
Gio sedang bekerja dihotel saat ini. Dia sedang sibuk mengambil sampah dari setiap kamar hotel untuk dibuang. Bahkan dia juga membuang sampah basah yang berasal dari dapur.
"Euh, bau sekali. Sampai kapan aku harus mengerjakan ini?" Gumam Gio sambil menutup hidungnya dengan kedua jari
Disaat yang sama Andra sedang datang ke hotel dan menemani Radit untuk mengecek kondisi hotel
"Siang ini kita akan makan dimana? Ada restoran yang baru saja dibuka disekitar sini, Apa kak Radit mau pergi kesana?" Andra bicara pada Radit dengan nada manja dan senyum ceria sambil menggandeng lengan sang suami. Mereka terlihat seperti suami istri yang sangat bahagia. Gio hanya bisa memperhatikan Andra dari belakang.
“Apa kamu bahagia dengannya? Apa aku memang tidak memiliki tempat dihatimu?” pikir Gio ketika melihat pasangan muda itu. Namun dia tidak berani menyapa Andra setelah apa yang terjadi padanya dan hanya menatap punggung Andra dan Radit yang berjalan semakin menjauh darinya.
Sementara Gio sedang memikirkan Andra, Andra dan Radit pergi menjemput Lathan disekolahnya terlebih dahulu sebelum mereka pergi makan siang. Mereka datang ke sekolah Lathan tepat sebelum putranya itu selesai dengan pelajarannya.
Tak berselang lama terlihat Lathan keluar dari sekolahnya. Dia menoleh kesana kemari mencari mobil Radit. Saat melihat mobil sang ayah, Lathan tersenyum dan berjalan mendekati mobil itu. Radit yang melihat putranya yang lucu berjalan mendekat langsung turun dari mobil bersama dengan Andra
"Lathan ...!" Panggil Radit begitu turun dari mobil
"Papi! Mami!" Lathan pun kembali memanggil Radit dan Andra sambil berlari kepelukan Radit
"Uuh ... jagoan papi sudah pulang" ujar Radit sambil mengangkat Lathan kepelukannya dan Andra berdiri disampingnya memegang punggung Lathan
"Apa kamu lapar, sayang?" tanya Andra pada putra sambungnya dengan nada yang lembut dan senyum yang manis.
"Iya, Mami. Aku sangat lapar" Lathan pun menanggapi dengan nada bicaranya yang lucu dan senyumnya yang manis.
"Kalau begitu kita makan siang dulu. Kamu mau makan apa?" Radit bertanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Eumm ... aku ingin makan burger saja, Pih" Jawab Lathan setelah berpikir sejenak.
"Burger? Baiklah" Radit setuju setelah memastikan kalau Lathan ingin makan burger.
"Papi, kapan kita akan menemui kakek dan nenek lagi?"
__ADS_1
Radit terdiam dengan wajah yang sedikit murung dan ditekuk sedih. Andra menyadari perubahan wajah Radit dan berusaha membujuk Lathan.
"Sayang, kita kan baru kesana akhir pekan lalu, jadi nanti ya kita kunjungi neneknya?" ujar Andra yang berusaha membujuk Lathan untuk menunda keinginannya menemui Vio dan Leo.
"Tapi, Mih kalau akhir pekan kan aku libur jadi itu tidak akan mengganggu sekolahku dan papi juga tidak bekerja diakhir pekan. Apalagi yang jadi masalahnya? Aku sangat senang bertemu dengan kakek dan nenek" Lathan berusaha meyakinkan Radit dan Andra untuk pergi menemui Vio dan leo. Dia menunjukkan raut wajah penuh harap dengan tatapan yang seakan memohon.
"Iya, Mami tahu, tapi kalau kita terlalu sering mengunjungi kakek dan nenek, nanti istirahat mereka jadi terganggu. Kamu tidak ingin kan mengganggu kakek dan nenek?" Andra berusaha meyakinkan Lathan dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut.
"Baik, Mami". Lathan pun mengangguk setuju meskipun dengan raut wajah yang kecewa.
Radit dan Andra saling menatap satu sama lain melihat reaksi Lathan yang terlihat kecewa.
Radit pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran yang sesuai dengan keinginan Lathan. Tak berselang lama mereka pun tiba disana. Lathan terus diam selama dalam perjalanan mereka.
