Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Jalan-Jalan Andra Dan Vio


__ADS_3

Hari ini Andra berniat menghabiskan waktu bersama Vio selama Radit dan Lathan tidak ada dirumah.


Diteras belakang terlihat Leo dan Vio sedang duduk bersama. Leo sedang memainkan tablet ditangannya. Meskipun dia menyerahkan semua urusan kantor pada Radit, tapi Leo tetap mencari tahu mengenai perkembangan dunia bisnis. Sedangkan Vio terlihat diam saja dengan tatapan kosong.


"Apa yang sedang Papa lakukan?" tanya Andra begitu dia mendekati Leo.


Leo mengalihkan pandangannya dari tabletnya dan menoleh pasa Andra.


"Halo, nak. Papa hanya membaca berita saja. Apa Radit dan Lathan sudah berangkat?" Leo menanggapi Andra dengan sikap yang tenang


"Ya, Kak Radit dan Lathan berangkat lebih awal karena takut terjebak macet" Andra menjawab sambil menganggukan kepala


"Pah"


"Hmn"


"Apa aku boleh mengajak mama jalan-jalan disekitar sini?" Leo yang telah kembali fokus pada tabletnya langsung menoleh lagi pada Andra


"Jalan-jalan?" tanyanya memastikan


"Iya Pah. Hanya sekitar sini saja" ujar Andra meyakinkan Leo.


Leo terdiam mempertimbangkan permintaan Andra sambil menatap sang istri yang hanya diam tanpa mengatakan apapun.


"Baiklah. Tapi Papa akan minta pengawal untuk menemani kalian pergi" Leo pun mengangguk setuju dengan permintaan Andra


"Baik, Pah. Terimkasih" Andra tersenyum ceria lalu beralih bicara pada Vio


"Mama, apa Mama mau pergi jalan-jalan denganku? Tidak pergi jauh. Hanya ditaman depan saja" Andra bertanya pada Vio dengan senyum lembut dibibirnya. Sesekali dia juga menggelengkan kepala saat bicara.


"Iya" Vio menganggukkan kepala menanggapi Andra.


"Kalau begitu kita siap-siap dulu, Mah" ujar Andra yang langsung memapah Vio. Leo hanya tersenyum melihat Vio yang berjalan dengan Andra.


Tak berselang lama, Vio dan Andra pun selesai bersiap.


"Apa kalian sudah siap pergi?" tanya Leo dengan nada yang lembut.


"Iya, Pah. Aku dan Mama akan pergi sekarang" Andra pun menanggapi dengan senyum lembut dibibirnya.


"Baiklah. Kalian hati-hati dijalan. Ingat untuk langsung hubungi Papa kalau terjadi sesuatu" Leo berpesan pada Andra sebelum menantunya itu pergi.


"Iya, Pah. Papa tidak perlu khawatir. Aku pasti akan langsung memberitahu Papa kalau memang terjadi sesuatu. Kalau begitu kami pergi dulu ya, Pah. Sampai jumpa!"


"Ya, hati-hati" Andra pun beranjak pergi meninggalkan rumah Leo bersama Vio disebelahnya. Mereka ditemani 2 pengawal yang mengikuti dari belakang.

__ADS_1


"Mama, apa Mama menyukainya?" Andra bertanya pada Vio yang terlihat antusias sambil menoleh kesana kemari.


"Ya, aku menyukainya. Ada banyak bunga disini. Tapi ada banyak orang …" awalnya Vio terlihat senang, namun kemudian dia terlihat khawatir dengan banyaknya orang yang berlalu lalang sambil memandang kearah mereka.


"Mama tidak perlu hiraukan mereka. Yang penting Mama merasa senang jalan-jalan denganku" Andra menanggapi dengan senyum lembut dibibirnya.


Vio tidak menanggapi ucapan Andra, mereka terus berjalan menyusuri taman bunga yang kini dikunjungi banyak orang.


Langkah Vio terhenti ketika melihat disalah satu sudut taman ada beberapa orang yang sedang melakukan pemotretan.


"Mama, ada apa?" tanya Andra yang merasa bingung karena Vio tiba-tiba menghentikan langkahnya. Diapun mengikuti arah pandangan mata Vio


"Putriku juga seorang model. Dia cantik dan berbakat. Dia menerima banyak tawaran untuk menjadi model iklan dan juga majalah. Banyak juga orang yang suka padanya".


Vio menceritakan Lea dengan mata yang terus menatap model cantik yang sedang berpose. Ada senyum ketir dibibirnya saat dia bercerita tentang Lea


"Mah, pasti kak Lea sangat bahagia mendengar kalau Mama sangat bangga padanya" ujar Andra menanggapi cerita Vio.


"Mungkin? Aku merindukannya. Aku ingin bertemu dengan putriku. Pasti anaknya akan mirip dengannya kan? Atau mungkin akan mirip dengan Galen? Sudah lama mereka tidak menemuiku. Aku harus menghubungi mereka".


