
Semua orang terkejut mendengar nama lengkap Ardhan.
"Siapa namamu?" tanya ibu Bobi lagi berusaha memastikan. Kali ini dia merendahkan nada suaranya yang sejak tadi terus saja meninggi.
"Harus berapa kali aku ulangi namaku? Ardhan Prayugi Nugraha. Putra kedua dari Radit Reifansyah Nugraha dan juga Diandra Anindya Satya. Apa aku harus sebutkan juga nama kakek dan nenekku? Tidak mungkin jika kalian tidak mengenal keluargaku kan?"
Ardhan mengangkat kedua alisnya bersamaan disertai senyum saat dia menyebutkan nama lengkapnya.
"Ji-jika itu Nugraha … berarti kamu cucu dari Vio Kusuma?" tanya ibu Bobi dengan ragu hingga tergagap.
"Ternyata nama Kusuma yang lebih berpengaruh. Benar juga sih nama kakek buyut memang terlalu berharga untuk dilupakan" ujar Ardhan dengan nada bicara yang acuh tak acuh.
"Yah, karena sekarang kalian sudah tahu siapa aku, kurasa sudah tidak perlu lagi berpura-pura baik" sambung Ardhan sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya kepala sekolah dengan raut wajah yang sudah pucat.
"Bukankah tadi nyonya itu ingin memanggil dewan audit? Aku hanya akan memberikan sedikit bantuan kecil saja"
Tuut tuut tuut
"Halo …"
"Halo, kantor penyidik negara A? Saya ingin meminta bantuan dari anda" ujar Ardhan dengan sikap yang tenang.
"Apa yang bisa kami bantu? Silahkan katakan" jawab seseorang dari ujung telepon dengan sikap yang sopan.
"Bisakah kalian datang ke SMP Harapan? Saya rasa disekolah ini semuanya perlu mendapatkan pendisiplinan. Baik itu murid ataupun gurunya mereka melakukan suatu ketidak adilan"
Ardhan bicara dengan sikap yang tenang namun ada seringai tipis dibibirnya serta tatapan mata yang terlihat mengarah pada ibu Bobi dan juga kepala sekolah.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu ingin menjatuhkan nama baik sekolah kita?!" teriak kepala sekolah begitu mendengar ucapan Ardhan sambil merebut ponselnya.
"Kenapa anda teriak begitu? Kalau memang sekolah ini bersih, anda tidak perlu takut akan ada tim audit kesini kan? Lagipula … bukannya ada anggota dewan sekolah yang akan selalu membantu anda?"
Ardhan bicara dengan senyum diwajahnya.
"Dan untuk anda, nyonya. Sebaiknya pulang dan katakan pada suami anda agar bisa mengurus perusahaan dan juga keluarga dengan baik. Meskipun perusahaan suami anda memiliki reputasi yang baik, tidak menutup kemungkinan kalau perusahaan itu jatuh hanya dalam 1 hari"
Ardhan bicara dengan sikap yang tenang. Dia berjalan mendekati kepala sekolah untuk mengambil ponsel miliknya lalu beranjak pergi meninggalkan ruang kepala sekolah dengan seringai liciknya.
"Hei! Tunggu! Apa maksud ucapanmu? Jelaskan dulu padaku!"
Bobi yang sejak tadi merasa kesal dan tidak terima langsung berteriak pada Ardhan tanpa memikirkan keluarganya.
"Kamu bodoh atau apa? Kamu suka bermain kekuasaan dan menindas yang lemah kan? Tapi kali ini kamu salah menindas orang. Sekarang kita lihat, apa yang bisa kamu lakukan jika kamu tidak punya kekuasaan lagi. Dan disini, aku lebih berkuasa daripada kamu!".
Ardhan menoleh tanpa membalikkan badannya. Nada bicaranya tenang dan dingin, sorot matanya terlihat sangat menyeramkan saat dia menatap Bobi.
Bobi, ibunya dan kepala sekolah hanya bisa mematung menatap punggung Ardhan yang perlahan hilang dibalik pintu.
__ADS_1
Drrt drrt drrt
"Halo"
Ibu Bobi langsung menerima telepon sesaat setelah Ardhan meninggalkan ruangan. Dia menjawab dengan sopan setelah mengendalikan napasnya.
"Halo, Bu. Terjadi masalah di butik! Ada beberapa orang yang katanya datang dari tim penyidik untuk memeriksa semua aset yang dimiliki oleh Bapak"
Seketika tubuh ibu Bobi menjadi lemas, dia terduduk dilantai dengan tangan masih memegang ponsel.
"Tidak mungkin! Pasti terjadi kesalahan!"
Tut
gumam ibu Bobi setelah mendengar ucapan sekretarisnya. Diapun langsung menutup telepon dan kembali menghubungi sang suami untuk mendapatkan kepastian.
