
Zara, Lathan dan Fandy sangat bersenang-senang selama mereka ditaman hiburan. Banyak wahana yang mereka naiki bersama.
"Apa lagi yang akan kita mainkan? Sepertinya sudah kita coba semua?" ujar Zara sambil menoleh melihat setiap wahana yang ada.
"Aku sudah tidak ingin main lagi. Kepalaku rasanya berputar-putar". Fandy bicara sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Kalau begitu sebaiknya kita cari makan saja. Lagipula ini juga sudah waktunya makan siang". Lathan memberikan saran sambil melihat jam tangannya. Fandy dan Zara menanggapi dengan menanggapi dengan menganggukkan kepala. Lalu beranjak pergi untuk mencari restoran.
"Kita makan disini saja" ujar Fandy menunjuk pada sebuah restoran kecil yang tidak jauh dari taman bermain.
"Apa kamu yakin?" tanya Zara melihat restoran itu bukanlah restoran mewah seperti restoran yang biasa mereka kunjungi.
"Tentu saja. Lihatlah restoran ini ramai pengunjung, pasti makanannya enak". Fandy menanggapi dengan penuh semangat sambil menunjuk restoran yang ramai itu.
"Tentu saja ini pasti enak, tapi karena banyak pengunjungnya itu … terlebih lagi ada banyak tamu wanita disana" Zara langsung menoleh pada Lathan saat dia bicara.
"Kenapa melihatku seperti itu? Kamu pikir aku akan tergoda oleh mereka?". Lathan menanggapi dengan dahi berkerut dan senyum yang tipis.
"Bukan begitu. Hanya saja … itu saja sudah antri begitu, apalagi jika kita masuk kesana, pasti akan lebih antri lagi". Zara menanggapi dengan senyum malu.
"Kamu benar. Meskipun dia sudah pakai topi dan kacamata, tetap saja dia akan jadi pusat perhatian" Fandy mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Zara.
"Kalian ini. Mau dipakaikan apapun, aku tetap akan jadi pusat perhatian. Meskipun aku mengenakan masker sekalipun tetap saja akan menarik perhatian banyak orang" Lathan bicara dengan percaya diri.
"Cih. Sombong! Sudahlah. Abaikan saja. Anggap saja kalau hari ini kita membantu restoran itu" ujar Fandy yang tetap ingin makan direstoran itu.
"Baiklah. Kami ikut kamu saja". Zara dan Lathan pun mengikuti Fandy menuju restoran yang dia maksud. Benar saja, saat Lathan dan Zara memasuki restoran, semua mata tertuju pada mereka. Apalagi saat Lathan melepas kacamata hitam yang dia kenakan dan meletakkannya diatas meja.
"Waah tampannya"
"Beruntungnya aku datang kemari, karena bisa cuci mata"
"Ya. Rasanya makanannya jadi terasa sangat enak"
"Apa kamu kenal dia?"
"Tidak. Aku hanya tahu kalau dia tampan"
__ADS_1
Zara dan Lathan duduk bersebelahan. Lathan membantu sang kekasih membersihkan sendok dan garpu yang akan dikenakan. Hal itu membuat para gadis semakin iri dengan apa yang dilakukan Lathan.
"Lihatlah, dia begitu perhatian"
"Benar. Beruntungnya gadis yang ada disebelahnya"
"Berhenti menoleh kesana kemari. Cepatlah makan". Lathan bicara dengan lembut pada Zara yang masih memperhatikan sekelilingnya.
"Aku juga maunya begitu, tapi melihat tatapan mereka padamu, rasanya …"
"Tidak perlu dihiraukan, jika kamu terus mempedulikan mereka, kamu tidak akan bisa makan dengan tenang"
"Benar, Ra. Jika kamu terus memperhatikan para gadis disekitar Lathan, itu hanya akan membuatmu merasa cemburu saja". Fandy ikut mengingatkan Zara sambil menikmati makanan yang sudah dia pesan.
"Siapa yang cemburu?! Aku hanya merasa risih saja!".
Lathan tersenyum melihat sikap Zara yang tidak ingin mengaku cemburu.
"Apa kamu yakin kalau kamu tidak cemburu?!" goda Lathan dengan seringai tipis.
"Baiklah. Kalau begitu saat aku mengangkat tanganku ini para gadis akan menghampiriku"
"Eh". Zara langsung memegangi tangan Lathan ketika dia baru saja hendak mengangkatnya.
"Katanya tidak cemburu … hahaha". Lathan dan Fandy akhirnya terbahak melihat Zara yang wajahnya sudah sangat merah karena malu.
...****************...
Ditempat lain.
Radit dan Andra sedang menyiapkan sebuah pesta kejutan untuk Lathan. Namun sebenarnya pesta itu juga untuk Ardhan dan sikecil Lulu karena Radit akan secara resmi mengenalkan ketiga anaknya pada semua orang.
