
Radit dan Lathan baru saja kembali dari rumah sakit setelah menerima perawatan selama beberapa hari. Keluarga itu terlihat sangat bahagia. Selain karena kesembuhan Vio tentu saja juga karena kesembuhan Radit dan Lathan.
“Haruskah kita membuat pesta kecil untuk merayakan semuanya?” ujar Leo ketika mereka berada diruang keluarga.
“Apa mama sudah menghubungi kakek dan yang lainnya?”.
Radit tidak menanggapi ucapan ayahnya dan justru bertanya pada Vio perihal berbagi kabar gembira dengan keluarga Kusuma lainnya.
“Mama belum menghubungi siapapun. Mama sedikit gugup menghubungi kakekmu”.
Vio menanggapi Radit dengan senyum tipis dan sikap yang tenang.
“Apa yang membuat Mama gugup? Sudah lama Mama tidak menghubungi mereka. Kakek dan nenek pasti akan sangat senang mendengar kesembuhan Mama”
Vio terdiam mendengar ucapan Radit. Dia mempertimbangkan masukan Radit untuk menghubungi keluarga Kusuma.
“Baiklah. Mama akan menghubungi kakekmu dan memberitahu kalau Mama sudah sembuh”.
Vio bicara dengan senyum dibibirnya. Diapun beranjak pergi dari hadapan semuanya dan bergegas kekamarnya.
Vio langsung mengambil telepon ketika dia tiba dikamarnya. Dia menekan nomor Yudha dan menghubunginya.
Tuut tuut tuut
Vio terlihat gugup saat dia menunggu telepon diangkat. Jantungnya berdegup kencang dan tangannya mulai berkeringat. Dia berjalan kesana kemari untuk menghilangkan kegugupannya.
“Halo”
Vio terdiam ketika mendengar suara familiar dari ujung teleponnya. Suaranya sangat tenang, berwibawa dan dingin. Air mata Vio tak terasa jatuh saat mendengar suara itu.
“Papi. Ini aku, Vio”.
Vio bicara dengan nada suara yang bergetar. Bukan karena takut, melainkan karena ia sangat rindu dengan ayahnya itu.
“Vio? Benarkah ini kamu?”
Yudha bertanya dengan sikapnya yang tenang dan dingin, namun ada juga kesedihan yang terdengar dari suaranya.
“Iya, Pih. Ini aku. Bagaimana kabar Papi? Apa papi baik-baik saja?”
Air mata Vio mengalir semakin deras mendengar suara Yudha.
“Papi senang akhirnya kamu sembuh. Kamu tidak tahu betapa kami menunggu atas kesembuhanmu setiap harinya. Setelah bertahun-tahun akhirnya kamu kembali pada kami”.
Terdengar suara Yudha yang tetap tenang namun sedikit bergetar.
“Aku juga senang, Pih, karena sekarang aku bisa berkumpul lagi dengan kalian”
“Haruskah kita mengadakan pesta?” tanya Yudha setelah beberapa saat.
“Tidak perlu, Pih. Dan lagi … istri Radit sedang hamil. Jika kita mengadakan pesta, bisa saja dia malah kelelahan nantinya”.
Vio menjelaskan dengan nada bicaranya yang lembut.
“Hamil? Benarkah? Kenapa anak itu tidak memberitahu Papi? Baiklah, Papi tidak akan memaksa kalian. Yang pasti Papi senang karena kamu sudah sembuh dan kembali bersama dengan kami”
__ADS_1
Yudha terdengar sagat antusias saat Vio mengatakan kalau Radit akan punya bayi.
“Iya, Pih. Jadi aku tidak ingin dia terlalu lelah dengan pesta. Lain kali saja kita adakan pestanya. Aku hanya ingin memberitahu Papi kalau sekarang aku sudah sembuh”
“Baiklah. Papi jadi tenang karena kamu sudah sembuh. Semoga kita bisa berkumpul secepatnya” ujar Yudha penuh harap.
“Iya, Pih. Aku harap juga begitu. Papi, aku tutup dulu ya teleponnya . Sampaikan salamku pada mami dan juga yang lainnya”.
Vio menitipkan salam sebelum dia menutup teleponnya dengan Yudha.
“Baiklah, akan Papi sampaikan nanti. Kamu juga jaga kesehatan. Katakan pada Andra untuk menjaga kandungannya dan tidak boleh kelelahan”.
Yudha berpesan dengan sikap yang tenang
“Baik, Pih. Nanti Vio sampaikan padanya . Sampai jumpa, Papi. Jaga diri Papi”.
"Ya kamu juga".
Vio dan Yudha pun menutup panggilan telepon diantara mereka.
...****************...
Beberapa hari kemudian
Lathan sudah sembuh dan bisa kembali sekolah. Karena Radit masih belum bisa menggerakkan tangannya dengan leluasa, dia menggunakan supir untuk mengantarkannya ke kantor dan juga sekolah Lathan.
