
Leo, Vio dan Andra tiba dirumah sakit setelah menempuh perjalan dari kediaman Leo. Bau alkohol dan obat langsung menyeruak ketika
mereka menginjakkan kaki didalam rumah sakit. Leo berjalan menuju meja informasi ketika dia tiba.
“Permisi, dimana pasien korban kecelakaan lalu lintas tadi dirawat? Mereka ayah dan anak”.
Leo bertanya dengan sikap yang tenang pada suster yang bertugas di meja informasi.
“Oh mereka ada diruang VIP nomor 3”.
Suster menjawab dengan sikap yang sopan dan senyum yang ramah.
“Terimakasih. Ayo kita kesana”.
Leo beralih pada Vio dan Andra yang berdiri dibelakangnya setelah bertanya pada suster.
“Bukankah itu bu Vio dan pak Leo? Apa yang mereka lakukan disini?”
“Benar itu mereka. Kudengar bu Vio sudah lama sakit, tapi itu tidak terlihat seperti yang dirumorkan selama ini”
“Benar. Bu Vio terlihat baik-baik saja. Mungkin rumor itu bohong. Bisa saja dia tidak menunjukkan diri selama ini karena kesedihan atas kehilangan putrinya”
“Ya, itu bisa saja terjadi”
Seperti biasanya, kemunculan anggota keluarga Kusuma selalu jadi perbincangan dimanapun mereka berada. Bahkan saat Vio yang tidak terlalu terkenal dan sudah lama tidak muncul didepan publik pun tetap saja dikenali ketika dia muncul.
“Ruangannya disebelah sini” tunjuk Leo setelah melihat ruangan yang dimaksud suster.
Mereka pun mempercepat langkah mereka munuju kamar itu. Andra langsung membuka pintu ketika mereka tiba.
Ceklek
“Kak Radit!”.
Andra langsung berlari kedalam begitu melihat Radit terbaring diranjang rumah sakit dengan dengan selang infus ditangannya dan
perban dikepala juga tangannya.
“Bagaimana ini bisa terjadi …? Kak Radit, bangun … hiks hiks hiks… kamu tidak boleh meninggalkanku. Aku tidak bisa hidup tanpamu… hu … u… u …”.
Andra menangis tersedu-sedu sambil memeluk Radit setelah dia memperhatikan kondisi sang suami dari ujung kepala sampai ujung kakinya.
“Sayang, sampai kapan kamu akan memelukku sambil menangis seperti itu? Aku masih hidup. Air matamu membuat bajuku basah dan lagi … kamu cukup berat, sayang”.
Radit menanggapi tangisan Andra dengan candaan meskipun dengan mata yang masih terpejam.
Andra langsung bangun dan menatap Radit dengan tatapan tak percaya. Perlahan Radit membuka matanya dan menatap Andra dengan senyum dibibirnya.
“Kakak, kamu sudah sadar? Tunggu. Apa kamu mempermainkanku?”.
Andra bertanya pada Radit dengan dahi mengernyit dan bibir mengerucut.
“Aku hanya tidur . Tapi air matamu membangunkanku. Seharusnya kamu menciumku agar aku tampak seperti pangeran yang tertidur dan terbangun setelah mendapat ciuman dari sang putri”.
Radit terus saja menggoda Andra yang masih mengerucutkan bibir karena kesal padanya.
“Berhenti menggodanya. Kamu tidak tahu betapa khawatirnya dia?”.
__ADS_1
Senyum Radit langsung menghilang begitu mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya. Diapun menoleh pada sumber suara yang berasal dari belakang Andra. Radit terpana melihat Vio yang berdiri disana.
“Ma-mama. Apakah benar ini Mama?”.
Radit bertanya dengan tatapan tak percaya saat dia melihat Vio.
“Tentu saja. Kamu pikir siapa yang bicara, hah?”.
Vio menanggapi dengan senyum yang ceria sambil berjalan mendekati tempat tidur Radit.
Perlahan air mata Radit megalir. Dia tidak percaya kalau dia bisa melihat Vio yang tersenyum lembut lagi padanya.
“Kenapa kamu menangis? Sejak kapan Radit yang selalu serius dan dingin berubah menjadi Radit yang sangat cengeng? Kamu tidak senang Mama berdiri dihadapanmu
seperti sekarang ini?”.
Vio mengejek Radit yang menangis sambil tersenyum menggodanya.
“Mana mungkin aku tidak senang? Justru aku sangat senang melihat kesembuhan Mama sampai air mataku tiba-tiba mengalir deras seperti ini”.
Radit bicara dengan sikap acuh tak acuh sambil mengusap air matanya.
“Benarkah? Aku tidak tahu jika putraku ini berhati lembut seperti kapas”.
