
"Apa kamu sudah menemukan sesuatu tentang Lidia?" Radit bertanya pada Candra dengan sikap yang tenang mengenai apa yang sudah dia dapatkan.
"Aku menemukan sesuatu yang menarik" ujar Candra dengan senyum tipis. Dia berusaha membuat Radit penasaran dengan apa yang akan dia katakan.
"Sesuatu yang menarik? Tentang apa?" Radit memicingkan mata penuh tanya menatap Candra.
"Sebelum disini, Lidia bekerja diperusahaan Surya. Klien Andra yang sebelumnya ingin kamu selidiki".
"Huh? apa ini sebuah kebetulan atau kesengajaan?" ujar Radit dengan senyum mencibir mendengar ucapan Candra.
"Entahlah. Bisa jadi kalau ini sebuah kebetulan yang sudah mereka rencanakan?" Candra bicara dengan senyum mencibir sambil mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Itu namanya bukan kebetulan, tapi kesengajaan" ujar Radit dengan nada yang sinis.
"Apalagi yang kamu dapatkan? Apa kamu menemukan yang lain lagi?" sambung Radit kembali menanyakan Lidia.
"Sejauh ini aku hanya tahu kalau mereka pernah bekerjasama. Aku masih mencari tahu apa Lidia itu masih ada hubungannya dengan Surya atau tidak" ujar Candra sambil memberikan data yang dia miliki pada Radit.
"Kalau mengenai perusahaan itu ... apa kamu sudah mendapatkan data yang aku minta?".
"Semuanya sudah ada disitu. Surya adalah pemimpin perusahaan dari generasi ketiga. Perusahaan itu awalanya didirikan oleh kakeknya, lalu dilanjutkan oleh ayahnya. Sekarang ini perusahaan dipegang oleh Surua, hanya saja perkembangan perusahaan itu tidak sebesar dulu. Surya tidak teralu pandai dalam membangun kerjasama dan dia berkali-kali kalah dalam tender yng diikuti perusahaannya. Kerjasama dengan perusahaan Satya adalah pencapaian baru yang didapatkan oleh Surya. Dia mendapatkan banyak kepercayaan akibat dari kerjasama itu".
Radit mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Candra sambil membaca laporan yang diberikan Candra padanya
"Pencapaian baru? Maksudnya?" tanya Radit yang langsung menatap Candra dengan bingung.
"Ya, setelah mendengar kalau Surya bekerjasama dengan perusahaan Satya, beberapa perusahaan mulai memintanya untuk bekerjasama. Mungkin karena Andra adalah istrimu jadi mereka mengira kalau mereka juga akan dapat keuntungan supaya bisa berkenalan dengan Andra, atau mungkin berkenalan denganmu".
"Khayalan mereka terlalu tinggi. Mereka pikir bisa langsung naik keatas hanya dengan satu akar kecil? Setidaknya mereka harus menaiki satu anak tangga sebelum akhirnya sampai dipuncak" ujar Radit dengan nada mencibir.
"Ya, biasalah orang yang malas berusaha hanya akan menggunakan jalan pintas untuk bisa naik dengan cepat" ujar Candra dengan sikap acuh tak acuh.
***
DIkediaman Radit. Andra sedang duduk diruang keluarga sambil menonton televisi.
__ADS_1
"Membosankan! Apa semua acara televisi memang seperti itu?!" gerutu Andra sambil terus memindahkan chanel televisi dari chanel satu ke chanel yang lainnya.
"Ada apa, Bu? Sepertinya ibu sedang bosan?" Lidia yang terus menemaninya bertanya dengan senyum manis dibibirnya sambil menyuguhkan segelas teh untuknya.
"Iya, aku sangat bosan. Tidak ada kak Radit dan juga Lathan. Rasanya sangat membosankan!" ujar Andra sambil terus memindahkan saluran televisi.
"Ehm ... kalau begitu ... bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan saja? Ibu bisa pergi berbelanja atau makan di mall. Saya akan menemani ibu pergi".
"Pergi ke mall ya? Hmn ..." Andra terlihat sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan Lidia. Dia tidak tahu kalau dibelakangnya, Lidia menunjukkan sebuah senyum yang sangat mencurigakan.
"Baiklah, kita pergi ke mall. Aku akan ganti pakaian dulu".
"Baik, Bu" Andra langsung beranjak pergi setelah dia mempertimbangkan ajakan Lidia, namun sebelum itu, tentu saja dia menghubungi Radit terlebih dahulu.
