
Lathan membawa Zara kesebuah bukit tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dia membiarkan Zara menangis sepuasnya untuk menenangkan hatinya.
"Apa kamu sudah lebih baik, Sayang?" Lathan bertanya pada Zara sambil menyodorkan sebotol air mineral padanya.
"Ya, aku sudah lebih tenang. Terimakasih. Bagaimana kamu tahu kalau aku pulang kemari? Aku tidak sempat memberitahumu saat anak buah papaku datang menjemputku". Zara bicara dengan suara yang masih sedikit serak dan mata yang sembap karena terlalu lama menangis.
"Aku khawatir padamu, karena itu tak lama setelah kembali kekamar kita masing-masing aku kembali kekamarmu untuk memastikan keadaanmu. Tapi aku tidak mendapatkan jawaban ketika aku sudah mengetuk pintu berkali-kali, jadi aku minta ke petugas hotel untuk membuka hotelmu dengan kunci cadangan. Saat itu aku tahu kalau kamu tidak ada dikamar. Aku dan Fandy melihat di kamera CCTV kalau kamu pergi dengan beberapa pria berseragam. Jika kamu diculik, tidak mungkin kamu jalan dengan santai. Jadi dari situlah kami tahu kalau kamu ada dirumah orang tuamu" Lathan menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum yang ramah. Dia juga sesekali menghapus jejak air mata yang masih tersisa dipipi Zara.
"Apa yang membuatmu sampai menangis seperti ini? Apa kamu bertengkar dengan ayahmu?" tanya Lathan lagi yang ingin tahu mengenai apa yang terjadi pada kekasihnya.
"Aku … mengatakan semua yang ingin aku katakan pada Papa. Entah bagaimana tanggapannya padaku. Yang jelas, aku sudah mengatakan semuanya" Zara menjelaskan denyan kepala tertunduk.
"Benarkah? Kerja bagus. Kuharap kamu sudah tidak memiliki beban apapun lagi dihatimu" ujar Lathan sambil mengusap lembut kepala Zara.
"Apa menurutmu papa akan semakin narah padaku? Tadi aku bersikap kurang ajar padanya. Bagaimana jika papa semakin membenciki?". Zara bertanya pada Lathan dengan raut wajah sedih.
Lathan menarik lembut Zara kepelukannya untuk menenangkan sang kekasih.
"Aku yakin papamu tidak akan marah. Dia pasti sangat sayang padamu. Hanya saja mungkin ada sesuatu yang membebani pikirannya" ujar Lathan dengan nada bicara yang lembut.
"Jika mereka menyayangiku … tidak mungkin mereka mengabaikanku selama bertahun-tahun ini. Jika saja tidak ada bibi pengasuh yang merawatku dan menyayangiku, aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan dirumah itu, jadi setelah bibi pengasuh meninggal dunia, aku memutuskan pindah kerumah Fandy". Air mata Zara kembali mengalir saat dia bercerita pada Lathan.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Ada bagusnya juga kamu pindah kerumah Fandy, jadi kita bisa bertemu. Sekarang ada ku yang akan menyayangimu sepenuhnya". Zara mengangguk perlahan dalan pelukan Lathan.
"Bagaimana kalau sekarang kita pulang?"
"Aku tidak mau pulang. Aku tidak ingin bertemu dengan papa" Zara mendongakkan kepalanya lalu menatap Lathan sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Tapi aku harus bertemu dengan papamu. Terlebih lagi karena gosip yang beredar itu. Aku tidak ingin papamu berpikiran negatif tentangku".
Zara terdiam sesaat mempertimbangkan ucapan Lathan.
"Baiklah, tapi kamu harus selalu bersama denganku. Aku tidak mau menemui papa sendirian".Zara terdengar manja saat dia meminta Lathan selalu menemaninya.
"Baiklah. Aku akan terus menemanimu. Kamu tidak perlu khawatir".
Zara pun mengangguk setuju dan beranjak pergi bersama Lathan.
...****************...
Beberapa saat kemudian, Lathan dan Zara tiba dirumah pak Zein. Mereka langsung masuk sambil bergandengan tangan. Zara terlihat ragu-ragu ketika masuk kedalam rumah namun Lathan menguatkannya.
