Tidak Tanpamu

Tidak Tanpamu
Roby Sang Rival


__ADS_3

"Ada urusan apa kamu disini,Rob ?" tanya Rika."Papa yang mengundang Roby kesini Rika ?" kata Pak Burhan.Papa Rika yang keluar dari dalam rumah."Papa ? Bagainana Papa bisa kenal Roby ?" tanya Rika."Papa menang tender pembangunan rumah sakit milik orangtua Roby,yang akan di kelola oleh Roby sendiri,sudah 80% pembangunannya," kata Pak Burhan.Akmal hanya menjadi pendengar,Akmal paham betul siapa Roby..Mereka adalah saingan waktu di SMA dulu..baik dalam bidang akademik maupun untuk mendapatkan hati Rika.Roby berperawakan lebih kekar dan atletis dari Akmal dulu..tapi sekarang tampaknya mereka imbang..sejak Akmal menjaga pola makan menerapkan ilmu nutrisi dan gizi,jurusannya kuliah.Dan olahraga sebagai penunjangnya.Akmal ingat dulu di SMA,Roby tak ragu untuk berbuat culas dan curang untuk mewujudkan kehendaknya.Rika pun paham tabiat Roby yang arogan dan posesif,berbeda dengan Akmal yang berkepribadian cool dan cuek.Roby selalu mengandalkan psngaruh dan harta orang tuanya..sedangkan Akmal lebih mandiri dan cenderung menutupi kalau dirinya anak orang berada."Jadi kamu mau bangun rumah sakit,Rob ?" tanya Rika."Iya..niatku sih membangun rumah tangga sama kamu. tapi kamu gak mau sih.." kata Roby. " Ha..ha..ha..bercanda..." kata Roby tertawa lepas. Akmal,Rika dan Pak Burhan hanya tersenyum kecil. " Ya udah..saya permisi pulang dulu Pak..ayo Rob..duluan ya..!"pamit Akmal."Hey..kenapa buru-buru sih..kita ngobrol dulu dong..sekalian reuni..ya nggak..?"ajak Roby. "Mungkin lain kali Rob..udah malam juga.." jawab Akmal sambil menepuk bahu Roby. "Aku kira kamu masih studi di luar negeri.."kata Roby lagi. "Rehat dulu pulang..capek mikir.." jawab Akmal asal.Rika menemaninya ke mobil. "Jahat kamu Sayang...masak ninggalin aku sama Roby sih.." protes Rika lirih. "Lho kan ada Papa kamu ,Sayang.." jawab Akmal. "Ihh..kamu terlalu cuek deh.kalau aku diambil Roby gimana hayo ?" rengek Rika. "Aku yakin kamu masih cukup waras untuk memilih antara aku atau dia.." kata Akmal sambil tersenyum meledek Rika.Lalu masuk ke dalam mobil. "Iihh..nyebelin deh.." rengek Rika.Lalu Rika berbalik dan menuju ke dalam rumahnya.Papanya dan Roby tengah berbincang santai..Mamanya muncul membawa kudapan untuk mereka.Rika mau langsung masuk ke kamar sebenarnya..tapi dia masih tidak enak hati.Jadi dia ikut duduk di ruang tamu dulu."Jadi di daerah mana rumah sakit orangtuamu didirikan ?" tanya Rika membuka percakapan..semata basa-basi karena Papanya kontraktor proyek RS milik keluarga Roby."Di Jalan Pemuda.." jawab Roby antusias..karena wanita yang mencuri hatinya mau ngobrol dengannya." Ooh..apa nama rumah sakitnya ?" tanya Rika lagi." RS. Husada Utama.." jawab Roby. "Kalau kamu mau kamu bisa bergabung bersamaku di rumah sakitku.."sambung Roby. "Aku masih nyaman di RS Bhakti Wirawan.." jawab Rika. "Pasti nanti kamu lebih nyaman bersamaku," goda Roby pada Rika. "Apaan coba ?" jawab Rika asal.Mama dan Papanya saling beradu pandang melihat respon Rika pada Roby.


Sedangkan Akmal sudah sampai rumahnya.

