Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Perhatian Zara Pada Lathan


__ADS_3

Candra langsung menghubungi Radit setelah mendapatkan informasi yang diinginkannya.


"Halo, Dit"


"Ya, ada apa?"


"Aku sudah mendapatkan apa yang kamu minta".


"Katakan apa itu". Radit menanggapi Candra dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.


"Sofia belum lama kembali dari luar negeri. Dia pindah keluar negeri saat masih remaja. Sepertinya dia mengenal istrimu karena dia juga satu sekolah dengan Luna dan Lulu. Mereka sepertinya telah saling mengenal sejak kecil".


Radit mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Candra. Dahinya sesekali berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu.


"Mereka saling mengenal? Ada apa sebenarnya? Aku harus tanyakan langsung pada Andra". Pikir Radit setelah mendengar penjelasan Candra


"Can, kirimkan semua informasi yang kamu dapatkan padaku. Jangan sampai ada yang terlewat dan terus awasi Sofia juga Gerry". Pinta Radit dengan tegas pada Candra.


"Ya aku akan kirim orang untuk mengawasi setiap pergerakan mereka berdua".


"Baiklah. Sampai jumpa".


Radit dan Candra langsung mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.


"Aku harus pulang dan bertanya pada Andra mengenai Sofia. Mungkin jika Andra mengenalinya, aku bisa mendapatkan petunjuk".


Radit langsung bergegas meninggalkan hotel untuk bertanya langsung pada Andra mengenai Sofia. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia tergesa-gesa seperti itu?" pikir polisi yang bertanggung jawab atas kasus dihotel Radit.


...****************...


Setelah menempuh perjalanan dari hotel, akhirnya Radit tiba dirumahnya. Dia bergegas masuk kedalam rumah dan mencari keberadaan sang istri.


"Dimana istriku?" tanya Radit pada salah satu aisten rumah tangganya.


"Nyonya ada di taman belakang bersama nona kecil".


Radit langsung melangkahkan kaki menuju taman belakang untuk menemui sang istri.


"Sayang…! sayang …!" teriak Radit memanggil Andra.


"Disini…!". Andra menanggapi teriakan Radit sambil mencari sang suami.


"Papi … Papi tudah puyang". Lili menyambut Radit dengan seny ceria begitu melihat sang ayah.


"Halo putri kecil Papi. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Radit sambil mengangkat Lili kepangkuannya.

__ADS_1


"Main tama Mami. Papi lihat, Lili tedang mewalnai" ujar Lili sambil menunjukkan hasil mewarnainya pada Radit.


"Waah bagusnya. Lili mewarnai apa?" tanya Radit sambil memperhatikan gambar Lili.


"Ini dambar buna tantik kan Pih?" tanya Lili lagi dengan senyum ceria.


"Iya cantik. Sama seperti Lili"


"Tadi Papi mencariku? Ada apa?" Andra tiba-tiba menyela percakapan ayah dan anaknya itu. Dia memanggil Radit Papi karena sedang berada dihadapan anaknya.


Perlahan Radit menurunkan Lili kembali dan membiarkannya melanjutkan kegiatan mewarnainya.


"Ada yang ingin aku tanyakan padamu".


Andra mengernyitkan dahi karena melihat wajah Radit yang sangat serius. Dia menunggu apa yang akan ditanyakan sang suami padanya.


"Ada apa? Apa terjadi masalah lagi?" tanya Andra dengan ragu-ragu.


"Apa kamu mengenal wanita ini?". Radit menunjukan foto Sofia pada sang istri.


Andra memicingkan mata dan mengamati foto yang ditunjukan Radit padanya.


"Darimana Kakak mendapatkan foto ini? Apa ada masalah dengannya?" tanya Andra yang menunggu jawaban Radit dengan tatapan heran.


"Ada kemungkinan kalau perempuan inilah yang telah menyebabkan keributan dihotel. Dan sangat kebetulan sekali dia memiliki hotel yang letaknya disekitar hotel kita".


"Dia bernama Sofia Indratama. Kami sudah saling mengenal sejak kecil karena ibunya berteman dengan ibuku. Dia sangat dekat dengan kak Luna dan kak Lulu, tapi … sama seperti kedua saudaraku, dia juga tidak menyukaiku. Mungkin karena aku hanya anak angkat yang berasal dari panti asuhan " Andra memberikan jeda saat bicara sambil tersenyum canggung.


"Lalu dia dan keluarganya pindah keluar negeri saat SMP karena ayahnya yang ditugaskan mengelola perusahaan luar negeri. Sepertinya sejak saat itu Sofia dan kak Luna tidak pernah berhubungan lagi" sambung Andra menjelaskan pada Radit.