"Kenapa?" tanya Lathan penasaran.
"Aku takut". Zara menjawab dengan ragu.
"Zara! Sayang!".
Zara tersentak ketika mendengar suara sang ayah yang tengah duduk disalah satu sofa. Pak Zein beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan langkah kaki yang cepat mendekati Zara.
Zara menoleh pada Lathan ketika sang ayah berjalan kearahnya.
"Tidak papa" ujar Lathan dengan senyum lembut.
"Maafkan Papa. Papa telah berdosa padamu. Papa benar-benar minta maaf. Papa tahu dengan maaf saja tidak akan bisa menghilangkan luka yang ada dihatimu, tapi Papa mohon … berikan Papa kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan Papa padamu". Pak Zein bicara pada Zara sambil memegang tangannya, dia menundukkan kepala dengan air mata yang mulai mengalir dari kedua pipinya.
__ADS_1
Zara menatap sang ayah yang berdiri didepannya dengan derai air mata yang juga mengalir deras.
"Papa, aku tidak pernah membenci Papa. Papa tidak perlu minta maaf padaku. Papa tidak perlu sampai memohon padaku seperti ini". Zara bicara sambil berderai air mata.
"Terimakasih, Sayang. Terimakasih karena kamu mau memberikan Papa kesempatan untuk memperbaiki kesalahan Papa selama ini". Pak Zein langsung menarik Zara kepelukannya dan mendekapnya dengan erat.
"Iya, Pah. Aku senang sekali. Aku sayang Papa hiks … hiks … hiks" ujar Zara sambil mendekap erat sang ayah.
"Papa juga sangat menyayangimu". Pak Zein pun terus memeluk Zara sambil terus mencium pucuk kepalanya.
Lathan dan Fandy yang berada disana hanya bisa menatap ayah dan anak itu dengan senyum haru diwajah mereka.
"Sayang, sebentar lagi kamu akan lulus sekolah. Apa kamu bisa pindah lagi kemari dan berada disamping Papa dan mama?". Pak Zein melerai pelukannya dan bertanya sambil menatap mata Zara dengan penuh kasih sayang.
"Tapi, Pah …". Zara terlihat ragu lalu dia menatap Lathan seakan bertanya padanya.
"Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Jika memang kamu ingin melanjutkan kuliah disini, maka aku tidak akan melarang. Aku bisa berkunjung kesini saat liburan atau mungkin … aku bisa meminta izin pada orang tuaku untuk melanjutkan kuliah disini juga" Lathan bicara dengan lembut pada Zara.
"Ya sudah, kamu pikirkan dulu saja. Ngomong-ngomong … kamu belum mengenalkan pemuda ini pada Papa".
"Baiklah. Pah, ini Lathan. Dia sahabat Fandy dan juga pacarku". Zara memperkenalkan Lathan dengan malu-malu pada sang ayah.
"Halo, Om. Senang bisa berkenalan dengan Om" ujar Lathan sambil mengulurkan tangan pada pak Zein
"Halo, jika bukan karena kamu yang menjadi bahan gosip media sosial, maka saya tidak akan tahu kalau Zara berada disini. Saya Zein, Papanya Zara. Ayolah kita duduk dulu, tapi ini sudah sangat larut. Sebaiknya kita istirahat dulu dan besok kita berbincang lagi. Kalian besok pindah saja kemari. Tidak perlu menginap lagi dihotel" Pak Zein bicara dengan sikap tenang disertai senyum tipis dibibirnya.
"Iya, Pah" Zara menanggapi dengan senyum lembut dan berjalan menuju kamarnya. Lathan dan Fandy akan tidir dikamar tamu.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka, selama bertahun-tahun ini sikap dingin om Zein pada Zara ternyata hanyalah kesalah pahaman saja" ujar Fandy yang bicara pada Lathan sambil berjalan menuju kamar yang akan mereka tempati.
"Ya sangat disayangkan, kesalah pahaman itu justru menjadi luka yang dalam untuk Zara" Lathan menanggapi Fandy dengan mata yang terus menatap Zara yang digandeng sang ayah menuju kamarnya.