
“Lathan, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak ingin bermain dengan teman-temanmu? Kenapa kamu terus saja bermain dengan tablet?” tanya guru Lathan yang memperhatikan Lathan hanya bermain tablet saja sementara yang lain sedang bermain sambil menunggu orang tua mereka menjemput.
Lathan yang sebelumnya terlihat serius dengan tabletnya kini memasang wajah polos dengan senyum yang manis.
“Aku bosan bermain dengan mereka. Aku hanya ingin menghubungi mami saja, Bu Guru” Lathan menjawab dengan nada manja yang menggemaskan
“Jadi Lathan kangen sama mami ya?” tanya bu guru memastikan
“Iya. Aku tidak sabar untuk segera bertemu dengan mami dan papi” jawab Lathan lagi disertai anggukan kepala dan senyum bahagia.
“Kenapa Lathan tidak menghubungi mami saja? Kan Lathan bisa melakukan panggilan video dengan mami”
Lathan menggelengkan kepala menanggapi ucapan bu gurunya
“Mami dan papi sedang bekerja. Mereka pasti sangat sibuk. Karena aku anak yang baik, jadi aku akan dengan sabar menunggu sampai mami dan papi datang menjemputku setelah mereka selesai bekerja” jawab Lathan yang begitu pengertian.
“Anak pintar. Kalau begitu Lathan bisa main lagi. Tapi jangan terlalu lama main dengan tablet milikmu ya. Lathan juga harus bermain
dengan teman-teman yang lainnya. Bu guru harus pergi dulu, jadi Lathan harus
hati-hati ya” Gurunya Lathan bicara dengan nada yang lembut sambil mengusap kepala Lathan berkali-kali. Senyuman lembut tak pernah hilang sedikitpun dari wajahnya saat bicara dengan anak-anak didiknya.
“Baik, Bu Guru” guru Lathan langsung berbalik dan pergi setelah dia berbincang sesaat dengan Lathan.
Lathan menatap punggung gurunya yang perlahan semakin menjauh. Ekspresi wajahnya yang sebelumnya terlihat lucu dan menggemaskan, kini
terlihat serius dan dingin sambil kembali menatap layar tablet miliknya.
“Ini yang pantas untukmu. Meskipun secara tidak langsung kamu itu adalah tanteku, tapi karena kamu sudah menyakiti mami, maka kamu tidak pantas mendapatkan maaf sedikitpun” Lathan bicara sambil menatap postingan tentang Luna yang kini menjadi trending topik.
__ADS_1
***
Sementara ditepat lain, Luna yang sebelumnya berfikir kalau dia akan berhasil menjatuhkan Andra dengan postingan yang dia buat sendiri, kini merasa sangat kecewa dan marah melihat postingan baru dengan akun miliknya sendiri.
“Kita lihat bagaimana komentar tentang foto Andra. Apakah ada banyak orang yang menghujatnya?” ujar Luna dengan tawa jahatnya. Dia mulai mencari postingan Andra namun tidak muncul. Lalu Luna mencari postingan atas nama akun miliknya, namun yang keluar justru postingan tentang apa yang dia lakukan pada Andra.
“Apa ini? Bagaimana bisa seperti ini? Aaahh!!! Andra sialan!” Luna yang sebelumnya merasa bingung kini merasa marah hingga dia berteriak untuk meluapkan emosinya.
“Luna! Sayang! Apa yang terjadi?! Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?!” Asya yang mendengar teriakan sang putri langsung berlari dan mendekati kamar Luna.
Ceklek
“Mah! Lihatlah ini! Anak pungut itu sengaja ingin menghancurkanku. Bahkan dia juga menjelekkan mama dan keluarga kita” Luna
langsung keluar dari kamarnya dan mengeluh pada sang ibu.
Asya yang penasaran dengan apa yang membuat putrinya sangat marah pun langsung melihat postingan diponselnya Luna.
pemimpin diperusahaan kita dan malah memecatmu” Asya yang tidak mengerti duduk permasalahannya pun langsung
percaya dengan apa kata Luna, kalau Andra menyimpan dendam dan ingin membuat
mereka menderita.
“Ma, Mama harus melakukan sesuatu. Kita tidak bisa membiarkan Andra begitu saja. Mama harus bicara padanya dan membuat dia mengakhiri ini semua!” Luna merengek agar ibunya mau menemui Andra dan memarahinya.