Tuut tuut tuut
Andra terus berjalan menuju kamarnya sambil menunggu Radit menerima telepon darinya.
"Halo, Sayang" Sapa Radit dari ujung telepon
"Tidak terlalu. Hanya beberapa dokumen yang perlu aku periksa. Ada apa sayang? Apa kamu menginginkan sesuatu?" Radit bicara dengan sangat lembut pada sang istri.
"Aku bosan, jadi aku akan pergi ke mall dengan Lidia. Bagaimana kalau kita makan siang disana?" Andra bicara dengan nada yang manja.
"Hmn ... baiklah nanti aku akan kesana saat jam makan siang. Kabari aku restoran mana yang ingin kamu kunjungi untuk makan siang nanti".
Andra pun tersenyum bahagia mendengar ucapan sang suami.
"Benarkah? Baiklah. Sampai jumpa nanti, sayang" Andra menanggapi dengan senyum yang ceria.
"Ya, sampai jumpa. Hati-hati ya" Radit dan Andra pun menutup sambungan telepon diantara mereka. Andra langsung berganti pakaian sebelum dia pergi.
Sementara itu dilantai bawah, Lidia sedang menghubungi Surya sambil mengendap-ngendap agar tidak ketahuan Andra.
"Halo, Pak Surya" sapa Lidia begitu teleponnya tersambung dengan Surya.
__ADS_1
"Ada apa kamu menghubungiku jam segini? Bukannya kamu sendiri yang bilang untuk tidak saling menghubungi saat siang hari?" Surya menanggapi Lidia dengan nada bicara yang sinis.
"Saya hanya ingin mengatakan pada Pak Surya kalau sekarang, saya dan bu Andra akan pergi ke mall. Kami berniat untuk makan siang disana" Lidia bicara pada Surya dengan suara pelan dan hampir berbisik.
"Ke mall?" Surya langsung tersenyum ceria dan terlihat sangat antusias mendengar Andra akan pergi ke mall.
"Benar. Bu Andra sedang bosan dan dia berencana untuk pergi shopping dan makan siang di mall".
"Kerja bagus. Kalau begitu aku juga akan pergi ke mall untuk bertemu dengannya. Kamu harus mengatakan lokasi kalian padaku saat kita di mall nanti, dan ingat untuk memberitahu padanya saat kita bertemu nanti kalau ini adalah suatu kebetulan" Surya memberitahu Lidia dengan sangat antusias mengenai apa yang harus dia lakukan nanti.
"Baik, Pak. Saya mengerti. Sampai jumpa di mall" ujar Lidia yang langsung menutup teleponnya.
Tak berselang lama Andra turun dari kamarnya.
"Lidia, apa kamu sudah siap?" Teriak Andra sambil berjalan menuruni tangga.
"Sebentar, Bu. Saya sedang mengambil tas" jawab Lidia dengan sedikit berteriak.
Andra pun menunggu Lidia di salah satu kursi diruang makan sambil terus memainkan ponsel miliknya.
"Mari, Bu. Saya sudah siap" ujar Lidia yang sedikit berlari dari kamarnya karena tidak ingin membuat Andra terlalu lama menunggu.
"Ayo pergi!" Andra pun berjalan lebih dulu meninggalkan rumah diikuti Lidia yang berjalan dibelakangnya.
"Antarkan kami ke mall" ujar Andra pada supir pribadinya.
"Baik, Bu" Supir pun langsung membuka pintu mobil untuk Andra. Mereka bergegas dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.. Andra yang tidak banyak bicara selama mereka dalam perjalanan. Dia hanya menoleh kesana kemari dan menikmati pemandangan hingga tak membutuhkan waktu lama karena jalanan yang juga tidak macet.
Akhirnya mereka tiba. Supir membukakan pintu mobil untuk Andra turun.
"Terimakasih, kamu bisa langsung pulang saja. Jika saya sudah mau pulang, nanti saya akan menghubungimu" Andra bicara dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.
"Baik Bu".
"Ayo Lidia". Andra bergegas masuk bersama Lidia setelah supir berbalik untuk pulang. Mereka berdua langsung masuk dan melihat-lihat tas atau sendal yang terpasang pada manekin. Andra dan Lidia terus berjalan memutari setiap toko untuk mencari sesuatu yang mungkin dapat menarik perhatian Andra. Namun saat berada ditoko kesekian yang dikunjungi Andra. Ada seseorang yang mendekat padanya.
__ADS_1
"Bu Andra? Kebetulan sekali kita bertemu disini. Bagaimana kabar anda?"