Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Rencana Kedua Istri Danu


__ADS_3

Asya sedang kebingungan menanggapi akibat dari postingan yang dibuat oleh Radit


"Ibu, apa yang akan kita lakukan sekarang? Saham perusahaan kita terus turun dan pak Danu sudah tidak  mau membantu kita lagi" Luna bertanya kepada sang ibu yang sejak tadi hanya duduk sambil mengetukkan jarinya di pegangan kursi


"Ibu juga tidak tahu. Apakah ada sesuatu yang terjadi diperusahaan?"


"Oh iya aku lupa mengatakan sesuatu pada ibu. Ada pemegang saham baru yang akan bergabung dengan dewan direksi kita. Dia pemegang saham lama, tapi katanya sekarang dia akan terjun langsung untuk mengawasi pengelolaan perusahaan" Luna menjelaskan dengan apa yang dia tahu sekarang


"Kamu sudah cari tahu profilnya? Kita tidak boleh lengah, bisa saja dia berusaha mengambil keuntungan dari kejadian ini" Asya berusaha meyakinkan sang putri agar tidak lengah


"Yang aku tahu dia seorang wanita muda, tapi aku tidak tahu hal yang lainnya lagi. Aku tidak menemukan informasi apapun" Luna menjelaskan dengan rinci karena memang dia tidak mengetahui  banyak info mengenai pemegang saham yang baru


"Ya siapapun itu kamu tetap harus waspada padanya. Kita tidak tahu apa yang dia rencanakan. Jika memang dia pemegang saham lama, pasti dia punya alasan karena baru berniat masuk ke perusahaan langsung"


"Baik bu, aku mengerti"


Ceklek


Asya dan Luna langsung menoleh mendengar suara pintu terbuka


"Lulu kamu darimana? Kenapa malam begini baru pulang?" Tanya Asya yang penasaran pada putri bungsunya


"Ada pesta dengan temanku, jadi aku baru bisa kembali. Ada apa dengan ibu dan kak Luna? Kenapa wajah kalian ditekuk begitu?" Lulu bertanya setelah melihat wajah Asya dan Luna yang muram


"Tidak ada, sebaiknya kamu kekamar dan istirahat, besok kan kamu harus kerja"


"Baik bu, aku ke kamar dulu" Lulu pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar

__ADS_1


"Bu, sebenarnya ada dengan Lulu? Akhir-akhir ini dia selalu pulang larut malam" Luna bertanya pada sang ibu sambil menatap Lulu yang semakin menjauh


"Ibu juga tudak tahu. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaan dan juga yang lainnya" Asya menjawab dengan sikap yang tenang


"Ya mungkin saja"


***


Keesokan harinya Radit dan Andra berniat meninggalkan rumah Leo


"Pah, aku tidak bisa menginap lebih lama. Tapi aku akan sering mampir kemari bersama istri dan anakku. Aku ingin mama mengenal Andra" Radit sedang bicara pada Leo mengenai rencananya


"Baiklah. Papa akan ikuti rencanamu. Tapi perlahan saja. Papa tidak ingin ibumu semakin terbenani, terlebih saat dia melihat Lathan. Itu juga akan berpengaruh pada mental Lathan" Leo mengingatkan Radit agar tidak memaksa Vio menerima kenyataan


"Aku mengerti pah. Ayo kita pulang!" Ajak Radit pada Andra dan Lathan


"Sebentar! Ma, Andra pulang dulu ya. Nanti Andra akan kemari lagi sama kak Radit dan Lathan. Mama jangan lupa makan ya" Andra duduk di hadapan Vio agar dia melihatnya. Dia bicara dengan sangat lembut meskipun tidak ada reaksi apapun dari Vio


"Ya, terimakasih ya. Kalian juga jaga diri kalian" Leo tersenyum lembut mengantar kepergian keluarga kecil Radit


"Sampai jumpa, kakek" lathan melambaikan tangan pada Leo yang dibalas dengan lambaian tangan pula oleh Leo


"Sampai jumpa Lathan"


