Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Sang Malaikat Penyelamat.


__ADS_3

Di kediaman Wirawan...di kamar Devan.


"Mas..aku minta transferan lagi yaa..saldo atm-ku udah menipis nih.." kata Tania ke Devan.


''Bukannya minggu lalu baru aku transfer ya ?" kata Devan sambil merapikan piyama sembari menghadap ke arah istrinya yang sudah ada di ranjang.


"Aku pakek buat shopping sama transfer ke Papa.." kata Tania enteng.


"Lagi ?" seru Devan.


"Emang buat apa sih Papamu minta transfer lagi ?" tanya Devan ke istrinya yang dari tadi aktif dengan hp-nya terus.


"Uang yang aku transfer itu bukan pure uang pribadiku Tania..itu ada uang perusahaan juga didalamnya..kalau terus-terusan aku pakai..Papa bisa curiga lho.." kata Devan setengah berbisik dan penuh penekanan.


"Udah aku bilangin Papaku..tapi dia bilang perusahaannya minus terus..jadi butuh suntikan dana.." jawab Tania enteng.


"Lagian aku heran deh sama Papa kamu ! Nyerahin perusahaan kok setengah-setengah..gak percayaan banget sama anak sendiri..!" protes Tania sambil menghempaskan hp ke samping tubuhnya.


"Bagaimanapun..Papa adalah pemilik perusahaan yang sah..aku cuma mengelola,Tania.." kata Devan kalem.


"Ya kamu jangan terima gitu aja doong...kan kamu yang lebih berperan memajukan perusahaan.." kata Tania


"Ya nggak juga..kemajuan perusahaan bukan aku aja yang berperan penting...itu semua kerjasama tim yang juga harus dengan pertimbangan dan persetujuan Papa..penjelasan Devan.


"Lagian emang kamu pikir uang yang kita dapat itu pure gajiku apa ? Lebih dari gajiku yang sebenarnya,Tania..gajiku gak sampai segitu juga ! Untungnya Papa ngasih leluasa aku untuk ambil uang tanpa minta tanda tangannya..kalau gak..bisa berabe urusannya.." kata Devan.


"Halahh..uang orang tua kamu sendiri juga..gak masalah,kan ?" kata Tania.


"Ya justru uang orang tuaku itu aku bisa gunakan leluasa...coba bayangkan kalau aku kerja di perusahaan orang..belum tentu aku bisa nurutin gaya hidupmu yang sosialita itu..dan juga mana bisa aku nyuntik modal perusahaan Papa kamu..." papar Devan.


"Aahh..udah ah..males aku debat sama kamu Mas.." kata Tania yang merasa terpojok atas ucapan Devan.


"Makanya kamu jangan culas dan merasa kurang terus..sekali-sekali belajar bersyukur gitu.." lanjut Devan.


Tania tak merespon dan memunggungi suaminya itu.


Masih di kediaman Wirawan.Tuan dan Nyonya Wirawan sedang bercengkrama di ruang keluarga.


"Besok aku akan ke RS Ma...mau ngenalin secara formal ke staff dan pegawai anak kita Akmal sebagai penerus pengelola RS peninggalan Papaku.."kata Tuan Wirawan.


"Sekalian aku juga ingin melihat sendiri,cucu Mbah Rasni yang bekerja sebagai OG katanya.." lanjut Tuan Wirawan sambil melihat ke arah TV yang berukuran super lebar yang menyala di depannya.


"Iya Pa..dan cepat atau lambat kita harus bicara pada Mbah Rasni mengenai rahasia yang selama ini kita tutup rapat-rapat.." kata Nyonya Wirawan.


"Iya..dan dalam hal ini Akmal juga harus tahu mengenai hal ini..." kata Tuan Wirawan


"Harus tahu mengenai apa Pa ?" tanya Akmal yang tiba- tiba muncul di ruang tengah tanpa disadari oleh Papa dan Mamanya.


Mereka terlihat agak terkejut dan kelihatan gelagapan setelah menyadari kehadiran Akmal.


"Eh..kamu tuh pulang kerja gak ucap salam..main masuk..bikin kaget aja.." kata Papa mengalihkan kegugupannya.


"Eee..enggak itu tadi Papa cerita,kalau besok mau datang ke RS..katanya Akmal harus tahu mengenai hal ini.." kata Mama bohong.


"Ooh..itu..Akmal udah tahu kok Pa..dari ketua divisi poli nutrisi dan gizi..tadi kan ada rapat.." kata Akmal


"Ooh gitu.." kata Papa.


