Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kagaduhan Dikantin Sekolah Lathan


__ADS_3

Fandy dan Lathan sedang berbincang dikelas setelah Lathan selesai dengan perusahaan ayah Bobi.


"Mau kemana?" tanya Fandy yang melihat Lathan beranjak dari tempat duduknya.


"Kantin". Lathan menjawab dengan singkat dan dingin.


Fandy merasa heran dan memicingkan mata karena Lathan tidak pernah kekantin saat jam istirahat. Dia tidak terlalu suka dikerumuni oleh gadis-gadis.


"Kantin? Mau apa?" tanya Fandy heran.


"Makan. Memangnya kamu pikir kantin itu tempat apa?" Lathan menanggapi dengan sikap yang dingin.


"Aku tahu itu tempat makan, tapi biasanya kamu tidak akan kekantin saat jam istirahat karena disana pasti sangat ramai" Fandy pun menjawab dengan sikap acuh tak acuh.


"Aku lapar. Mau ikut atau tidak?" ujar Lathan yang tetap bersikap tenang.


"Baiklah". Fandy pun akhirnya mengikuti Lathan kekantin.


...****************...


Zara sedang makan siang dikantin bersama beberapa teman sekelasnya. Mereka makan sambil berbincang dan ceria.


"Apa kamu ingat kejadian tadi pagi? Aku benar-benar terkejut saat pak guru tiba-tiba menegur kita karena membuat keributan"


"Benar. Aku juga sangat terkejut sampai jantungku rasanya seperti mau melompat keluar. Untung saja Zara segera membuat alasan jadi kita tidak kena marah"


"Kalau saja tadi Zara tidak datang tepat waktu, pasti kita akan dihukum"


"Kalian ini apaan sih? Aku hanya kebetulan saja datang saat kalian sedang ditegur pak guru. Memangnya apa yang kalian ributkan tadi?".


Zara yang sejak tadi diam terlihat penasaran dengan apa yang tadi ditaburkan oleh teman-temannya.


"Tadi kami membicarakan Lathan dan juga saudaramu itu. Bukannya mereka sangat keren? Apalagi saat Lathan baru tiba disekolah. Rasanya terlihat segar dipagi hari".

__ADS_1


Teman Zara bicara dengan antusias dan yang lainnya juga mendengarkan dengan semangat sambil menyetujui ucapan temannya itu. Lain halnya dengan Zara yang malah mengernyitkan dahi dengan wajah malas.


"Apanya yang keren dari orang sombong itu? Kalian tidak akan tahan jika benar-benar kenal dekat dengan dia. Dia itu sangat menyebalkan! Orangnya suka seenaknya, dia selalu tertawa diatas penderitaan orang lain, dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan yang lebih parah lagi dia tidak akan ragu untuk menghancurkan kehidupan orang lain".


Zara mengatakan semua tentang Lathan dengan penuh emosi, teman-temannya justru sangat bingung dengan apa yang diceritakan Zara.


"Zara, bukannya kamu sudah tahu siapa Lathan? Kenapa kamu berkata seperti itu tentang dia?"


"Apa maksudnya?". Kini Zara yang merasa bingung dengan ekspresi teman-temannya. Kenapa mereka malah biasa saja setelah mendengar semua tentang Lathan.


"Lathan itu kan merupakan bagian dari keluarga Kusuma, tidak heran jika dia bersikap seperti itu. Semua orang dinegara ini bahkan sepertinya seluruh dunia sudah tahu kalau keluarga Kusuma adalah keluarga yang tak bisa disinggung. Jadi itu bukan lagi sesuatu yang aneh" salah satu teman Zara menjelaskan dengan tenang pada Zara tentang keluarga Lathan.


Zara semakin bingung dengan reaksi temannya yang biasa saja dan terkesan seperti mendukung Lathan.


"Apa?! Bagaimana itu jadi biasa saja? Halo … dia itu menghancurkan perusahaan sungguhan bukan perusahaan mainan anak-anak. Kalau Kusuma aku sudah tahu dan sedikit mengerti tentang mereka karena aku pernah mendengarnya saat diluar negeri, tapi kan Lathan itu bukan keluarga Kusuma. Bagaimana dia bisa bersikap sombong?"


"Sut.. Sut.. "


Teman-teman Zara tidak bisa melanjutkan perdebatan mereka. Mereka berusaha memperingatkan Zara agar berhenti bicara dan menoleh kebelakang karena ada seseorang yang sedang berjalan kearah Zara, namun mereka hanya menggunakan isyarat dengan menggerakkan mata dan kepala mereka.


