
Lathan dan Fandy makan siang seperti biasa. Mereka terlihat tenang dan elegan saat makan. Lain halnya dengan Zara dan teman-temannya yang makan dengan sikap canggung karena kehadiran kedua siswa populer disekolah yang makan satu meja dengan mereka. Akibatnya banyak orang berkerumun disekitar mereka untuk memperhatikan Lathan dan Fandy.
"Kamu yang katakan"
"Kamu saja. Kamu kan sepupu Fandy"
Zara dan salah satu temannya saling bicara tanpa mengeluarkan suara.
"Kamu saja. Kamu kan tahu bagaimana sikap Lathan padaku. Jadi cepat buat dia pergi, kalau tidak … kita saja yang pergi dari sini dan kembali ke kelas" ujar Zara dengan sikap tenang dan sesekali memainkan matanya.
Teman Zara saling menatap satu sama lain mempertimbangkan apa yang Zara katakan.
"Anu … Lathan, Fandy, kami sudah selesai makan. Kalau begitu kami akan kembali ke kelas lebih dulu ya. Ayo Ra!" ujar salah satu teman Zara sambil beranjak dari kursinya diikuti teman Zara yang lainnya.
"Ya, ayo!"
"Siapa yang mengizinkan kamu pergi ke kelas sekarang?", ujar Lathan dengan senyum manis dibibirnya.
Zara yang baru saja berdiri langsung terdiam setelah mendengar Lathan lalu menoleh padanya.
"Kenapa aku tidak boleh kembali ke kelas? Aku kan sudah selesai makan?". Zara bertanya dengan sikap yang sinis sambil memicingkan mata karena heran.
"Karena aku dan Fandy masih belum selesai dengan makanan kami. Lagipula kamu belum menyentuh makananmu sama sekali. bagaimana itu dibilang telah selesai. Apa kamu makan tanpa menyentuh makanan?".
Lathan bicara dengan sikap yang tenang dan senyum manis dibibirnya. Tubuhnya yang bersandar pada kursi dengan kedua tangan yang dilipat didada membuat Lathan terlihat sangat mempersona. Fandy yang duduk disebelahnya pun tak kalah tampan dengan Lathan.
"Memangnya mau apa kamu di kelas? Jam istirahat kan masih lama. Kamu hanya ingin bergosip dengan mereka kan?". Fandy pun bicara dengan tenang sambil menenggak minumannya.
"Diam kamu! Pokoknya aku akan kembali ke kelas! Ayo teman-teman!".
Zara membentak Fandy dengan mata melotot, lalu beranjak pergi bersama teman-temannya meninggalkan kantin.
"Sepupu kamu itu memang selalu bersikap seperti kucing liar yang takut disentuh ya?" tanya Lathan pada Fandy sambil terus memperhatikan punggung Zara.
"Ya begitulah dia. Sejak kecil memang galak dan manja. Entah kenapa dia seperti itu. Mungkin karena kepribadian?". Fandy menanggapi Lathan dengan sikap acuh tak acuh.
"Apa benar karena kepribadian? Menurutmu … bukan karena hal lain?" Lathan menatap dengan sorot mata yang tajam dan dingin. Seketika Fandy terlihat gugup dan salah tingkah setelah mendengar ucapan Lathan..
"Menurutku… Sebaiknya kita juga ke kelas sekarang" Fandy langsung beranjak pergi dengan gugup.
__ADS_1
"Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap aneh?" gumam Lathan memandang Fandy yang semakin menjauh.
"Than, ayo! Kenapa kamu masih diam saja?" tanya Fandy yang berbalik memanggil Lathan.
"Iya iya". Lathan pun beranjak pergi mengikuti Fandy yang menunggunya.
...****************...
Dikantor Radit.
Candra bergegas menuju ruangan Radit dengan langkah kaki yang cepat.
Brak!
"Ada masalah dengan hotel milikmu. Disana telah ditemukan korban tewas disalah satu kamar hotel. Diperkirakan kalau itu adalah korban bunuh diri. Polisi sedang melakukan penyelidikan dan sekarang situasi hotel sangat kacau".
Candra menjelaskan dengan panik mengenai kondisi hotel saat ini.
"Apa sudah dipastikan kalau kematiannya karena bunuh diri? Kalian sudah periksa semua CCTV yang ada dihotel kita?". Radit menanggapinya dengan sikap yang tenang sambil terus membaca laporan yang sedang dia periksa.
