Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Ingatan Vio Yang Berantakan


__ADS_3

"Sejak kapan Papa jadi suka mengintip? Aku tidak tahu kalau Papa punya kebiasaan seperti itu"


"Astaga!".


Leo sangat terkejut hingga dia berjingkut ketika Radit tiba-tiba berdiri dibelakangnya.


"Apa kamu tidak bisa bersuara saat tiba dekat Papa? Kamu seperti hantu yang muncul tiba-tiba".


Leo menggerutu kesal karena Radit tiba-tiba muncul dibelakangnya bersama dengan Lathan yang hanya tersenyum melihat Leo terkejut.


"Apa yang Papa lihat sampai serius begitu? Oh, papa sedang memperhatikan mama".


Radit bicara pada Leo dengan nada yang mengejek sambil ikut memperhatikan ke dalam ruangan itu. Lathan yang berada dibawah mereka hanya tersenyum sambil menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


"Ternyata ada 2 bidadari didalam sana. Pantas saja Papa yang biasa bersikap tenang bisa tersenyum sendiri seperti orang gila".


Radit bicara sambil melenggang masuk mendekati sang istri.


"Sayang, apa yang sedang kalian berdua lakukan?" tanya Radit dengan sikap yang tenang dan nada bicara yang lembut sambil berdiri disamping Andra.


"Radit? Benarkah itu kamu?".


Radit dan Leo terpaku. Mereka menatap Vio dengan tatapan tak percaya.


"Ma-Mama. Apa Mama mengingatku?" tanya Radit yang masih tak percaya.


"Kamu Radit kan? Anak Mama? Mana mungkin Mama lupa. Kamu kemana saja? Kenapa kamu meninggalkan Mama? Kamu tidak sayang pada Mama? Hiks … hiks … hiks … kalian tidak sayang pada Mama. Lea meninggalkan Mama, kamu juga meninggalkan Mama".


Vio kembali menangis ketika dia melihat Radit dan mengingat Lea.


Radit yang merasa senang sekaligus sedih melihat sang ibu yang menangis.


"Mama, aku tidak akan meninggalkan Mama. Mulai sekarang aku, istriku, dan juga anakku akan tinggal disini dengan Mama. Kami akan selalu ada disamping Mama".


Radit bicara dengan lembut pada Vio. Dia duduk disebelahnya sambil memegang lembut kedua tangan Vio.


"Benarkah? Janji?" tanya Vio sambil mengangkat sebelah jari kelingkingnya.


"Ya, janji". Radit pun melakukan hal yang sama sambil mengaitkan kelingkingnya dengan milik Vio.


Vio yang baru tersadar menoleh pada Andra dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Istri?"


"Ya, Mah. Dia istriku dan itu anakku".


Radit mengangguk setuju sambil menunjuk Andra dan juga Lathan disertai senyum dibibirnya.


Vio menatap Andra dengan bingung.


"Kita nonton film lagi?" ujarnya pada Andra dengan senyum ceria.

__ADS_1


Andra tersenyum menanggapi Vio


"Iya. Kita nonton lagi. Mama mau nonton film apa?" tanya Andra dengan lembut.


"Ehm …". Vio berpikir sambil mengetukan jari telunjuk didagunya berkali-kali.


Saat Vio sedang berpikir, dia menoleh pada Lathan dan menatapnya heran.


"Siapa itu? Tampan" tanya Vio pada Lathan.


Semua menoleh pada Lathan yang masih berada dekat dengan Leo.


Leo mengangkat Lathan dan menggendongnya mendekati Vio.


"Dia menggemaskan kan? Menurutmu … wajahnya mirip dengan siapa?" Leo bertanya dengan lembut sambil tersenyum.


Vio kembali terdiam dan memikirkan perkataan Leo.


"Mirip siapa?". Dia terus menatap Lathan dan berusaha membandingkan wajah cucu tampannya itu.


"Lea, Galen. Kenapa dia tidak mirip denganmu? Bukankah dia anakmu?".


Vio bertanya pada Radit setelah lama memperhatikan wajah Lathan.


"Ehm … dia … memang anak kak Lea dan kak Galen. Aku merawatnya sejak dia bayi".


Radit sedikit ragu-ragu saat dia menjawab pertanyaan Vio karena takut kalau Vio akan histeris. Tapi diluar dugaan, Vio diam saja dan tidak bereaksi.


"Bukankah Lea belum melahirkan? Bagaimana bisa anaknya sebesar ini? Kalian pasti salah orang?".


Bukannya mama tadi bereaksi positif dan ingat kalau kak Lea telah meninggal? Kenapa sekarang dia lupa lagi?