Zara yang tidak mengerti dengan isyarat dari teman-temannya, merasa bingung dan bertanya dengan kedua bahu yang diangkat serta kepala yang digelengkan berkali-kali secara bersamaan.


"Aku ini adalah cucu dari Violeta Indriani Putri Kusuma. Meskipun nama belakangku Nugraha, tapi aku tetap bagian dari keluarga Kusuma".


Zara sangat terkejut dan langsung menoleh ketika mendengar seseorang berbisik ditelinganya.


"Ka-kamu menguping kami ya?!". Zara langsung berdiri dan bertanya pada Lathan dengan sedikit berteriak. Dari wajahnya terlihat kalau Zara sedikit gugup dan canggung saat melihat Lathan.


"Bagaimana bisa dibilang menguping kalau kalian sendiri yang bicara dengan keras seperti itu?" ujar Lathan dengan sikap yang tenang dan senyum lembut dibibirnya. Dia berdiri dibelakang Zara dengan sebelah tangannya berada dipundak Zara dan tubuh yang sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Zara.


"Waah senyumnya manis sekali"


"Dia semakin tampan kalau tersenyum seperti itu"

__ADS_1


"Rasanya aku beruntung sekali datang kekantin siang ini"


Zara menoleh kesana kemari mendengar bisikan dari gadis yang saling berbisik dengan temannya membicarakan Lathan.


"Bagaimana bisa kamu datang diam-diam dan langsung muncul dibelakangku begitu saja?! Apa kamu sudah terbiasa berjalan tanpa suara seperti hantu begitu?!" tanya Zara dengan sikap sinis namun canggung.


Lathan kembali tersenyum melihat reaksi Zara.


"Ini bukan kebiasaan. Hanya saja aku ingin memberikan sedikit kejutan untuk pacar baruku yang cantik ini. Aku yakin pasti kamu menungguku untuk makan siang bersama kan?"


"Apa?! Pacar?!"


"Apa?! Pacar?!"


Teman-teman Zara berteriak karena terkejut mendengar ucapan Lathan. Bahkan mereka sampai bicara secara bersamaan karena terkejut.


Zara yang tak kalah terkejutnya karena ucapan Lathan langsung menoleh pada teman-temannya dan juga para siswa yang berada disekitarnya dengan ragu untuk melihat ekspresi mereka.


"Mampus! Rasanya aku seperti diterkam batu besar dikepalaku mendengar ucapannya yang berani. Sekarang aku harus siap-siap menerima tatapan dari para gadis disekolah ini yang siap menelanku hidup-hidup kapan saja" pikir Zara sambil menoleh kesana kemari.


"Apa lagi yang ingin kamu tahu tentangku?".


Lathan bertanya dengan senyum yang lembut dibibirnya. Dia langsung duduk disebelah Zara dengan sikap tenang meskipun semua orang terlihat masih sangat terkejut dengan ucapannya.


"Kenapa kamu duduk disini? Sebaiknya kamu duduk dikursi lain saja. Masih banyak kursi yang kosong disana!" ujar Zara dengan sikap sinis.


"Apa salahnya jika aku ingin duduk disamping pacarku sendiri? Kalian tidak keberatan kan jika aku bergabung disini?".


Zara mengerucutkan bibir melihat sikap Lathan yang tenang saat bicara, bahkan dia tersenyum dengan santainya saat bertanya pada teman-temannya.


"Ti-tidak. Mana mungkin kami keberatan. Jika kamu mau, kami bisa pindah ke kursi lain" ujar salah satu teman Zara menanggapi Lathan dengan canggung dan temanya yang lain hanya mengangguk dengan senyum canggung menyetujui apa kata temannya itu.


"Tidak perlu. Kita bisa makan bersama disini. Fan, kita makan disini saja" ujar Lathan dengan sikap tenang, lalu menoleh dan memanggil Fandy yang berjalan dibelakangnya.

__ADS_1


Zara memelototi Fandy yang bersikap biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa dan ikut duduk disebelah Lathan.


"Haah... Ini gila. Aku harus menyiapkan obat pencernaan setelah makan siang ini berakhir" pikir Zara yang bersikap pasrah dan kembali duduk disamping Lathan dengan malas


__ADS_2