
Lathan dan Lili telah kembali dari mall setelah seharian menemani Andra berbelanja. Mereka berdua terlihat lemas dengan wajah yang kesal.
"Papi!"
Teriak Lili begitu melihat Radit yang sudah tiba dirumah
"Kalian baru kembali? Kenapa wajah kalian kusut seperti itu?" Radit bertanya pada Lathan dan Lili dengan senyum manis dibibirnya. Dia pun langsung menyambut putri kecilnya yang berlari kearahnya sementara Lathan dan Andra langsung duduk disofa.
"Mami tangat lama. Tadi atu dan Tata menunggu mami tampai botan". Lili mengadu pada sang ayah mengenai Andra.
"Lalu apa yang kamu dan kak Lathan lakukan saat menunggu mami?". Radit bertanya dengan nada yang lembut pada Lili.
"Atu matan esclim tengan tata. Lata toklat tan tlobeli" Lili menjawab dengan cadel dan menggemaskan.
Lathan yang mendengarnya langsung menatap tajam Lili dengan mulut menggerutu tanpa suara.
"Kamu makan dua eskrim? Lathan ... kenapa kamu membelikan banyak eskrim untuk adikmu?".
Andra yang mendengar cerita Lili langsung bertanya pada Lathan dengan nada yang dingin dan tatapan mata yang sinis.
"Aduuh ... badanku rasanya gatal semua. Aku mau pergi mandi dulu". Lathan yang tidak siap mendengar omelan dari Andra langsung meninggalkan Radit dan Andra dengan sedikit berlari.
"Tata tabul Pih" ujar Lili sambil menunjuk Lathan yang semakin jauh
"Biarkan saja kak Lathan mandi. Badannya sudah bau karena seharian menemani kalian berdua" Radit bicara sambil menyentuh ujung hidung Lili yang menganggukkan kepala sambil tersenyum menanggapi ucapan Radit
***
Sementara itu dikamar Ardhan.
Ardhan sedang sibuk dengan ‘tugas sekolah’ yang dia miliki.Dia menatap layar computer tanpa berkedip dan membaca setiap kata yang tertulis disana.
“Kenapa sangat banyak begini? Aku ini siswa menengah pertama, tapi yang kubaca adalah laporan keuangan sekolah. Ini bisa jadi berita yang sangat viral jika sampai ada yang tahu kalau seorang siswa membobol komputer disekolahnya sendiri” gumam Ardhan yang bicara pada dirinya sendiri sambil terus membaca apa yang tertulis dilayar komputer.
Tring
Ardhan langsung menoleh pada ponsel dihadapannya saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Ardhan, kamu tidak akan langsung berhenti sekolah karena kejadian disekolah kemarin kan? Ingat kalau kamu ini hanya murid baru dan mereka itu senior yang memiliki kekuasaan disekolah. Orang tua mereka punya sedikit andil dalam keuangan sekolah. Jadi wajar kalau mereka sedikit menindas kita saat orientasi. Tapi jika memang kamu memutuskan untuk pindah sekolah, maka aku tidak akan menahanmu”
Ardhan mencibir saat membaca pesan itu
“Cih. Mereka sombong karena mereka tidak tahu siapa aku. Pindah sekolah karena mereka? Tidak mungkin! Sekolah juga hanya memihak pada anak dari keluarga yang memberikan bantuan dana lebih besar ke sekolah. Lihat saja. Aku akan berikan sedikit kejutan untuk kalian”
Flash back on
Sekolah Ardhan
__ADS_1
“Hei! Murid baru! Kesini kamu!”.
Seorang senior memanggil Ardhan dengan sikap yang sombong saat dia sedang makan siang dikantin sekolah.
“Ada apa, Kak? Kalian memanggilku?” Ardhan pun mendekat dan menanggapi dengan sikap yang dingin dan juga acuh tak acuh.
“Kamu harus sopan pada kami. Kami ini seniormu dan kami ingin kamu … makan ini dan jangan sampai ada yang tersisa”.
Salah seorang murid itu meletakkan satu sendok garam untuk burung diatas makanan Ardhan
“Kenapa aku harus makan itu? Kalian bisa mencoba sendiri rasanya setelah ditambahkan dengan garam”.
Ardhan yang sebelumnya bersikap acuh tak acuh, kini menatap empat orang seniornya itu dengan tatapan dingin. Dia terus menatap para senior yang sedang tersenyum saat membully Ardhan.
“Ini makan siangmu. Pihak sekolah bisa marah jika ada makanan yang tersisa. Jadi kamu harus menghabiskannya atau kami akan melaporkannya pada pihak sekolah”
Dahi Ardhan berkerut saat menatap para senior yang sedang menertawakanya.
“Kalian ingin melaporkan aku atas apa yang disebabkan oleh kalian? Coba saja. Aku tidak salah, jadi sudah pasti tidak akan diperlakukan seperti apa yang kalian katakan” ujar Ardhan dengan penuh percaya diri.
“Baik. Kita lihat saja”. Senior itu menoleh kesana kemari lalu tersenyum saat melihat seorang guru laki-laki.
“Pak guru! Tolong kemari!”. Guru itu pun mendekat kearahnya setelah dipanggil
“Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul begini? Bukannya makan” ujar guru itu dengan sikap dingin sambil menoleh ke sekelilingnya.
“Saya tidak ingin makan lagi karena makanannya asin. Jika kalian mau, habiskan saja!”. Ardhan pun menyodorkan piringnya pada senior itu.
