Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Pemeriksaan Vio


__ADS_3

“Dokter,sebelumnya istri saya mulai mengerti kalau Lea sudah tidak ada dan berada di Surga tanpa ada yang bisa menyakitii atau berusaha mencelakainya lagi, tapi saat dia melihat anaknya Lea, dia tidak percaya kalau


itu adalah anaknya dan mengatakan kalau Lea belum melahirkan. Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?”.


Leo bertanya dengan panik pada seorang dokter paruh baya yang masih terlihat cantik.


“Itu sangat wajar karena istri anda belum bisa menerima sepenuhnya mengenai kenyataan yang ada. Dia bahkan terkesan menolak untuk


percaya kalau putri anda telah meninggal” ujar sang dokter menjelaskan.


“Tapi apa itu  tidak papa?” tanya Leo lagi memastikan.


“Tidak papa. Perlahan itu akan semakin membaik. Kalian bisa terus merangsang ingatannya dan membesarkan hatinya agar dia bisa menerima semua kenyataan yang ada. Tapi jangan terlalu membuat rangsangan yang berlebihan. Takutnya kalau pasien tidak kuat menerima pukulan yang berat lagi dan akhirnya malah membuat emosinya kembali tidak stabil”


“Baiklah, Dok. Kami mengerti” Leo menanggapi sambil menganggukkan kepala perlahan.


“Oh iya. Bagaimana kondisi pasien bisa lebih baik. Selama bertahun-tahun kita mencoba segala upaya menyadarkannya namun dia tidak pernah bereaksi sama sekali. Lalu sekarang, bagaimana bisa pasien memiliki semangat untuk sembuh?”.


Dokter bertanya dengan raut wajah penuh tanya.


“Itu karena menantu saya aktif memberikan rangsangan pada emosi dan juga ingatannya. Dia selalu menunjukkan suatu kejadian yang hampir mirip dengan kejadian yang pernah dialami Lea sehingga istri saya akan kembali mengingat kejadian saat Lea meninggal”.


Leo menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis. Dia menjelaskan semuanya pada dokter sambil memandang wajah Vio yang diam sambil terus bicarabsesuatu yang tidak jelas.


“Baguslah. Dengan begitu pasien bisa ingat lebih cepat mengenai kehidupan yang berusaha dia lupakan”. Dokter bicara sambil menganggukkan kepala berkali-kali mendengar kalau Andra yang memberikan rangsangan pada kesadaran Vio.


“Dok, jika kami membawa Vio ke makan Lea, apa itu tidak papa? Menantu saya ingin pergi kesana dan membawa Vio. Bagaimana menurut anda, dok?”. Leo kembali bertanya untuk memastikan keadaan Vio jika mereka pergi ke makam Lea.


“Tidak papa. Mungkin sesaat dia akan menangis histeris tapi sekarang ini sepertinya istri anda mudah untuk ditenangkan. Saya rasa itu sudah bisa dilakukan”


Dokter menanggapi apa yang dikatakan Leo padanya.


“Ya, saya pikir juga begitu. Semenjak menantu saya sering berinteraksi dengan Vio, keadaannya semakin membaik. Dia jadi mudah untuk berkomunikasi. Tapi kenapa sebelumnya sangat sulit untuk berkomunikasi dengan istri saya?”.


Leo sempat bingung karena sebelumnya Vio sama sekali tidak bisa diajak berkomunikasi.

__ADS_1


“Mungkin karena dia perempuan dan saat istri anda mengingatnya, dia seakan mengingat putri anda yang sudah meninggal. Itu bisa juga menjadi rangsangan untuk memori istri anda”.


Leo mengangguk setuju berkali-kali menaggapi ucapan dokter


“Kalau begitu kami permisi dulu dok. Istri dan juga anak saya sudah menunggu diluar”.


Setelah mendapat semua jawaban atas pertanyaan mereka, Radit pun berpamitan dan hendak pergi meninggalkan ruangan dokter.


“Baiklah”


...****************...


Sementara itu diluar. Andra sedang duduk dengan Lathan sambil menunggu Vio, Leo dan Radit yang sedang menemui dokter.


“Lathan, kenapa kamu diam saja , sayang?”.


Andra bertanya pada Lathan yang terus diam sambil menundukan kepala.


“Mami, bagaimana jika nenek tidak mau menerimaku? Bagaimana jika dia justru semakin sedih setelah melihat aku?”.


Lathan bertanya dengan kepala tertunduk dan suara yang terdengar ragu-ragu. Raut wajah sedih sangat terlihat dari wajah kecilnya yang sangat tampan.


“Lathan, dengarkan Mami. Nenek sakit bukan karena kamu. Nenek seperti itu justru karena dia sayang sama kamu dan juga orang tuamu” ujar Andra yang menenangkan Lathan dengan senyum manis dibibirnya.


