Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Permainan Tidak Menyenangkan


__ADS_3

Lathan dan Ardhan tiba di lokasi setelah polisi datang lebih dulu. Mereka memperhatikan polisi yang sedang melakukan pengitaian dari dalam mobil.


"Kak, apa ini tidak terlalu jauh?Aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang mereka lakukan". Ardhan bicara dengan sikap yang tenang sambil terus memperhatikan polisi.


"Kita ini bukan polisi yang harus berada dijarak yang dekat. Perhatikan dari kejauhan saja. Jika waktunya tiba untuk kita bergerak tinggal maju saja". Lathan menanggapi dengan sikap yang tenang tanpa menoleh pada sang adik yang sedang berusaha melihat apa yang polisi lakukan.


"Apa Kakak yakin dengan rencana Papi?"


"Apa yang ingin kamu katakan? Kamu punya rencana lain?". Lathan kembali bertanya pada sang adik mengenai apa yang dia khawatirkan.


"Kenapa kita harus membantu para polisi ini, sedangkan sebelumnya mereka telah bersikap buruk pada papi? Mereka mencurigai papi dan membuat nama baik papi rusak dengan asumsi mereka itu!". Ardhan terlihat kesal saat dia membicarakan mengenai kejadian dihotel sebelumnya.


"Untuk apa masih dipusingkan? Toh papi sudah terbukti tidak bersalah dan mereka juga sudah membuat permintaan maaf secara terbuka melalui media, jadi itu tidak perlu dibahas lagi. Dan mengenai kita yang membantu para polisi ini … bukankah ini tamparan untuk mereka? Sebelumnya mereka tidak percaya kalau kita bisa membantu papi dan kini kita membuktikan kemampuan kita lebih baik dari para polisi itu dan bahkan dengan melihat usia kita … harusnya mereka malu karena mendapatkan bantuan dari anak kecil. Benar, kan?". Lathan bicara dengan sikap yang dingin dan tersenyum tipis pada sang adik.


Dor dor dor!


Saat Lathan dan Ardhan masih bicara, mereka dikejutkan dengan suara tembakan. Mereka melihat kalau para polisi itu saling menembak dengan orang-orang yang ada didalam bangunan tersebut.


"Kenapa mereka begitu bodoh? Bukannya mereka melakukan penyergapan? Kenapa malah jadi saling menembak?" ujar Ardhan yang melihat para polisi sedang baku tembak dengan kelompok penjudi online.


"Dhan, kamu bisa tahu letak orang-orang itu tidak? Ini akan membutuhkan waktu lama jika tidak segera dilumpuhkan". Lathan berusaha mencari cara agar baku tembak ini tidak terjadi begitu lama sehingga tidak memakan banyak korban terluka.


"Tidak bisa Kak. Aku tidak meletakkan kamera pengintai didalam ruangan itu dan juga tidak ada CCTV disana, jadi aku tidak tahu situasi yang terjadi didalam" jawab Ardhan dengan sikap yang tenang.


Lathan dan Ardhan semakin gelisah ketika melihat beberapa polisi tertembak.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kak?". Lathan masih diam berpikir saat sang adik bertanya padanya.


"Begini. Aku akan parkir mobil disebelah sana, nanti kamu tunggu dimobil dan aku akan mencari celah untuk masuk. Kita tidak bisa hanya diam saja disini dan menyaksikan mereka terluka. Kakak akan pakai earphone dan kamu harus dengar setiap aba-aba yang aku berikan" ujar Lathan sebelum dia turun dari mobil.


"Tapi Kak, apa Kakak yakin akan pergi sendiri?" tanya Ardhan dengan raut wajah khawatir.


"Ya, kamu tetap awasi dari dalam mobil. Tutup jendelanya. Jika nanti kamu melihat aku dalam bahaya, kami bisa gunakan ketapel untuk menolongku. Jangan pernah turun dari mobil. Aku akan marah jika kamu melakukannya!" ujar Lathan dengan raut wajah serius.


"Baik, Kak. Aku mengerti".

__ADS_1


Lathan pun mengawasi kondisi sekitar terlebih dahulu sebelum dia turun dari mobil. Dari kejauhan terlihat beberapa orang pria berdasi yang sedang baku tembak mulai bergerak keluar dari bangunan itu. Mereka berusaha teteap menahan polisi agar tidak mendekat dan mereka bisa meninggalkan bangunan tersebut tanpa harus tertangkap polisi.


