Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kunjungan Andra Menemui Sofia


__ADS_3

Karena masalah hotel sudah selesai , Lathan dan Ardhan akhirnya memutuskan untuk langsung kembali kerumah setelah mereka kembali daei hotel Sofia. Sementara sang ayah masih harus mengurus beberapa hal dihotel.


"Haah … akhirnya masalah ini selesai dan kita membersihkan kembali nama baik papi dan juga hotel kita". Ardhan menghela napas panjang sambil merebahkan tubuhnya disofa begitu dia tiba dirumah.


"Kamu benar. Karena masalah ini, kita jadi tidak memiliki waktu istirahat dengan benar". Lathan yang ikut duduk tidak jauh dari Ardhan ikut menimpali keluhan sang adik.


Tak lama, Andra datang sambil menuntun sikecil Lili bersamanya.


"Tata …!" Lili langsung berlari kepangkuan Lathan dan meminta pelukan darinya.


"Halo, Lili cantik" ujar Lathan yang langsung menggendong Lili.


"Kalian sudah kembali? Kenapa kalian tidak cerita ke Mami kalau kalian terlibat dalam rencana papi kalian?!" tanya Andra dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam. Dia terlihat sangat kesal pada Lathan dan Ardhan yang tidak terbuka padanya.


Lathan dan Ardhan saling menatap satu sama lain.


"Itu … Mami … kami tidak ingin Mami khawatir, karena itu kami tidak memberitahu Mami semua rencana kami". Ardhan menjawab pertanyaan sang ibu dengan kepala tertunduk karena ragu.


"Tentu saja Mami khawatir pada kalian! Bagaimana mungkin Mami tidak khawatir pada kedua putra Mami yang harus terlibat dengan orang gila seperti Sofia. Mami memang sudah lama tidak bertemu dengan Sofia, tapi Mami tahu betul seperti apa dia sebenarnya. Sekarang Mami khawatir, bagaimana jika dia ingin membalas dendam pada kalian karena telah mempermalukannya didepan semua orang?".


Awalnya Andra bicara dengan nada yang kesal karena marah, namun setelah itu dia mulai merendahkan suaranya dan menunjukkan raut wajah khawatir.


Lathan yang sejak tadi menggendong Lili dipangkuannya, kini mendekati Andra dan duduk disamping sang ibu.


"Mami tidak perlu khawatir. Sofia sudah ditahan polisi. Memangnya Mami tidak lihat beritanya? Dia tidak akan berani lagi mengganggu kita. Aku akan pastikan dia mendekam lebih lama dipenjara dan menyesali perbuatannya karena berani mengganggu kita. Jadi Mami tidak perlu mengkhawatirkan lagi masalah Sofia, oke?".


Lathan bicara dengan sikap yang tenang dan nada yang lembut disertai senyum manis dibibirnya.


"Mami akan pergi menemui dia. Mami harus dengar sendiri alasan dia menggangu kita" ujar Andra dengan sorot mata yang tajam.


Lathan dan Ardhan kembali saling menatap satu sama lain mendengar ucapan sang ibu.


"Mami yakin akan menemui dia?" tanya Ardhan memastikan.


"Mami, Lili itut".Lili yang mendengar Andra akan pergi langsung meronta agar Lathan menurunkannya dan merengek ingin ikut dengan sang ibu.


"Sayang, kamu tunggu dirumah dengan kak Lathan dan kak Ardhan ya. Mami tidak bisa membawa kamu, karena anak kecil tidak boleh pergi kesana" ujar Andra yang menjelaskan dengan nada bicara yang lembut disertai senyum manis dibibirnya.


"Tapi aku ingin ikut dengan Mami". Lili terus merengek pada Andra dengan bibir mengerucut dan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Lili, bagaimana kalau kita main ditaman saja? Disana kan ada ayunan, jungkat jungkit, dan juga perosotan. Kita bisa mainkan apa saja yang Lili inginkan" Lathan dengan nada bicaranya yang lembut berusaha membujuk Lili agar mau ikut dengannya.


"Taman? Kakak mau temani aku ketaman?" Lathan mengangguk dengan senyum tipis ketika Lili berusaha memastikan pada Lathan dengan mata yang berbinar.


"Ya, Lili bisa main apa saja. Kak Lathan dan kak Ardhan akan menemani kamu"


"Hah? Aku juga?" tanya Ardhan sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya iya. Aku mau ketaman!" ujar Lili yang bersorak gembira.


"Gadis pintar. Kalau begitu mami akan pergi dulu. Mami janji tidak akan pergi terlalu lama, ya". Andra tersenyum manis sambil mengelus lembut kepala Lili.


"Iya, Mih". Andra pun beranjak pergi kekamarnya untuk bersiap sebelum pergi. Sedangkan ketiga putra putrinya bersiap untuk pergi ketaman.


...****************...


Di kantor polisi.


Sofia sedang berada diruang interogasi untuk menindak lanjuti kasus yang sedang menimpanya. Polisi sedang mengumpulkan tahap awal untuk pemenuhan laporan yang akan diajukan ke pihak kejaksaan.


"Bu Sofia, sebenarnya apa motif anda memfitnah pak Radit sampai tega menghilangkan nyawa orang lain?" tanya kepala penyidik yang melakukan interogasi.


"Apa kalian memiliki dendam masa lalu?"


"Saya memang tidak pernah menyukai dia sejak kami masih kecil. Jadi ketika saya kembali dari luar negeri dan mendengar kalau dia menikah dengan salah satu keluarga terhormat dinegara ini rasanya kebencian saya menjadi semakin besar sampai berkeinginan menghancurkan mereka".


