
Disekolah Lathan,
Lathan akhirnya mendapatkan izin untuk pergi ke sekolah dengan mengendarai mobil sendiri. Dia pergi dengan mengendarai mobil sport milik Radit yang berwarna biru. Dia pergi ke sekolahnya setelah mengantarkan Ardhan terlebih dahulu.
Semua orang menatap kearahnya begitu Lathan tiba disekolah. Mata mereka terus mengamati sampai Lathan memarkirkan mobilnya.
"Waah mobil siapa itu? Apa ada murid baru lagi disekolah ini?"
"Mungkin siswa baru yang kemarin tidak ikut masa orientasi?"
"Aku semakin penasaran dengan orang yang ada didalamnya. Apa penampilannya sama kerennya seperti mobil yang dia bawa?"
"Hahaha"
Semua orang terbahak membicarakan pemilik mobil itu. Mata mereka mengawasi mobil Lathan seperti elang yang sedang mengawasi mangsanya. Jika penampilannya bagus, maka mereka akan terkagum-kagum, tapi jika penampilan si pengemudi mobil itu biasa saja, maka mereka siap untuk mencibir dan menertawakannya.
Perlahan pintu mobil terbuka dan Lathan turun dari mobil. Mata mereka semakin terpana melihat penampilan Lathan.
"Ternyata itu Lathan! Waah kerennya"
"Benar. Dia terlihat semakin keren dengan mobil itu!"
"Aaah aku semakin ngefans dengannya".
Seperti yang diperkirakan, para gadis semakin terpesona begitu melihat Lathan. Mereka mengelu elukan Lathan seperti melihat seorang selebriti terkenal.
Lathan berjalan dengan gagahnya menuju kelas. Ekspresinya terlihat sangat dingin dan acuh tak acuh. Dia tetap terlihat tenang dan sama sekali tidak mempedulikan para gadis yang bersorak saat melihatnya.
Saat dia sudah dekat dengan kelasnya tiba-tiba...
Dugh
"Aduuh... hidungku ".
Seorang gadis tiba-tiba menabraknya saat mereka berada ditikungan menuju kelas. Gadis itu meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya karena terbentur dada Lathan.
"Kamu tidak punya mata ya? Bisa-bisanya berlarian disekolah. Seperti anak kecil saja!". Lathan menggerutu dengan nada bicaranya yang dingin.
"Eeh … bukannya minta maaf. Hidungku sakit tahu. Bagaimana kalau sampai hidungku patah? Kamu mau tanggung jawab?!".
Gadis itu menanggapi Lathan dengan sikap yang sinis sambil terus mengeluh tentang hidungnya yang sakit.
"Bukan urusanku. Aku sudah sangat hafal dengah trik murahan yang kamu gunakan" ujar Lathan yang menanggapi dengan sikap sinis sambil berlalu meninggalkan gadis itu.
"Eeh … apa maksudnya dengan trik murahan? Kamu pikir aku sengaja menabrakan diri padamu? Mana aku tahu kalau kamu akan datang. Lagipula apa untungnya aku melakukan itu? Kamu pikir kamu itu siapa, hah?".
__ADS_1
Gadis itu terus menggerutu pada Lathan.
"Orang gila!". Lathan menanggapi sambil menggelengkan kepala lalu kembali meninggalkan gadis itu.
"Apa kamu bilang? Aku gila?! Hei, kemari kamu! Awas saja kalau kita ketemu lagi!".
Dia terus saja berteriak namun Lathan mengabaikannya dan terus saja melangkahkan kaki menuju kelasnya.
"Kenapa bereriak seperti itu? Ini disekolah, kamu pikir ini dirumah sakit jiwa?".
Gadis itu menoleh ketika mendengar suara seseorang yang familiar berasal dari belakangnya.
"Itu Fan, ada siswa aneh. Tadi kami bertabrakan, eh bukannya minta maaf atau menanyakan keadaanku, dia malah bilang kalau aku ini gila!".
Gadia itu mengeluh pada Fandy tentang apa yang terjadi padanya dan Lathan.
"Siapa yang kamu maksud? Tidak ada siapapun disana? Tapi apa yang dia katakan memamg tidak salah juga sih. Kalau yang namanya Zara Nadin Bagaskara memanglah gadis yang gila".
Fandy menanggapi dengan sikap acuh tak acuh. Dia menoleh kesana kemari mencari orang yang dimaksud Zara. Seketika itu Fandy langsung mendapat pukulan dari Zara ditangannya.
"Sialan kamu Fan. Bukannya menghiburku malah menambahkan garam pada lukaku. Sudahlah antarkan aku keruang guru!".
Fandy hanya tersenyum dan mengikuti Zara yang menarik sebelah lengannya. Mereka pum berjalan menuju ruang guru.