"Sepertinya kita tidak harus turun untuk mendekat. Mereka sudah keluar dengan sendirinya". Lathan bicara dengan seringai tipis dibibirnya. Dia mengeluarkan pistol miliknya dan membidik dari dalam mobil dengan kaca jendela yang setengah terbuka.


Dor!


Dor!


Dor!


Lathan menargetkan kaki dan tangan dari penjudi itu. Dia menembak tepat sasaran tanpa ada yang sadar akan keberadaannya.


"Pak, bagaimana mereka bisa berhenti? Tidak ada perlawanan lagi dari lawan" ujar salah satu polisi yang berada dekat dengan Tofan.


"Kamu benar. Bagaimana mereka bisa dilumpuhkan dengan sangat cepat?". Tofan pun menoleh kesana kemari dengan tatapan bingung.


"Entahlah. Aku juga tidak mengerti" ujar Tofan yang sedang kebingungan.


Dari kejauhan Lathan dan Ardhan bersiap pergi.


"Ya, kamu benar. Lebih baik kita pergi darisini. Tidak ada gunanya berlama-lama disini". Lathan menanggapi dengan sikap yang tenang. Diapun menaikkan kaca mobilnya dan mulai bergerak meninggalkan lokasi.


"Itu kan …". Tofan sangat terkejut melihat Lathan dari kejauhan menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan lokasi.


"Ada apa, Pak?", tanya polisi yang berada dekat Tofan.


"Tidak ada. Sebaiknya kita segera tangkap mereka dan pergi darisini. Kita harus segera menginterogasi mereka", ujar Tofan yang masih terus manatap mobil Lathan yang semakin menjauh.


"Baik, Pak!".


Para polisi itu pun mulai menangkap para tersangka satu persatu. Lalu mereka digiring ke kantor polisi.


"Kita berangkat sekarang!".


...****************...

__ADS_1


Dikediaman Nugraha


Lathan dan Ardhan baru saja kembali dari misi mereka.


"Kami sudah pulang, Pih" ujar Ardhan yang langsung duduk disalah satu kursi dekat Radit.


"Kalian sudah kembali? Bagaimana permainannya? Apakah menyenangkan?". Radit bertanya dengan sikap yang tenang.


"Tidak terlalu seru, Pih. Hanya kakak saja yang bermain". Ardhan menanggapi dengan sikap yang malas sambil bersandar pada sofa.


"Kamu tidak bermain?" tanya Radit yang penasaran.


"Tidak. Sama sekali tidak menyenangkan".


"Benar, Pih. Mereka tidak menggunakan strategi untuk menangkap para pelaku. Mereka malah melakukan penyergapan hingga terjadi baku tembak. Aku tidak mungkin membiarkan Ardhan turun tangan". Lathan menanggapi sang ayah dengan sikap acuh tak acuh.


"Benarkah? Apa kamu terluka?" tanya Radit karena khawatir.


"Tidak. Mereka bahkan tidak sadar kalau aku yang menembak. Aku menembak dari dalam mobil".


"Bagaimana bisa kalian ikut campur dengan urusan kami?". Radit dan kedua putranya langsung menoleh mendengar suara seseorang yang datang mendekati mereka.


"Sejak kapan anda bisa datang dan pergi kerumah ini sesuka hati?". Ardhan bicara dengan sikap yang sinis.


"Saya hanya ingin memastikan bagaimana kalian bisa ikut campur dengan urusan kami?" Tofan bicara dengan sikap yang tenang untuk memastikan alasan Radit mengirim kedua anaknya.


"Aku hanya ingin meminta anak-anakku bermain saja. Tapi sepertinya permainannya tidak menyenangkan untuk kedua anakku". Radit bicara dengan sikap acuh tak acuh disertai senyum tipis dibibirnya.


"Bagaimana bisa kamu meminta anakmu melakukan hal bahaya seperti itu?". Tofan bicara dengan sikap yang dingin pada Radit.


"Hanya ingin menunjukkan pada kalian kalau anakku jauh lebih baik jika dibandingkan dengan kalian" Radit bicara dengan seringai tipis dibibirnya.


"Kamu benar. Apa aku harus mengirimkan anak buahku kemari untuk kamu latih seperti anakmu?" Tofan bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis.


"Tidak. Terimakasih. Aku tidak memberikan pelatihan khusus untuk orang luar. Lebih baik kamu latih mereka dengan tenaga ahli"

__ADS_1


__ADS_2