
"Apa?" Andra sangat terkejut begitu mendengar apa yang dikatakan Gio
"Kamu sakit ya? Ini sama sekali tidak lucu. Bagaimana bisa kamu mengatakan cinta pada seorang teman? Bukankah selama ini kita baik-baik saja? Kenapa malah tiba-tiba menyatakan cinta?" Dari raut wajahnya terlihat jelas kalau Andra memiliki banyak sekali pertanyaan dikepalanya
"Sudah lama aku menyukaimu. Tapi aku selalu takut kalau ungkapan cintaku akan membuat hubugan kita rusak. Aku tidak mau hubunganku denganmu malah berakhir. Meskipun itu hanya pertemanan, aku tetap ingin berada disisimu" Gio bicara dengan nada yang lembut dan sikap yang tenang
"Lalu bagaimana sekarang? Aku sudah menjadi istri orang lain. Aku juga sangat bahagia hidup bersama suami dan anakku. Bagaimana kamu bisa mengatakan itu sekarang?" Andra memicingkan mata bertanya dengan raut wajah kesal
"Aku hanya ingin kamu tahu mengenai perasaanku. aku tidak bisa lagi menutupi perasaanku ini" Ujar Gio dengan wajah sendu
"Baiklah, karena kamu sudah mengatakannya, sekarang kamu bisa tenang. Tapi aku akan menganggap kalau kamu tidak pernah mengatakan apapun padaku" Andra langsung berdiri dan hendak beranjak pergi meninggalkan Gio. Namun langkahnya terhenti saat Gio menarik sebelah tangannya. Andra menoleh kembali pada Gio dengan wajah terkejut
"Apa yang kamu lakukan?"
"Dra, sebenarnya bagaimana perasaanmu padaku?" Andra kembali mengernyitkan dahi heran dengan ucapan Gio
"Lepaskan tanganku! Tidak baik diperhatikan banyak orang" Andra terlihat sangat canggung saat menoleh kesana kemari. Dari kejauhan terlihat Radit yang menatap ke arahnya dengan sorot mata yang tajam seakan bisa menerkam kapan saja
"Dra, aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku. Apa kamu hanya menganggapku teman saja? Apa kamu sama sekali tidak memiliki perasaan terhadapku?" Gio bertanya sambil terus memegangi tangan Andra dengan kuat
"Gio, lepaskan dulu tanganku. Disini banyak orang dan ada suami juga anakku" Andra berusaha melepaskan genggaman tangan Gio namun itu sangat kuat
"Dra, aku hanya ingin tahu perasaanmu padaku. Itu saja" Gio bersikeras mendapatkan jawaban dari Andra
"Lathan, sepertinya kita harus kesana. Mamimu seperti mendapatkan sedikit masalah" Radit bicara dengan sikap yang tenang dan senyum lembut pada Lathan, namun matanya terus menatap lurus kearah Andra
"Baik papi" Radit pun menggendong Lathan mendekati Andra dan Gio
"Sepertinya tidak pantas kamu memegang tangan istriku seperti itu? Bukankah dia terus meronta agar tangannya dilepaskan?" Radit bicara dengan sikap yang dingin
"Maaf pak. Saya hanya ingin menanyakan hal penting saja pada Andra. Saya tidak bermaksud menyakitinya" Gio melepaskan tangan Andra dan bicara dengan sopan pada Radit
__ADS_1
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Radit mengabaikan Gio dan beralih pada Andra yang kini berada disebelahnya. Dia memegang tangan Andra dan memeriksa tangannya yang di genggam oleh Gio
"Aku tidak papa kak" Jawab Andra dengan senyum dibibirnya
"Mami, apa mami terluka? Tangan mami sakit tidak?" Lathan meronta agar Radit menurunkannya, setelah itu dia bertanya pada Andra dengan cara bicaranya yang lucu
"Mami tidak papa sayang. Om ini teman mami jadi tidak mungkin mau menyakiti mami" Dengan lembut Andra mengusap kepala Lathan yang terlihat cemas padanya
"Sebaiknya kita kembali ke kamar sekarang. Besok pagi kita akan pulang kerumah" Radit bicara dengan lembut pada Lathan dan Andra. Lalu berjalan meninggalkan restoran
"Andra, tunggu. Kita belum selesai bicara" Gio kembali hendak menahan Andra, namun kali ini Radit pun berbalik dan menatap mata Gio dengan tajam
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Istri saya harus kembali ke kamar dan beristirahat" Ujar Radit kemudian menggenggam tangan Andra dan membawanya pergi bersama Lathan yang berjalan lebih dulu
Gio terdiam menatap punggung Andra yang semakin menjauh.