__ADS_1


"Om Akmal..Rafa kangen..!" sambut Rafa saat Akmal memasuki ruang keluarga.Akmal spontan berjongkok menyambut pelukan keponakan satu-satunya itu. "Masak sih ? kirain Rafa udah lupa sama Om.."kata Rafa. "Rafa kangen sama Om,karena Rafa ingat..Om janji mau ajak Rafa ke mall jalan-jalan dan beli mainan.." celoteh Rafa.Tuan dan Nyonya Wirawan juga Devan tergelak mendengar ocehan Rafa.Memang Rafa adalah nyawa di rumah itu..karena dia satu-satunya bocah kecil dan comel pula di keluarga Wirawan."Oh iya...sama satu lagi..Om juga janji mau ajak Rafa ke rumah Mbah Rasni,kan ?" sambung Rafa.Seketika Tuan dan Nyonya Wirawan berpandangan resah."Aduh..nih bocah..ingat aja kalau dijanjikan sesuatu..!" kata Akmal menepuk jidadnya.Kemudian dia berdiri sambil menggendong bocah berusia 4 tahun itu. "Ayo Om..sekarang aja ya..ya Om.." rengek Rafa. "Kamu kan capek habis perjalanan dari Malang,Rafa.." kata Akmal. "Enggak tuh..Rafa gak capek..Rafa pengen jalan-jalan sama Rafa tuh udah kangen banget sama Mbah Rasni.." rengek Rafa. "Ayo dong Om...Mbah pasti juga kangen sama Rafa.." kata Rafa. "Ih ge-er amat nih bocah.." ledek Akmal. "Ya wajar Rafa kangen sama Mbah Rasni,Akmal..orang yang biasa ngurusi dia dari mandi sampek nyuapin,juga tidur siang si Mbah..daripada sama Mamanya,Rafa lebih nurut sama Mbah Rasni.."cerita Devan. "Beneran Rafa ?" tanya Akmal seakan memastikan,karena Akmal kan 4 tahun ini ada di LN,makanya dia kurang tahu keseharian Rafa.Ketemu langsung sama Rafa dari lahir aja hanya beberapa kali saat liburan Idul Fitri..yang sering mereka bercakap lewat video call. "He-eh.." jawab Rafa polos. "Soalnya kelamaan kalau nunggu Mama..Mama mainan hp mulu.." celoteh Rafa. "Dasar Mamamu emang.." jawab Akmal. "Sstt..! " cegah Devan takut kedengaran Tania. "Sudah mgobrolnya Rafa..Om Akmal biar mandi dulu yaa..kan baru pulang kerja.."kata Nyonya Wirawan. "Iya ihh..bau acem..mandi sana Om..habis itu ajak Rafa jalan-jalan..!" seru Rafa. "Idih nih bocah..sok merintah.." kata Akmal tertawa geli sambil menekan hidung Rafa.Rafa hanya tertawa khas bocah cilik..ngegemesin. "Oh ya Pa..Papa udah tau belum ada rumah sakit baru di jalan pemuda ?" tanya Akmal ke Papanya. "Iya..Papa udah dengar dari bagian promosi kita..kalau gak salah itu rumah sakit milik orangtua teman SMA kamu si Roby.."kata Papa. "Iya Pa..orangtuanya nyuruh Roby untuk ngelola rumah sakit itu.."kata Akmal. "Ya kamu kan juga yang ngelola rumah sakit Bhakti Wirawan,Akmal.."kata Devan. "Nggak ah...aku belum siap dan belum mampu,Kak.." jawab Akmal. " Ya makanya Papa suruh nyiapin diri dari sekarang,Akmal.." sahut Tuan Wirawan. "Kamu harus belajar jadi pemimpin dan dokter yang baik..terusin kerja keras Kakekmu dulu...kalian berdua sama-sama dokter..beda sama Papa dan kakakmu yang basicnya pengusaha.." papar Tuan Wirawan.Akmal hanya garuk-garuk kepala yang tidak gatal,karena membayangkan betapa besar tanggung jawabnya jika harus mengelola rumah sakit Bhakti Wirawan.Sanggupkah dia ?...begitu yang ada di benaknya. " Om..ayo cepat mandi..keburu malam nanti jalan-jalannya.." kata Rafa membuyarkan lamunannya. " Iya iya bos cilik.." jawab Akmal berlalu ke kamarnya, meninggalkan anggota keluarga yang lain di ruang tengah.


Sementara itu di rumah Anindya...

