Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Mimpi Buruk Zara


__ADS_3

Malam hari dirumah Fandy. Semua orang sedang tertidur lelap dan bermimpi ditengah keheningan malam yang sunyi dan sepi.


Zara pun kini tengah tertidur dengan gelisah karena bermimpi. Mimpi buruk yang selama bertahun-tahun sering dia alami.


Dalam mimpinya terlihat seorang gadis kecil yang cantik dan lucu tengah bermain ditaman.


"Adik kecil, kamu sedang apa? Kamu bermain sendiri saja?" tanya seorang pria dewasa pada anak kecil yang berusia sekitar 7 tahun.


"Aku sedang bermain petak umpet dengan kakak. Om temannya papa kan?". Gadis kecil itu menanggapi dengan senyum ceria.


"Benar. Om teman papamu. Dimana kakakmu? Om tidak melihatnya sama sekali" tanya pria itu lagi sambil menoleh kesana kemari mencari keberadaan kakak gadis kecil itu.


"Aku dan kakak sedang main petak umpet, tentu saja kakak sedang sembunyi". Gadis kecil itu tetap menanggapi dengan senyum ceria tanpa mencurigai hal apapun.


"Ooh. Apa om boleh ikut bermain? Sepertinya permainan kalian menyenangkan" ujar pria itu lagi pada gadis kecil itu.


"Tentu saja Om. Kita harus temukan kakak terlebih dulu"


"Baiklah".


Gadis itu berbalik membelakangi si pria. Dia terus berteriak mencari kakaknya yang bersembunyi.


"Kakak, kakak dimana? Kenapa kakak sembunyi ditempat yang sulit aku temui". Dia terus berteriak tanpa tahu kalau pria yang berdiri dibelakangnya telah mengeluarkan pisau belati untuk melukainya.


Tidak jauh darisana terlihat seorang gadis remaja berusia sekitar 12 tahun sedang mengintip dibalik pohon besar.


"Zara? Zara! awas!". Gadis remaja itu berlari mendekati sang adik yang tertawa gembira karena melihat sang kakak keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari kearahnya.


"Kakak! Ketemu... Akhirnya kakak keluar juga. Om ini ingin bermain dengan kita" ujar sang adik yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Sang kakak terus berlari lalu menarik sang adik kepelukannya.


Jleb!


Ah...


"Kakak? Kenapa kakak memelukku?" tanya gadis kecil itu yang kebingungan.


"Hei! hei! hei … tangkap pria itu!"


Semua orang berteriak melihat punggung kakaknya berlumuran darah.


Gadis kecil itu hanya terpaku tak mengerti melihat kakaknya mulai terkulai lemas. Orang-orang yang ada disekitarnya mulai berlarian mendekat dan membawa gadis remaja itu kerumah sakit.


Tak berselang lama dirumah sakit, gadis kecil tadi menatap heran pada kedua orang tuanya yang sedang menangisi sang kakak yang sedang kritis.


"Mama, tenanglah. Dokter sedang memeriksa kakak. Kakak pasti akan baik-baik saja" ujar gadis kecil itu yang kini mengerti karena kakaknya ada di UGD.


"Bagaimana keadaan putri kami, dok?" tanya sang ayah dengan wajah panik.


"Maaf, Pak. Kami sudah berusaha semampu kami, tapi nyawa putri anda tidak bisa tertolong. Terlalu banyak darah yang dia keluarkan".


"Tidak! Tidak mungkin! Anda pasti bercanda kan?", teriak sang ibu setelah mendengarkan penjelasan dokter.


"Maafkan saya"


"Tidak... !!". Sang ibu yang tak terima atas kematian anaknya terus menangis histeris. Begitu juga dengan sang ayah.


"Mama, Papa, apa yang terjadi pada kakak? Kenapa wajah kakak ditutup dan dibawa pergi kesana?". Gadis kecil itu tidak mengerti tentang meninggalnya sang kakak. Ayahnya pun menoleh pada gadis kecil itu dengan tatapan penuh kebencian dan air mata yang masih terus mengalir membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


"Ini semua salah kamu, Zara! Harusnya kamu tidak mendekati sembarangan orang dan tertawa bahagia dengan mereka! Harusnya kamu bermain sendiri dan membiarkan kakakmu belajar! Harusnya kamu tidak bersikap ramah dan ceria pada semua orang!" teriak sang ayah pada Zara kecil sambil memegang kedua tangannya dengan erat hingga Zara meringis kesakitan.