"Tadi kamu bilang … dia tidak menyukaimu?" ujar Radit memastikan.


"Ya, dia tidak pernah menyukaiku. Mereka bertiga selalu bekerjasama untuk menggangguku sejak kami masih kecil. Apa mungkin … dia membuat masalah dihotel kita juga karena dendam padaku?".


Andra menatap Radit dengan tatapan ragu dan wajah murung.


"Tidak perlu khawatir. Aku akan menyelesaikan masalah ini secepatnya". Radit bicara dengan lembut sambil menarik Andra kepelukannya.


"Iya" Andra mengangguk dalam dekapan Radit.


"Cari bukti kalau Sofia yang merencanakan pembunuhan dihotelku. Buat dia mengakuinya sendiri dan biarkan seluruh dunia tahu akan hal ini" tulis Radit dalam pesannya pada Candra.


...****************...


Lathan sedang istirahat di taman belakang sekolahnya. Dia sedang menggunakan laptop sambil menikmati minuman dan juga cemilan miliknya.


"Kembali kehotel setelah kamu dan Ardhan pulang dari sekolah. Ada sesuatu yang harus kalian berdua lakukan". tulis Radit dalam pesan singkatnya.

__ADS_1


"Baik, Pih" balas Lathan singkat.


"Sampai kapan kamu akan memperhatikan aku dari situ? Kenapa tidak mendekat kemari saja?" .


Lathan bicara dengan sikap acuh tak acuh disertai senyum yang tipis. Dia bicara pada Zara yang sejak tadi memperhatikannya dari dekat pohon yang letaknya tidak jauh darinya.


Zara mendekati Lathan meskipun dia terlihat salah tingkah.


"Aku tidak memperhatikanmu. Hanya kebetulan lewat saja. Jangan terlalu percaya diri. Kamu tidak makan siang? Kenapa malah makan cemilan disini?" Zara bertanya dengan sikap yang terkesan sinis.


"Kantin pasti penuh dengan banyak orang. Aku tidak terlalu suka dengan keramaian". Lathan menanggapi dengan sikap yang tenang sambil memainkan ponselnya. Dia mengirim pesan pada Ardhan.


"Pulang nanti, Papi minta kita kembali ke hotel . Katanya ada sesuatu yang harus kita lakukan". Tulis Lathan dalam pesannya.


"Oke, Kak" balas Ardhan singkat.


"Bukannya kamu sangat suka jika menjadi perhatian para gadis itu?" ujar Zara dengan sinis.


"Sejak kapan aku suka jadi pusat perhatian? Aku hanya suka cari perhatianmu saja"


"Eh". Zara terlihat salah tingkah ketika Lathan menggodanya dengan wajah mereka yang saling berdekatan.


"Gombal. Aku tidak ingin lama-lama denganmu". Zara berbalik dan hendak meninggalkan Lathan, namun Lathan menahan sebelah tangan Zara.


"Kenapa? Kamu akan biarkan aku sendiri disini?" tanya Lathan dengan senyum menggoda.


"Lepaskan! Aku mau kembali kekelas" ujar Zara yang berusaha memberontak.


"Tidak perlu kekelas. Temani aku disini. Fandy sedang ada tugas dari guru dikantor" ujar Lathan dengan sikap yang tenang.


Zara terdiam memandangi Lathan yang hanya memakan kentang goreng dan juga ice.


"Kamu hanya makan siang dengan ini?".


Lathan menoleh pada makanan yang ada disampingnya.


"Ya, aku hanya membeli makanan yang lebih cepat disajikan. Jika makan-makanan berat, itu akan membutuhkan waktu lama untuk memesannya" jawab Lathan dengan senyum tipis.


"Kalau begitu aku kekantin dulu. Biar aku pesankan makanan untukmu. Apa ada makanan yang tidak bisa kamu makan?" tanya Zara dengan sikap yang tenang dan lebih lembut.


"Tidak ada. Apapun yang kamu pesan, aku pasti akan memakannya dengan lahap"


"Kalau begitu aku pergi dulu" Zara kembali berbalik dan hendak pergi namun lagi-lagi Lathan menahannya.


"Apalagi?" tanya Zara kesal.


"Jangan lama-lama. Aku akan menunggumu disini". Zara pun akhirnya meninggalkan Lathan dengan wajah yang tersipu malu.

__ADS_1


"Awal yang bagus" gumam Lathan memandang punggung Zara yang semakin menjauh dengan senyum manis dibibirnya.


__ADS_2