"Can, apa semua sudah siap? Catering, dekorasi, apa tidak ada masalah?" Radit bertanya pada Candra mengenai semua persiapan yang dibutuhkan.
"Sudah. Kamu tidak perlu khawatir. aku sudah mengatur semuanya dan besok rumahmu akan mulai didekorasi. Oh iya untuk tamu undangan … berapa banyak tamu yang akan diundang?"
"Undang semua kolega kita dan pastikan undangannya tidak mudah dipalsukan. Semua keluargaku akan datang, aku tidak mau kalau banyak tamu tak diundang yang hadir dan merusak suasana". Radit bicara sambil membaca dokumen ditangannya. Dia terlihat penuh wibawa ketika duduk dengan kaki disilangkan dan tubuh bersandar pada kursinya.
__ADS_1
"Baik. Akan aku pastikan kalau tidak ada orang yang bisa masuk sembarangan pada acara nanti. Dan penjagaan disini juga akan diperketat diarea depan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan".
"Bagus. Kamu bisa pergi sekarang".
Candra pun berbalik dan beranjak pergi meninggalkan ruangan Radit. Setelah Candra pergi, Radit meletakkan dokumennya dan meraih ponsel yang tergeletak diatas meja kerjanya untuk menghubungi seseorang.
Tuut tuut tuut
Radit menunggu teleponnya diangkat sambil menatap keluar jendela dimana banyak bangunan-bangunan tinggi yang ada didepannya
"Halo, Dit. Kukira kamu sudah lupa padaku karena tidak pernah menghubungiku dalam waktu yang lama"
"Halo, Kak. Mana bisa aku melupakan kakakku yang cerewet ini. Buktinya sekarang aku menghubungi kak Cheva dulu daripada kak Diaz. Bagaimana kabar Kak Cheva? Apa semuanya baik-baik saja?" Radit bicara dengan senyum manis dibibirnya.
"Ya, jika kamu berharap aku sakit … maka itu sia-sia aja. Aku dan yang lainnya disini sehat-sehat saja. Bagaimana dengan keadaanmu? Sangat sulit bertemu denganmu padahal kita hanya berbeda kota saja". Cheva terdengar bicara dengan sikapnya yang tenang dan sedikit sinis pada Radit.
"Syukurlah kalau kalian semua baik-baik saja. Aku senang mendengarnya"
"Ada apa kamu menghubungiku? Apa terjadi sesuatu? Apa ada masalah yang sangat rumit sampai butuh bantuanku?". Cheva terus bicara tanpa memberi kesempatan pada Radit untuk menjawabnya.
"Tidak ada masalah apa-apa. Lagipula … aku bukan anak kecil lagi yang selalu butuh bantuan kak Cheva untuk menyelesaikan masalahku"
"Lalu, apa yang kamu inginkan?" Cheva tersenyum sinis lalu mengerutkan dahi saat mendengar jawaban Radit.
"Aku akan mengadakan pesta. Aku harap kalian semua akan hadir saat pesta nanti"
"Pesta? Dalam rangka apa?". Dahi Cheva kembali berkerut mendengar Radit akan membuat pesta.
"Aku ingin memperkenalkan anak-anakku pada semua orang. Jadi aku ingin kita semua juga berkumpul saat itu"
"Memperkenalkan Lathan, Ardhan dan Lulu? Apa kamu yakin akan memperkenalkan mereka pada semua orang? Kamu tahu sendiri kan apa resikonya?". Cheva terdengar sangat serius saat dia bertanya pada Radit akan keputusannya.
"Aku yakin. Lagipula aku sudah melihat sendiri kelayakan Lathan dan Ardhan. Mereka berdua selalu bisa bekerja sama dalam mengatasi masalah. Dan lagi … Kakak dengarkan kalau belum lama ini Lathan diculik? Kupikir jika semua orang tahu identitas anak-anakku, hal seperti itu tidak akan pernah terjadi"
"Bagaimana jika sebaliknya? Karena tahu mereka anak konglomerat, mereka bisa jadi incaran orang jahat untuk mengincar sesuatu. Apa kamu berpikir kesana? Lathan sudah besar dan aku yakin kalau dia bisa menjaga dirinya sendiri, tapi Ardhan dan Lulu, bagaimana dengan mereka berdua? Mereka masih terlalu kecil untuk bisa melindungi diri mereka sendiri".
Radit terdiam mendengar ucapan Cheva. Apa yang dikatakannya memang benar. Ardhan dan Lulu bisa saja berada dalam bahaya karena identitas aslinya yang merupakan anak konglomerat dan bagian dari keluarga Kusuma yang notabennya merupakan keluarga yang merajai bisnis dalam berbagai bidang. Meskipun kini setiap perusahaan dipegang oleh orang-orang yang berbeda dan memiliki cabangnya masing-masing. Namun tetap saja semua dikenal sebagai bagian dari keluarga Kusuma.
__ADS_1