
Keesokan harinya disekolah Lathan. Semua siswa bersiap untuk pulang setelah mereka selesai dengan pelajaran mereka hari ini.
"Fan, kamu mau kemana? Kenapa buru-buru sekali?" tanya Zara yang penasaran melihat Fandy yang langsung mengemasi barangnya dengan cepat.
"Mama minta aku untuk menemaninya setelah pulang sekolah, jadi aku tidak bisa pulang denganmu. Kamu pulang sendiri saja ya, tidak akan tersesat kan?" ujar Fandy yang menanggapi Zara sambil berlari karena tergesa-gesa.
"Haah! Dia langsung pergi begitu saja". gumam Zara sambil menghela nafas panjang melihat saudaranya pergi menjauh.
"Biar aku antarkan pulang, my lady".
"Ya ampun. Apa kamu tidak bisa muncul seperti orang biasa tanpa harus mengejutkanku?!". Zara sangat terkejut karena Lathan yang tiba-tiba bicara dibelakangnya.
"Sayangnya... Aku tidak ingin jadi orang biasa untukmu" ujar Lathan yang menanggapi dengan nada bicara dan senyum yang menggoda disertai kedua alis yang diangkat secara bersamaan.
"Cih. Malas meladenimu". Zara menanggapi sambil berlalu pergi meninggalkan Lathan. Sedangkan Lathan hanya tersenyum sambil menatap punggung Zara yang semakin menjauh. Lalu dia pun berjalan mengikuti Zara dari belakang.
"Aku akan mengantarmu!" ujar Lathan yang berhasil menyusul Zara dan berjalan disampingnya.
"Tidak perlu. Aku akan naik saja!" Zara menanggapi dengan sinis dan terus berjalan tanpa menghiraukan ajakan Lathan.
Lathan tidak memaksa Zara lagi. Dia hanya bisa menatap Zara dari kejauhan, lalu berjalan menuju mobilnya. Lathan mengemudi perlahan mengikuti taksi yang dinaiki Zara. Dia tidak menyadari kalau ada beberapa mobil lain yang juga mengikutinya.
"Bodoh. Sampai kapan dia akan mengikutiku" gumam Zara sambil memandangi Lathan dari kaca spion taksi. Namun tak berselang lama, Zara menghentikan taksinya.
"Tunggu Pak. Putar balik Pak. Cepat!" ujar Zara setelah melihat Lathan tidak lagi mengikutinya.
...****************...
Lathan terus mengikuti taksi Zara dengan jarak yang tidak terlalu dekat. Namun tak berselang lama dia menyadari kalau ada beberapa motor yang mengikutinya.
Broom!
Broom!
"Siapa mereka? Kenapa mereka terus mengikutiku?" gumam Lathan sambil memperhatikan orang-orang bertopeng yang mengikutinya dan terus berkendara. Sayangnya Lathan tidak menggunakan mobil sportnya, dia menggunakan mobil biasa.
Ckiiit!!!
Lathan langsung mengerem mobil secara mendadak karena satu motor berhenti didepannya.
Dug dug
"Turun! Cepat! Kalau tidak aku pecahkan kaca mobilnya!"
Salah seorang dari mereka memukul kaca mobil sambil mengacungkan kayu pada Lathan.
"Sial!" gumam Lathan sambil memperhatikan sekelilingnya yang kini telah dikelilingi oleh beberapa motor itu. Perlahan Lathan turun dari mobilnya dengan waspada.
Hiyaaat!
Bag bug bag bug!
Para pengendara itu mulai menyerang Lathan satu persatu. Mereka sama sekali tidak memberikan Lathan celah untuk diam.
Ah!
__ADS_1
Lathan terkena pukulan kayu ditangannya karena menahan serangan yang mengarah kewajahnya.
Hiyat!
Dari belakang Lathan tiba-tiba Zara muncul dan menendang pria yang berusaha memukul Lathan, mereka berdua pun saling membelakangi satu sama lain untuk melawan pria didepan mereka.
"Bagaimana kamu bisa kembali lagi kemari? Harusnya kamu tetap pergi!". Lathan mengeluh pada Zara karena dia kembali lagi.
"Aku melihatmu dikepung oleh mereka. Karena itu aku kembali lagi. Harusnya kamu berterimakasih padaku karena menolongmu". Zara menanggapi Lathan dengan sikap sinis.
"Kalian terlalu banyak bicara. Tangkap mereka berdua!" ujar salah satu dari mereka yang sepertinya ketuanya.
Hiyaat!
Bagh bugh bagh bugh!
Mereka mulai melawan Zara dan Lathan secara bersamaan.
Bugh
Ah!
"Zara!"
"Ah. Lepaskan aku! Zara!"
"Merepotkan! Bagaimana dengan gadis ini? Apa kita tinggalkan saja?" ujar salahatu penculik.
"Kita habisi juga. Akan mencurigakan jika kita tinggalkan disini"
Lathan berteriak karena terkejut setelah melihat Zara dipukul ditengkuknya hingga jatuh pingsan. Diapun akhirnya tertangkap saat lengah karena perhatiannya tertuju pada Zara. Tangan Lathan dipegang ke belakang lalu diikat, matanya juga ditutupi kain dan mulutnya ditutup lakban, dia dimasukkan kedalam mobil bersama Zara yang tak sadarkan diri.