"Tapi Pah. Om itu adalah teman Papa. Dan kakak juga bilang kalau kakak bosan dan ingin bermain denganku, karena itu kami bermain ditaman hiks..hiks...hiks... ". Zara pun mulai menangis ketakutan melihat sang ayah yang marah.


"Jika kamu tidak merengek dan memaksa kakakmu untuk bermain, maka ini tidak akan terjadi. Jika kamu tidak tertawa gembira saat dia setuju bermain, maka dia tidak akan mau bermain denganmu! Kenapa bukan kamu yang mati? Kenapa harus kakakmu!".


Ibu dan ayah Zara terus menangis atas meninggalnya sang kakak. Mereka mengabaikan Zara yang hatinya sakit atas ucapan dan sikap sang ayah yang terus menyalahkannya.


"Tidak. Itu bukan salahku! Aku tidak salah! Aku tidak tahu apa-apa! Tidak...!". Zara yang tidur dengan gelisah akhirnya bangun dengan keringat yang terus bercucuran. Dia langsung duduk dan kembali mengingat hari-hari setelah kematian sang kakak. Dia menatap kelangit-langit dengan raut wajah sedih.


"Kakak … apa kabarmu disana? Apa kamu juga membenciku seperti papa dan mama? Andai saja waktu bisa diulang ... aku tidak akan tertawa ceria, jadi kamu tidak akan setuju main denganku hanya untuk melihat aku tertawa. Aku akan menyendiri sehingga kamu tidak perlu menemaniku bermain. Kakak, maafkan aku. Jika saja waktu itu aku tidak memintamu menemaniku bermain, kamu pasti masih disini denganku dan jadi anak kebanggaan papa dan mama. Kak, aku ingin pergi ketempatmu. Aku ingin bersama denganmu. hiks... hiks... hiks... ".


Air mata Zara pun terus mengalir, dia membenamkan wajahnya sambil memeluk kedua lututnya. Setiap malam Zara selalu memimpikan hal yang sama. Memimpikan saat kepergian sang kakak. Memimpikan saat kedua orang tuanya melnyalahkannya atas meninggalnya sang kakak. Setiap malam tanpa diketahui orang lain, Zara akan menangis sendiri dikamarnya. Begitupun malam ini yang terasa panjang untuk Zara.


...****************...


Ditempat lain beberapa orang pria terlihat sedang berdiskusi mengenai sesuatu hal.


"Jadi sekarang ini kita tidak bisa melakukan pekerjaan kita seperti biasanya?" ujar salah satu pria sambil menatap 4 orang lain dihadapannya.


"Ya, kepala polisi mengatakan kalau seorang putra dari keluarga Nugraha telah membantu membongkar kasus ini. Itu artinya kita harus lebih waspada". Sambung pria lain menimpali.


"Yang aku tahu kepala keluarga Nugraha sekarang ini adalah Radit, karena Leo sudah tidak terjun lagi dalam urusan bisnis. Dan Radit ini memiliki 3 anak. 2 laki-laki dan 1 anak perempuan yang masih balita".


"Jika itu anaknya Radit … kemungkinan besar adalah anak sulungnya yang kini duduk dibangku SMA". Semua orang saling menganggukan kepala mendengar penjelasan dari orang itu


"Kita harus menyingkirkan dia secepatnya"


"Ya, kamu benar. Kita harus menyingkirkan anak itu!"

__ADS_1


"Kita bisa menangkap bocah itu setelah dia pulang dari sekolah. Jangan sampai gagal, jika tidak kita semua akan berada dalam masalah karena mereka pasti akan kembali menyelidiki aliran dana dari judi online itu dan kita pasti akan ketahuan"


"Ya kamu benar. Kita harus menghabisinya hari ini juga"


__ADS_2