
Luna masih berdua dengan pemuda yang bersamanya setelah Radit pergi meninggalkan kamar
"Katakan, apa yang telah kamu lakukan padaku selama aku tidur? Jika tidak, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu" Luna bicara dengan nada yang tegas sambil mengenakan pakain miliknya
"Saya tidak melakukan apa-apa. Saya hanya diminta untuk melakukan adegan tidur bersama seorang perempuan" Jawab pria itu dengan sikap yang tenang.
"Kamu yakin?" Luna memicingkan mata tak percaya dengan apa yang dikatakan pemuda bayarannya
"Saya serius nona. Hanya hanya diminta untuk tidur disamping wanita yang sedang mabuk dan berpose seakan kami telah melakukan sesuatu. Memang saya yang melepaskan semua pakaian nona, tapi saya tidak melakukan apa-apa" Pria itu mengatakan semuanya sesuai dengan apa yang diperintahkan sebelumnya.
Luna memang hanya meminta pelayan wanita itu untuk membawa seorang pria kekamar saat Andra sedang dalam pengaruh obat tidur dan akan mengambil beberapa photo untuk diberikan pada Radit. Namun ternyata rencananya berbalik ke dirinya sendiri.
"Sial, rencanaku malah berbalik ke diriku sendiri. Kamu sudah boleh pergi!" Ujar Luna dengan raut wajah kesal dan meminta pria itu untuk meninggalkan kamarnya
"Itu nona ..."
"Ini bayaranmu!" Luna memberikan bayarannya sebelum pria itu memintanya
"Terimakasih nona" Setelah mendapatkan uangnya, dia langsung pergi begitu saja
***
Sementara itu, Andra sedang bersama dengan Lathan sambil menunggu Radit kembali
"Mami, apa sekarang mami sangat sibuk bekerja? Jadi mulai sekarang, mami tidak waktu untukku lagi dong?" Lathan bertanya dengan wajah polos
Andra terdiam mendengar pertanyaan Lathan. Dia berpikir mengenai keputusan yang telah dia ambil
"Lathan benar, sekarang waktuku dan dia jadi semakin berkurang. Apa keputusanku salah untuk bekerja?" Pikir Andra sambil menatap Lathan yang sedang menonton televisi
"Lathan, mami kan pulang kerja main sama Lathan dan juga mami menyempatkan waktu untuk selalu mengantar dan menjemput Lathan saat pulang sekolah" Lathan dan Andra langsung menoleh kearah pintu masuk begitu mendengar suara Radit yang menjawab pertanyaan Lathan. Radit dengan senyum lembutnya berjalan menghampiri mereka.
"Tapi pih, sekarang mami jadi jarang main denganku" Lathan masih mengeluh dan tidak setuju kalau Andra bekerja
"Sayang dengarkan papi. Lathan kan sekolah dari pagi sampai siang. Dan mami hanya menjemput Lathan sekolah saja. Jika mami tidak bekerja, Lathan tidak kasihan kalau mami bosan?" Dengan senyum lembutnya, Radit berusaha membujuk Lathan agar memperbolehkan Andra bekerja
"Hemn ... papi benar. Jika mami tidak bekerja kasihan mami sendiri dirumah sementara aku sekolah dan papi juga bekerja" Lathan menganggukkan kepala berkali-kali memikirkan apa yang Radit katakan
"Mami, mami boleh bekerja tapi kalau aku libur sekolah, mami juga tidak boleh bekerja ya. Jadi aku bisa bermain sama mami kalau libur sekolah" Lathan bicara dengan gayanya yang lucu
"Baik, mami setuju" Lathan dan Andra saling mengaitkan jari kelingking mereka sebagai tanda pengikat janji
__ADS_1
"Sekarang waktunya bersih-bersih dan istirahat. Besok kita akan pergi jalan" Radit menyela diantara perbincangan Andra dan Lathan
"Asyik…! Besok kita jalan-jalan. Aku mau ke taman hiburan ya pih!" teriak Lathan dengan cerianya
"Tentu. Papi akan ikuti kemauan kalian berdua. Besok, papi akan jadi supir kalian seharian"
"Yeeay!"