"Ehm … ehm …". Lathan berusaha membangunkan Zara yang tak sadarkan diri disebelahnya.
"Bagaimana ini? Sebenarnya siapa orang-orang ini?" pikir Lathan mengamati situasi.
"Aku akan menghubungi bos dan memberitahunya kalau kita sudah menangkap target kita" ujar bos penculik. Diapun langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi orang yang memberinya perintah.
Tuut tuut tuut
"Halo". tak berselang lama terdengar suara seorang pria dari balik telepon.
"Halo bos. Kami sudah menangkap anak sekolah itu. Kami akan membawanya ke gudang seperti yang bos katakan"
"Bagus. Langsung saja habisi dia. Jangan sampai meninggalkan jejak!"
"Baik, Bos. Aku mengerti!".
Mereka pun mengakhiri panggilan telepon dan melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang telah disiapkan.
Tak berselang lama, mereka tiba dilokasi yang telah mereka tentukan. Lathan dan Zara dibawa ke gudang terbengkalai yang berada dipinggiran kota.
"Bos, apa kita langsung habisi saja dia?" ujar salah seorang penculik.
"Hmn … aku punya ide bagus. Bagaimana kalau kita minta tebusan saja pada orang tuanya? Bukankah dia ini anak orang kaya?" ujar bos penculik dengan seringai licik dibibirnya.
__ADS_1
"Tapi Bos, bukannya kita diminta langsung menghabisinya?" tanya salah satu anak buahnya dengan raut wajah bingung.
"Kita berikan jasadnya setelah kita mendapatkan uang tebusannya" ujar bos penculik lagi.
"Benar juga Bos. Jadi kita bisa dapat bayaran lebih banyak" anak buahnya pun mengangguk setuju dengan usulan dari bosnya.
"Kalau begitu ambil ponsel anak itu dan kita cari nomor orang tuanga. Kita tidak boleh melepaskan kesempatan emas seperti ini"
"Baik Bos". Anak buahnya pun mulai menggeledah saku celana Lathan dan mencari ponselnya.
"Ini ponselnya bos"
"Ya. Berikan padaku". Bos penculik itu membuka ponsel Lathan dan mencari nomor yang bisa dia hubungi.
"Ketemu. Ini pasti nomor ibunya". Bos penculik itu terlihat gembira begitu menemukan kontak bertuliskan Mami. Dia langsung menghubunginya menggunakan ponselnya yang nomornya disembunyikan.
Tuut Tuut Tuut
"Halo" tak perlu menunggu lama, terdengar suara Andra dari ujung telepon.
"Putramu ada pada kami. Berikan kami uang 1 milyar atau putramu dalam bahaya" ujar bos penculi dengan suara yang disamarkan.
"Siapa ini? Jangan main-main denganku!" Andra terdengar terkejut dan panik namun dia berusaha tenang karena ada Radit disebelahnya.
"Aku tidak sedang main-main.
Sreet!!
"Bicaralah!" pria itu membuka lakban dimulut Lathan dan memintanya bicara.
"Halo". Lathan pun bicara sesuai dengan permintaan penculik.
"Lathan? Apa ini kamu? Apa kamu baik-baik saja?!" tanya Andra yang panik setelah mendengar suara Lathan.
"Mami, aku baik-baik saja. Mami tidak perlu khawatir. Ardhan …"
"Sudah dengarkan. Jika kamu ingin anakmu selamat. Siapkan uangnya. Besok akan aku hubungi lagi! Tut!". Penculik itu langsung menjauhkan kembali ponselnya dari telinga Lathan sebelum dia selesai bicara.
"Siapa kalian sebenarnya? Buka penutup mataku agar aku tahu kondisi temanku!" ujar Lathan dengan sikap yang tenang dan dingin.
"Baiklah. Anggap saja ini sebagai permintaan terakhirmu" penculik itu langsung membuka penutup mata Lathan. Lathan menoleh kesebelahnya dimana Zara terbaring disana.
"Ra! Zara! Tolong bukakan juga penutup mulut dan matanya. Toh dia juga pingsan" pinta Lathan padanya lagi.
"Kamu ini merepotkan!" pria itu juga membuka lakban dan penutup mata Zara lalu meninggalkan Lathan dan Zara diruang gelap dengan tangan dan kaki yang terikat.
Lathan terus menatap Zara dengan raut wajah khawatir.
"Ra! Zara! Kenapa kamu malah melibatkan diri dalam bahaya seperti ini?" gumam Lathan pada Zara yang masih belum sadar.
"Ehm... aduh kepalaku" perlahan Zara mulai sadar dan meringis karena kepanya sakit.
"Kamu sudah sadar? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Lathan dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja. Dimana kita?" Zara bicara dengan suara yang lemah sambil menoleh kesana kemari.
__ADS_1
"Kita diculik. Aku tidak tahu kita ada dimana?" jawab Lathan dengan sikap tenang.
"Diculik? Haah … bagaimana bisa jadi seperti ini?"