Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kak Radit Sama Saja Dengan Kak Cheva


__ADS_3

Andra masih terkejut karena setelah mencari cukup lama akhirnya mereka menemukan gaun yang sesuai dengan apa yang diinginkan Radit. Tentu Andra juga merasa senang dengan gaun terakhirnya karena dia memang tidak terbiasa dengan baju yang terbuka


"Akhirnya selesai juga. Ternyata melelahkan harus berbelanja dengan kak Radit. Kak Radit sama saja dengan kak Cheva" Pikir Andra begitu Radit mengatakan dia cantik dengan gaun ini


"Pelayan, tolong bungkus gaun lain juga. Gaun yang sopan dan elegan juga bisa dipakai untuk acara santai. Aku tidak suka gaun yang terbuka dan seksi. Jika kalian mengirimkan satu saja yang seperti itu, maka akan aku tutup butik ini" Radit berkata dengan nada yang dingin dan tegas. Dia terlihat gagah  dan berwibawa meskipun hanya duduk dengan kaki saling bertumpu dan tangan dilipat di dada. Nada bicara dan auranya membuat pelayan toko mengangguk dengan gugup


"Apa?! Semuanya?!" Andra kembali terkejut hingga kedua matanya hampir keluar


"Baik tuan. Kami mengerti" Para pelayan toko mulai sibuk mengemas semua baju yang sesuai dengan perkataan Radit. Mereka memilih baju dengan gugup agat Radit tidak marah.


"Kak Radit, apa kita harus membeli banyak gaun? Baju yang kak Cheva belikan saja masih banyak yang belum aku pakai. Lalu bagaimana bisa kamu membelikan aku banyak baju lagi?" Andra bicara degan ragu-ragu sambil menoleh kesana kemari melihat pelayan toko membungkus banyak baju. Bahkan hampir setengah dari koleksi toko yang di siapkan oleh mereka


"Tidak masalah. Kamu bisa memakainya kapan saja. Lagipula ini semua tidak akan basi, jadi tidak harus di pakai dalam waktu dekat. Karena kita baru mulai hidup bersama, jadi banyak waktu yang akan kita habiskan bersama kedepannya"


"Semoga Andra bisa mengerti kalau aku ingin menghabiskan sisa hidupku dengannya" Pikir Radit sedikit melirik pada Andra


Perkataan Radit membuat wajah Andra seketika berubah merah


"Kenapa kak Radit selalu mengatakan kata-kata yang ambigu ya? Apa dia tidak sadar kalau ucapannya itu bisa membuat aku salah paham?" Pikir Andra sambil mengerucutkan bibir dan menoleh ke arah lain


"Andra, kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit? Atau kamu merasa kepanasan?" Radit terlihat heran karena melihat wajah Andra yang tiba-tiba berubah merah


"Aku? Aku tidak papa. memangnya aku kenapa?" Andra merasa bingung sendiri dengan pertanyaan Radit yang tiba-tiba karena memang tidak terjadi apa-apa dengannya


"Wajah mami tiba-tiba merah. Apa mami merasa sakit?" Tanya Lathan yang juga memperhatikan Andra


"Mami tidak papa sayang. Ehm ... mungkin memang karena mami sedikit kepanasan" Andra menjawab dengan sikap yang canggung sambil mengibas-ngibaskan sebelah tangannya ke wajah. Radit dan Lathan langsung menoleh kesekitar mereka. Butik ini dilengkapi AC bagaimana bisa Andra merasa kepanasan?


"Setelah ini kita mau kemana lagi? Apa kita akan langsung pulang?" Andra berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana


"Kalian pulang duluan saja. Aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dikantor karena besok kita akan pergi pagi-pagi sekali"

__ADS_1


Radit bicara dengan sikapnya yang tenang


"Baik" Lathan dan Andra menjawab serempak


"Tuan semuanya sudah selesai kami kemas" Salah seorang pelayan toko menghampiri Radit untuk memberitahu kalau semua pakaiannya sudah siap


"Gunakan kartu ini dan kirim barangnya ke rumahku, ini alamatnya" Radit memberikan kartu kreditnya kemudian memberikan alamat rumahnya


"Baik. Mohon tunggu sebentar" Pelayan itu bicara dengan sopan kemudian beranjak pergi dari hadapan Radit untuk memproses pembayarannya. Tak berselang lama dia kembali dengan kartu kredit Radit