Vio terus saja menggoda Radit dengan senyum mencibir.
Sesaat mereka terfokus pada Radit, hingga akhirnya Andra menyadari kalau Lathan sedang duduk di tempat tidur satunya sambil
memperhatikan.
“Lathan, apa kamu baik-baik saja, sayang? Bagian mana yang terluka? Mana yang sakit?” .
“Mami, aku baik-baik saja. Hanya sedikit luka ditanganku dan
juga dahiku”.
Lathan menjawab dengan sedikit senyum dibibirnya.
“Aah … kasihan sitampannya Mami”.
Andra langsung menarik Lathan dalam pelukannya setelah dia memeriksa tubuh Lathan.
“Apa dia anak kalian?”.
Vio bertanya pada Radit setelah dia melihat kedekatan Andra dan Lathan. Sesekali dia juga menatap Lathan dengan senyum yang lembut.
Radit menoleh pada Lathan yang kini menatap kearahnya.
“Dia … putra kak Lea dan kak Galen”.
Radit menjawab pertanyaan Vio dengan ragu-ragu karena dia takut akan kondisi Vio yang bisa saja kembali memburuk.
“Lea? Benarkah?”.
Vio terlihat tidak percaya lalu kemudian dia berjalan mendekati Lathan dengan air mata yang mulai menetes dipipinya.
“Kamu … putranya Lea?”.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Vio mengalir deras ketika dia berdiri dihadapan Lathan. Diapun menarik Lathan kepelukannya.
“Kamu sudah besar. Maafkan nenek karena tidak bisa merawatmu sejak kecil”
“Nenek”.
Air mata Lathan pun tanpa sadar mengair dari kedua pipinya saat dia dalam pelukan Vio.
“Sini nenek lihat. Wajahmu sangat mirip dengan ayahmu. Kenapa kamu tidak mirip dengan ibumu? Hanya mata dan bibir saja yang mirip dengannya”.
Vio memeluk Lathan dengan erat disertai derai air mata dipipinya, lalu dia melerai pelukannya untik melihat wajah Lathan dengan kedua tangan diletakkan
dipipi Lathan.
Vio juga bicara sambil tersenyum saat memperhatikan wajah Lathan meski masih ada sisa air mata juga dipipinya.
Suasana kamar Radit yang sebelumnya terasa canggung dan tegang, kini berubah haru setelah melihat sikap Vio pada Lathan.
“Tapi tunggu. Kenapa kamu memanggil mereka mami dan papi?”.
Vio baru sadar akan panggilan Lathan dan bertanya dengan wajah heran sambil menatap Radit dan Andra secara bergantian.
“Itu karena Radit merawat Lathan sejak dia bayi”.
Setelah melihat Radit dan Andra yang sedang bingung, akhirnya Leo menjawab pertanyaan
Vio
“Benarkah? Kamu tidak terlihat seperti bisa membesarkan anak kecil seorang diri?”.
Vio kembali meremehkan Radit dengan senyum mencibir
“Mama tidak bisa merehkanku. Buktinya aku mampu membesarkan Lathan seorang diri selama ini. Ya meskipun pada awalnya aku memerlukan seorang suster untuk membantuku belajar semua hal tentang bayi”.
Radit menanggapi Vio dengan senyum penuh percaya diri
“Mama tidak percaya. Kamu pasti dibantu Andra juga kan?”.
Kini Vio menatap curiga pada Andra
“Tidak. Tidak. Aku belum lama menikah dengan kak Radit, jadi aku tidak membantu membesarkan Lathan sejak kecil”.
Andra dengan cepat langsung menggerakkan tangan dan juga menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
“Benarkah? Tapi jika memang begitu … kenapa kamu mau jadi istri seorang pria yang sudah punya seorag anak?”.
Vio kembali bertanya dengan tatapan heran
“Daripada jadi istri ketiga pria tua bangka yang sudah bau tanah, lebih baik aku menikah dengan pemuda tampan yang mengaku duda dengan 1 orang anak bersamanya”. gumam Andra dengan sikap acuh tak acuh
“Apa?” Vio tidak mendengar jelas apa yang dikatakan Andra jadi dia bertanya untuk memastikan
“Tidak, Mah. Bukan apa-apa” ujar Andra sambil menggelengkan kepala dengan cepat
Tok tok tok
Keakraban keluarga itu terganggu dengan suara ketukan pintu. Semua orang menoleh kearah pintu secara bersamaan. Tanpa basa-basi Andra langsung berjalan kearah pintu untuk membukanya.
__ADS_1
“Maaf? Cari siapa?” tanya Andra ketika seorang wanita berdiri dibalik pintu dengan seorang anak kecil bersamanya.