Tuut tuut tuut
"Halo, sayang. Barusan sekretarisku menghubungiku, katanya ada masalah dengan perusahaan, apa itu benar?".
Ibu Bobi langsung bertanya pada suaminya tanpa basa basi begitu telepon tersambung.
"Benar. Salah satu staf perusahaan kita tertangkap tangan sedang melakukan kesepakatan dengan perusahaan lain agar kita mendapatkan proyek terbaru. Akibatnya perusahaan kita dicurigai dan sedang dilakukan penyelidikan menyeluruh pada aset kita" ujar ayah Bobi dari ujung telepon.
"Tidak mungkin kalau ini semua gara-gara dia. Katakan kalau itu semua bohong!".
"Dia siapa? Sebenarnya apa yang terjadi?".
Ayah Bobi terdengar penasaran karena merasa ada yang aneh dengan nada bicara sang istri.
"Sebenarnya … aku sedang berada disekolah Bobi".
Ibu Bobi berusaha menceritakan kemungkinan yang terjadi pada perusahaan mereka.
"Katakan saja. Tidak perlu berbelit-belit. Apa anak itu membuat masalah lagi disekolah?".
Ayah Bobi semakin tidak sabaran mendengar cerita sang istri.
"Semua ini … mungkin karena … Bobi telah menyinggung orang yang salah. Dia telah mengganggu putra dari keluarga Nugraha"
"Apa kamu bilang?! Jadi semua kekacauan ini karena ulah anak itu?! Dasar anak tidak tahu diri! Katakan pada anak itu untuk minta maaf. Bila perlu, berlututlah dikakinya".
Ayah Bobi memaki dengan suara tinggi sampai sang istri menjauhkan ponselnya dari telinga lalu mengakhiri panggilan teleponnya.
Tut tut tut
"Sayang? Sayang. Hancurlah sudah. Bobi kamu harus minta maaf pada anak itu. Jika tidak semuanya akan hancur berantakan"
Bobi terdiam menatap sang ibu yang terduduk dilantai dengan derai air mata dipipinya. Lalu dia pun berlari meninggalkan ruangan untuk mengejar Ardhan. Dia menoleh kesana kemari mencari keberadaan Ardhan.
__ADS_1
"Ardhan!"
Ardhan menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar Bobi memanggilnya. Dia menatap Bobi yang berjalan kearahnya dengan tatapan yang dingin.
"Ada apa lagi?" tanya Ardhan dengan sikap dingin dan acuh tak acuh.
Bobi terdiam karena merasa harga dirinya sangat tinggi.
"Jika tidak ada lagi yang ingin dibicarakan ... aku akan pergi".
Ardhan langsung membalikkan badan hendak pergi
"Aku minta maaf!"
Bobi meminta maaf pada Ardhan sambil berlutut di tengah lapangan. Saat ini hampir semua siswa menyaksikannya.
Ardhan kembali berbalik dan menatap Bobi yang berlutut dihadapannya dengan tatapan yang dingin.
"Kamu bilang apa?" tanya Ardhan agar Bobi mengulangi ucapannya.
"Maaf" ujar Bobi dengan suara pelan.
"Apa kalian dengar apa yang dia katakan?!" tanya Ardhan pada para siswa yang berdiri di sekitar lapangan dengan sedikit meninggikan suaranya..
"Tidak!"
Semua siswa menjawab dengan serempak pertanyaan Ardhan.
"Seperti kata mereka, aku juga tidak mendengar apa yang kamu katakan"
Ardhan kembali menanggapi dengan sikap acuh tak acuh. Perkataan semua orang membuat Bobi menundukkan kepala dengan tangan mengepal keras.
Sial
"Aku minta maaf!" teriak Bobi dihadapan semua orang.
"Minta maaf untuk apa? dan ... pada siapa?" tanya Ardhan dengan raut wajah polosnya.
"Itu… aku minta maaf padamu dan juga rekan yang lain karena telah mengganggu kalian, menindas kalian dan selalu meminta uang kalian. Aku harap kalian bisa memaafkanku dimasa depan dan mulai semuanya dari awal"
Bobi bicara dengan kedua tangan mencengkeram erat.
"Huuuuu"
Alih-alih memaafkan Bobi, semua orang yang pernah ditindas Bobi justru malah meneriakinya.
Ardhan menoleh kesekelilingnya terlebih dahulu sebelum dia mendekat pada Bobi dan menundukkan tubuhnya sambil bicara dengan sikap yang tenang.
"Mereka saja tidak ingin memaafkanmu, jadi kenapa aku harus memaafkanmu? Lagipula … aku ini bukan orang baik yang mudah memberikan maaf begitu saja dan menarik kembali kata-kataku. Aku suka melihat orang jahat menderita"
__ADS_1