__ADS_1


"Mbah..pussy mana ?" tanya Anin yang baru selesai mandi ke Mbah,karena tidak melihat pussy di kamarnya tadi.Dia mengenakan blouse v-neck warna kuning pastel dan celana kulot jeans abu tua."Di luar,Nduk..kayaknya lagi nunggu seseorang yang akan datang ke rumah ini deh.."kata Mbah Rasni.Anindya langsung tertawa geli."Ah..Mbah ini ada-ada aja.." kata Anin.Lalu Anindya menuju teras rumahnya..mencari keberadaan hewan kesayangannya itu.Ternyata benar..yang dicarinya tampak sedang memandangj keramaian jalan raya di depan rumah sederhana itu.."Pussy..kamu ngapain disini heh ?"sapa Anin pada hewan berbulu putih bersih dan berekor pendek tumpul itu.Sambil menggendong dan mengelusnya. "Meeoong..meeoong.." suara Pussy manja.Akhirnya Anin memangku Pussy di kursi teras rumahnya. " Dicariin dari tadi..eh ternyata asyik nongkrong disini yaa.." kata Anin pada Pussy yang mengendus enduskan mulutnya ke tangan Anin..Tak lama kemudian,ada sepeda motor sport meluncur ke pelataran rumah Anin.Tak lain dan tak bukan adalah Barra pengendaranya.Anindya sedikit kaget dan bingung melihat kedatangan Barra ke rumahnya.Barra turu dari sepedamotornya dan melepas helm full facenya.Pesona dokter muda itu memang tidak diragukan lagi..cool dan elegan.Dia memakai jacket kulit warna hitam dengan kaos putih didalamnya dan bercelana jeans. Perawakannya tidak begitu kekar..tapi tetap memiliki medan magnet yang kuat dengan wajah orientalnya yang khas.Anindya hanya bisa tersenyum kaku sambil menerka-nerka maksud kedatangan dokter muda itu."Dokter Barra.."gumamnya lirih karena bingung harus bicara apa."Assalamu'alaikum.." Barra mengucap salam."Wa'alaikumsalam warohmah.." jawab Anin. "Dokter..ehm..ada perlu apa datang ke rumah saya ?" tanya Anin ragu-ragu. "Gak disuruh duduk dulu,nih ?" tanya Barra. "Oh..maaf..saya sampai lupa saking gugupnya.." kata Anin sedikit malu. "Silahkan duduk,Dokter.." kata Anin lagi.Kemudian Barra duduk di kursi sebelah Anin berbatas dengan meja. "Nih baca isi wa ini..." kata Barra menyodorkan hpnya ke Anin.Anindya makin bingung..sambil mengambil hp di tangan Barra. Di layar hp tertulis, " Dokter Barra..saya minta tolong kepada dokter..agar memberitahu Anindya..bahwa besok saya tidak masuk kerja karena ada kepentingan keluarga..lalu tolong sampaikan juga untuk menggantikan tugas saya besok di divisi poli nutrisi dan gizi,menyiapkan proyektor dan mengeprint materi rapat.Anindya tidak punya hp.Terimakasih Dokter..saya tidak tahu harus minta tolong siapa lagi selain Anda.