“Tapi sebelumnya saat nenek tahu kalau aku anak mama … kenapa nenek justru terlihat malah lebih sakit? Mami, apa aku ini bukan anak yang diinginkan nenek?”.


Batin Andra semakin sakit saat mendengarnya. Dia pun langsung menarik Lathan kedalam pelukannya.


“Lathan, jangan pernah mengatakan hal seperti itu, ya. Itu  tidak mungkin. Kamu ini adalah anak yang sangat diharapkan dan disayangi oleh keluargamu. Hanya saja nasib kedua orang tuamu yang kurang beruntung karena tidak bisa merawat dan membesarkanmu sendiri. Mereka sangat menyayangimu. Mereka melakukan semuanya agar kamu bisa lahir kedunia ini. Meskipun pada akhirnya mereka tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa secara langsung tapi mereka tetap melihatmu dari surga. Dan nenekmu sakit bukan karena kehadiran kamu, tapi nenek sakit karena harus kehilangan putrinya. Jadi Mami harap kamu tidak pernah berkecil hati atau pun berpikiran sempit. Kamu itu kebanggaan papi Radit, dan kamu juga jadi penyemangat untuknya. Jika kamu sedih seperti ini, bagaimana dengan papimu? Kamu tahu kan kalau kamu dibesarkan oleh


papi dengan penuh kasih sayang? Jadi tidak mungkin kalau papi tidak menginginkan kamu”.


Andra dengan senyum lembutnya berusaha untuk membesarkan hati kecil Lathan yang saat ini sedang gusar karena identitas aslinya.


“Lathan, janji sama Mami kalau kamu tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi. Kamu tidak boleh bilang dihadapan papi kalau kamu anak yang tidak diharapkan. Papi pasti akan sedih mendengarnya”.

__ADS_1


Lathan mengangguk dalam dekapan Andra sambil menjawab dengan suara parau.


“Iya, Mami. Aku janji”.


Tak lama Radit, Vio dan Leo pun keluar dari ruangan dokter. Lathan yang berada dalam pelukan Andra langsung melerai pelukannya dan menatap Radit.


“Papi, bagaimana dengan nenek? Apa keadaannya sudah semakin membaik?” tanya Lathan dengan raut wajah yang muram.


“Iya, nenekmu sudah semakin baik. Dokter bilang, nenek sudah bisa diajak ke makam mama mu”.


Lathan tertunduk mendengar ucapan Radit, ada sedikit rasa sedih yang dia rasakan dhatinya.


“Papi, bisakan kita melakukan semuanya seperti biasa? Rasanya sedikit aneh untukku kalau harus memanggil tante Lea mama” ujar Lathan dengan sedikit ragu.


Radit mengerti dengan apa yang dirasakan Lathan dia pun berjongkok dihadapan Lathan agar saling bertatapan mata.


“Lathan, mau bagaiamana pun mereka tetap orang tuamu. Memang Papi tidak memberitahumu sebelumnya, tapi karena kamu sudah tahu semuanya sekarang, jadi bisakan kamu membahagiakan mereka juga?”.


Lathan kembali tertunduk tanpa mengatakan apa-apa, tapi setelah itu dia kembali mengangkat kepalanya dan menatap Radit dengan penuh keberanian.


“Baiklah, Pih. Aku setuju, tapi aku tidak ingin panggilan ku untuk Papi dan Mami berubah. Aku ingin Papi dan Mami tetap menjadi orang tuaku”.


Kali ini  batin Radit yang terasa tersentuh dengan apa yang dikatakan oleh Lathan sekarang.


“Lathan sampai kapanpun kamu tetap putraku. Papi tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kita berdua. Kamu tetaplah kesayangan Papi” ujar Radit sambil mendekap Lathan dalam pelukannya.


Vio yang sebelumnya hanya diam memperhatikan, berjalan dengan langkah cepat setelah melihat Andra.


“Cantik, ayo kita jalan-jalan. Bukannya kita akan nonton film lagi?”. Vio bertanya pada Andra dengan senyum ceria diwajahnya.


Andra tersenyum melihat Vio. Diapun bangkit dari tempat duduknya dan berdiri menatap Vio.


“Apa Mama mau pulang sekarang?” tanya Andra dengan lembut


Vio terlihat sangat bersemangat setelah mendapatkan pertanyaan dari Andra.

__ADS_1


“Iya! Iya! Aku mau pulang!” Vio menjawab dengan antusias sambil menganggukkan kepala bersamaan.


“Kalau begitu, ayo kita pulang” Leo mengajak semuanya untuk pulang dan ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh yang lainnya.


__ADS_2