Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Percaya Diri Untuk Merebut Istri Orang Lain Namanya Tidak Tahu Malu


__ADS_3

Radit Kembali mengumpulkan para karyawannya di hotel untuk mengumumkan pembagian posisi yang baru


"Setelah saya mempertimbangkan semuanya. Saya hanya membagi posisi itu kepada sebagian orang saja. Anggap saja ini sebagai masa percobaan selama 6 bulan ini. Jika ini berjalan lancar maka akan ada perombakan selanjutnya"


Radit bicara dengan sikap yang tenang, senyum tipis juga tidak pernah hilang dari wajah tampannya. Semua karyawan saat ini sedang merasa gugup menunggu keputusan apa yang Radit berikan


"Pertama, untuk posisi cleaning service saya ingin menunjuk Geby. Untuk pelayanan kamar akan ditempati Diana. Untuk kebersihan sampah, kolam renang dan taman, karena akan butuh tenaga ekstra untuk mengangkat sampah saya minta Gio yang menempati posisi ini"


"Apa? Gio?" Semua cukup terkejut mendengar keputusan Radit karena Gio berpendidikan dan juga menempati posisi yang lumayan tinggi sebagai bagian administrasi. Sedangkan Gaby dan Diana adalah orang yang pernah membicarakan Andra saat dia keluar dari kamar Radit dan mengatakan kalau Andra ada main dengan tamu hotel


"Satu lagi, saya juga ingin bu Dita yang mengatur masalah karyawan, baik itu tempat tinggal maupun masalah penempatan dan penerimaan karyawan baru. Anda tidak keberatan kan untuk mengatur masalah ini sementara waktu?" Radit bertanya dengan senyum menyeringai


"Tidak, pak"


Para karyawan kembali dibuat tekejut dengan keputusan Radit. Dita adalah manajer hotel, bisa-bisanya di diturunkan jabatan jadi HRD


"Apa ada yang ingin kalian tanyakan sebelum kita mulai bekerja?" Radit menatap seluruh karyawannya dan bertanya dengan sikap yang tenang. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya menggelengkan kepala serempak dengan wajah segan


"Tidak ada pak"


"Bagus kalau begitu. Manajer baru akan datang secepatnya, saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Saya tidak suka dengan orang yang sok pintar dan suka merendahkan orang lain. Kalian harus ingat itu! Sekarang kalian bisa kembali ke posisi kalian masing-masing" Radit langsung meninggalkan aula setelah dia selesai bicara


Sementara itu Dita langsung mendekati Gio setelah semua orang meninggalkan aula


"Kamu mengerti kan kenapa dia melakukan semua ini? Harusnya kamu berpikir panjang sebelum melakukan hal yang membuatnya tidak senang! Sekarang gara-gara kamu kami disini juga terkena imbasnya" Ujar Dita dengan sikap sinis pada Gio


"Bukannya bu Dita mendapatkan itu juga karena sikap bu Dita pada Andra yang suka seenaknya saat dia bekerja disini ya? Kenapa harus menyalahkanku?" Gio tidak ingin disalahkan sepenuhnya atas apa yang terjadi di hotel. Diapun membalikkan perkataan Dita


"Kamu benar. Aku hanya mendapatkan penurunan jabatan saja. Tapi kamu, entah apalagi yang akan pak Radit lakukan padamu" Dita bicara dengan senyum mencibir di bibirnya lalu dia berjalan meninggalkan Gio sendiri


"Apa benar yang dikatakan bu Dita? Bagaimana jika pak Radit memang ingin menjatuhkanku sepenuhnya dan ini baru permulaannya saja?" Gio terdiam memikirkan apa yang dikatakan Dita


Tak lama seseorang memanggil dia

__ADS_1


"Pak Gio, anda dipanggil pak Radit keruangannya" Ujar seorang pegawai lain pada Gio


"Baik, terimakasih" Gio menjawab dengan sikap tenang. Setelah itu dia langsung berjalan menuju kantor Radit


Tok tok tok


"Masuk!" Gio langsung membuka pintu dan masuk ke kantor Radit begitu mendapatkan izin


"Anda memanggil saya pak?" Gio Bertanya dengan penuh sopan santun


"Oh, kamu. Kemarilah!" Radit meminta Gio untuk semakin mendekat padanya. Gio pun semakin mendekat pada Radit


"Apa kamu tidak merasa takut padaku? Kamu tidak malu, berdiri tepat didepanku?" Tanya Radit dengan sikap yang tenang. Gio hanya diam dengan kepala menunduk dan tangan kanan dan memegangi pergelangan tangan kirinya


"Kenapa diam saja? Ku pikir kamu akan memukulku atau mungkin memintaku untuk duel dan memperebutkan istriku?"


