Mereka pun menoleh pada seseorang disamping Anton.
"Begini, Pak. Saya sudah berusaha untuk membobol akun itu, tapi ternyata itu hanyalah akun yang dia terobos untuk membuat postingan. Lebih tepatnya, itu adalah aku milik Luna, gadis yang jadi topik dalam postingan itu sendiri. Aku tidak bisa menemukan alamat IP lain dalam akun itu" terang pria yang bekerja sebagai IT itu
"Jadi kalian masih belum menemukan hacker itu? Bagaimana pun juga, kalian harus menemukannya. Terserah bagaimana caranya. Jika kita bisa merekrut dia, itu akan sangat bagus untuk perusahaan kita. Apa kalian mengerti?!" Surya bicara dengan sikap yang tegas tanpa ingin ada bantahan
"Mengerti, Pak!" Anton dan rekannya menanggapi secara bersamaan. Setelah itu mereka pun beranjak pergi dari ruangan Surya
***
"Bagaimana dengan hari ini? Apa ada sesuatu yang menarik? Apa yang kamu lakukan?" Radit bertanya dengan lembut pada Andra yang duduk disebelahnya sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Radit.
"Tidak ada yang aku lakukan. Aku hanya bisa nonton film dan membaca buku. Bukannya kak Radit melarangku untuk melakukan sesuatu yang berlebihan?" Andra menanggapi dengan sikap yang manja dan tatapan yang seakan menunggu konfirmasi dari Radit
"Kamu benar. Aku memang melarangmu melakukan apapun yang berlebihan. O iya, bagaimana dengan pelayan pribadimu? Apa dia membuatmu nyaman?" tanya Radit yang mengaihkan pembicaraan
"Sejauh ini tidak masalah. Aku sama sekali tidak merasa terganggu dengan kehadiran Lidia disampingku. Hanya saja aku merasa ada yang aneh dengan gadis itu. Aku merasa seperti dia menyembunyikan sesuatu dari kita" Andra bicara dengan menatap lembut pada Radit
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku akan mengurus semuanya. Aku sudah meminta Candra untuk menyelidiki dia secara pribadi" ujar Radit menjelaskan
__ADS_1
Andra semakin heran dan menatap Radit dengan tatapan penuh tanya
"Kenapa Kak Radit melakukan itu? Apa memang kakak melakukan itu pada setiap orang baru disekitar kakak?"
"Tentu saja tidak. Saat Lidia melakukan wawancara sebelumnya, dia sama sekali tidak ada dalam daftar pelamar yang diberikan Candra padaku. Entah karena dia memang terlambat mengirimkan lamaran atau bagaimana, tapi aku selalu meminta Candra menyeleksi semua karyawan terlebih dahulu sebelum datanya diberikan padaku. Karena itu aku harus memeriksanya sendiri agar mendapatkan kepastian" Radit menjelaskan dengan sikap yang tenang.
"Jadi begitu" Andra menanggapi sambil menganggukkan kepala perlahan.
"Karena kamu sudah mengerti, sekarang sudah waktunya kita untyk beristirahat" Radit beranjak dari tempat duduknya dan membantu Andra berdiri. Dia mendelik dengan tatapan sinis pada pintu yang terbuka. Tidak ada seorangpun disana, namun Radit tahu kalau ada seseorang yang sejak tadi berusaha mendengarkan pembicaraannya.
Dibalik pintu ada Lidia yang mengendap-ngendap berusaha mendengarkan percakapan apa yang sedang dibicarakan oleh Radit dan Andra
"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Karena jaraknya cukup jauh, aku tidak bisa mendengarkan apapun yang mereka katakan.Tapi aku mendengar mereka menyebutkan tanggal 09 bulan ini. Entah ada apa dengan tanggal itu" pikir Lidia sambil berjalan kembali kekamarnya. Namun saat Lidia hendak pergi, dari hadapannya tiba-tiba munculah Lathan. dengan segelas susu ditangannya
"Bibi, apa yang sedang kamu lakukan didekat kamar orang tuaku? Bukannya kamar pembantu ada dilantai bawah? Lagipula sejauh yang aku tahu, bukannya papi selalu melarang pembantu untuk mendekati kantor dan juga kamarnya?Lalu ada perlu apa bibi datang kemari dan juga naik kekamarku? Padahal dilantai bawah juga ada kamar kecil dan juga dapur" Lathan bicara dengan raut wajah serius dan tatapan yang polos.
"Itu ... saya membawa susu hangat. Apa anda mau?" Lidia dengan sangat pintarnya mengalihkan topik pembacaan mereka.
"Tidak perlu. Sebaiknya untuk bibi saja" ujar Lathan yang menolak dengan senyum lembut sambil menggelengkan kepela
"Baiklah, kalaiu begitu saya permisi dulu. Saya akan kembali kekamar saya dan beristirahat. Selamat malam tuan muda Lathan. Semoga besok dan seterusnya kita bisa menjalin hubungan yang lebih dekat lagi"
Lidia bersikap tenang meskipun dia merasa gugup saat ini, lalu dia beranjak pergi perlahan meninggalkan kamar Radit dan kembali kekamarnya dengan raut wajah kesal.
__ADS_1
"Semoga saja anak kecil itu tidak mengatakan apapun pada Radit, jika tidak maka habislah aku"