Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kunjungan Andra Ke Sekolah Lathan


__ADS_3

Radit akhirnya mengizinkan Andra untuk ikut ke sekolah Lathan. Dia terus saja terlihat khawatir selama perjalanan mereka. Sesekali dia menatap wajah Andra dengan raut wajah khawatir.


"Kenapa Kak Radit melihatku terus sejak tadi? Apa ada yang salah dengan penampilanku?".


Andra bertanya sambil memperhatikan penampilannya sendiri.


"Tidak ada yang salah. Tapi apa kamu yakin ingin tetap pergi ke sekolah Lathan? Kamu akan bosan saat dia masuk kelas"


"Papi benar, Mih. Mami tidak ada yang menemani saat aku belajar dikelas. Lebih baik Mami jalan-jalan ke mall saja".


Lathan menyela pembicaraan Radit untuk ikut menahan Andra agar tidak pergi ke sekolahnya.


"Lathan benar. Lebih baik kamu pergi ke mall. Kan aku sudah buatkan kartu kredit unlimited untukmu. Kenapa kamu tidak mencoba menggunakan itu? Kamu bisa beli appa saja yang kamu mau. Kamu bisa menggunakan kartu itu sepuasnya" ujar Radit yang berusaha membujuk Andra agar tidak pergi ke sekolah Lathan.


Andra menatap Radit dan Lathan dengan tatapan sinis dan dahi berkerut.


"Sebenarnya ada apa dengan kalian berdua? Sepertinya kalian tidak suka jika aku pergi ke sekolah Lathan" ujar Andra dengan tatapan curiga.


Radit dan Lathan kembali saling menatap satu sama lain.


"Tidak, tidak, tidak mungkin kami seperti itu. Masa aku tidak suka kamu temani Lathan sekolah"


"Iya, aku senang ko kalau Mami datang ke sekolahku"


Radit dan Lathan langsung membantah ucapan Andra dengan senyum canggung diwajah mereka.


Ada yang aneh dengan mereka berdua. Sepertinya mereka menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa?


Andra memicingkan mata penuh curiga saat menatap Lathan dan Radit, namun dia tidak mengatakan apapun lagi selama perjalanan.


Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba di sekolah Lathan. Supir Radit menurunkan Andra dan Lathan disekolah.


"Kamu yakin akan menemani Lathan di sekolahnya?" Radit yang masih berada didalam mobil memastikan keputusan Andra dengan raut wajah khawatir.


"Aku yakin. Sebaiknya Kakak cepat pergi ke kantor sebelum nanti terlambat".


Andra bicara dengan lembut disertai senyum dibibirnya.


"Haaah … Baiklah kalau begitu. Kamu hati-hati ya, jika terjadi sesuatu, langsung saja kabari aku". Pesan Radit pada Andra sebelum dia turun dari mobil.


"Iya, aku akan berhati-hati" jawab Andra dengan lembut.


"Lathan, jaga mamimu. Jangan sampai terjadi hal yang buruk padanya. Jika kamu tidak bisa menanganinya, maka hubungi Papi secepatnya".


Radit pun berpesan hal yang sama pada Lathan.

__ADS_1


"Baik, Pih".


Kak Radit, bisa-bisanya kamu menitipkan aku pada anakmu yang tampan dan masih kecil itu?


Andra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat percakapan Radit dan Lathan. Dia tidak menganggap serius pesan Radit pada putranya itu.


"Sampai jumpa, Kak Radit" ujar Andra sambil melambaikan tangan menjauh dari Radit.


"Semoga tidak terjadi apa-apa" gumam Radit sambil menatap Andra dan Lathan yang berjalan semakin menjauh darinya.


...****************...


Lathan dan Andra berjalan berdampingan menuju kelas Lathan dengan sebelah tangan mereka saling berpegangan.


Hadooh, bagaimana ini? Kenapa semua orang menatap kearah kami dengan tatapan seperti itu? Bagaimana jika Mami curiga?


Batin Lathan terus saja gelisah. Dia tidak sadar kalau wajahnya terlihat kaku dan tegang.


Semua orang menatap kearah Lathan dan juga Andra. Mereka memperhatikan ekspresi wajah Lathan yang terlihat canggung.


"Lihatlah Lathan, apa mungkin yang dibicarakan bu Jane dan bu Vina itu benar, kalau Lathan adalah korban kekerasan ibu tirinya?"


"Iya, dia terlihat canggung dan tegang. Mungkin karena ibu tirinya memaksa dia untuk bersikap baik?"


