
Persiapan pesta yang direncanakan Radit sudah mulai dilakukan. Orang yang akan mendekorasi rumah Radit juga sudah berdatangan untuk menentukan konsep yang akan mereka gunakan saat mendekorasi rumah Radit nantinya.
"Apa mereka yang akan mendekorasi rumah kita?" Andra bertanya pada Radit yang baru saja pulang dari kantor.
"Ya. Mereka akan mulai mendekorasi rumah kita hari ini. Kemungkinan kak Cheva dan yang lainnya akan datang kemari besok. Tapi kakek dan nenek sepertinya tidak akan bisa datang karena mereka sudah terlalu tua untuk pergi jauh". Radit menjelaskan dengan sikap yang tenang sambil menggandeng sang istri.
"Kan kakek memiliki jet pribadi, kenapa tidak menggunakan itu saja?" tanya Andra menyarankan.
"Meskipun kakek dan nenek bisa menggunakan jet pribadi, tetap saja butuh waktu lumayan lama dari bandara sampai kesini".
Andra menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi cerita Radit.
"Ya, Kakak memang benar. Akan sangat kasihan jika mereka harus datang jauh-jauh kemari".
Andra dan Radit pun berjalan masuk kerumah mereka sambil mengamati orang-orang yang akan mendekorasi rumah.
...****************...
Ditempat lain.
Lathan dan Zara sedang berbelanja untuk oleh-oleh yang akan mereka bawa ke negara A.
"Sayang, apa yang ingin kamu beli?" tanya Lathan pada Zara.
"Aku tidak tahu. Mungkin aku hanya akan membeli sesuatu untuk orang tua Fandy saja". Zara menanggapi sambil memikirkan apa yang akan dia beli untuk orang tua Fandy.
"Kamu tidak membeli untuk teman-temanmu?" tanya Lathan lagi dengan dahi berkerut heran.
"Emm … aku tidak punya teman yang begitu dekat untuk diberikan oleh-oleh. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak pernah bisa terlalu dekat dengan orang lain. Semuanya hanya sebatas teman biasa saja". Zara menanggapi sambil menundukkan kepala dengan wajah sedikit kecewa.
"Kenapa kamu tidak belikan untuk orang tuaku juga? Aku ingin mengenalkanmu pada papi dan mamiku saat kita kembali nanti".
Zara langsung menatap Lathan dengan tatapan terkejut.
__ADS_1
"Apa? Membelikan sesuatu untuk orang tuamu?"
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Lathan dengan dahi berkerut.
"Tidak. Hanya saja … rasanya agak sedikit canggung" Zara menanggapi dengan sikap yang terlihat ragu-ragu.
"Kenapa canggung? Meskipun hubungan kita belum terjalin terlalu lama, tapi aku ingin kamu mengenal semua keluargaku. Kita memang masih muda, tapi kita ini bukan anak kecil yang hanya akan main-main kan? Dan aku juga tidak berniat main-main denganmu" ujar Lathan dengan sikap tenang dan senyum yang manis.
"Tapi …"
"Apa kamu masih tidak percaya padaku? Atau mungkin … kamu tidak serius denganku?" Lathan menunggu jawaban Zara dengan tatapan yang terasa seakan mengintimidasi.
"Tidak. Bukan seperti itu. Aku hanya merasa malu dan bingung bagaimana aku bisa berhadapan dengan orang tuamu. Kamu tahu sendiri kalau aku tidak terlalu pandai bergaul. Aku takut melakukan kesalahan didepan orang tuamu". Zara menggerakkan tangan dan menggelengkan kepala secara bersamaan setelah itu dia menundukkan kepala dan bicara dengan ragu-ragu pada Lathan.
Lathan tersenyum melihat sikap Zara. Diapun bicara sambil mengusap lembut kepalanya.
"Tidak perlu pikirkan hal yang tidak penting begitu. Aku cukup yakin kalau kamu bisa bersikap sopan didepan orang tuaku. Sekarang kita cari hadiah yang akan kita bawa".
Zara mengangguk setuku dengan ucapan Lathan. Mereka pun kembali berkeliling untuk mencari apa saja yang akan mereka beli untuk dibawa pulang ke negara A.
