
Setelah pulang sekolah, Lathan yang biasa bersikap manja kepada Andra, langsung pergi ke kamarnya dengan alasan mengerjakan pekerjaan rumah.
"Lathan sayang, apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Andra yang berteriak diluar pintu kamar Lathan.
"Tidak perlu, Mih. Aku akan mengambilnya sendiri nanti pekerjaan rumahku sangat banyak" Lathan menanggapi dari dalam kamar dengan sedikit berteriak. Andra mengira kalau dia sedang mengerjakan pekerjaan rumah, tapi sebenarnya Lathan sedang bermain laptop.
"Apa kamu yakin? Mami bisa membawakannya ke kamarmu jika kamu mau" ujar Andra yang masih berusaha mendekati Lathan.
"Iya, Mih. Aku akan memintanya jika aku menginginkannya"
"Baiklah, kalau begitu Mami pergi ya" Andra pun meninggalkan kamar Lathan dengan raut wajah kecewa dan sedih karena sikap putranya hari ini terasa aneh.
Sedangkan disalah satu sudut, Lidia mengawasi Andra dengan seringai tipis dibibirnya
"Sepertinya aku berhasil. Kali ini tinggal rencanaku dengan pak Radit. Dengan bgetu bu Andra akakn semakin terpuruk dan tidak memiliki sandaran untuk mengadukan kegelisahannya. Aku tidak sabar menunggu pak Radit pulang kerumah".
Lidia bicara sendiri sambil bersenangdung dan tersenyum lebar. Dia membayangkan jika rencananya akan segera berhasil.
Akhienya Radit pulang dari kantor. Dia pulang dengan raut wajah yang terlihat sangat lelah.
"Kamu sudah pulang, sayang?" tanya Andra yang menyambut kedatangan suaminya.
"Ya, aku sangat lelah hari ini. Aku akan membersihkan diri lalu beristorahat" Radit pun terlihat bersikap acuh pada Andra. Dia langsung pergi ke kamarnya tanpa menunggu tanggapan dari Andra terlebih dahulu.
"Tapi kak Radit ...?" Radit sama sekali tidak menghiraukan panggilan Andra padanya.
"Ada apa dengan kak Radit dan Lathan? Kenapa sikap mereka berdua hari ini terasa aneh? Pikir Andra sambil menatap punggung Radit yang berjalan semakin jauh
Untuk melengkapi sandiwaranya dengan Lathan, Radit menggunakan kamar lain untuk beristirahat. Dia menggunakan kamar tamu yang berada diujung namun tetap berada disatu lantai dengan kamarnya sendiri.
Radit berbaring diatas tempat tidur. Dia memjamkan mata dengan sebelah tangan menutupi matanya.
Drap drap ...
__ADS_1
Radit mendengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan mendekatinya, namun dia tetap memejamkan mata dan pura-pura tertidur. Perlahan orang itu naik keatas tempat tidur Radit dan berbaring disampingnya. Radit masih tetap mengabaikannya seakan dia tertidur pulas.
Radit sedikit membuka matanya dan mengintip orang yang ada disebelahnya. Terlihat Lidia yang sedang duduk disebelahnya. Perlahan dia membuka kancing bajunya, menurunkan bagian lengannya dan sedikit merobeknya hingga terlihat pundak dan juga tulang selangkanya. Lidia pun melepaskan ikat rambutnya dan membuatnya terlihat berantakan. Penampilannya saat ini benar-benar kacau. Dia juga menambahkan tetes mata agar terlihat kalau di menangis.
"Wah wah wah ... persiapanmu benar-benar matang ya?" Radit membuka mata dan perlahan beranjak dari tempat tidurnya.
"Pa-pak Radit? Anda tidak tidur?" Lidia sangat terkejut saat melihat Radit yang ternyata tidak tidur sama sekali.
"Kamu tidak tahu ya kalau aku tidak bisa tidur disembarang tempat?" ujar Radit dengan senyum tipis dibibirnya dan nada bicara yang dingin.
Lidia gemetar meligat senyum Radit yang menyeramkan. Keringatnya mulai bercucuran karena dia ketakutan.
"Karena sudah seperti ini ... sepertinya saya tidak bisa lagi bermain - main dengan anda. Jadi .... Aaaaahhhh!!!" Lidia terlihat pasrah dengan apa yang terjadi, namun sesat kemudian dia menjerit dengan sangat keras. Tapi Radit tetap tenang dan diam memperhatikannya
"Hah. ternyata kamu belum memahami situasinya ya?" ujar Radit yang menghela napas panjang lalu berjalan ke salah satu pot bunga yang terpajang disana. Radit mengambil sesuatu dari dalam pot bunga dan memegangnya.