***
Luna pulang kerumah dengan tubuh lemas dan tak ada semangat. Asya sudah menunggunya diruang tunggu
"Sayang, Luna. Bagaimana rencanamu? Apakah itu berhasil? Apa Radit benar-benar membenci Andra?" Luna disambut sang ibu dengan ribuan pertanyaan yang terlontar dari mulutnya. Asya terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi. Lebih tepatnya, dia menantikan cerita Luna mengenai masalah Andra
"Gagal bu. Semua rencanaku berantakan" Luna menjawab dengan raut wajah kesal
"Apa?! Berantakan?! Bagaimana bisa jadi berantakan?!" Asya kembali mengajukan banyak pertanyaan secara beruntun
"Aku tidak tahu bu dari mana kesalahan itu berawal. Yang pasti rencanaku gagal dan nama baikku juga rusak" Luna menjawab dengan nada yang lemah sambil beranjak pergi kembali ke kamarnya
"Maksud kamu apa? Ibu semakin tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Luna! Jelaskan dulu pada ibu!" Teriak Asya yang masih belum mendapatkan penjelasan dari Luna
"Lebih baik ibu tidak perlu tahu, karena itu hanya akan membuat ibu kesal saja. Aku juga kesal jika harus membayangkan apa yang terjadi sebelumnya" Luna menjawab Asya sambil berlalu meninggalkannya
"Andra, lagi-lagi kamu mempermainkanku. Kamu telah membuatku malu dihadapan Radit" Luna yang masih marah langsung melemparkan tasnya ke atas tempat tidur sambil mencaci Andra dengan sorot mata penuh kebencian
"Awas kamu ya. Aku tidak akan berhenti sampai disini. Aku pasti akan membalasmu. Aku akan membuatmu malu dan ditinggalkan oleh Radit"
Ujar Luna dengan tangan mengepal keras
***
Keesokan harinya Radit hendak membawa Andra dan Lathan untuk jalan-jalan
"Apa kalian berdua sudah siap?" Tanya Radit pada Andra dan Lathan yang sudah menunggunya sejak tadi pagi
"Tentu saja papi. Kami sudah menunggu papi sejak tadi pagi" Jawab Lathan dengan sangat lucu
"Baik-baik, kita berangkat sekarang" Ujar Radit sambil meraih kunci mobil miliknya
"Ayo berangkat!" Jawab Lathan dengan tangan mengepal keudara
__ADS_1
Radit dan Andra tersenyum melihat Lathan yang penuh semangat
"Papi, mami ayo cepat jalannya!" Lathan yang telah berjalan lebih dulu berteriak pada Andra dan Radit yang berjalan dibelakangnya sambil bergandengan tangan
"Lathan, hati-hati. Kamu tidak boleh berlarian, nanti kamu bisa jatuh" Ujar Andra mengingatkan Lathan yang sangat bersemangat untuk jalan-jalan
"Iya mami"
Belum kering mulut Andra setelah memperingatkan Lahan, tiba-tiba
Bruk
"Aah"
"Lathan!"
"Lathan!"
Andra dan Radit langsung berlari menghampiri Lathan yang terjatuh
"Huu uu uu mami…" Lathan yang kesakitan langsung menangis begitu dia jatuh
"Lathan! Apa kamu baik-baik saja?!" Radit bertanya dengan panik. Terlihat jelas dari wajahnya kalau dia sangat terkejut melihat Lathan yang terjatuh
"Kakiku sakit pih. Lihat, kakiku berdarah. Hu uu uu" Lathan menunjuk luka pada lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah
"Kita harus obati dulu kak, takutnya nanti infeksi" Ujar Andra melihat luka di lutut Lathan
"Iya. Kita kembali ke kamar dulu saja" Radit menganggukkan kepala menggendong Lathan untuk kembali kekamar, namun Lathan menolak
"Tidak mau. Aku tidak mau kembali ke kamar. Aku mau pergi jalan-jalan dengan mami dan papi" Lathan berteriak menolak kembali ke kamarnya
"Tapi Lathan"
"Pokoknya tidak mau. Aku kuat ko, ini tidak sakit" Lathan berusaha berdiri meskipun terlihat jelas kalau dia meringis kesakitan
Radit dan Andra terdiam memperhatikan Lathan. Akhirnya mereka mengalah
"Baiklah, kalau begitu kita obati dimobil saja. Papi bawa kotak P3K dimobil" Lathan pun kembali menganggukkan kepala dengan senyum ceria. Radit menggendongnya dan kembali melangkah menuju mobil.
Dari kejauhan seseorang memperhatikan mereka sejak tadi
__ADS_1
"Andra, apa kamu sangat bahagia dengannya? Apa aku tidak pernah ada di hatimu?"