
Radit sedang dikantor dengan tumpukan dokumen dihadapannya karena beberapa hari meninggalkan kantor ketika Lathan sakit.
"Apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada dikantor?" tanya Radit dengan mata yang terus menatap dokumen.
"Tidak ada. Semuanya berjalan lancar tanpa kendala apapun" ujar Candra menanggapi Radit.
"Kita memiliki rapat sebentar lagi. Akan ada bahasan mengenai perkembangan saham kita di pasar modal" sambung Candra menjelaskan pada Radit.
"Baiklah. Persiapkan semua laporan yang dibutuhkan" ujar Radit dengan sikap yang dingin. Lalu mereka beranjak dari ruangan Radit untuk pergi keruang rapat.
"Selamat pagi semuanya" ujar Radit diikuti Candra yang berjalan dibelakangnya.
"Selamat pagi, Pak" semua orang yang sudah ada diruang rapat langsung berdiri dan menjawab salam dari Radit dengan serempak
"Silahkan duduk"
Semua orang pun kembali duduk setelah mendapatkan izin dari Rasit.
"Kita mulai rapatnya" Candra pun mulai membuka rapat dan mendengarkan satu persatau laporan dari setiap bagiannya.
Drrt drrt drrt
Tiba-tiba ponsel Radit bergetar. Dia melihat layar ponsel yang tergeletak diatas meja. Disana tertulis nama 'My Wife', Radit pun langsung menerima panggilan telepon itu.
"Halo, sayang" sapa Radit ketika menerima telepon dari Andra
"Kak Radit, bisakah kamu menghapus karir seorang model? Aku rasa aku tidak suka dengan seorang model sombong".
Andra langsung mengatakan apa yang dia inginkan tanpa menanggapi salam Radit terlebih dahulu.
"Itu bukan hal yang sulit. Kamu tinggal katakan saja namanya. Bukan cuma model, aku bahkan bisa menghancurkan perusahaan manapun yang kamu mau".
Radit menanggapi Andra dengan sikap tenang dan acuh tak acuh. Semua peserta rapat yang hadir dibuat terkejut dan hanya bisa menelan salifa mereka sambil menatap satu sama lain karena takut pada Radit.
...****************...
Ditempat lain Andra tersenyum sinis sambil menatap Karin.
"Benarkah, Kak? Kakak hanya butuh namanya saja? Yang ku tahu dia bernama Karin. Saat ini mereka sedang melakukan pemotretan ditaman sekitar rumah mama. Apa Kak Radit bisa menyelesaikan ini sekarang juga? terlebih lagi dia sudah tidak sopan pada mama".
"Bukan masalah. Kamu tenang saja"
"Ya. Sampai jumpa, Kak". Andra pun menutup telepon dari Radit.
"Cih, hanya membual lewat telepon. Kamu pikir aku takut? Tidak sama sekali".
Karin masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia bicara dengan nada yang sinis pada Andra.
__ADS_1
"Gawat" teriak seorang pria pada Karin
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat panik? Bukankah semuanya sudah selesai? Kamu bilang pemotretan tadi berjalan lancar" ujar Karin yang bicara dengan sikap yang tenang karena tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.
"Bukan masalah itu. Tadi kantor menghubungiku katanya akan dilakukan pemotretan ulang karena modelnya akan diganti" ujar photografer dengan ekspresi yang frustasi.
"Apa katamu?!" teriak Karin dengan mata membelalak.
"Bukankah sudah kubilang kalau aku bisa membuatmu kehilangan karirmu? Sepertinya sudah selesai" Andra menyela dengan nada yang sinis dan senyum mencibir dibibirnya. Diapun beranjak pergi sambil memapah Vio disampingnya.
"Ayo Mah, kita pergi. Jalan-jalannya sudah tidak menyenangkan lagi" ujar Andra sambil berlalu pergi meninggalkan Karin dan photografernya.
Karin terkejut mendengar apa yang dikatakan photografernya. Dia terpaku menatap Andra dan Vio yang berjalan menjauh darinya.
"Mama, apa Mama baik-baik saja?" Andra bertanya dengan lembut pada Vio yang berjalan disampingnya.
"Ya, putriku tidak seperti dia. Putriku bukan model yang sombong. Kamu harus bertemu dengan putriku. Kalian pasti akan sangat cocok karena dia juga baik dan ramah".
Vio terlihat sangat senang saat dia membicarakan Lea. Matanya terlihat berbinar ceria.
Andra terdiam tanpa tahu bagaimana dia bereaksi.