"Lathan, kamu mau pesan yang mana?" tanya Andra yang berusaha merubah mood Lathan.
"Aku mau double cheese saja Mih" Lathan menjawab pertanyaan Andra dengan sangat singkat
"Baiklah, kita akan pesan itu" Andra memesan makanan untuk mereka bertiga, sementara Radit berusaha bicara dengan Lathan
"Tidak, Pih" Lathan menjawab dengan wajah ditekuk sambil menggelengkan kepala bersamaan dan mata menatap Radit
"Kalau Lathan tidak marah kenapa memasang wajah seperti itu? Yang papi tahu, jagoan papi itu selalu ceria dan membuat papi tersenyum dengan melihat senyum kamu yang manis" Radit bicara dengan lembut pada Lathan sambil mencubit kedua pipinya penuh kasih sayang
"Apakah seperti ini, Papi?" Lathan langsung melebarkan bibirnya dan tersenyum dengan kedua tangannya memegangi ujung bibir
"Ya, seperti itu. Papi tahu kalau jagoan papi ini sangat pintar" Radit memuji Lathan sambil mengusap lembut kepalanya.
"Papi, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Hmn? Tanya apa?" Radit pun terlihat penasaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh putranya itu
__ADS_1
"Kenapa nenek tidak mengenaliku? Dan siapa itu Lea?"
Radit terdiam mendengar pertanyaan Lathan. Dia terkejut sekaligus bingung dengan apa yang harus dia katakan untuk jawabannya.
"Saat kita kesana, nenek selalu mengatakan kalau aku mirip dengan anaknya Lea dan Galen. Sebenarnya siapa mereka?" Sambung Lathan yang penasaran dengan Lea dan juga Galen yang selalu dibicarakan Vio.
"Bukannya kamu sudah tahu kalau Lea itu kakak papi dan Galen adalah suaminya? Mereka berdua meninggal dalam kecelakaan, karena itu nenek sangat terpukul "
Radit menjelaskan dengan sikap yang tenang. Namun pada saat Lathan tidak melihatnya, Radit berusaha keras untuk menahan rasa sakitnya.
"Apakah aku mirip dengan anak mereka? Padahalkan aku anak Papi, tapi nenek selalu bilang kalau aku mirip seperti Galen" Lathan mengerucutkan bibirnya karena kesal saat dia menceritakan tentang apa yang dikatakan oleh Vio.
Radit tersenyum ketir dan menahan kesedihan saat Lathan terus membicarakan Lea dan Galen.
"Sayang, ini makanannya". LPerhatian Radit dan Lathan teralihkan saat Andra datang membawa makanan mereka
"Yeeayyy!! Burger" Lathan bersorak ceria saat burger pesanannya datang dan langsung mengambilnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa Kak Radit memasang wajah seperti itu?" tanya Andra yang penasaran setelah melihat ekspresi wajah Radit. Dia sedikit memelankan suaranya agar Lathan tidak mendengar ucapannya.
"Tidak ada. Hanya saja... Aku teringat kak Lea. Sekarang Lathan sudah besar. Dia mulai memikirkan apa yang dikatakan mama sebelumnya. Dia penasaran dengan kak Lea dan kak Galen. Lathan juga ingin tahu kenapa mama mengatakan kalau Lathan sangat mirip dengan kak Galen padahal dia adalah putraku" Radit menjawab Andra sambil menatap Lathan sedih.
Andra pun terlihat mengerti dengan apa yang dikatakan Radit. Dia berusaha menenangkan sang suami.
"Kak Radit tenang saja. Lathan itu sangat pintar dan juga baik hati. Aku yakin kalau dia akan mengerti dengan situasinya saat kakak menjelaskan semua padanya suatu saat nanti"
Andra berusaha membesarkan hati Radit dengan nada bicara yang lembut dan senyum yang manis. Dia juga menggenggam sebelah tangan Radit untuk memberikan kekuatan padanya.
"Kamu benar. Terimakasih, sayang". Radit pun tersenyum lembut sambil memegang tangan Andra yang saat ini memegang tangannya
------------------
__ADS_1
Sorry guys upnya belum bisa teratur. Jaringannya jelek. Tapi akan aku usahain untuk up setiap hari 🙏
Terimakasih untuk dukungannya. Love you all