"Oh ya Pa..ternyata cucu Mbah Rasni pintar juga..tadi dia bantu sekretaris medis nyusun ketikan materi rapat..dan akhirnya ketua divisi memberi tugas pada dia untuk menjadi notulis pada saat ada rapat atau event di divisi poli nutrisi dan gizi.." penjelasan Akmal sembari duduk di sofa dan melonggarkan kancing kemeja atasnya.


"Oh ya ?" respon Papa.


Seperti apa gambaran cucu Mbah Rasni di mata kamu Akmal ?" tanya Mamanya.


"Kok Mama tanya ke Akmal seperti itu ? Emang penting ya ?" tanya Akmal santai.


"Yaa Mama kan cuma pengen tahu aja.." jawab Mamanya.


"Eemm..dia tuh reseh,ceroboh,sok polos,sok lugu dan gak tahu terimakasih.." kata Akmal dengan nada kesal


''Penggambaranmu itu kayak kamu udah kenal lama sama gadis itu,Akmal.." kata Mamanya tertawa geli.


"Enggak sih Maa..tapi kesan Akmal selalu buruk saat bertemu dia.." jawab Akmal.


"Siapa nama cucu Mbah Rasni itu ?" tanya Papanya.

__ADS_1


"Anindya,'' jawab Akmal.


"Apa dia cantik ?" tanya Mamanya lagi.


"Tanya Papa besok setelah bertemu sendiri dengan dia," jawab Akmal mulai gak nyaman dan berdiri dari sofa tempatnya duduk tadi.


"Lho kan Mama tanya ke kamu,Akmal.." kata Mamanya


"Gak penting juga kan Maa.." kata Akmal sekenanya . "Udah ah..Akmal mau ke kamar dulu..bersih-bersih badan.." kata Akmal lalu melangkah menaiki tangga menuju kamarnya.


Tuan dan Nyonya Wirawan terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.


...----------------...


Flash Back (16 tahun yang lalu)..


"Toloong...tolooong seseorang..tolong suami saya.." teriak seorang perempuan yang membawa dua anak laki-laki bersamanya..karena melihat suaminya sedang dikeroyok berandalan di sebuah gang sempit di area terminal Kalideres ,Jakarta Barat.Kedua anaknya menangis mengiringi teriakannya..tapi belum ada orang yang menolongnya,karena daerah itu jarang dilalui orang.


Suaminya babak belur dihajar berkeroyok.Hingga beberapa saat kemudian,muncul malaikat penolong bagi mereka..


"Hehh..lepaskan dia ! kalau berani satu lawan satu !" teriak malaikat penolong itu yang seorang laki-laki dari depan gang..dia berperawakan dempal dan berkulit sawo matang,sepertinya sering kena sengatan matahari dan wajahnya tertutupi kumis serta janggut yang tidak tertata rapi.Sorot matanya tajam dan berhidung mancung.


"Aahh..jangan ikut campur kalau kamu masih sayang nyawa kamu !" seru salah seorang berandal pengeroyok.


"Kalian yang tidak sayang nyawa kalian ! Lepaskan dia ! Atau aku panggilkan para supir angkot di terminal ini ! Biar kalian digebugin dan digiring ke kantor polisi !" ancam laki- laki itu.


"Emang siapa kamu berani- berani ngancam kami ?" tanya salah satu berandal


"Aku petugas kebersihan di terminal ini !" jawab laki - laki itu lantang.


"Aku yakin kalian bukan berasal dari wilayah ini..mau aku panggilin preman sini hah ??" sambung laki - laki itu.


Dan kata - katanya itu ampuh untuk menakut - nakuti berandal - berandal itu..hingga mereka melepaskan tubuh suami perempuan tadi.Yang langsung disambut tangis anak dan istrinya.


"Awas kamu,Wira..kali ini kamu selamat..tapi tidak lain hari..!" ancam seseorang diantara mereka,kemudian mereka berlari pergi menggalkan tempat itu.


"Terimakasih sudah menolong kami.." kata si suami dengan memegangi perut dan bibirnya yang berdarah.Si istri sudah lebih tenang, sementara anak - anaknya masih menangis tapi lebih pelan.


"Alhamdulillah..kalian bisa selamat...gimana ceritanya sampai kamu dikeroyok berandal itu ?" tanya malaikat penolong itu.