"Mama, kapan terakhir Mama bertemu kak Lea?".
Andra bertanya karena ingin mengingatkan Vio.
Vio terlihat kecewa saat Lea tidak mengunjunginya.
"Kalau begitu, lain kali kita kunjungi kak Lea ya Mah?" Ajak Andra dengan senyum ceria.
"Iya iya iya, mau" Vio menganggukkan kepala berkali-kali dengan cepat karena dia sangat antusias.
Tak berselang lama mereka pun tiba dirumah.
Leo memicingkan mata sambil melihat jam tangannya saat Andra dan Vio kembali.
"Bagaimana dengan jalan-jalan kalian? Kenapa begitu cepat kembali?".
Leo terlihat penasaran saat dia bertanya pada Vio dan Andra.
"Sebenarnya menyenangkan. Sebelum ada biang kerok yang membuat masalah dengan mama".
Bibir Andra mengerucut kesal saat dia mengeluh pada Leo.
"Ada apa? Apa ada masalah yang terjadi saat kalian ke taman?".
Leo terlihat semakin penasaran untuk mendengar cerita dari Andra.
__ADS_1
"Tadi ada yang sedang melakukan pemotretan ditaman dan mama tidak sengaja menabrak model itu sampai terjatuh. Aku sudah minta maaf padanya, tapi dia malah bersikap kurang ajar pada mama. Jadi aku menghubungi kak Radit dan meminta dia memberikan pelajaran pada gadis itu. Aku yakin kalau sekarang dia tidak akan berani berbuat ulah pada sembarangan orang lagi".
Andra sangat antusias saat dia bercerita. Leo pun tersenyum melihat sikap Andra.
"Jadi kamu sudah bisa memanfaatkan suaminu?".
Andra terkejut mendengar ucapan Leo.
"Tidak, Pah. Bukan seperti itu. Aku sama sekali tidak bermaksud memanfaatkan kak Radit. Aku hanya merasa tidak terima saat melihat mama diremehkan, jadi aku menghubungi kak Radit".
Senyum Leo semakin lebar ketika melihat sikap Andra yang sedang gugup.
"Tenang saja. Kamu tidak perlu panik seperti itu. Papa senang jika kamu bisa melindungi diri sendiri dan keluargamu. Kami memang membangun kekuasaan untuk keluarga. Jika kekuasaan itu tidak bisa digunakan, untuk apa dimiliki?".
Andra pun tersenyum mendengar Leo berpikiran terbuka.
"Terimakasih, Pah".
Leo mengangguk menanggapi ucapan terimakasih andra. Diapun beralih mendekati sang istri.
"Sayang, bagaimana jalan-jalanmu? Apakah menyenangkan?" ujar Leo dengan senyum lembut sambil memapah Vio untuk duduk.
"Ya, menyenangkan. Ada banyak model disana dan mereka sangat cantik. Tapi Karin itu sombong, tidak seperti Lea yang pendiam dan baik hati".
Leo tersenyum mendengar keluhan sang istri.
"Siapa itu Karin?" tanya Leo pada Vio.
"Itu, dia model yang ada ditaman tapi dia jahat, dia sombong. Aku tidak suka padanya" ujar Vio menanggapi
"Baiklah. Biarkan saja. Kamu tidak akan bertemu dengannya lagi"
Leo menenangkan sang istri dengan lembut, lalu diapun menoleh pada Andra.
"Terimakasih. Setelah kamu disini, ibumu sedikit menunjukkan perkembangan. Dulu dia tidak pernah bicara. Sekarang dia mulai bicara dan mengerti situasi sekitar. Sepertinya dia sudah bisa diajak berkomunikasi dengan baik"
Leo tersenyum lega sambil sesekali menoleh pada Vio.
"Tidak perlu berterimakasih padaku, Pah. Sekarang mama adalah ibuku, jadi … Sudah sepantasnya jika aku membantu mama sebisaku. Pah, apa mama pernah diajak kemakam kak Lea?".
"Hanya sekali. Itu saat Lea dimakamkan. Papa tidak bisa membawa mamamu kesana karena perkembangan mentalnya" Leo menanggapi Andra sambil menggelengkan kepala fmdan sesekali menoleh pada Vio.
"Itu … aku berkata pada mama kalau nanti akan mengajak mama mengunjungi kak Lea"
Mata Leo langsung terbelalak karena terkejut.
"Apa katamu? Kamu akan membawa mama mengunjungi makam Lea?"
__ADS_1