"Ya Alloh Novi..bisa-bisanya dia..." kata Anin heran dan malu,sambil mengembalikan hp milik Barra."Jadi ini tujuan Dokter ke rumah saya...maaf ya Dokter Barra..jadi ngrepotin anda..." ucap Anin lagi. " Memang ada peraturan yang mengatakan kalau tidak masuk tanpa pemberitahuan,kita OG bakal kena SP dan potongan gaji..jadi Novi mungkin menghindari itu.." penjelasan Anindya.Barra yang memang basicnya tidak banyak bicara hanya diam saja mendengar cerita Anin. "Dokter..maafin saya yaa..tidak sepantasnya saya dan Novi merepotkan Anda seperti ini..Anda marah yaa ?" Anin tidak enak hati melihat Barra hanya diam dari tadi. " Besok saya akan minta uang Mbah untuk beli hp..biar gak ngrepotin Dokter lagi..maaf Dokter..sekali lagi maaf.." celoteh Anin.Bersamaan dengan itu..ada sebuah mobil menepi di jalan raya depan rumah Anin.Dan dari mobil muncul anak kecil berlari menuju rumah Anindya.Anak itu tidak lain adalah Rafa..dia memakai kemeja denim dengan kaos motif garis dan celana pendek...tapi sejenak kemudian lari kecilnya terhenti karena orang yang diharapkan dia jumpai tidak tampak.Yang ada hanya dua orang laki-laki dan perempuan yaitu Barra dan Anin,yang sama sekali tidak Rafa kenal.Dia berbalik menuju satu-satunya orang yang dia kenal,yaitu Akmal.Saar ini dia memakai t-shirt warna hitamdan celana jeans warna senada. "Oomm.."rengek Rafa menghampiri Omnya yang kala itu memakai "Kenapa ? ayo masuk..Mbah ada di dalam.." kata Akmal sambil menggandeng tangan Rafa. "Gak mau...takut.." kata Rafa.Barra dan Anin hanya mengamati dari teras.Lalu Anin melangkah maju menghampiri bocah kecil itu. sambil berjongkok."Hallo anak bagus...nih lihat Kakak punya apa ? " kata Anin sambil menyodorkan Pussy ke Rafa.Bocah itu masih diam dan belum nyaman dengan suasana disekelilingnya."Nih lihat...lucu kan..pegang deh.." kata Anin.Rafa hendak memegang Pussy..." Jangan Rafa..kotor itu.."cegah Akmal menepis tangan Rafa. "Jangan takut ..kucingnya rajin mandi kok..jadi selalu bersih dan wangi," kata Anin meyakinkan Rafa.

__ADS_1


"Akhirnya Rafa mau memegang Pussy..perlahan dia mulai mengelusnya..Pussy pun menurut tak melakukan perlawanan, malah seperti menemukan kenyamanan. " Kamu mau nyari siapa ?" tanya Anin pelan. "Mau nyariin Mbah.." jawab Rafa mulai tenang. " Ooh...iya..Mbah ada di dalam rumah.." kata Anin. " Masuk gih.." kata Anin sembari berdiri lagi karena dirasanya bocah cilik dihadapannya sudah lebih tenang1. "Gak mau..sama Om.." jawab Rafa.


"Iya ayo masuk sama Om.." jawab Akmal.Lalu Akmal dan Rafa masuk ke dalam rumah..melalui Anin dengan cuek.Saat melalui Barra ,Akmal tersenyum kecil sekedar bentuk cara penyapaannya. Anin mendekat lagi ke Barra. "Siapa dia ?" tanya Barra ke Anin. "Entah Dokter udah dengar atau belum rumor belakangan ini,soal anak pemilik rumah sakit yang bekerja di divisi poli nutrisi dan gizi..dia itu orangnya.Dan dia juga ternyata anak majikan Mbah saya.." keterangan Anin pada Barra. " Ooh..seperti itu.." jawab Barra. "Oh ya..sampai kelupaan.Sekali lagi saya minta maaf...atas kelakuan saya dan Novi.." kata Anin menyambung pembicaraannya dengan Barra di kursi teras rumah..Pussy setia mengusap-usap tubuhnya di kaki Anin. "Aku akan menerima permintaan maaf kamu kalau kamu mau melakukan satu hal. " Apa itu Dokter ?" tanya Anin kepada Barra.Kemudian Barra mengeluarkan sesuatu dari jacket kulitnya. " Ambil ini.." kata Barra sambil menyodorkan sebuah hp ke Anin. " Apa ini Dokter maksudnya ?'' tanya Anin. " Ini hp tidak pernah aku pakai..sayang.lebih berguna jika kamu yang memakainya." tutur Barra hati-hati takut menyinggung perasaan Anin. '' Maaf Dokter..bukannya saya tidak mau..tapi saya tidak enak hati menerimanya.Saya berterimakasih atas segala kebaikan Dokter selama ini pada saya..saya cuma ingin bisa beli hp dengan hasil jerih payah saya sendiri.Mbah juga sudah menyuruh beli dengan uang Mbah tapi saya tolak...ino semua memang salah saya.." kata Anin. "Pakailah..kalau kamu sudah bisa beli HP sendiri..kamu bisa kembalikan padaku.." kata Barra.Anin hanya terdiam dan larut dalam pikirannya...harus diterima atau tidak niat baik Barra meminjaminya HP.

__ADS_1


__ADS_2