"Ini ruang gurunya. Kamu masuklah dan aku akan pergi ke kelasku. Ingat untuk tidak membuat masalah!" ujar Fandy sambil mengusap kepala Zara sebelum dia meninggalkan Zara sendiri.
Fandy tidak lagi menanggapi Zara dan berlalu pergi menuju kelasnya.
...****************...
Setelah tiba dikelas, dia berjalan mendekati meja Lathan.
"Kapan kamu datang? Aku tidak melihat mobil yang biasa kamu pakai di gerbang depan" ujar Fandy saat dia duduk disamping Lathan.
"Aku tidak diantar supir. Aku mengemudi sendiri". Lathan mendongakan kepala menatap Fandy lalu menanggapi dengan sikap tenang dan nada bicara yang dingin.
"Jadi yang tadi membuat sekolah ini gaduh itu, kamu?".
Fandy bertanya dengan senyum mencibir dibibirnya disertai gelengan kepala bersamaan.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Mereka sendiri yang heboh seperti baru pertama kali saja melihatku".
Lathan yang sedang membaca buku terus bersikap acuh tak acuh pada Fandy, namun karena Fandy sudah terbiasa dengan hal itu jadi itu sama sekali tidak masalah untuknya.
Teeeeet teeeet
__ADS_1
Bel masuk sekolah pun berbunyi. Semua siswa yang sebelumnya berada diluar ruang kelas mulai berlarian menuju tempat duduk mereka masing-masing.
Sejak tadi Fandy dan Lathan sudah berada ditempat duduk mereka, jadi mereka tetap tenang meskipun bel sudah berbunyi. Mereka berdua duduk bersebelahan di meja belakang karena tidak suka diganggu oleh siswa lain, namun itu tidak jadi halangan untuk mereka jadi siswa berprestasi disekolah.
"Selamat pagi semuanya" ujar salah satu guru yang akan mengajar kelas mereka di jam pertama. Guru itu masuk kelas bersama seorang siswi baru dibelakangnya
"Selamat pagi bu guru …" semua siswa menjawab dengan serempak sapaan guru tersebut.
Fandy mengerutkan dahi dengan tatapan tak percaya melihat Zara yang kini berdiri didepan kelasnya. Sementara Zara tersenyum senang dengan kedua alis diangkat bersamaan ketika dia melihat Fandy.
"Pagi ini kita kedatangan murid pindahan. Dia baru saja kembali dari luar negeri dan memutuskan untuk masuk ke sekolah kita. Silahkan perkenalkan dirimu" ujar ibu guru itu dengan sikap yang lembut.
"Selamat pagi semuanya. Nama saya Zara Nadin Bagaskara. Saya baru saja kembali dan belum terbiasa dengan daerah sini. Mohon bantuan kalian kedepannya"
"Bagaskara? Bukankah nama belakangnya sama dengan Fandy?"
"Benar. Apa mereka saudara?"
Semua saling berbisik satu sama lain sebelum akhirnya mereka menoleh pada Fandy.
"Kamu saudara sepupu, karena itu nama belakang kami sama". Zara sepertinya mengerti dengan tatapan semua rekan kelasnya, karena itu dia langsung menjelaskan pada rekannya sebelum ada yang bertanya.
"Oh … pantas saja nama belakang mereka sama" ujar salah satu siswa yang dibalas anggukan oleh rekannya yang lain.
"Ibu harap kalian semua bisa bekerja sama dan juga membantu Zara kedepannya. Zara silahkan duduk dimeja kosong disebelah sana" ujar bu guru pada Zara dengan sebelah tangannya mempersilahkan.
"Terimakasih bu"
Zara pun berjalan menuhu kursi yang dimaksud gurunya.
Eh? Dia kan pria yang tadi
Pikir Zara begitu melihat Lathan yang duduk disamping Fandy.
Sejak tadi Lathan sibuk membaca buku dan tidak memperhatikan saat Zara memperkenalkan diri. Meskipun dia mendengarkan tapi dia sama sekali tidak menoleh pada Zara.
Bagaimana bisa sekelas dengan siswa bodoh seperti dia? Tampangnya saja yang lumayan tapi kepribadiannya sangat buruk. Menyebalkan!
Zara terus menggerutu dalam hati sambil memperhatikan Lathan yang berada di kursi dengan baris yang berbeda dengannya.
Lihat kedepan
Fandy menyadari kalau Zara terus menatap kearahnya. Diapun meminta Zara untuk melihat kedepan tanpa mengeluarkan suara, hanya menggerakan bibirnya disertai 2 jari tangannya menunjuk kearah matanya setelah itu menunjuk ke depan.
Aku tahu
__ADS_1
Zara pun melakukan hal yang sama. Dia menjawab ucapan Fandy hanya dengan menggerakan bibirnya tanpa suara, lalu kembali memperhatikan guru yang sedang menjelaskan didepan kelas.