"Bisa jadi dia ikut ke sekolah hanya untuk menunjukkan pada semua orang kalau dia ibu yang baik. Padahal dari ekspresi wajah Lathan aja terlihat jelas kalau dia sangat tidak nyaman datang bersama ibu tirinya"


"Hssst. jangan berisik. Takutnya nanti dia dengar dan Lathan yang akan jadi sasaran kemarahannya lagi"


Salah satu orang tua murid mengingatkan rekannya yang lain dan dibalas anggukan kepala oleh mereka.


Andra pun merasa heran dengan tatapan semua orang padanya. Dia menoleh kesana kemari memperhatikan setiap orang.


"Lathan, apa kamu tahu apa yang terjadi? Kenapa semua orang menatap kearah kita ya? Apa ada yang aneh dengan Mami?" tanya Andra dengan raut wajah bingung.


"Masa Mih? Tidak ada. Mami tetap cantik kok. Mungkin itu hanya perasaan Mami saja".


Lathan berusaha meyakinkan Andra agar dia tidak curiga.


"Tidak mungkin. Mami yakin kalau sejak tadi, mereka itu memperhatikan kita" ujar Andra lagi yang masih menoleh kesana kemari.


"Tidak usah hiraukan mereka. Mami, aku akan kelas, sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Mami tunggu aku dikantin aja" ujar Lathan sebelum dia masuk ke kelas.


"Iya, kamu tidak perlu khawatir. Belajar yang rajin ya".


"Baik, Mami"

__ADS_1


Andra bicara dengan lembut disertai senyum manis dibibirnya. Dia juga mengusap kepala Lathan dengan lembut, namun semua orang tidak berpikir begitu. Mereka mengira kalau Andra hanya berakting dihadapan semua orang untuk memperbaiki citranya saja.


Andrapun mengabaikan mereka dan berjalan menuju kantin seperti yang dikatakan Lathan.


"Ah aku kesal dengan ibu itu. Kita tidak bisa membiarkan dia seenaknya saja. Dia harus diberi pelajaran agar tidak lagi melakukan kekerasan pada anak kecil"


"Anda benar. Sebaiknya kita ikuti saja dia"


Akhirnya para wali murid yang emosi mengukuti Andra ke kantin. Mereka pergi berbondong-bondong.


Setelah dikantin, mereka melihat Andra sedang duduk sendiri dengan segelas jus dan ponsel ditangannya.


"Permisi"


Andra mengangkat kepala setelah mendengar suara seseorang.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Andra dengan sikap yang tenang.


"Kami ingin memperingatkan ibu"


Dahi Andra berkerut hingga kedua alisnya hampir menyatu mendengar ucapan ibu itu


"Memperingatkan saya? Perihal apa ya? Sepertinya saya tidak punya masalah dengan ibu-ibu semua".


Andra menanggapinya dengan sikap tenang dan senyum yang tipis.


"Kami harap ibu tidak lagi melakukan tindak kekerasan pada anak ibu. Kami tahu kalau ibu mempunyai kekuasaan setelah menikah dengan pak Radit. Tapi bukan berarti ibu bisa bersikap seenaknya pada anaknya"


"Apa?!".


Andra semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan mereka. Diapun menanggapi orang tua murid itu dengan senyum mencibir.


"Omong kosong apa yang kalian bicarakan?" ujar Andra dengan seringai tipis dibibirnya.


"Kami tidak bicara omong kosong. Anda memang melakukan kekerasan pada Lathan, kan? Tidak perlu mengelak. Kami sudah tahu semuanya" ujar salah satu wali murid dengan ekspresi wajah kesal.


"Huh! Menyebalkan! Bisa-bisanya kalian bicara tidak jelas seperti itu. Saya bisa menuntut kalian semua atas kasus pencemaran nama baik"


Andra mendengus kesal sambil menunjuk ke arah para wali murid didepannya.


"Kami tidak takut. Kami juga bisa melaporkan anda karena tindak kekerasan pada anak dibawah umur"


"Apa kalian punya bukti? Tunjukkan padaku sekarang juga!".


Andra tidak lagi bersikap sopan dan ramah. Dia bicara dengan sikap yang dingin dan penuh wibawa.

__ADS_1


"Kami memang tidak punya bukti, tapi kami punya saksi yang bisa membenarkan semua ucapan kami"


"Kalau begitu, bawa saksi itu sekarang juga"


__ADS_2