“Ya, Mama harus menemuinya dan menanyakan maksud dari postingannya ini” Asya langsung berbalik pergi dan hendak menemui Andra dikantornya. Luna yang melihat kalau sang ibu sedang marah hanya menunjukkan seringai tipis dengan tatapan mencibir. Lalu dia mengikuti sang ibu untuk pergi ke perusahaan Satya yang saat ini dipimpin oleh Andra.
Luna mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Selama dalam perjalanan, dia terus memperhatikan raut wajah sang ibu yang sedang marah.
__ADS_1
“Rencanaku memang melenceng tapi tidak masalah karena saat ini mama lah yang akan turun tangan” pikir Luna dengan sedikit senyum yang tidak disadari oleh sang ibu.
Tak berselang lama, Luna dan ibunya tiba diperusahaan Satya. Mereka langsung bergegas masuk dan menemui resepsionis.
“Selamat sore, Bu” Sapa resepsionis yang memang sudah mengenal Luna dan ibunya.
“Apa Andra masih ada disini?” tanya Asya dengan nada sinis dan penuh amarah.
“Mama?” Andra yang kebetulan turun langsung memanggil sang ibu ketika dia melihatnya.
Asya langsung berbalik setelah mendengar suara Andra. Dia menatap Andra terlebih dahulu lalu berjalan mendekatinya dengan langkah kaki yang cepat.
Plak!
Asya melayangkan tamparan dipipi Andra dengan sangat keras hingga dia menoleh karena tamparan itu dan dengan cepat memegangi pipinya.
“Kenapa mama menamparku? Apa salahku?” tanya Andra sambil memegangi pipinya dengan raut wajah tak percaya.
“Kenapa katamu? Kenapa kamu melakukan ini pada kami? Kamu belum puas melihat keluarga kami hancur gara-gara kamu?!” Asya yang emosi terus berteriak pada Andra
untuk meluapkan emosinya.
“Aku tidak pernah seperti itu. Aku sama sekali tidak melakukan itu mah. Bukan aku yang membuat postingan itu” Andra berusaha membela diri dengan raut wajah yang terlihat sedih.
“Alaah bohong kamu! Tidak mungkin jika bukan kamu pelakunya. Kamu pikir ponsel ini bisa membuat postingan sendiri, hah?!”Luna dengan sengaja memanas-manasi sang ibu agar dia tidak ketahuan membuat postingan yang lebih dulu menjelekkan Andra.
"Aku tidak bohong! Mama, percayalah padaku Mah. Bukan aku yang membuat postingan itu" Andra berusaha meyakinkan sang ibu kalau dia tidak melakukannya.
"Lalu siapa yang melakukan itu? Hanya kamu yang tahu betul apa yang pernah kamu alami. Dan semua ini tertulis jelas dalam postingannya! Kamu itu seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Aku dan suamiku sudah membesarkanmu selama belasan tahun tapi kamu saka sekali tidak tahu rasa terimakasih dan malah menghancurkan keluarga kami" Asya meluapkan semua kekesalan dan kebenciannya pada Andra.
__ADS_1
Andra yang sebelumnya diam saja pun ikut terpancing dengan ucapan ibu angkatnya itu. Diapun mengepalkan tangannya disamping dengan raut wajah yang mulai kesal.
"Mama pikir siapa yang akan berterimakasih pada orang tua angkat seperti Mama? Sejak pertama kali aku menginjakan kaki dirumah Mama, apa mama pernah menerimaku? Apa mama memberikanku kasih sayang sebagai orang tua pada anak umumnya? Mama tidak pernah melakukan itu. Mama hanya memberikanku makanan sisa kalian. Jika makanan itu habis maka aku harus kelaparan sampai waktu makan berikutnya. Setelah papa meninggal, kalian bahkan memindahkan kamarku ke lantai paling atas bersama barang-barang tidak terpakai. Kalian selalu memintaku mengerjakan semua pekerjaan rumah. Bahkan saat perusahaan ini diambang kebangkrutan, kalian memintaku untuk menikah dengan pria paruh baya seumuran papa dan membiarkan dia menjadikanku istri ketiga. Apa ada orang yang akan berterimakasih setelah hidup seperti itu? Jika memang ada orang seperti itu, maka aku akan memberi hormat padanya karena aku tidak bisa seperti itu. Mama, aku ini manusia. Bahkan binatang pun bisa merasa sakit hati saat diperlakukan tidak adil" ujar Andra yang meluapkan perasaannya dengan derai air mata dipipinya.