"Kamu lihat ini? Yang kamu lakukan itu sudah terekam disini? Kamu pikir bisa melakukan hal sembarangan dirumah ini? Kamu salah besar. Harusnya kamu tahu rumah siapa yang sedang kamu tempati. Kamu masuk kerumah Raditya Reifansyah Nugraha. Bisa masuk kesini belum tentu bisa keluar dari sini" ujar Radit dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam...
"Sebaiknya kamu pikirkan baik-baik sebelum semua orang datang kemari!"
Brak!
'Apa yang terjadi?!" Andra langsung membuka pintu dan berteriak setelah mendengar teriakan Lidia
"Bu Andra ... hu ... uu ... uu ..." Lidia memulai aktingnya dengan raut wajah memelas. Dia pun berlari kehadapan Andra dan bersujud dihadapannya.
"Tolong saya. Pak Radit berusaha menodai saya. Anda lihat kan. Tadi pak Radit bilang kalau dia membutuhkan hiburan lain dan dia ingin saya menyenangkannya ... hiks ... hiks... hiks..."
"Kak Radit ...? Apa kamu bermain-main dengannya dibelakangku?" Andra bertanya pada Radit dengan mata berkaca-kaca seakan aur mata itu bisa tumpah kapan saja.
Radit hanya diam saja dengan sikap yang tenang. Lalu dia tersenyum lembut dan berjalan mendekati Andra
"Istriku tersayang, apa menurutmu aku bisa bersentuhan dengan rubah licik yang dipenuhi dengan kotoran? Kamu bisa lihat sendiri apa yang terjadi" Radit menunjukkan sebuah kamera kecil dan memintanya untuk melihat hasll rekaman kamera itu
__ADS_1
"Jangan bilang ini ..." Andra menatap Radit penuh tanya
"Seperti duaanmu. Ini yang kita cari, jadi jangan marah ya sayang" Radit mengangguk disertai senyum lalu mencium punggung tangan Andra.
Saat pasangan suami istri itu sedang bermesraan, Lidia berusaha kabur dan berlari dari rumah Radit, namun Radit menyadarinya.
"Pengawal! Tangkap dia!" Teriak Radit saat Lidia baru turun ke lantai bawah
"Aaah!!1 Tidak!! Lepaskan aku! Pak Radit, aku minta maaf! Aku telah melakukan kesalahan!" Radit dan Andra berjalan menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Disaat yang sama, Lathan pun keluar dari kamarnya
"Papi, apa permainan kita telah selesai? Kenapa cepat sekali?"ujar Lathan dengan polosnya. Andra yang menyadari keadaan Lidia dengan bajunya yang berantakan langsung menutup mata Lathan
"Jangan buka matamu!" Radit dan Lathan sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Andra
"Mami, apa yang kamu lakukan? Kenapa menutup mataku?" tanya Lathan yang bingung sambil tangannya memegangi tangan Andra
"Matamu bisa tercemar. Jadi jangan buka mata!" Andra terdengar sangat serius dengan apa yang dia lakukan.
"Aku tidak akan melihat apapun. Mana mungkin aku terpengaruh dengan wanita seperti itu!" Lathan berusaha memberontak agar Andra melepaskan tangannya.
"Kalian! Berikan salah satu jas kalian untuk menutupinya. Aku tidak ingin mata anakku tercemar gara-gara perempuan seperti dia!" Radit yang sejak tadi berusaha menahan tawa langsung memerintahkan salah satu pengawal untuk melepaskan jasnya dan menutupi Lidia.
"Baik, Pak!". Salah satu penjaga pun melepaskan jaketnya dan menutupi Lidia yang terduduk dilantai dengan sangat menyedihkan.
"Sayang sekarang sudah, jadi kamu bisa melepas tanganmu dari mata Lathan" ujar Radit pada Andra. Andra pun mengangguk dan melepaskan tangannya yang menutupi mata Lathan.
"Haah... Mami membuatku terkejut. Papi, apa sekarang aku bisa melakukannya?" Lathan menghela napas lega setelah Andra melepas tangannya dari matanya kemudian dia menatap Radit penuh antusias
"Apa yang kalian rencanakan?" Kini Andra yang terlihat bingung dengan apa yang direncanakan Radit dan Lathan
"Tidak ada. Hanya saja kali ini papi mengizinkan aku bersenang-senang. Iya kan, Pih?"
"Iya, tapi sebelum itu ... kita biarkan Lidia menyelesaikan tugas terakhirnya sebelum kamu bermain dengan mereka" Radit menganggukkan kepala dan bicara dengan seringai dibibirnya.
__ADS_1