Sebelumnya Vio terlihat dapat menerima keadaan, tapi sesaat kemudian dia seakan menolak kepergian Lea dan menganggap kalau Lea dan Galen masih hidup.


Tanpa terasa Andra meneteskan air mata melihat Vio sekarang.


"Mama, apa aku bisa dekat dengan Mama? Karena kak Lea tidak ada, Mama bisa menganggapku sebagai putri Mama" Andra meraih tangan Vio saat bicara dengannya. Meskipun air mata membasahi pipinya, tapi senyum yang lembut tetap terlihat diwajahnya.


"Iya, aku Diandra Anindya Nugraha. Aku istri kak Radit dan sekarang aku bisa jadi anak Mama" Andra menganggukkan kepala dengan senyum dibibirnya saat memperkenalkan diri.


"Radit? Kamu istri Radit? Dia tidak memberitahuku" ujar Vio yang tampak bingung.


"Hahaha … Kami memang tidak mengundang banyak orang saat menikah. Apa Mama mau dengar kabar bahagia? Saat ini aku sedang hamil". Andra tertawa canggung pada Vio lalu kemudian dia kembali bersikap tenang dan sedikit berbisik pada Vio.


"Apa kamu hamil? Jadi aku akan punya cucu? Aku harus memberitahu Lea kalau Radit juga akan punya anak. Dia pasti sangat senang apalagi anak mereka akan memiliki jarak usia yang dekat".


Vio tersenyum ceria menanggapi Andra. Lagi-lagi dia berpikir kalau Lea masih hidup dan sedang mengandung.


Andra tersenyum canggung melihat Vio


Bagaimana ini? Bagaimana aku akan menjelaskan pada mama kalau Lathan adalah anak kak Lea? Ah biarkan dulu saja. Mungkin suatu hari nanti, mama akan mengerti


Andra terus membiarkan Vio tersenyum ceria. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan Vio yang bahagia dengan kehamilannya.


"Ah! Kamu tidak punya mata ya?!"


"Mama! Apa Mama baik-baik saja?"

__ADS_1


Karena terlalu senang, Vio tidak sengaja menabrak orang didepannya hingga mereka sama-sama terjatuh.


"Maafkan Mama saya. Dia tidak memperhatikan jalan, jadi tidak tahu kalau ada orang didepannya".


Andra langsung meminta maaf dengan sopan pada orang yang ditabrak Vio.


"Dasar wanita gila! Baju dan tasku jadi kotor begini. Benar-benar sial!".


Gadis itu menggerutu sambil menepuk-nepuk baju dan juga tasnya yang sedikit kotor secara bergantian. Dia sama sekali tidak mendengarkan permintaan maaf Andra.


Andra mengepalkan tangannya mendengar keluhan gadis itu. Dia mengeratkan gigi menahan rasa kesalnya.


"Permisi. Apa tadi anda mengatakan sesuatu tentang ibuku?" tanya Andra dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.


"Aku bilang dia wanita gila. Kenapa? Tidak terima? Bukannya dia memang gila? Aku sudah lihat sejak tadi kalau dia bersikap aneh".


Gadis itu menanggapi Andra dengan sikap yang sombong. Dia sama sekali tidak menyembunyikan apa yang dia rasakah pada Vio.


"Minta maaf pada ibuku!" ujar Andra dingin.


"Apa?!".


Gadis itu nampak tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Aku bilang, minta maaf pada ibuku sekarang juga!".


Gadis itu terkejut melihat sikap Andra, namun sikap sombongnya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah meskipun sedikit.


"Kenapa aku harus minta maaf? Dia yang salah. Harusnya dia yang minta maaf padaku" ujarnya dengan penuh keangkuhan.


"Aku sudah minta maaf untuk yang itu, tapi kamu belum minta maaf karena telah bersikap tidak sopan dan sangat kurang ajar pada ibuku".


Andra menatap tajam pada gadis itu. Dia berdiri didepan Vio dengan aura yang mengintimidasi.


"Apa katamu?! Minta maaf? Seorang Karina minta maaf pada wanita gila ini? Jangan mimpi!" ujar Karina yang sangat sombong


"Ya. Kamu harus minta maaf sekarang juga!"


"Tidak akan. Kamu tidak tahu siapa aku? Aku ini model terkenal. Tidak mungkin model terkenal sepertiku minta maaf pada orang gila". Ujar gadis itu dengan nada mencibir.


"Hanya seorang model saja, tidak usah sombong seperti itu. Aku bisa membuatmu langsung kehilangan karirmu hanya dengan satu panggilan telepon saja. Itu sangat mudah untukku".


Andra pun mengeluarkan ponsel dan menghubungi Radit.


"Kak Radit, bisakah kamu menghapus karir seorang model? Aku rasa aku tidak suka dengan seorang model sombong"

__ADS_1


"Itu bukan hal yang sulit"


__ADS_2