Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Andra menatap sinis pada pria yang tiba-tiba menyapanya


"Bu Andra? Kebetulan sekali kita bertemu disini? Bagaimana kabar anda?" ujar Surya yang bicara sambil terus tersenyum.


"Apa benar ini suatu kebetulan? Saya hanya merasa heran bagaimana orang sibuk seperti anda bisa berada dimall saat jam kantor seperti ini? Apa anda memanfaatkan kekuasaan untuk bisa datang dan pergi seenaknya?" Andra menanggapi dengan sikap yang sinis dan acuh tak acuh.


"Kenapa Bu Andra berkata begitu? Saya merasa sedikit tersinggung. Saya ini datang kemari karena ada meeting dengan klien disini dan kebetulan sekali saya melihat anda yang sedang jalan-jalan, karena itu saya mendekati anda untuk menyapa. Tapi anda malah bmencurigai saya seperti itu" Surya bicara dengan nada yang sedikit menggoda. Dia bersikap seakan dia marah pada Andra.


"Oh, kalau begitu maafkan saya. Saya tidak terbiasa bertemu secara kebetulan dengan orang lain. Karena anda ada meeting, jadi sebaiknya saya pergi, permisi" Andra yang tidak ingin bersama dengan Surya berusaha menghindarinya dan hendak meninggalkannya, namun Surya dengan cepat menarik pergelangan tangan Andra


"Tunggu!"


"Tolong lepaskan tangan saya" Ujar Andra dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.


"Maafkan saya. Sudah lama kita tidak bertemu, bagaimana kalau kita duduk direstoran dulu sambil menikmati secangkir kopi. Lagipula klien saya juga belum datang kemari" ujar Surya yang berusaha menahan Andra agar bisa menghabiskan waktu bersama dengannya


"Tidak, terimakasih. Saya harus pergi"


Surya menatap mata Lidia yang berdiri dibelakang Andra agar membantunya


"Bu, bagaimana kalau kita duduk dulu? Lagipula ibu sudah cukup lama jalan kaki, apa ibu tidak merasa lelah? Sebentar lagi juga waktunya makan siang" Lidia dengan lembut dan sopannya membujuk Andra agar mau beristirahat dan duduk bersama dengan Surya.


Sejenak Andra terdiam memikirkan apa yang dikatakan Lidia

__ADS_1


"Baiklah, kita duduk direstoran sana saja" Andra pun setuju dan menunjuk sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia pun mengirimkan pesan pada Radit sambil berjalan menuju restoran


"Kak Radit, aku menunggumu di restoran dengan butik yang ada dilantai 2 ya" tulis Andra dalam pesannya pada Radit.


Surya dan Lidia pun saling mentap satu sama lain dengan senyum dibbir mereka karena berhasil  membujuk Andra.


"Bu Andra, apa kesibukan anda sekarang? Setelah perusahaan Satya bangkrut, anda pasti merasa sangat bosan ya karena tidak memiliki kegiatan apapun? Lagipula, bagaimana bisa pak Radit melakukan itu pada perusahaan milik keluarga anda. Harusnya dia mendukung anda agar menyelamatkan perusahaan itu" Surya terus saja menjelekkan Radit saat dia memiliki kesempatan. DIa sama sekali tidak melihat ekspresi wajah Andra yangg terlihat sangat kesal.


Andra memicingkan mata menatap Surya dengan tatapan dingin.


"Itu urusan suami saya. Saya tidak pernah melaran apapun yang dia lakukan karena saya yakin kalau dia sudah memiliki pertimbangan yang matang untuk semuanya" Andra menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


"Saya tahu itu urusan bisnis, tapi tetap saja pak Radit harusnya masih mempertimbangkan perasaan istrinya. Biar bagaimanapun perusahaan itu dibangun dengan kerja keras ayah anda" Surya masih terus berusaha membuat Andra membenci Radit.


"Saya sama sekali tidak bisa menebak alasan pak Radit menghancurkan perusahaan keluarga anda" ujar Surya sambil menggelengkah kepala.


"Dia melakukan itu karena saya yang memintanya. Saya sendiri yang menginginkan perusahaan itu hancur" Andra bicara sambil tersenyum manis seakan itu bukan masalah besar.