“Bapak lihat sendiri kan betapa sombongnya dia?” siswa itu dengan sengaja memprovokasi gurunya
“Siapa nama kamu?” tanya guru itu pada Ardhan.
“Ardhan”
“Ardhan, karena kamu tidak mau menghabiskan makananmu, maka kamu harus mencuci semua piring yang ada dikantin hari ini. Jangan sampai ada yang tersisa. Ini juga peringatakan untuk kalian semua agar tidak membuang-buang makanan”
“Tapi pak, Itu …”
“Tidak ada tapi-tapian. Kamu tetap harus melakukannya. Saya akan memeriksanya sendiri nanti” guru itu langsung berbalik pergi tanpa mendengarkan penjelasan dari Ardhan
Empat orang senior yang mengerjai Ardhan tertawa bahagia melihat Ardhan mendapatkan hukuman.
“Makanya, jadi anak baru itu jangan belagu disini. Kami bisa membuatmu menderita selama kami masih sekolah disini” ujar salah seorang senior sambil berbisk pada Ardhan
Tangan Ardhan mengepal keras sambil menggerutu dalam hati
“Sialan, padahal aku tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka tiba-tiba saja mengusikku. Kita lihat saja nanti”
__ADS_1
Flash back off
“Sekarang aku memiliki kunci ini ditanganku. Kita lihat saja kunci ini bisa dipakai untuk apa saja”. Ujung bibir Ardhan sedikit terangkat membentuk seringai tipis saat dia mendapatkan apa yang dia inginkan
***
Ditempat lain Fandy dan Zara baru saja tiba dirumah Fandy.
"Akhirnya aku kembali kerumah ini. Sudah lama sekali aku tidak datang kemari". Zara yang baru turun dari mobil langsung bicara sendiri sambil menatap rumah besar dihadapannya.
"Apa benar sudah selama itu? Sepertinya kamu terlalu berlebihan" ujar Fandy dengan nada mencibir sambil menurunkan koper milik Zara.
"Tentu saja itu sudah lama. Terakhir aku datang kemari adalah saat aku sekolah menengah pertama, sekarang ini aku kemari saat sekolah menengah akhir. Hitung saja berapa tahun aku tidak datang kemari". Zara yang kesal menanggapi dengan sinis.
"Ya ya ya. Ayo cepat kita masuk!". Fandy menanggapi dengan sikap acuh tak acuh sambil berlalu pergi meninggalkan Zara diluar.
"Fandy! Tunggu aku!" teriak Zara sambil berlari mengejar Fandy yang sudah masuk lebih dulu.
"Zara ...!"
"Tante ...!"
Begitu menginjakan kaki didalam rumah, Zara dan Fandy disambut dengan teriakan dari seorang wanita paruh baya. Zara pun ikut berteriak saat melihatnya.
"Pertunjukan akan dimulai" gumam Fandy sambil berlalu pergi meninggalkan Zara.
"Zara, bagaimana kabarmu? Kamu sudah berubah jadi gadis yang sangat cantik ya sekarang? Bagaimana keadaan disana? Apa orang tuamu baik-baik saja?". Wanita itu langsung mengajukan banyak sekali pertanyaan tanpa memberikan Zara kesempatan untuk menjawabnya. Dia bahkan tidak membiarkan Zara duduk terlebih dahulu.
“Aku baik-baik saja tante. Orang tuaku juga baik-baik saja tante. Tante sendiri, bagaimana kabar tante? Tante terlihat semakin cantik saja, seperti masih remaja”. Zara pun menanggapi ucapan ibunya Fandy dengan melontarkan pujian untuknya.
“Tante juga baik-baik saja. Sudahlah. Ayo masuk kedalam. Kamu pasti lelah kan? Kamar untuk kamu sudah disiapkan, biar Tante antar ke kamarmu” ibu Fandy pun menggandeng tangan Zara dan berjalan menuju kamar yang telah disiapkan untuk Zara.
“Terimakasih tante karena mengizinkanku untuk tinggal disini bersama dengan kalian” Zara menatap ibu Fandy dengan lembut saat dia bicara padanya.
“Tidak usah bersikap sungkan seperti itu. Kamu ini kan keponakanku juga, mana mungkin Tante tidak mengizinkanmu untuk tinggal disini? Justru Tante senang karena sekarang ada kamu yang akan menemani Tante. Sandy dan Fandy sama sekali tidak bisa diajak bicara dan mereka membosankan”. Ibu Fandy mengerucutkan bibirnya saat dia mengeluh pada Zara mengenai dua anak laki-lakinya.
“Aku bisa tahu bagaimana perasaan tante menghadapi mereka jadi tante tidak perlu khawatir karena sekarang ada aku disini” Zara tersenyum ceria saat dia menghibur ibu Fandy.
“Terimakasih Zara yang cantik. Kamu pasti lelah, Tante tidak akan mengganggu kamu istirahat. Jika kamu butuh sesuatu, tinggal langsung katakana saja pada pembantu dirumah ini. Karena mulai sekarang ini juga jadi rumahmu, jadi tidak perlu sungkan, oke?”
“Baik, Tante. Terimakasih”
“Ya, istirahatlah”
“Iya”
Zara menanggapi dengan anggukan kepala dan menatap punggung ib Fandy yang semakin menjauh.
__ADS_1
“Haah … lelahnya … aku rasanya tubuhku tidak sanggup lagi bergerak”. Zara mengeluh sambil melemparkan tubuhnya keatas kasur yang empuk dan seketika tertidur lelap.