"Sayang, kami akan berangkat sekarang. Sudah hampir terlambat jika kami harus sarapan dulu" ujar Radit sambil terus memperhatikan jam tangannya.
"Baiklah. Kalau begitu kalian bisa membawa ini dan memakannya dijalan" Andra menyarankan sambil menyiapkan sandwich yang dia masukkan kedalam kotak makan untuk dibawa Radit dan Lathan
"Ini hanya untuk sarapan dijalan. Kalian tidak boleh pergi dengan perut kosong. Itu akan membuat kalian susah untuk berkonsentrasi".
Andra bersikeras pada Radit dan juga Lathan agar mereka membawa sarapan mereka. Radit dan Lathan saling menatap satu sama lain seakan mereka membuat kesepakatan.
"Baiklah, kami akan membawanya. Sekarang, apa kami sudah boleh pergi?" tanya Radit setelah melihat Andra selesai mengemas sandwich kedalam kotak makan.
"Tunggu. Tunggu sebentar!"
"Sekarang apalagi?" tanya Radit yang berusaha tetap tenang namun terus menatap melihat jam tangannya.
"Aku akan ambil tas dulu. Aku akan ikut ke sekolah Lathan".
Radit dan Lathan saling menatap satu sama lain karena terkejut, sementara Andra tersenyum manis saat dia bicara.
"Apa?! Kamu akan ikut ke sekolah Lathan?! Untuk apa?!"
"Apa?! Mami akan ikut ke sekolahku?! Untuk apa?!"
Lathan dan Radit bicara bersamaan saat mereka terkejut mendengar ucapan Andra.
"Apa kalian ikutan paduan suara? Atau itu yang dinamakan kontak batin?".
Andra bertanya dengan raut wajah heran sambil menatap Radit dan Lathan secara bergantian.
Jika Andra pergi ke sekolah Lathan, dia pasti akan mendengar gosip murahan itu.
__ADS_1
Pikir Radit yang khawatir pada Andra
"Untuk apa kamu ke sekolah Lathan? Jaraknya cukup jauh darisini, kamu bisa kelelahan karena menempuh perjalanan jauh".
Radit kembali bertanya setelah tidak mendapatkan jawaban dari Andra.
Kalau Mami ikut pergi ke sekolahku, bisa saja Mami mengetahui tentang gosip murahan itu.
Lathan pun berpikiran hal yang sama dengan Radit.
"Papi benar Mih. Untuk apa Mami datang ke sekolahku? Tidak ada yang menarik disana"
Radit dan Lathan berusaha mencegah Andra agar tidak ikut ke sekolah Lathan.
"Apa yang kalian perdebatkan? Bukannya kamu bilang ada rapat penting pagi ini, Dit?".
Vio dan juga Leo yang baru turun keruang makan merasa penasaran dengan perdebatan antara Radit, Andra dan juga Lathan.
"Itu, Mah. Andra bilang ingin pergi ke sekolah Lathan, padahal jaraknya cukup jauh darisini. Dia kan sedang hamil, aku takut kalau dia kelelahan. Lagipula tidak ada yang perlu dilihat di sekolah Lathan".
Radit menjelaskan dengan sikap tenang mengenai keinginan sang istri.
"Benar, Nek. Sekolahku itu sama saja seperti sekolah pada umumnya. Apa yang bisa dilihat di sekolahku. Lagipula nanti aku masuk kelas, siapa yang akan menemani Mami disana".
Lathan ikut membantu Radit bicara pada Vio agar melarang Andra untuk ikut.
"Apa salahnya aku pergi? Aku ingin melihat anakku saat di sekolah. Sepanjang hari dirumah juga membosankan, itu membuatku frustasi. Jika pergi ke sekolah Lathan kan aku bisa melihatnya belajar dan bermain dengan teman-temannya. Itu hal yang wajah untuk seorang ibu".
Andra bicara dengan bibir mengerucut kesal seakan dia sedang mengeluh pada Vio.
Vio menatap Andra yang sedang mengeluh. Diapun sedikit tersenyum melihat sang menantu.
"Pergilah. Kamu bisa bersenang-senang di sekolah Lathan" ujar Vio dengan senyum manis dibibirnya.
"Mama!"
"Nenek!"
Lagi-lagi Radit dan Lathan bicara secara bersamaan. Mereka memprotes Vio yang menyetujui keinginan Andra untuk ikut ke sekolah Lathan.
"Tidak papa. Kasihan jika dia dirumah terus, dia akan bosan. Biarkan saja dia ikut. Lagipula tidak pergi setiap hari ini kan?".
Vio menyetujui keinginan Andra dengan senyum yang lembut.
"Terimakasih, Mama. Mama memang yang paling pengertian".
Andra berhambur kepelukan Vio setelah Vio mengizinkan dia pergi.
Vio tersenyum lembut menanggapi ucapan Andra.
Radit dan Lathan saling menatap dengan raut wajah suram.
"Gawat. Bagaimana kalau Mami tahu gosip tentangnya?"
"Apa yang akan terjadi jika dia mendengar gosip tentangnya?"
__ADS_1