Surya dan Lidia menatap Andra yang sedang tersenyum dengan tatapan bingung. Mereka tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menanggapi ucapan Andra.


"Anda pasti bercanda kan, Bu Andra? Mana mungkin anda tega melakukan itu pada perusahaan yang sudah dibangun dengan kerja keras ayah anda?" tanya Surya dengan ekspresi tak percaya.


"Untuk apa saya berbohong? JIka saya tidak  menginginkan perusahaan itu bangkrut, mana mungkin kak Radit mau membiarkan perusahaan itu bangkrut? Suamiku itu adalah orang yang menjadikan keluarga sebagai prioritas utama, jadi dia akan melakukan apapun untuk keluarganya. Dan sekarang aku adalah istrinya aku bisa meminta apa saja padanya. Termasuk menghancurkan perusahaan Satya, karena setelah ayah meninggal, perusahaan itu sama sekali tidak memiliki arti apapun"

__ADS_1


Saat Andra, Lidia dan Surya sedang serius berbincang, mereka tidak menyadari kedatangan seseorang yang telah mencuri perhatian banyak orang disekitar mereka. Radit yang baru saja tiba berjalan dengan gagahnya memasuki restoran yang dikatakan Andra. Dia menoleh kesana kemari mencari keberadaan sang istri. Pandangannya terkunci pada 3 orang pengunjung yang sedang asyik berbincang. Radit pun berjalan mendekat dan tersenyum saat dia mulai mendengarkan apa yang dikatakan oleh Andra.


"Untuk apa membahas perusahaan yang sudah tidak ada? Jika memang kamu mau, aku bisa membangun perusahan baru agar kamu bisa memiliki kesibukan lain".


Surya dan Lidia terlihat sangat terkejut melihat Radit yang kini berdiri dibelakang Andra. Sedangkan Andra tersenyum dengan lembut mendengar suara sang suami yang ada dibelakangnya.


"Kamu sudah datang? Ku kira Kak Radit akan datang sedikit terlambat karena sedang sibuk". Nada bicara dan tatapan Andra seketika berubah saat dia bicara pada Radit.


Raditpun mengecup lembut pucuk kepala Andra yang saat menongakkan kepala untuk  melihatnya


"Awalnya aku ingin membawa Lathan untuk makan siang dengan kita, tapi setelah ini aku masih ada meeting, jadi aku tidak bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan kalian". Radit langsung duduk disebelah Andra setelah bicara padanya


"Ternyata kamu memiliki tamu lain yang akan makan siang dengan kita" ujar Radit sambil menatap sinis pada Surya


"Oh, kami tidak sengaja bertemu. Katanya pak Surya ada meeting dengan kliennya disini". Radit dan Andra terus bicara dengan nada yang lembut. Mereka benar-benar mengabaikan keberadaan Lidia dan Surya yang ada disana.


"Begitukah?" Radit menatap Surya dengan tatapan curiga, ada seringai tipis yang dia tunjukkan padanya


"Perkenalkan, nama saya Surya. Saya pernah menjadi rekan kerja bu Andra saat dia masih menjadi pemimpin diperusahaan Satya" Surya memperkenalkan diri sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk berjabat dengan Radit. Radit pun menyambut uluran tangan Surya dengan senyum tipis dibibirnya.


"Kalau begitu, anda pasti mendapatkan kerugian setelah perusahaan Satya tutup. Maafkan saya karena tidak mempertimbangkan perusahaan anda. Tapi mau bagaimana lagi, perusahaan itu sudah tidak layak beroperasi dan akan lebih baik jika ditutup saja sebelum merugikan banyak pihak lain" Radit menjelaskan dengan sikap dingin dan acuh tak acuh.


"Sebaiknya kita pesan makan siang sekarang saja karena ini sudah lewat waktu makan siang dan tidak baik juga jika menunda mengisi perut" ujar Radit sambil menatap mesra Andra. Mereka pun akhirnya makan siang bersama dengan Lidia dan Surya menjadi obat nyamuk yang hadir antara Radit dan Andra.

__ADS_1


__ADS_2