Batin Andra bergejolak bingung.


Sepertinya tadi reaksinya bagus? Apa dia masih bingung?


Leo pun tak mengerti dengan perkembangan istrinya


"Pah, bagaimana kalau kita pergi kerumah sakit saja? Sepertinya mama masih tidak mengerti dengan situasinya sekarang".


Radit menyarankan pada Leo setelah melihat reaksi yang ditunjukkan Vio.


"Kamu benar. Kita harus tahu keadaan ibumu sekarang. Papa tidak ingin menunda lagi".


"Ya, akan lebih baik untuk segera mengetahuinya".


Radit pun setuju dengan apa yang disarankan sang ayah. Akhirnya mereka pun bersiap untuk segera pergi kerumah sakit.


"Kami akan berada dalam satu mobil. Kalian ikuti dari mobil lain" ujar Leo pada pengawal dirumah.


"Baik, Pak".

__ADS_1


Akhirnya mereka berangkat dengan 2 mobil. Leo, Radit, Andra, Vio dan Lathan berada dalam satu mobil dengan Radit yang mengemudi dan pengawal berada di depan mereka.


Radit mengemudi dengan kecepatan sedang. Sesekali dia menoleh pada spion untuk melihat Vio yang ada dikursi belakang bersama Andra dan Lathan.


Dari kaca spion terlihat Andra yang berusaha untuk membuat Vio tetap tenang. Dia terus mengajak Vio bercerita agar tidak bosan.


Tak berselang lama mereka tiba dirumah sakit jiwa untuk bertemu dengan psikiater yang biasa menangani Vio. Karena Leo sudah menghubungi dokter sebelumnya untuk membuat janji, mereka jadi tidak perlu menunggu lama ketika tiba dirumah sakit.


"Kalian tunggu disini. Papa akan bertanya pasa asisten Dr Mona" ujar Leo pada Radit dan yang lainnya.


"Baik, Pah". Radit mengangguk setuju dengan ucapan sang ayah. Dia pun menunggu bersama Andra, Lathan dan Vio.


Radit merasa tidak nyaman dengan tatapan semua orang yang mengarah padanya. Bukan karena dia malu tapi dia takut kalau Andra belum terbiasa dengan tatapan semua orang. Diapun menoleh pada Andra yang duduk dengan Vio.


"Sayang, apa kalian tidak papa?" tanya Radit pada Andra dan Lathan dengan suara lembut.


"Kami baik-baik saja". Andra menganggukkan kepala dengan senyum dibibirnya. Lathan pun ikut tersenyum menanggapi Radit.


"Baguslah. Jika ada sesuatu yang terasa tidak nyaman, katakan pada papa"


"Iya, Kakak tenang saja. Kami tidak papa. Mama juga sepertinya tidak papa".


Andra bicara sambil menoleh pada Vio yang terlihat tenang.


"Ayo kita temui dokter. Apa kalian berdua tidak papa jika kami tinggal?".


Leo bicara pada Radit terlebih dahulu kemudian dia beralih pada Andra dan Lathan.


"Tidak papa, Pah. Kalian tidak perlu khawatir. Disini ada banyak orang dan juga ada pengawal yang bersama dengan kami" ujar Andra dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut.


"Kalau begitu kami kedalam dulu" ujar Leo sambil beranjak pergi.


"Langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu". Radit pun berpesan karena merasa khawatir.


"Iya, kalian masuklah. Semoga mama menunjukan perkembangan bagus".


"Ya, kami harap juga begitu".


Leo, Vio dan Radit pun beranjak menemui dokter untuk memeriksa perkembangan Vio.


"Cantik tidak. ikut? Kenapa ditinggal sendiri". Vio terlihat enggan meninggalkan Andra. Dia ingin Andra ikut dengannya.


"Mama, mama masuk kedalam dulu dengan papa dan kak Radit. Aku dan Lathan akan tunggu disini. Jadi kita akan bertemu lagi setelah Mama menemui dokter ya?".


Andra bicara pada Vio dengan sangat lembut agar dia mau pergi menemui dokter.


"Kamu tidak pergi? Tidak akan tinggalkan Mama?" tanya Vio dengan raut wajah sedih sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


"Tidak akan. Aku akan tunggu disini sampai Mama kembali. Jadi Mama tidak perlu khawatir, ya?"


"Ya sudah. Janji ya, tidak pergi?"

__ADS_1


"Iya, aku janji".


Vio pun akhirnya mau pergi menemui dokter meskipun sesekali dia menoleh kebelakang untuk melihat Andra.


__ADS_2