Radit pun mulai mengendarai mobilnya meninggalkan kediaman Leo


"Kak, menurutmu bagaimana aku harus mengelola perusahaan ibu? Aku tidak pernah terjun langsung dalam bisnis. Selama ini aku hanya tahu bekerja di hotel saja" Andra terlihat cemas dan khawatir ketika dia berpikir untuk masuk ke perusahaan milik mendiang ayahnya

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir. Perusahaan itu bukanlah perusahaan besar. Karyawannya pun tidak terlalu banyak. Hasil produksi juga hanya dipasarkan dalam negeri saja, sepertinya itu bukan masalah besar. Kamu hanya perlu mengawasi bahan yang digunakan dan juga para pekerjanya. Itu adalah dua kunci dalam bisnis. Kamu tidak perlu mementingkan apa kata dewan direksi, yang memiliki peran penting di sebuah perusahaan adalah pekerja bawah, mereka yang harus diperhatikan apalagi bagian produksi. Mereka bisa diibaratkan kaki yang akan membawamu melangkah maju" Radit menasehati Andra ambil mengendarai mobil dan sesekali menoleh kearahnya


"Bukannya dewan direksi yang berperan penting, karena mereka yang memberikan dana untuk perusahaan?" Andra mengerutkan dahi saat bertanya pada Radit


"Mereka memang penting, tapi karyawan produksi juga penting. Ada modal tanpa karyawan itu tidak akan berhasil. Begitupun sebaliknya, ada karyawan tapi tidak ada modal itu juga percuma. Jadi kita tidak boleh hanya mendengarkan pihak yang menggunakan uang. Kita juga harus mendengarkan pihak yang menggunakan tenaga" Andra menganggukkan kepala berkali-kali menanggapi perkataan Radit


"O iya kak Radit, apa yang kakak lakukan pada Pak Danu?"


"Itu... "


***


Bu Rita dan bu Anggi sedang duduk berbincang sedangkan Danu sedang bekerja


"Apa yang akan kamu lakukan sekarang? Apa yang dikatakan pria itu benar, jika kita berada disampingnya dan terus membiarkan dia menikah lagi lama kelamaan harta bendanya bisa habis dan kita tidak akan dapat apa-apa" Rita bertanya pada Anggi dengan wajah emosi


"Iya, selama ini kita selalu sabar menunggu dia tersadar dari apa yang dia lakukan. Tapi sampai sekarang dia tidak pernah sadar. Dia selalu saja mencari gadis muda untuk dijadikan istri baru" Anggi membenarkan apa yang dikatakan Rita padanya


"Sebaiknya kita gugat cerai Danu dan meminta pembagian harta gono-gini" Ujar Rita setelah berpikir panjang


"Tapi jika kita melakukannya maka kita akan dibicarakan banyak orang" Anggi masih terlihat khawatir dengan keputusan yang akan dia ambil


"Biarkan saja mereka mengatakan apapun sesuka mereka yang jelas ini hidup kita. Orang lain hanya bisa melihat tanpa merasakan apa yang kita rasakan. Papa tidak ingin punya anak agar harta warisannya tidak harus diperebutkan. Jadi kita saja yang ambil harta warisan itu. Daripada nanti diberikan lagi kepada gadis lain"


Anggi terdiam memikirkan apa yang dikatakan Rita padanya. Meskipun mereka merupakan istri pertama dan kedua tapi perlakuan Danu selalu sama terhadap mereka, yaitu tidak boleh mengatur uang sendiri. Mereka hanya akan menggunakan uang yang diberikan Danu setiap bulannya. Masing-masing hanya mendapatkan 5 juta saja sebulan tidak lebih dari itu. Itu adalah jumlah yang kecil untuk ukuran istri pengusaha


"Aku setuju. Kita akan layangkan gugatan cerai ke pengadilan dan meminta pembagian harta gono-gini disana"

__ADS_1


Rita tersenyum setelah Anggi menyetujui apa yang disarankan olehnya


"Ya, kita akan mengajukan pembagian harta gono-gini sebesar-besarnya. Bila perlu sampai dia bangkrut. Aku tidak sudi jika dia menikah lagi dengan gadis muda yang memiliki masa depan cerah. Kita akan buat dia berkeliaran di jalanan"


__ADS_2