"Saya sekeluarga melarikan diri dari kampung ke sini...Papaku seorang dokter..dia difitnah oleh rivalnya hingga rumah sakit yang didirikannya di blacklist dan keluarga kami diancam...Papaku berusaha membereskan masalah didaerah asal kami Jawa Timur..dia menghawatirkan keselamatan dua cucunya ini..jadi sementara kami disuruh bersembunyi ke luar pulau dulu..sampai kondisi disana aman.Tapi ternyata rival Papaku menyuruh berandalan mengikuti kami...akhirnya mereka berhasil mendapati kami di terminal..mereka mengambil seluruh barang bawaan kami dan berniat membunuhku..sebelum membawa anak istriku..syukurlah ada kamu yang menolong kami.." penjelasan si suami kepada sang penyelamatnya.


"Aku Wirawan dan ini istriku Mira..kedua putraku bernama Devan dan Akmal.." kata si suami.


"Lalu tujuan kalian mau kemana ? Biar saya antar nanti.." tanya Johan.


"Kami tidak punya tujuan..dan harta yang kami bawa sebagai bekal sudah dibawa semua oleh berandal suruhan tadi.." kata Mira sambil menyeka air matanya dan memeluk kedua putranya yang terlihat masih shock.


"Kalau begitu ayo ke rumahku saja..yaa cuma rumah sempit dengan fasilitas seadanya..itupun aku dapat karena aku menjadi petugas kebersihan terminal dua bulsn yang lalu.." ajak Johan.


Wirawan dan Mira saling berpandangan bingung harus menerima ajakan Johan atau tidak.


"Itupun kalau kalian bersedia..coba lihat putra kalian..kasihan mereka.." kata Johan.


Dan akhirnya mereka bersedia ke rumah Johan.


"Silahkan masuk Wira.." ucap Johan kepada Wirawan dan Mira juga putra-putra mereka.


"Maaf kami merepotkanmu,Johan.." kata Wirawan sembari masuk diikuti istri dan anaknya ke dalam rumah yang terbilang sempit dan pengap milik Johan.


"Kamu belum mengenal kami..tapì kenapa kamu mau menampung kami disini ?" tanya Wirawan pada Johan.Lalu mereka sekeluarga duduk di karpet lusuh yang ada di ruang depan rumah Johan.


"Sudahlah..kita sama- sama perantauan..kamu lebih hebat,berani membawa keluargamu turut serta..sedangkan aku malah meninggalkan ibuku dan anakku di kampung.." kata Johan.


"Berapa usia putra-putramu ini ?" tanya Johan lagi.


"8 dan 4 tahun.." jawab Mira.


"Di kampung aku punya anak perempuan..masih bayi..istriku meninggal setelah 3 bulan melahirkannya karena terus menerus mengeluarkan darah nifas...aku depresi berat..dan dua bulan yang lalu aku memutuskan untuk kesini mencari pekerjaan..aku meminta ibuku untuk menjaga anakku di sana...rencanaku nanti kalau aku dapat penghasilan akan aku kirim ke kampung..aku merasa menjadi seorang pecundang meninggalkan mereka...tapi bagaimana lagi..kenangan bersama istriku membuat aku seperti mayat hidup jika terus disana..." cerita Johan kepada Wirawan dan Mira.


"Kami sangat berhutang budi padamu,Johan.." kata Wirawan.


"Maa..Devan lapar.." rengek anak pertama mereka.


Wirawan hanya bisa memeluk Devan karena saat ini sepeser uangpun tak dimilikinya..Mira juga mengelus kepala anak keduanya yang berdandar di pangkuannya.

__ADS_1


"Iya sayang..bentar ya..Paman akan beli makanan untuk kamu.." kata Johan ramah.


"Kalian tinggal disini saja untuk sementara..berandalan itu tidak akan berani datang kesini.." kata Johan lagi.


"Terimakasih sekali lagi Johan.." ucap Wirawan.


"Sudahlah..kita dipertemukan seperti ini tak luput dari kehendak Gusti Alloh.." kata Johan sambil berlalu keluar rumah membeli makanan.


Dan begitulah hari demi hari berlalu..Wirawan beserta keluarganya numpang tinggal di rumah Johan..untuk biaya kehidupan mereka sekeluarga pun mengandalkan hasil kerja Johan..Wirawan masih dilarang keluar jauh oleh Johan,karena bukan tidak mungkin mereka masih terus diintai oleh orang suruhan rival Papanya.