Setelah cukup lama terdiam, Gio pun mengangkat kepalanya dan menatap Radit


"Saya tidak akan mengatakan apapun. Saya menyukai Andra dan saya yakin kalau Andra juga memiliki perasaan yang sama pada saya"


"Percaya diri itu memang bagus, tapi jika percaya diri untuk merebut istri orang itu namanya tidak tahu malu. Kamu harus bisa membedakan itu!" Sorot matanya saat berdiri tepat dihadapan Gio


"Saya … saya hanya yakin dengan perasaan saya kalau saya dan Andra saling menyukai" Radit tersenyum mendengar jawaban Gio


"Gio … Gio … sebagai laki-laki, kamu itu terlalu bodoh. Pantas saja Luna bisa dengan mudah memanfaatkanmu" Radit mencibir sikap Gio yang sangat yakin kalau Andra menyukainya


"Baiklah, mulai sekarang akan aku tunjukkan padamu bagaimana hubunganku dengan istriku. Aku ingin lihat sejauh mana kamu percaya kalau istriku lebih menyukaimu daripada aku, suaminya" Gio menatap Radit dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah itu tatapan benci atau tatapan yang ingin membuktikan kalau apa yang dikatakannya mengenai perasaan Andra adalah benar


"Kamu boleh pergi sekarang!" Gio pun berbalik dan hendak pergi dari hadapan Radit


"Eh tunggu" Langkah Gio kembali terhenti dan berbalik kembali menatap Radit


"Jangan lupa ganti seragammu! Kamu sudah harus mulai bekerja diposisi yang baru mulai hari ini" Radit bicara dengan senyum mengejek.

__ADS_1


Gio pun melangkahkan kaki keluar dari kantor Radit. Dia kembali terdiam didepan pintu kantor Radit dan merenungkan apa yang terjadi padanya


"Apa yang kamu lakukan disini? Bukannya kamu sudah harus mulai bekerja ya? Sampah kemarin belum dibuang ke tempat pembuangan sampah" Ujar Diana yang melintas tepat di depan Gio


"Aku baru akan mulai bekerja sekarang" Jawab Gio sambil berlalu meninggalkan Diana dan berjalan ke tempat ganti baju


***


Sementara itu Luna langsung pulang kerumahnya setelah dia dipecat secara tidak hormat dari perusahaan miliknya sendiri


..."Kenapa kamu pulang cepat? Apa kamu sakit?" Tanya sang ibu melihat Luna pulang lebih cepat...


"Bu, aku sudah tidak bekerja disana lagi" Luna menjawab dengan wajah sedih dan air mata mulai menetas


"Apa? Kamu tidak bekerja lagi? Tapi, itu perusahaan kita, bagaimana kamu bisa menyerah begitu saja?" Ibu Luna terlihat cukup terkejut dan bingung setelah mendengar apa yang dikatakan Lina


"Itu benar bu, pemegang saham sudah berkumpul dan memberikan suara mereka untuk memecatku" Jawab Luna dengan raut wakah ditekuk


"Lalu apa rencanamu sekarang? Tanya sang ibu yang mulai penasaran


"Aku tidak tahu, tapi aku akan pergi untuk mencari pekerjaan lain. Ibu tenang saja. Aku pasti mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik"


Disaat Luna dan sang ibu tengah berduka karena kehilangan sumber keuangan mereka. Lulu masuk kerumah dengan wajah berseri


"Hai bu, hai kak" Sapa Lulu pada Ibu dan Kakaknya yang wajahnya ditekuk sedih


"Hai, kamu baru pulang? Bukannya kamu bilang tidak ada kesibukan apapun sejauh ini?Sebenarnya apa pekerjaanmu, sampai kamu selalu sibuk setiap harinya?" Tanya Luna pada sang adik dengan nada sinis


"Kakak kan tahu sendiri kalau aku bekerja di sebuah kantor. Dan hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak, karena itu aku pulang cepat. Ada masalah apa?" Lulu pun menanggapi Luna dengan sinis


"Kantor apa yang mengizinkan karyawannya pada jam kerja malah bisa bergandengan dengan seorang pria dewasa di kawasan mall?" Lulu begitu terkejut mendengar apa yang ditanyakan Luna saat ini


"Apa kak Luna pernah melihatku dengan seseorang? Tapi kapan?" Pikir Lulu sambil terus menatap Luna

__ADS_1


"Kakak jangan sembarangan bicara! Sudahlah, aku lelah, aku mau istirahat. Permisi!"


"Lulu! Aku belum selesai bicara! Lulu!"


__ADS_2