"Permisi tuan, ini kartu kredit anda"


"Ya, terimakasih. Ayo kita pergi! Biarkan mereka mengirimkan barangnya ke rumah" Radit bicara dengan lembut pada Andra kemudian menggendong Lathan di pangkuannya dan berjalan bersama meninggalkan butik


Begitu tiba diparkiran, Radit membukakan pintu mobil untuk Andra terlebih dahulu barulah dia menurunkan Lathan yang ada dipangkuannya


"Kalian pulang duluan ya. Lathan, kamu tidak boleh nakal dan nanti harus tidur lebih cepat karena besok kita akan pergi pagi-pagi. Jika kamu telambat bangun, maka papi akan meninggalkan kamu dirumah"


"Tentu saja tidak akan. Tapi papi tidak mau kamu kelelahan nantinya, karena itu kamu harus istirahat lebih awal. Ok?" Sebelah tangan Radit mengusap kepala Lathan saat dia bicara


"Ok, papi" Jawab Lathan ceria


"Ya sudah, jalan"


"Kami jalan dulu. Kak Radit hati-hati"


"Ya. Hati-hati mengemudinya!" Radit menjawab Andra sebelum dia bicara pada supir


"Baik pak" Supir pun mulai mengendarai mobil dan berlalu meninggalkan Radit yang masih menatap mobil Andra yang semakin menjauh


Radit berjalan kembali ke mobilnya lalu meraih laptop yang berada di kursi penumpang. Dia mulai memainkan jari jemarinya di atas keyboard laptop dan menerobos data pribadi milik keluarga Starla. Radit cukup mahir dalam masalah IT karena dia telah di ajarkan oleh Lian sejak mereka tinggal bersama di rumah Yudha

__ADS_1


"Halo, Candra. Periksa emailmu. Aku sudah kirim data mengenai perusahaan keluarga Starla" Radit bicara dengan sikap yang tenang sambil memperhatikan data dilayar laptopnya


"Secepat itu? Kamu bilang akan menyelesaikannya besok? Kenapa hari ini juga?" Candra terkejut dengan apa yang Radit katakan. Karena saat di telepon tadi dia bilang besok


"Aku tidak mengatakan besok. Tapi aku bilang se-ce-pat-nya" Radit menegaskan apa yang dia katakan pada Candra


"Baiklah, baik. Akan aku selesaikan sekarang juga. Kamu harus mempersiapkan uang lembur lagi untukku!" Candra menjawab dengan sikap yang sinis namun Radit malah mematikan teleponnya


Tuut tuut tuut


"Dit? Dit? Haah, lagi-lagi dia menutup teleponnya seenaknya. Bodohnya aku, bagaimana bisa dekat dengan orang seperti dia?"Sambung Candra sambil menggaruk kesal kepalanya sendiri.


Candrapun akhirnya membuka email yang dikirimkan oleh Radit. Diapun mulai memainkan data sesuai dengan informasi yang Radit kirimkan


***


Starla kembali kerumah dengan wajah yang kesal


"Aaaah, dasar sial! Bisa-Bisanya Radit bersikap seperti itu padaku hanya karena wanita rendahan seperti dia?!" Starla mengamuk di kamarnya dengan menyingkirkan semua peralatan kosmetik yang ada di atas meja rias sambil berteriak kesal berusaha melampiaskan kekesalannya


"Aku harus mendesak papa agar dia bisa mendekati om Leo" Starla pun meraih ponselnya dan menghubungi sang ayah yang masih berada di kantor


Tuut tuut tuut


"Halo, papa" Sapa Starla begitu snag ayah menerima telepon darinya


"Halo, sayang. Ada apa kamu menghubungi papa?"


"Pa, papa sudah bicara lagi dengan om Leo mengenai hubunganku dengan Radit?" Starla bertanya dengan sikapnya yang manja


"Belum, sayang. Nanti akan papa tanyakan lagi. Tapi kamu jangan terlalu berharap, kamu sendiri kan tahu kalau Radit itu orang yang dingin. Apa kamu yakin bisa bahagia hidup dengannya?" Ayah Starla terdengar khawatir dengan apa yang diminta putrinya

__ADS_1


"Aku yakin pah. Bukannya papa juga akan senang dan diuntungkan dengan hubungan kami?"


__ADS_2