"Beberapa petunjuk mengarah pada itu,tapi polisi masih menyelidiki kasusnya"
"Kalau begitu kita segera kesana dan lihat situasinya. Hotel kita selalu penuh, ini bisa mengganggu kenyamanan tamu kita".
Radit langsung menutup dokumen yang dia baca lalu mulai bangun dari tempat duduknya. Dia merapikan jasnya dan membawa barang-barang miliknya sebelum bergegas meninggalkan kantor.
Tuut tuut tuut
Radit berusaha menghubungi Andra sambil berjalan keluar dari kantor.
"Halo, kak Radit". sapa Andra dari ujung telepon.
"Halo, sayang. Sepertinya hari ini aku tidak pulang kerumah. Ada sedikit masalah dengan hotel, jadi aku akan pergi kesana untuk mengeceknya secara langsung"
"Hotel? Ada masalah apa sampai kakak sendiri yang langsung pergi kesana? Apa telah terjadi hal serius dengan hotel?" tanya Andra dengan dahi berkerut dan wajah yang terlihat sangat serius.
"Ada tamu hotel yang meninggal. Dugaan sementara katanya dia bunuh diri, tapi masih diselidiki ulang. Jadi aku juga harus melihat langsung kesana dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi" ujar Radit yang menjelaskan dengan sikap tenang dan penuh wibawa.
"Baiklah, aku mengerti. Kakak hati-hati. Pasti banyak wartawan yang akan menyebarkan rumor palsu mengenai hal ini" ujar Andra memperingatkan Radit.
__ADS_1
"Ya, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan pulang setelah masalah ini selesai. Daah sayang"
"Ya, daah"
Radit dan Andra pun mengakhiri panggilan telepon diantara mereka.
"Semoga masalahnya tidak serius" gumam Andra setelah menutup telepon.
...****************...
Tak berapa lama Radit dan Candra tiba dihotel. Mereka langsung bergegas masuk setelah memarkirkan mobilnya.
"Bagaimana situasinya sekarang?" tanya Radit pada bu Dita yang dia percaya sebagai manajer yang mengelola hotel miliknya.
"Ada beberapa tamu yang mengeluh kalau mereka merasa tidak nyaman dengan kejadian ini karena ada banyak polisi dan pergerakan mereka juga terbatasi" jelas bu Dita pada Radit.
"Apa benar kalau itu korban bunuh diri?" tanya Radit dengan sikap yang tenang.
"Dugaan awal memang seperti itu, tapi polisi masih menyelidiki kamar yang digunakan korban dan dari beberapa petunjuk, ada kemungkinan kalau ini adalah korban pembunuhan" bu Dita kembali menjelaskan.
Radit yang mendengarkan penjelasan dari Dita langsung menghentikan langkahnya dan menoleh pada Dita dengan sorot mata yang tajam.
"Korban pembunuhan?" tanya Radit meminta penjelasan dari Dita.
"Benar, Pak. Katanya ada beberapa titik yang mencurigakan dan tidak mungkin jika itu merupakan bunuh diri".
Dahi Radit semakin berkerut hingga kedua alisnya hampir mneyatu.
"Bagaimana dengan dewan direksi kita?" tanya Radit sambil terus berjalan menuju kamar yang sedang diselidiki.
"Semua heboh karena banyak tamu kita yang cekout mendadak karena insiden ini"
"Kita harus mencari tahu dulu siapa keluarga korban dan berusaha sebisa mungkin menyelesaikan masalah ini tanpa diketahui oleh publik" uhar Radit menjelaskan.
"Sayangnya wartawan sudah mendengar insiden ini dan beberapa dari mereka sudah ada dilokasi kejadian" ujar Dita lagi menjelaskan.
"Bagaimana bisa informasi ini langsung tersebar keluar dengan cepat?" ujar Radit dengan sikap yang dingin.
"Maafkan saya karena lalai. Tapi saya juga tidak tahu bagaimana bisa berita penting ini sampai begitu cepat tersebar keluar".
__ADS_1
Dita menundukan kepala saat dia berusaha menjelaskan pada Radit.
"Sudahlah tidak perlu dibicarakan lagi. Paparazi itu memang menyebalkan. Mereka itu seperti burung pemakan bangkai yang bisa tahu dimanapun ada mangsa berada. Tidak heran kalau mereka sangat cepat mengetahui kabar berita setiap kali ada masalah terjadi"