Polisi menuliskan pernyataan Sofia dengan raut wajah yang tak habis pikir dengan tindakan Sofia.


Saat kepala penyidik sedang menginterogasi tiba-tiba salah satu bawahannya mengetuk pintu.


Tok tok tok


"Permisi, Pak. Maaf mengganggu. Ada seorang wanita yang ingin mengunjungi bu Sofia. Katanya ini sangat penting" ujar polisi berpangkat rendah pada kepala penyidik.


"Siapa? Apa dia tidak tahu kalau kita sedang melakukan interogasi?". Kepala penyidik itu terlihat kesal karena telah diganggu oleh anak buahnya, namun dia tetap bersikap tenang.


"Itu Pak, namanya bu Andra. Beliau bilang ingin menanyakan terlebih dahulu mengenai sesuatu yang penting pada tersangka" ujar polisi itu menjelaskan.


Sofia terlihat tidak senang ketika nama Andra disebut. Raut wajahnya langsung berubah kesal dengan tangan mengepal dibawah meja. Kepala penyidik pun memperhatikan ekspresi wajah Sofia, namun dia tetap mengizinkan Andra menemui Sofia.

__ADS_1


"Baiklah, izinkan dia masuk"


"Baik, Pak". Polisi itu pun berbalik pergi untuk memanggil Andra.


"Waktu yang anda miliki dengannya tidak banyak, jadi cukup bicarakan hal yang penting saja" ujar kepala penyidik ketika dia dan Andra saling berpapasan didekat pintu ruang interogasi.


"Saya mengerti. Terimakasih" Andra menanggapi sambil berlalu pergi menemui Sofia.


"Lama tidak bertemu, Sofia". Andra menyapa dengan sikap yang dingin begitu masuk dan menghampiri Sofia.


"Ya, lama tidak bertemu, Andra sianak pungut" Sofia menanggapi Andra dengan nada yang mencibir.


"Kamu masih saja sama. Memusuhiku tanpa ada alasan yang jelas. Sejak dulu aku tahu kalau kamu tidak benar-benar membenciku karena aku seorang anak angkat, tapi kamu membenciku hanya karena Luna dan Lulu juga membenciku. Tidak punya prinsip. Apa kamu harus selalu bergantung pada kakak beradik itu?".


Andra pun bicara dengan senyum tipis dan nada bicara yang dingin. Dia menatap Sofia yang kini duduk dihadapannya dengan tatapan yang merendahkan.


"Jangan sembarangan bicara! Aku memang sangat membencimu dari dulu. Terlepas dari Luna dan Lulu yang membencimu! Andra, harusnya kamu sadar kalau kamu itu tidak pernah pantas bersanding dengan orang kaya! Kamu sama sekali tidak cocok untuk masuk ke lingkungan kaya. Kamu itu hanya pembawa sial!".


Sofia bicara dengan penuh emosi sambil tersenyum sinis.


"Oh ya? Aku pembawa sial? Bukankah julukan itu lebih pantas digunakan untukmu sekarang? Gara-gara kamu kini perusahaan lain milik keluargamu juga terancam gulung tikar. Mereka terpaksa hidup dijalanan karena ulah anak gadis mereka yang tidak memikirkan konsekuensi dari apa yang kamu lakukan".


Andra bicara dengan sikap yang dingin disertai seringai tipis dibibirnya. Lalu ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan berita kalau keluarganya bangkrut.


Sofia terlihat sangat terkejut, matanya membelalak tak percaya dengan apa yang ditunjukan Andra padanya.


"Sofia kamu sendiri tahu siapa suamiku, tapi masih berani menantangku? Atau … apa kamu tidak pernah tahu bagaimana suamiku mengambil tindakan untuk membalas kerugian yang dia alami? Jangan kamu pikir dengan berada dipenjara akan membuat kamu aman, ini justru memudahkan kami untuk membuatmu menyesal atas keberanianmu mengusik ketenangan keluargaku" ujar Andra sambil beranjak pergi meninggalkan Sofia.


"Apa maksudmu? Hei, jawab aku! Apa maksud ucapanmu?! Jangan ganggu keluargaku! Mereka tidak ada hubungannya dengan ini! Hei! Andra …!".


Sofia terus berteriak memanggil Andra, namun Andra tidak menanggapinya dan terus berjalan keluar agar Sofia bingung dan menyesal. Disalah satu sel tahanan, dia juga sudah memiliki janji dengan orang suruhan Radit yang ada dipenjara.


"Lakukan seperti apa yang dikatakan suamiku. Buat hari-harinya dalam penjara menjadi sulit, tapi jangan biarkan dia mati. Dia harus menyesali tindakannya mengganggu kami"


"Baik, Bu. serahkan saja pada kami. Dia tidak akan bisa lari dari sini" ujar salah satu penjaga rutan yang saling menatap disertai senyum dengan salah satu napi wanita yang akan membuat Sofia dalam kesulitan.


"Bagus, aku serahkan semua urusannya pada kalian. Ini bayarannya dan aku tidak ingin lagi terlibat dengannya"


"Baik, Bu".

__ADS_1


Andra memberikan sejumlah uang dalam amplop berwarna coklat lalu beranjak pergi meninggalkan kantor polisi. Dia menoleh kebelakang sekali disertai seringai tipis dibibirnya sebelum masuk kedalam mobilnya.


__ADS_2