Andra terus menatap Radit yang hanya diam selama perjalanan mereka menuju kamar
"Sebenarnya siapa laki-laki itu? Ada hubungan apa diantara kalian berdua?"
"Dia hanya teman kerjaku. Kami tidak memiliki hubungan apapun. Aku tidak tahu kenapa hari ini dia bersikap aneh seperti itu" Andra menjawab dengan panik seakan dia takut kalau Radit akan marah padanya
Radit terdiam tanpa menanggapi Andra sedikitpun. Membuat Andra yang sebelumnya terlihat panik kini justru terlihat sedih
"Lathan, masuk kamar duluan ya. Kamu pasti lelah setelah bermain seharian" Radit berusaha bersikap lembut pada Lathan meskipun masih terlihat diwajahnya kalau dia sedang kesal
"Baik papi. Selamat malam mami. Muach"
"Selamat malam, sayang" Lathan mengecup pipi Andra dan Andra membalasnya dengan kecupan di kening Lathan
Radit dan Andra masih memperhatikan Lathan yang berjalan semakin menjauh
__ADS_1
"Ah" Setelah Lathan tidak terlihat, Radit menarik Andra dan membuatnya jatuh dibawah tubuhnya
"Apa semua temanmu bersikap seperti itu? Apa mereka berani menyatakan cinta pada istri orang?" Radit bertanya pada Andra yang berada dibawah tubuhnya. Wajahnya sangat berdekatan dan hanya berjarak beberapa senti saja
"Tidak. Ini pertama kalinya ada yang bersikap seperti itu padaku" Andra menjawab dengan manja
"Apa kamu yakin?" Radit kembali mendesak Andra dengan nada bicara yang dingin
"Iya, ini bukan salahku. Dia yang tiba-tiba mengatakan cinta padaku" Ujar Andra lagi membela diri dengan nada manja
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Memberinya pelajaran karena berani menggoda istri orang lain atau memberimu hukuman karena memiliki wajah cantik hingga orang lain terpikat padamu?" Radit memicingkan mata bertanya pada Andra
"Tidak keduanya. Ini tidak akan terjadi lagi. Muach" Andrapun memgecup pipi Radit untuk meredakan amarahnya
"Itu tidak cukup. Kamu harus memberikan imbalan yang lebih besar untuk membujukku" Sebuah senyum tipis terlihat dibibir Radit
Andrapun memicingkan mata heran melihat senyum Radit. Dia melingkarkan tangannya di leher Radit
"Apa sekarang kak Radit sedang cemburu? Kurasa itu tidak perlu karena aku sudah jadi milikmu" Bisik Andra dengan senyum menggoda
"Benarkah? Berarti aku bisa melakukan apapun padamu sesuka hatiku. Karena tidak akan ada pria lain yang bisa merebutmu dariku" Raditpun mulai mengecup semua bagian wajah Andra. Mulai dari kening, pipi dan berakhir dibibirnya
***
Sementara itu Gio sedang duduk termenung didalam mobil, memikirkan Andra dan juga apa yang dia katakan
"Dra, apa benar tidak ada rasa sedikitpun untukku? Lalu kenapa kamu selalu bersikap baik padaku? Makan bersama dan perhatian padaku. Apa semua itu sama sekali tidak ada artinya?" Gio menatap keluar jendela dimana disana masih terlihat pasangan muda mudi yang berlalu lalang
"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mendapatkan jawaban darinya. Setidaknya aku harus mengingatkan Andra tentang apa yang selama ini sudah aku lakukan untuknya" Gio menggenggam kemudi mobilnya dengan erat. Dia membulatkan tekad agar Andra tahu kalau selama ini perhatiannya pada Andra bukan hanya sekedar teman
"Andra, aku akan mengingatkanmu lagi mengenai semua hal yang telah kita lakukan bersama"
__ADS_1