Tak terasa sudah 5 bulan berjalan..Wirawan sudah tidak bisa menahan rasa sungkannya ke Johan karena terus bergantung pada Johan untuk biaya hidup dia dan keluarganya.


Bahkan karena itu..Johan tidak bisa mengirimi uang ke kampung untuk anak dan ibunya sendiri.


Lalu dia berinisiatif ikut kerja dengan Johan tapi sebagai jukir di terminal.Sebenarnya Johan tidak mengizinkan,tapi Wirawan memaksa..


Istri dan putra-putranya tetap tinggal di rumah Johan sementara dia bekerja jadi jukir


Hingga suatu hari..hal yang tak terduga terjadi..


Saat Wirawan lagi berteduh dari teriknya marahari..setelah parkiran terlihat sepi..sekelompok orang datang menghampirinya dari belakang.


"Akhirnya kamu keluar dari lubang persembunyianmu,hah !" seru seorang diantara mereka.Wirawan menoleh ke sumber suara.Dan ternyata berasal dari suara berandal yang disewa oleh rival Papanya untuk mengahabisinya dan keluarganya.


"Sudah lama kami menunggu saat ini..." kata yang lain dari kelompok berandal itu.


Wirawan terhenyak dari duduknya dan berancang-ancang lari dari tempat itu.


Tapi keburu di halangi oleh kawanan berandal itu.


Wajah bengis mereka begitu menyiratkan niat buruk mereka.


" Mau apa kalian ? Aku tidak berbuat salah pada kalian..aku hanya ingin tenang berkerja.." kata Wirawan dengan suara yang sedikit bergetar.


"Orang yang membayar kami juga ingin tenang kerja tanpa ada keluargamu.."


"Papamu di kampung asalmu sudah berhasil membuktikan kasus yang menimpanya di rumah sakit hanya fitnah semata..dia menjebloskan orang yang membayar kami ke penjara..tapi Papamu itu terlampau bodoh...dia lupa kalau permainan uang bisa mengatasi jeratan hukum dan jeruji besi...ha ha ha.." pimpinan berandal itu bercerita dan disambung tawa teman-temannya.


"Jadi sekarang kau adalah target utama kami..!"


seru salah satu mereka.


Lalu melayangkan tinjunya ke wajah Wirawan.


Tentu saja Wirawan tidak tinggal diam,dia berusaha melawan sekuat tenaganya.Hingga beberapa saat kemudian ada Johan yang sedang membawa nasi bungkus yang memang hendak diberikan pada Wirawan.


"Heyy ! Dasar berandalan ! Masih berani kembali lagi.." seru Johan.


Dia lalu membantu Wirawan adu duel dengan para berandal itu.


Mereka kalang kabut juga menghadapi perlawanan Wirawan dan Johan.Tapi mereka berdua masih kalah jumlah dengan para berandal


Hingga puncaknya salah satu berandal mengeluarkan pisau lipatnya..kilatan mata pisaunya beradu dengan terik silau matahari..membuat efek kilatan di mata.


Targetnya tentu saja Wirawan..


Berandal itu mendekati Wirawan dan berniat menghujamkan pisau itu..tapi di tahan oleh pukulan keras Johan ke punggungnya.


Dia berbalik arah dan ganti menjadikan Johan sebagai target pisaunya.Untunglah Johan bisa menahan dan menangkisnya.


Sementara Wirawan bergulat dengan berandal lainnya hingga berhasil menghempaskan tubuh mereka ke tanah.


Bersamaan dengan itu...dia melihat Johan dalam posisi genting..dia terhimpit dan akan ditusuk pisau oleh berandal tadi


Dia spontan mengambil sebongkah batu besar...lalu Wirawan mengangkatnya dan menghantamkan batu itu ke kepala berandal yang menghimpit Johan.


"Aaaa..Bughgh..!" suara teriakan Wirawan dan suara batu mengenai kepala berandal itu...


Seketika pisau terlepas dari tangan si berandal..dia berganti memegangi kepalanya yang terkena hantaman batu.


Dia ambruk dan dari kepalanya mengalir deras darah segar...


Wirawan dan Johan saling berpandangan..bingung dengan situasi yang mereka hadapi sekarang ini.


Teman-teman berandal itu panik dan langsung melarikan diri begitu melihat teman mereka terkapar.

__ADS_1


Johan jongkok dan memeriksa kondisi berandal tadi.


"Dia sudah tidak bernapas,Wira..." kata Johan.


__ADS_2