"Bagaimana kalau malam ini kita buat barbeque saja? Lusa kalian akan berangkat, kami ingin menghabiskan waktu bersama kalian terlebih dahulu" ujar ibu Zara dengan raut wajah sedih.
"Tentu saja, Tante. Kita bisa menghabiskan waktu bersama sebelum kami pergi. Tapi kalian tidak perlu khawatir karena Zara kan akan kembali untuk mengurus kampus yang akan dia pilih nantinya". Lathan membesarkan hati ibu Zara agar dia tidak bersedih saat putrinya kembali ke negara A.
"Bagaimana nanti aku bisa berjauhan denganmu? Bukankah kita sepakat untuk kuliah dikampus yang sama?". Zara bicara dengan raut wajah sedih dan bibir mengerucut.
"Aku tidak bisa melanjutkan sekolah disini, karena aku sudah memutuskan untuk kuliah sambil mempelajari pekerjaan papiku. Aku ingin mulai membantunya dari sekarang". Lathan menjelaskan pada Zara dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksamu untuk itu. Tapi kuharap kita bisa selalu menghabiskan waktu bersama saat kita senggang. Setidaknya kita bisa saling mengunjungi saat kita memiliki waktu untuk melakukan perjalanan" ujar Zara dengan penuh harap.
"Baiklah. Kita bisa lakukan seperti itu. Kuharap kamu bisa setia saat kita saling berjauhan"
"Bukannya aku yang harus mengatakan itu karena kamu selalu dikelilingi banyak gadis cantik dimanapun?" Zara tersenyum menggoda Lathan.
__ADS_1
"Kalian berdua, bisakah kalian hentikan sampai disini saja? Kalian tidak ingat kalau ada kami disini?" Fandy bicara dengan wajah kesal sedangkan orangtua Zara hanya tersenyum melihat mereka.
"Maafkan kami kalau begitu, tapi mau bagaimana lagi … kami selalu lupa kalau kamu ada bersama dengan kami". Lathan tersenyum mencibir Fandy.
"Hah. Menyebalkan!" Fandy menggerutu kesal karena sikap Lathan padanya.
...****************...
Keesokan harinya. Anggota keluarga Kusuma mulai berdatangan ke negara A. Keluarga Diaz dan Cheva datang bersamaan karena mereka tinggal bersama. Mereka menggunakan jet pribadi milik sang kakek.
Kedatangan Cheva dan lainnya membuat suasana bandara menjadi sedikit ricuh.
"Bukankah itu keluarga Kesuma? Ada apa sampai mereka semua datang kemari?"
"Benar. Itu keluarga Diaz dan Cheva. Apa yang membuat mereka semua datang kemari?"
"Mungkin ada acara khusus yang membuat mereka semua harus datang kemari"
"Ya mungkin saja"
"Sepertinya pesona kak Lian tidak pernah hilang. Lihatlah semua wanita menatap Kak Lian. Haruskah aku membawa cadar untuk menutupi wajah Kakak?". Cheva menggerutu pada Lian sambil menoleh kesana kemari memperhatikan tatapan setiap orang.
"Kenapa tidak sekalian saja kamu lipat Lian dan masukkan dia kedalam tas" ujar Diaz menanggapi Cheva dengan nada yang sinis.
"Jika memang bisa, sudah aku masukkan kak Lian kedalam tas agar tidak ada yang melihatnya". Cheva pun kembali menanggapi Diaz dengan sinis.
"Mami, Om, bisakah kalian hentikan? Ini ada di tempat umum" Kenzo berusaha melerai perdebatan Diaz dan Cheva dengan sikap yang dingin.
"Zo, harusnya kamu mendukung Mami" ujar Cheva menentang Kenzo.
"Mami …"
"Sudah, sudah. Jangan berdebat disini. Sayang, meskipun mereka semua melihat kearahku. Yang ada dimataku hanya kamu, jadi kamu tidak perlu khawatir" Lian menenangkan sang istri dengan merangkulnya dan bicara dengan nada lembut
__ADS_1
"Aku tidak khawatir. Hanya saja aku tidak suka". Cheva masih saja bicara dengan wajah cemberut.
"Sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Ayo kita pergi saja darisini" Dias bicara sambil berjalan menggandeng sang istri. Keluarga itu pun pergi meninggalkan bandara.